"Ayo, turun atau mau tidur di mobil?" Gavin memberi pilihan yang tidak mengenakkan.
Akhirnya, Alea turun dari mobil tanpa bicara apapun. Menimpali ucapan Gavin tidak akan seru karena pasti akan dijawab dengan singkat atau suruhan diam.
Mereka kemudian berjalan menuju ke lobby hotel. Gavin check-in satu kamar di untuk mereka.
"Ini key card-nya, Pak," ucap resepsionis sambil menyodorkan sebuah kartu yang merupakan kunci dari kamar yang mereka pesan.
Rupanya kamar mereka berada di lantai lima tidak terlalu jauh. Mereka kemudian memasuki lift untuk sampai ke tempat tujuan. Keluar dari lift mereka berjalan menyusuri lantai untuk sampai ke kamar yang yang merupakan pasangan dari kunci yang mereka bawa.
Gavin lalu membuka pintu dengan key card tersebut. Alea hanya memerhatikan, karena seumur hidupnya ia belum pernah check in di hotel. Itu adalah kali pertama baginya.
Gavin langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Sementara Alea duduk di sofa yang ada di kamar tersebut. Ada televisi besar juga di sana, Alea kemudian mencoba menyalakannya.
'Untunglah secanggih-canggihnya televisi tetap dinyalakan dengan remote,' gumam Alea dalam hati, karena ia tidak mengerti dengan fasilitas hotel itu. Seperti key card tadi, Alea bahkan belum pernah memegangnya.
Beberapa saat kemudian, Gavin keluar dari kamar mandi ia terlihat begitu segar bagaikan bunga layu yang baru saja disiram. Alea yang juga merasa tubuhnya begitu gerah langsung menuju ke kamar mandi, ia juga hendak menyegarkan tubuhnya.
Saat Alea keluar dari kamar mandi, rupanya Gavin telah ganti pakaian dengan pakaian rumahan. Tapi, Alea heran dari mana ia mendapat baju itu. Padahal mereka tidak membawa baju tadi saat berangkat dari rumah ke hotel. Pergi ke hotel itupun tidak melakukan perencanaan terlebih dahulu.
Sementara itu, Claretta memakai baju yang tadi dikenakannya.
"Lain kali kalau kemana-mana biasakan bawa ganti, karena bisa saja terjadi hal luar dugaan.;Saat seperti ini, bisa saja ketika akan salat bajunya kotor, bener kan?" tutur Gavin yang memberi pesan kepada Alea saat baru saja keluar dari kamar mandi.
"Iya ... iya, aku kan enggak tahu. Lagian enggak biasa juga bawa baju kemana-mana," sahut Alea yang merasa tak bersalah.
Mereka kemudian keluar dari kamar tersebut. Gavin berniat untuk makan malam, meskipun tadi makan siang mereka terlewatkan.
"Kita mau ke mana lagi?" tanya Alea yang sudah benar-benar kelaparan sejak di kamar mandi.
Tadi ia juga sebenarnya tadi ingin protes saat Gavin menasehatinya soal pakaian untuk. Ia ingin bilang 'Bisa enggak sih, kita makan dulu,' tapi bibirnya tidak sampai hati mengatakan hal tersebut.
Sampai di lantai dua, Gavin memasuki sebuah restoran ternama Juga Alea yang mengikutinya, kemudian ia memilih tempat duduk yang kosong di restoran tersebut. Meskipun sebenarnya memang banyak meja yang masih kosong.
Beberapa saat kemudian, seorang pramusaji datang dan menawarkan menu pada mereka. Gavin memilih makanan yang disukainya. Sementara itu, Alea terus saja membolak-balik menu tersebut. Bukan bahasanya yang ia tak mengerti, tapi makanannya seperti apa yang lihat tak tahu.
"Di samakan saja," ujar Gavin kepada pramusaji tersebut. Alea kemudian terpaksa memberikan daftar menunya kepada pramusaji.
Meskipun sebenarnya ia sendiri bingung memesan apa tadi. Tapi, setidaknya akan lebih baik jika tadi Gavin bertanya dulu padanya. Tidak main sama-samakan aja, belum tentu selera mereka sama. Atau mungkin setidaknya sedikit menjelaskan menu yang ada di daftar tadi.
"Kenapa main samakan saja sih, kan belum tentu selera kita sama," ujar Alea dengan suara pelan dan tertahan karena kesal.
"Sudahlah menurut padaku," ucap Gavin dengan entengnya.
Kemudian Alea melengoskan wajah melihat ke arah lain. Tapi, ia seperti melihat sosok seorang yang dikenalnya.
"Loh, itu kan suaminya Helen," ucap Alea pelan. Matanya masih terpaku seorang yang sejak tadi dilihatnya.
Alea merasa sangat mengenal orang itu, meskipun tidak dekat tapi setidaknya tahu kalau lelaki itu memiliki istri. Gavin melihat apa yang istrinya lihat.
"Biarkan saja, bukan hal aneh kok. Lagipula bukan urusanmu juga," ucap Gavin yang menyuruh Alea untuk tidak terus memperhatikannya.
"Apa?! bukan hal aneh katanya. Apa jangan-jangan ...," ucap Alea jadi berpikiran buruk soal Gavin karena apa yang dikatakan nya tadi.
"Tidak semua yang kau pikirkan tentangku itu benar. Jangan berprasangka buruk pada orang lain," ucap Gavin seolah mengetahui isi pikiran Alea, padahal memang terlihat jelas dari sorot matanya.
Baru saja Alea akan menyahuti ucapan Gavin, seorang pramusaji datang dan menghidangkan makanan pesanan mereka. Akhirnya hanya bisa kembali terdiam. Tapi, ternyata makanan yang dipesan Gavin tidak gagal porsinya cukup banyak untuk Alea dan rasanya las di lidah asli Indonesia.
'Memang aku sengaja pesan untukmu,' gumam Gavin dalam hati. Ia tahu kalau Alea akan kebingungan dengan menu makanan di restoran mewah itu. Sehingga Gavin memilih makanan yang sekiranya sesuai untuk Alea ternyata yang dipilihnya tepat.
Ia ikut senang melihat Alea yang sumringah dan makan dengan lahap. Mereka lalu makan bersama dan menikmati suasana di restoran tersebut. Gavin memakan makanannya dengan tenang, ia malah lebih senang melihat Alea yang makan dengan begitu lahap.
"Enak sekali ternyata pilihanmu ini," puji Alea di sela-sela makannya.
Ia lalu kembali menikmati makan malamnya. Seusai makan malam, mereka pun kembali ke kamar yang ada di lantai lima. Naik tiga lantai dari tempat itu.
Mereka menaiki lift sampai ke kamar yang berada di lantai lima. Memasuki kamar, Alea langsung membaringkan dirinya di tempat tidur. Setelah dari siang menahan lapar kemudian diisi dengan makanan hingga kenyang. Hal yang membuatnya langsung ngantuk.
Gavin tak melarangnya. Sementara dirinya hanya duduk di sofa sambil menonton televisi, tak lama kemudian ia melihat Alea yang sudah terlelap dalam tidurnya.
"Cepat sekali tidurnya," ucap Gavin sambil memandang wajah Alea dari tempatnya duduk..
Dia masih harus mengerjakan pekerjaan kantor yang belum selesai dan tiada habisnya. Terlebih karena memang kantor tersebut hanya dipegang olehnya seorang diri. Belum lagi dengan beberapa cabang yang ada di luar kota. Ia tidak perlu keluar kota hanya saja bertugas untuk mengecek semuanya.
Gavin sibuk dengan laptopnya, ia terus saja bekerja hingga lewat tengah malam. Tiba-tiba hasrat ingin pipis membangunkan Alea. Saat melangkah kamar mandi, ia melihat Gavin yang masih sibuk dengan laptopnya.
Karena tak tahan ingin buang air kecil, ia pun ke kamar mandi terlebih dahulu. Saat keluar yang langsung menuju siapa yang Gavin tempati.
"Sudah dulu, Mas kerjanya, kamu kerja kayak nyari apa aja sih," ujar Alea dengan nada kesal. Bagaimanapun jika terlalu diforsir Gavin juga bisa saja tumbang.