Butik Mewah

1017 Kata
"Iya, sebentar lagi juga beres," jawab Gavin tanpa melirik sedikitpun kepada Alea. Matanya masih fokus pada layar laptop yang katanya sebentar lagi akan selesai pekerjaannya. Alea hanya menarik nafas panjang, memang orang workaholic seperti Gavin akan sulit diberitahu. Ia kemudian bangkit dari duduknya dan kembali ke tempat tidur. Lebih baik istirahat daripada memikirkan Gavin yang memang keras kepala. 'Rasanya senang sekali tanpa ada gangguan Herni dan Helen,' gumam Alea dalam hati. Ia merasa seperti saat rumah Gavin belum kedatangan ibu dan adik tirinya. Tenang dan nyaman, meskipun waktu itu Alea belum merasa nyaman dengan rumah tersebut. Tapi, setidaknya ia mendapatkan ketenangan. Berbeda dengan saat ini, di mana ada orang-orang yang membuatnya tidak tenang dan nyaman di rumah. Rasanya setiap keluar dari kamar emosi sudah berada di ujung kepala, padahal bertemu dengan orangnya pun belum. Setelah selesai mengerjakan semua pekerjaannya, saat menjelang dini hari, Gavin pun membaringkan tubuhnya di sofa yang ditempatinya. Besok pagi ia harus mengerjakan sesuatu, mungkin setelah mengantarkan Alea ke rumah. Keesokan harinya Alea terbangun di pagi hari. Rasanya begitu tenang, karena untuk beberapa saat ia tak akan bertemu dengan orang menyebalkan macam Herni dan Helen. Ia segera merapikan diri untuk bersiap kuliah. Setelah itu barulah membangunkan Gavin. "Kamu mau ke mana?" tanya Gavin heran melihat Alea yang sudah rapi. "Kuliah lah, ke mana lagi. Malas berada di rumah," jawa Alea dengan santainya. Padahal hari itu masih hari weekend. "Kenapa ada orang semangat sekali untuk kuliah seperti kamu, sih. Ini masih weekend, biar aku antar pulang dulu," sahut Gavin yang heran dengan tingkah istrinya itu. 's**l, aku salah hari lagi,' gumam Alea dalam hati. "Terus setelah mengantar aku pulang ke rumah. Kamu mau ke mana?" tanya Alea penasaran dan jika boleh ingin ikut. "Ke suatu tempat, tak perlu tahu," jawab Gavin singkat kemudian melenggang ke kamar mandi. "Ah, menyebalkan sekali," gerutu Alea yang sudah benar-benar tidak betah berada di rumah Gavin sekarang. Saat Gavin keluar dari kamar mandi, Alea langsung menghampirinya. "Bolehkah aku ikut denganmu? Aku tak ingin berada di rumah sendiri," tanya Alea dengan wajah memelas sambil menangkupkan kedua tangannya di dadanya. "Ikut? Seperti anak kecil saja harus ikut ke manapun," ucap Gavin. Dia telah kembali berganti baju dengan baju lainnya. Alea heran, memangnya Gavin bawa baju berapa ke hotel itu. Lalu, ia melihat sebuah koper yang dibawa Gavin. 'Kapan dia membawanya?' gumam Alea dalam hati. Heran melihat koper yang sudah berada di kamar itu sejak semalam. "Aku suruh orang buat anter ke sini," ucap Gavin yang sepertinya menangkap kebingungan Alea. "Oh begitu ya," ucap Alea singkat. Gavin kemudian keluar dari kamar tersebut. Alea mengikutinya dari belakang. Ia sebenarnya tak nyaman dengan baju kemarin yang masih digunakannya hari ini. Tapi, mau bagaimana lagi kalau memang dirinya tidak membawa baju ganti ke hotel tersebut. Mereka memasuki lift untuk turun ke lantai bawah. Setelah itu dan memberikan kunci kepada resepsionis. Mereka kemudian berjalan keluar untuk menuju ke mobil yang terparkir di halaman. Tak jauh dari lobby hotel. "Ya, boleh aku ikut ya?" ucap Alea yang masih merengek ingin ikut kepada Gavin. Ia tak ingin pulang ke rumah itu. "Baiklah, tapi sebelumnya ganti bajumu. Kita ke butik dulu," ucap Gavin sambil melajukan mobil ke tempat tujuan. Alea menatap penampilannya dari atas ke bawah. Mungkin benar yang Gavin katakan, memang ia terlihat kucel karena bajunya tidak diganti dari kemarin. "Baiklah, sekalian aku bisa beli baju baru dong," ucap Alea dengan sumringah. Ia begitu senang akan membeli baju, padahal biasanya paling tak ingin untuk membeli baju. Hanya saja saat itu ia memang sedang membutuhkan baju untuk beberapa hari ke depan. Akan ada acara di kampus. Tadinya ia malu untuk bicara kepada Gavin membutuhkan baju untuk acara di kampusnya. Tapi, ia pun kebingungan sendiri. Meskipun sebenarnya kartu debit masih berada di tangannya. Dia juga hafal dengan pin-nya, hanya saja tak ingin menggunakannya berlebihan. Hanya menggunakan secukupnya untuk bekal selama kuliah. Ia juga tak lagi memikirkan ongkos, karena diantar jemput oleh Gavin. Mobil terus melaju sampai akhirnya tiba di depan sebuah butik mewah. Alea melongo melihat butik itu begitu mewah. Seumur-umur ia tak pernah memasuki butik seperti itu. Jika lebaran di kampung, dulu biasanya ia akan pergi ke pasar untuk membeli baju. Itu pun mencari harga yang paling murah dan bisa ditawar. Di dalam, berbagai baju berjajar dengan rapi terlihat mewah, berkelas, dan model-modelnya pun cukup elegan. 'Aku bilang aja gitu sama Gavin memang butuh baju untuk acara kampus,' gumam Alea dalam hati. Ia ragu untuk mengungkapkan butuhnya baju untuk acara kampus. Semuanya memakai dress code berwarna putih. Sementara dirinya adalah tipe orang yang paling menghindari warna itu. Sehingga saat ada acara tersebut dan ia dituntut memakai baju putih, ia tak punya sama sekali. "Boleh aku pilih lebih dari satu baju?" tanya Alea dengan malu-malu. "Pilihlah sesukamu," kata Gavin kepada istrinya. Tujuan pertama kali adalah mencari baju berwarna putih yang terlihat elegan, mewah, dan simple berkelas. Pilihannya jatuh kepada atasan berwarna putih dengan panjang sampai setengah lutut, dengan ikat pinggang. Terlihat bagus sekali. Dia kemudian memilih baju untuk dipakainya hari ini dan mungkin besok. Sehingga Alea memilih tiga stel baju yang menurutnya cocok untuk dirinya. Sementara itu Gavin hanya memperhatikan selera Alea. Biasanya anak itu memilih baju yang tomboy, tapi kali ini sepertinya seleranya sudah mulai berubah. Meskipun sebenarnya selera Alea bukan berubah menjadi feminim, melainkan karena ada tuntutan dari kampus untuk acara nanti. Alea tak ingin tampil biasa saja, setidaknya tampil elegan sehingga membuat mata yang biasanya meledeknya karena tak bisa bergaya jadi terpukau. "Aku sudah selesai," ucap Alea laporan kepada Gavin. Lelakinya itu bangkit dan langsung menuju ke kasir untuk membayar baju yang diambil oleh Alea. Padahal Gavin juga tahu kalau Alea memegang kartu debit miliknya. Tapin, jika sedang belanja seperti itu, ia selalu menggunakan miliknya sendiri tanpa membebani Alea. Dia juga tak pernah bertanya-tanya lagi soal kartu yang dipegang oleh Alea. Digunakan untuk apa dan berapa, karena menurutnya itu adalah hak milik istrinya. Meskipun bukan istri sungguhan, tapi setidaknya ia bertanggung jawab untuk kehidupannya dan juga kebutuhannya. Setelah selesai membayar baju Alea numpang ke kamar pas untuk mengganti bajunya dengan yang baru. Para pegawai toko tersebut melongo melihat tingkahnya. Gavin hanya menggeleng tak menyangka ada orang seperti Allea.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN