Sarapan di Luar

1054 Kata
Keesokan paginya, Alea terbangun dan langsung bersiap untuk pergi kuliah. Ia begitu bersemangat karena membawa laptop barunya. Dia bahkan bersiap lebih pagi daripada biasanya. Gavin hanya memperhatikan itu dengan tersenyum tipis yang hampir tak terlihat. Bahkan dirinya belum siap-siap untuk ke kantor, karena memang hari masih sangat pagi. "Mas, kok belum siap-siap untuk ke kantor sih?" tanya Alea heran pada suaminya itu. Sementara dirinya sudah siap dan tinggal berangkat ke kampus. Ia sudah mulai terbiasa dengan panggilan Mas untuk Gavin. "Masih pagi juga, kok. Tenang aja," sahut Gavin dengan santainya. Membuat raut wajah Alea kesal seketika. Alea ikut duduk di sofa yang ditempati Gavin. Ia kembali membuka laptopnya dan mengotak-atik isinya, kemudian menutupnya kembali. Tiba-tiba Gavin teringat kalau ada file yang harus dibuatnya hari itu juga. Ia pun membuka laptopnya dan membuat file-nya. Pertama-tama ia mengecek tanggal untuk memasukkannya di kertas tersebut. Saat melihat tanggal Gavin tertawa terbahak-bahak. Ternyata hari itu adalah hari sabtu dan Alea sudah siap untuk berangkat kuliah karena tidak ingat hari. "Hari Sabtu udah weekend, kamu mau ke mana?" tanya Gavin sambil menahan tawa melihat ekspresi Alea. "Ih, kok enggak ada yang ngasih tau aku sih!" gerutu Alea dengan kesal. Padahal ia sudah berdandan untuk kampus dan membawa laptop barunya. Tapi, sayang ternyata hari itu adalah hari libur. Jika tahu dari awal dia bisa bermalas-malasan seharian, karena di rumah itu ia tak perlu mengerjakan pekerjaan rumah apapun. Meskipun begitu, terkadang Alea juga rindu ke kampung halamannya. Rumah sederhana di mana ia dibesarkan . Alea kemudian kembali menyimpan laptopnya di meja. Lalu, ia sendiri membaringkan tubuhnya di tempat tidur. Hari libur seperti itu tak boleh disia-siakan, ia harus memanfaatkannya untuk mengistirahatkan tubuhnya dengan full. Gavin meneruskan pekerjaannya membuat berkas yang diperlukan untuk kantornya. Satu jam kemudian ia telah selesai mengerjakan pekerjaannya. Ia berniat untuk mengajak Alea ke suatu tempat. Ia melihat Alea yang tadi tiduran di tempat tidur, tapi ternyata sekarang sudah terlelap. "Ya ampun, pelor banget ini anak," ucap Gavin pelan. Melihat Alea yang begitu mudah tertidur. Dia kemudian mendekati Alea dan membangunkannya. "Hei, bangun," ucap Gavin sambil menepuk-nepuk tangan Alea. "Bangun untuk apa? Kan sekarang hari libur," tanya Alea heran tanpa membuka matanya. Ia masih mengantuk dan juga kesal karena tidak jadi berangkat ke kampus. "Kita pergi sekarang," ucap Gavin kemudian berlalu menuju kamar mandi. Alea hanya melongo, ia bingung dengan kata pergi tadi Gavin katakan. Seingatnya tak punya jadwal pergi ke manapun. Memangnya mau ke mana. Selama menikah ia tidak pernah pergi ke manapun bersama Gavin selain ke kampus. Beberapa saat kemudian, Gavin telah keluar dari kamar mandi dan melihat Alea yang masih tiduran di tempat tidur. "Kenapa belum siap-siap juga?" tanya Gavin sedikit kesal dengan istrinya itu. "Memangnya kita mau ke mana?" tanya Alea heran. "Sudahlah siap-siap saja, aku tunggu lima menit." Gavin memberi tenggang waktu yang singkat. Alea pun terpaksa menuruti keinginan Gavin dan mencuci wajahnya agar lebih segar. Setelah itu ia mendekati Gavin. "Aku sudah siap. Kita mau ke mana?" tanya Alea kepada orang yang berstatus suaminya itu. Gavin bangkit dari duduknya dan berjalan menuju ke pintu tanpa mengucapkan sepatah katapun. Membuat Alea kesal kenapa harus ada manusia sedingin itu. Mereka menuruni tangga dan langsung menuju keluar. "Den, Non enggak sarapan dulu?" tanya Bi Ijah yang sudah berada tak jauh dari tempat mereka berdiri. "Enggak, biar nanti sarapan di luar aja," jawab Gavin yang sedang tak ingin memancing keributan dengan Herni dan Helen. Mereka menaiki mobil dan pergi dari rumah itu. "Sebenarnya kita mau ke mana sih?" tanya Alea yang masih penasaran dan belum diberitahu tujuan mereka. "Ke suatu tempat," jawab Gavin penuh misteri. Entah ia tak ingin memberitahukan tujuan utamanya kepada Alea. Alea akhirnya hanya duduk termenung di jok mobil. Sambil memandang ke depan. Jalanan terlihat begitu ramai di hari weekend. Terlebih ada pasar kaget yang memang akan buka setiap weekend saja. Mobil terus melaju hingga akhirnya mereka sampai ke sebuah restoran. Gavin memarkirkan mobilnya di sana. Ia tahu Alea akan keroncongan jika tidak diberi makan tepat waktu terlebih dahulu. "Jadi kamu ngajakin aku buat sarapan di luar aja gitu? Di hari libur seperti ini," tanya Alea memastikan sekaligus heran karena biasanya Gavin lebih suka masakan rumahan. "Sudahlah, masuk dulu setelah dari sini kita masih punya tujuan lain," titah Gavin kepada Alea. Mereka melangkah memasuki restoran tersebut. Di dalam sudah ada beberapa meja yang terisi. Tapi, tidak begitu ramai cukup nyaman untuk mereka sarapan. Alea dan Gavin memilih meja yang di sana. Kebetulan mereka mendapat tempat di di pojok sudut ruangan, di samping jendela. Tempat yang begitu nyaman untuk mereka. Beberapa saat kemudian, pramusaji datang memberikan berapa menu untuk Gavin dan Alea memilih. Setelah memesan makanan yang diinginkan, pramusaji itu pun kembali ke tempatnya untuk menyiapkan pesanan. Alea sebenarnya masih bingung dengan tujuan Gavin membawanya pergi dari rumah. Selama hampir dua bulan menikah mereka tak pernah ke manapun. Hanya sekedar rumah dan kampus. Baru kali ini Gavin mengajak keluar disaat senggang di hari libur. Alea menarik napas dalam dan mengembuskannya perlahan. Pernikahannya sudah memasuki dua bulan, tapi rasanya begitu hambar. Ia bahkan tidak mengerti dengan esensi dari pernikahan itu sendiri. "Kamu ngelamunin apa?" tanya Gavin yang melihat tatapan kosong Alea. "Enggak kok," jawab Alea singkat. Gavin tak meneruskan percakapan mereka. Beberapa saat kemudian, makanan pun telah tersaji untuk sarapan. Mereka kemudian memakannya dalam diam. Tenggelam dalam pikiran masing-masing, tentang ikatan suci yang mereka jalani tapi tak mereka nikmati dan resapi. Apa yang mereka lakukan itu sebenarnya merusak nilai pernikahan. Mungkin benar pernikahan dengan paksaan tidak berjalan mulus, walaupun awet tetap saja ada celah yang buatnya tak sempurna. Setelah mereka menghabiskan makanannya, Gavin mengajak Alea untuk kembali meneruskan perjalanan. "Meneruskan perjalanan, memangnya kita mau ke mana? Aku kira hanya sekadar sarapan di luar saja," tanya Alea masih heran dengan Gavin. "Sudahlah, ikut saja," ucap Gavin sambil bangkit dari duduknya. Setelah membayar makanan, mereka pun kembali ke dalam mobil dan meneruskan perjalanan. Rupanya perjalanan itu cukup memakan waktu, karena tertahan oleh kemacetan jalanan di mana orang-orang tengah sibuk mencari hiburan di waktu libur itu. "Ramai sekali ya, seumur-umur aku di Bandung baru kali ini melihat pasar kaget," ungkap Alea sambil menikmati pemandangan di hadapannya yang menyajikan hiruk-pikuk pasar kaget di kota Bandung tersebut. "Bukannya sebelum menikah denganku kamu juga kuliah di Bandung. Kenapa bisa tak pernah lihat pasar kaget?" tanya Gavin heran, memang apa yang dilakukan Alea sampai-sampai tak tahu pasar kaget selama bertahun-tahun di Bandung.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN