Rumah Pak Darma

1043 Kata
Mereka kemudian melanjutkan perjalanan menuju ke tujuan yang Alea sendiri tidak tahu. Mobil terus melaju menyusuri jalanan. Alea hanya menatap keluar jendela tanpa mau bertanya tujuan mereka ke mana. Setidaknya ia bisa ikut kepada Gavin juga sudah bersyukur, daripada harus pulang dan bertemu dengan orang yang selalu buat emosi. Setelah setengah jam dalam perjalanan, mereka sampai di sebuah rumah mewah bertingkat tiga. "Pak Gavin, ya?" ucap satpam yang keluar dari posnya dengan ramah. "Iya, Pak Darma ada?" tanya Gavin kepada satpam itu. "Ada Pak. Bapak udah ditunggu juga sama Pak Darma," jawab satpam tersebut kemudian membukakan pintu pagar yang tingginya nya dua meteran tersebut. Gavin kemudian masukkan mobilnya halaman rumah itu. Halamannya tidak begitu luas, mungkin hanya cukup untuk tiga mobil. Kemudian, ada sebuah taman yang juga tidak terlalu luas hanya berukuran 4x4 meter. Gavin dan Alea turun dari mobil. Mereka menaiki tangga menuju taman yang berada di atasnya. Lalu berjalan ke teras rumah. Gavin memencet bel. Tak lama kemudian, seorang asisten rumah tangga keluar membukakan pintu. "Eh, Den Gavin. Masuk, Den kebetulan sudah ditunggu sama bapak," ucap asisten rumah tangga yang kelihatannya sudah paruh baya tersebut. Gavin nampaknya begitu akrab dengan penghuni rumah tersebut. Sepertinya ia memang sering ke rumah itu. Mereka kemudian masuk ke ruang tamu rumah itu. Desainnya begitu mewah dengan perpaduan warna gold dan coklat muda. Asisten rumah tangga bernama Bi Yati itu kemudian pamit ke belakang untuk mengambilkan minum sekaligus memanggil Pak Darma. Beberapa saat kemudian Pak Darma datang ke ruangan itu. "Gavin apa kabar?" tanya Pak Darma sambil duduk di sofa ruang tamu tersebut. "Baik, Pak," jawab Gavin singkat. "Tumben ke sini dengan istrimu," sahut Pak Darma dengan begitu akrab. "Iya, lagi nggak mau ditinggal aja," jawab Gavin dengan nada bercanda. "Begini Gavin, soal harta yang dijual ibumu itu sebetulnya seharusnya kamu bisa mendapatkannya kembali," tutur Pak Darma dengan wajah serius. "Loh, kok begitu, kemarin kan bukannya Ibu Herni itu minta sebagian harta dari Mas Gavin dengan baik-baik dan bilang kalau yang sudah dijual itu memang sudah diberikan oleh papa untuk ibu," tutur Alea yang tidak mengerti dengan duduk masalah tersebut. "Sudah kubilang kalau dia itu licik," ujar Gavin dengan sinis karena Alea masih saja percaya kepada orang-orang tersebut. Padahal sudah kelihatan dari awal sikap mereka itu tidak baik dan ingin menguasai harta Gavin. Tapi, herannya Alea masih saja percaya dengan kata-kata Ibu Herni yang ingin meminta sebagian hartanya dan harta yang sudah dijual memang sudah diberikan oleh ayah Gavin. "Tidak mungkin. Mereka menjualnya saja ketika Pak Gilang sudah berada di rumah sakit dan dirawat," sanggah Pak Darma yang juga lebih mengetahui duduk masalah harta warisan tersebut. Alea mengangguk-angguk, sebenarnya ia sendiri tak paham bisa berada di lingkungan seperti itu. Terlebih dengan suasana perebutan harta warisan. Beruntung orang tuanya masih lengkap, sehingga tak perlu berebut warisan. Lagipula kalau pun sudah meninggal, ia tak ingin harus berebut warisan dengan adik dan kakaknya. "Bagaimana kalau kau jelaskan saja tugas Alea sekarang," ucap Gavin kepada Pak Darma. Mereka kemudian melirik Alea dengan tatapan memerhatikan. Membuat Alea risi ditatap seperti itu oleh Gavin dan juga Pak Darma. "Tugas? Tugas apa?" tanya Alea bingung sekaligus heran. "Jadi begini, ada dua cara yang bisa dilakukan untuk memuluskan rencana kita dalam mengambil harta warisan tersebut," tutur Pak Darma mengawali pembicaraan. Ia kemudian menarik napas panjang sebelum melanjutkan ucapannya kembali. "Pertama adalah dengan kau menjadi bunglon dan dekat dengan mereka. Memberikan semua informasi tentang mereka dan rencana-rencana kedepannya, sembari mengumpulkan berkas yang disembunyikan. Kedua tidak perlu dekat, tapi harus mengawasi dan mengambil berkas berkas yang dibutuhkan," tutur Pak Darma menjelaskan tugas Alea. Alea hanya termangu. Ia bingung harus bicara bagaimana tapi sepertinya tugasnya begitu berat. "Bagaimana kamu sanggup? Mau pilih yang pertama atau kedua?" tanya Pak Darma sambil memandang dengan sorot mata tajam. "Entahlah, sepertinya keduanya berat," jawab Alea dengan entengnya. "Tidaklah, kalian kan sama perempuan," sahut Pak Darma. "Jadi, maksud kalian, aku dinikahi disini hanya untuk dijadikan umpan untuk ular-ular tersebut begitu?!" tanya Alea dengan sedikit membentak. Ia baru terpikirkan dengan tujuan Gavin yang ingin menjadikannya umpan untuk orang-orang tersebut. "Bukan begitu, kalau soal menikah memang syarat untuk mendapatkan harta warisan dari keluarga ibu Gavin adalah dengan cara menikah. Jadi tidak akan diberi warisan sebelum calon pewaris itu menikah," tutur Pak Darma menjelaskan dengan lembut. "Kalau untuk masalah menjadi mata-mata itu, kami minta tolong padamu. Lagipula kalau kita menggunakan orang yang salah, bisa-bisa ia akan ikut kepada mereka dan tidak membantu kita. Malah menghancurkan dari dalam dan itulah sebabnya kami percaya kepadamu," tutur Pak Darma meluluhkan hati Alea yang tadinya sudah marah dengan kesimpulannya sendiri. "Baiklah, kalau begitu, tapi saya tidak bisa dekat dengan orang yang saya tidak suka," ucap Alea dengan tegas. "Kalau begitu, kamu lakukan saja opsi kedua. Nanti saya akan beritahu berkas-berkas yang harus kamu ambil. Untuk sementara jadilah mata-mata dan ketahui semua rencana mereka." Pak darma berbicara dengan begitu meyakinkan. Ia yakin kalau Alea dapat menjalankan tugasnya dengan baik. Asalkan tidak terjadi masalah lagi dengan Gavin. "Gavin, Alea, kalian harus menjadi tim yang kompak karena Alea takkan bisa menjalankan tugasnya jika ada masalah denganmu. Begitupun sebaliknya kamu akan terganggu." Pak darma memberikan nasehat kepada pasangan muda tersebut. Tapi, kali ini nasehatnya bukan nasehat pernikahan, melainkan nasehat untuk menjalankan tugas perebutan harta warisan. Status Alea sebagai istri Gavin pun digunakan untuk merebut harta warisan tersebut. Mereka berbincang hangat selama beberapa saat setelah membicarakan rencana-rencana kedepannya. "Kalau begitu saya pamit dulu," pamit Gavin kepada Pak Darma yang sudah ia anggap sebagai ayahnya sendiri. Meskipun begitu sikap Gavin memang dingin sejak dahulu. Tapi, Pak darma bisa memaklumi dan tahu kalau Gavin juga sebenarnya bisa menerimanya. Pak Darma memang masih mendapat kucuran dana selama menjadi komisaris keluarga Gavin. Meskipun begitu ia bekerja bukan hanya karena harta. Jika memandang harta sebenarnya dulu Herni pernah mau menawarkan bayaran yang lebih dari yang Gavin berikan. Namun, Pak Darma bekerja atas loyalitas apalagi ia dan keluarga Gavin telah bekerjasama sejak lama. Bahkan mungkin dirinya tidak akan sesukses sekarang, jika tidak ada pertolongan dari keluarga ibu Gavin. Gavin dan Alea pun melenggang pergi dari ruang tamu tersebut. Mereka menuju ke mobil untuk pulang ke rumah. "Ini beneran udah nggak ada jadwal apa-apa lagi?" tanya Alea memastikan walaupun sebenarnya ia masih ingin berada di luar rumah. "Benar, lagipula kalau terus dihindari mereka bakal keenakan," sahut Gavin yang memang benar adanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN