"Ya ... namanya juga anak kost, ditambah kuliah. Jangankan jalan-jalan, bisa keluar kosan menghirup udara segar tanpa beban tugas aja udah beruntung banget," jawab Alea dengan tenangnya, sepertinya apa yang dibicarakannya bukanlah masalah.
Padahal untuk kebanyakan remaja sepertinya itu adalah masalah besar. Di mana masa muda mereka terenggut oleh kewajiban mencari nafkah dan membiayai kuliah.
Mobil terus melaju membelah jalanan, Alea masih belum tahu tujuan keberangkatan tersebut. Tetapi, Ia sudah malas bertanya, karena pasti akan dijawab sekenanya oleh Gavin.
Mobil kemudian memasuki parkiran rumah sakit. Terlihat kendaraan lain yang juga berderet di sana. Sebenarnya jarak rumah sakit dan rumah Gavin tidak terlalu jauh. Hanya saja dikarenakan macet dan juga sarapan dulu, membuat perjalanan jadi terasa lebih lama.
"Rumah sakit? Kita ngapain ke sini? Kamu sakit memangnya?" tanya Alea heran sambil menatap suaminya itu.
"Sudahlah, jangan banyak tanya. Ikuti langkahku," sahut Gavin yang tidak ingin istrinya itu banyak bertanya.
Gavin turun dari mobil diikuti oleh Alea. Mereka berjalan memasuki gedung rumah sakit yang bertingkat.
Rumah sakit itu termasuk kategori swasta elit di kota Bandung yaitu Rumah Sakit Sentosa yang mana harga VIP president suite room-nya sekitar lima juta per hari.
Alea belum pernah memasuki rumah sakit tersebut sebelumnya. Paling mewah ke puskesmas. Hanya saja ia sering mendengar kabar burung soal rumah sakit itu.
Mereka terus berjalan menuju ke lift, kemudian memasukinya dan keluar di lantai dua.
"Bersih banget ternyata. Pantesan mahal," ucap Alea pelan sambil mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru rumah sakit.
Sesampainya di lantai yang dituju pintu lift terbuka. Alea dan Gavin keluar dari sana. Mereka menuju ke ruang rawat inap president suite room yang ada di sana.
Tiba di di kamar ruangan tuliskan nomor satu, Gavin pun membukanya tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Sepertinya ia sudah biasa memasuki ruangan itu.
Alea mengikuti langkah Gavin yang menuju ke tempat tidur di kamar tersebut. Ada seorang pria paruh baya yang terbaring lemas di sana. Wajahnya begitu tenang dan terlihat gurat-gurat ketampanan masa mudanya. Ia mirip dengan Gavin.
'Apa ini ayahnya Gavin ya?' gumam Alea dalam hati.
Ia menduga-duga dari paras wajah mereka yang hampir serupa. Tapi, ia juga tak dapat memastikan, bisa saja itu omnya atau keluarga yang lain.
Gavin duduk di bangku kosong yang berada di samping bad hospital. Alea hanya menatap Gavin menuntut jawaban atas apa yang dilihatnya. Tapi, Gavin masih menatap pria di hadapannya dengan tatapan sendu. Ada kesedihan mendalam yang terdapat di hatinya dan rona wajahnya.
Alea sudah tak sabar lagi ingin bertanya. Tapi, rasanya tak enak apalagi mereka sedang berada di rumah sakit.
"Pa, aku bawa orang yang kau sebut berhati tulus. Kalau kau sadar, pasti akan sangat senang mendapati Alea di sini," tutur Gavin bicara dengan lembut, tidak seperti biasanya yang datar atau dingin.
'Oh, jadi ini papanya ya. Terus orang berhati tulus itu siapa? Aku? Hah, apa maksudnya?' gumam Alea dalam hati.
Kini, ia dapat memastikan kalau lelaki yang tengah berbaring itu adalah ayah Gavin. Hanya saja masih ada satu pertanyaan lagi di benaknya, orang berhati tulus, apa benar itu dirinya.
Pintu diketuk dari luar ketika mereka sedang berada di dalam ruangan rawat ayah Gavin.
Gavin belum berkata apapun, tapi orang yang berada di balik pintu telah membuka benda pipih itu. Seorang pria muda tampan dengan jas putih khas kedokteran.
Gavin menatap dokter tersebut dengan tatapan penuh tanya.
"Siapa Anda?" tanya Gavin yang merasa tidak mengenal dokter tersebut.
Sebelumnya ayah Gavin dirawat oleh Dokter Hakam yang merupakan dokter keluarga ibunya sejak dahulu.
"Perkenalkan, saya Ferdinand, dokter yang menangani pasien Pak Gilang ini, karena Dokter Hakam dialih tugaskan dan saya diutus langsung oleh Ibu Herni dan Ibu Helen," jawab dokter muda itu dengan tenang dan berwibawa.
"Sejak kapan?" tanya Gavin penuh selidik.
"Sudah cukup lama sebenarnya. Mungkin yang sering ke sini memang Ibu Helen ya, sehingga yang tahu perkembangan Pak Gilang hanya dirinya saja," jawab Dokter Ferdinand dengan senyum yang terkesan dipaksakan.
Gavin mendengkus kesal mendengar pernyataan dokter tersebut.
"Kalau begitu saya periksa dulu keadaan Pak Gilang ya." Dokter Ferdinand mendekati tempat tidur yang ditempati oleh Pak Gilang. Ia kemudian mengecek semua yang menempel pada tubuh pasiennya sekaligus mengecek keadaan tubuhnya.
"Semuanya baik ya, Dok," ucap suster yang bertugas mencatat hasil dari pemeriksaan Dokter Ferdinand itu.
"Kalau semuanya baik, kenapa papa saya belum sadar juga?" tanya Gavin heran sudah lama ayahnya terbaring di rumah sakit itu. Awalnya pingsan karena jatuh, tapi entah mengapa sampai saat itu belum ada perubahan dan belum sadarkan diri.
"Masalah pengecekan tubuh, saya memang bertugas untuk itu. Tapi, untuk masalah kesadaran hanya Tuhan yang tahu kapan," jawab Dokter Ferdinand dengan tenang.
"Baik, kalau begitu saya pergi dulu," pamit Dokter Ferdinand kepada Gavin dan juga Alea.
Suster yang sejak tadi menuliskan hasil pemeriksaan berjalan di belakangnya. Mereka keluar ruangan tersebut, ia kemudian menutup kembali pintunya.
Alea masih bingung dengan kejadian yang baru saja terjadi. Tapi, ia bisa menangkap ada kejanggalan di sini. Bahkan senyum dan juga sorot mata Dokter Ferdinand terasa aneh baginya. Ia yang merupakan seorang wanita lebih peka dengan hal-hal tersebut.
"Kenapa mereka mengganti dokter tanpa seizinku," ucap Gavin dengan suara tertahan. Iaa begitu kesal kepada ibu tiri dan adik tirinya itu.
"Sudahlah, ayo kita pulang," ajak Gavin kepada Alea. Mereka kemudian keluar dari ruangan rawat dan menyusuri lantai rumah sakit untuk menuju ke area parkiran. Di mana mobil Gavin terparkir
Alea hanya mengikuti tanpa banyak bertanya. Meskipun sebenarnya begitu banyak pertanyaan yang berkelebat di benaknya. Tapi, sepertinya bukan saat yang tepat untuk menanyakan semua hal janggal itu kepada Gavin.
Mereka memasuki mobil dan Gavin langsung menyetir mobilnya menuju ke arah jalan pulang. Saat setengah jalan menuju ke rumah, Gavin membalikkan mobilnya ke arah lain. Ia sedang tak ingin bertemu dengan Herni dan Helen di rumahnya.
"Kita mau ke mana lagi? Ini sudah sore," tanya Alea yang melihat laju mobil dibalik arahkan oleh suaminya.
"Tolong jangan banyak bertanya untuk sekarang," ucap Gavin dengan dingin dan tanpa melirik sedikit pun. Matanya fokus kepada jalanan yang ada di hadapannya.
Mobil terus melaju menyusuri jalanan. Mereka belum makan siang, Alea sebenarnya sudah keroncongan, tapi ia juga tak ingin mengungkapkan rasa laparnya itu kepada Gavin.
Di depan sebuah hotel bintang lima, Gavin memasukkan mobilnya ke dalam parkiran, kemudian memarkirkannya di sana.
Alea melongo melihat hotel mewah di hadapannya. Ia memang belum pernah ke hotel bintang lima seperti itu. Hanya saja yang buatnya aneh adalah mereka sedang berada di kota tempat rumah Gavin berada tapi masih menginap di hotel.