Setelah makan malam, Gavin langsung mengajak Alea menuju ke kamar. Ia tak ingin terjadi percekcokan antara Alea dan ibu tirinya yang memang sama-sama keras kepala dan tempramen.
Alea hanya mengikuti suaminya. Lagipula ia juga tak betah berada di sana sekarang. Rumah itu sudah tak senyaman saat dulu tak ada Herni dan Helen.
"Gavin, tunggu!" ucap Herni yang menahan langkah Gavin dan Alea, ia bangkit dari duduknya dan menghampiri mereka. Diikuti oleh Helen yang berjalan di belakangnya dengan wajah kesal.
Gavin berhenti dan menoleh ke belakang. Sebenarnya ia malas untuk menanggapi ibu tirinya tersebut, tapi sepertinya ada hal penting yang akan ia bicarakan.
"Mari, duduklah dulu," ajak Herni sembari duduk di sofa yang berada di ruang tengah. Sofa mewah yang sudah lama kehilangan orang yang sering mendudukinya.
Herni dan Helen duduk sedikit berjauhan dengan Alea dan Gavin.
"Kamu kan sekarang sudah punya istri," ungkap Herni memulai pembicaraannya.
Ia menatap Alea dan Gavin secara bergantian. Seolah ingin mengatakan kalau sekarang Gavin telah memiliki pasangan, yaitu Alea.
"Bagaimana kalau kita bagi rata saja harta warisan ayahmu?" tanya Herni yang mengungkapkan maksud dari tujuannya tadi memanggil Gavin.
Gavin tersenyum miring mendengar keinginan Herni. Ternyata masih punya etika juga dia, sampai bicara seperti itu. Padahal beberapa setelah dijual olehnya.
"Bisa minta dengan cara sopan juga ya, ternyata. Bukankah sudah ada beberapa yang kau jual?" ucap Gavin dengan nada menyebalkan. Matanya tajam menatap Herni.
Tak ada rasa segan ataupun santun sedikitpun kepada ibu tirinya itu. Lagipula siapa yang menginginkan ibu tiri licik seperti Herni. Andaikan dulu bisa memilih, Gavin pun tak ingin terjebak dalam kondisi seperti itu.
"Aset yang dijual itu adalah yang telah di berikan ayahmu kepadaku, jadi itu hakku. Makanya surat-suratnya ada padaku," jawab Herni dengan lantang dan tanpa merasa bersalah.
"Oh, ya?" Gavin terlihat tak percaya.
"Tentu saja, untuk apa aku berbohong," elak Herni dengan begitu yakin.
"Begitu ya, sayangnya untuk saat ini aku sedang tidak ingin berbagi harta dengan siapapun, terutama dirimu," ujar Gavin yang langsung bangkit dari duduknya.
"Hei, tidak bisa begitu dong, aku juga kan ibu kamu!" teriak Herni yang tak terima kalau dirinya tidak mendapat bagian harta dari Gavin.
Gavin tak lagi menanggapi ucapannya. Ia melangkahkan kaki meneruskan niat awalnya untuk pergi ke kamar. Alea hanya bisa mengikuti tanpa berkata apapun. Ia juga tidak mengerti soal warisan tersebut, tapi kelihatannya Gavin tidak betah mengobrol berlama-lama dengan ibu tirinya itu.
Sesampainya di kamar, Gavin langsung duduk di sofanya. Ia menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa. Memejamkan mata dan memijat pelipisnya. Mungkin dia pusing dengan semua yang terjadi di hidupnya.
"Kenapa tidak dibicarakan baik-baik? Jangan ribut seperti tadi. Lagipula dia bilang kalau harta yang dijual adalah yang diberikan oleh ayahmu secara cara resmi dan ia juga tadi meminta bagiannya bukan?" tanya Alea tidak mengerti dengan jalan pikiran Gavin.
Gavin menarik nafas panjang. Sepertinya berat baginya untuk mengungkapkan hal tersebut kepada Alea yang pastinya tak akan mengerti siasat Herni dibalik kebaikannya tadi.
"Tak ada yang bisa diberikan padanya, karena memang bukan haknya dan bukan milik ayahku. Semua ini adalah aset milik ibuku," jawab Gavin tanpa menoleh sedikitpun.
Alya sebenarnya tidak mengerti dengan jalan pikiran Gavin. Kalau memang hartanya banyak kenapa tidak memberikan sedikit saja kepada ibu tirinya dan hidup dengan damai. Tanpa perebutan harta dan tahta.
"Dia meminta tadi hanya sebatas formalitas. Pada akhirnya akan di keruk juga," ucap Gavin yang sudah bisa membaca pergerakan taktik Herni dan juga anaknya.
Alea tak paham dengan perebutan harta warisan tersebut. Tapi, sepertinya cukup pelik dan tidak bisa dibicarakan dengan baik-baik.
"Kalau begitu kenapa tidak dibicarakan secara baik-baik saja? Bilang kalau memang itu adalah harta ibumu dan ayahmu tidak berhak sedikitpun," tour area yang masih gagah dengan pendapatnya.
"Kamu tidak perlu ikut memikirkan ini. Besok masih ada hal yang harus kamu ketahui tentangku, kamu baru saja bermain di teras belum masuk ke permainan ini," tutur Gavin yang sepertinya tak ingin lagi menjawab pertanyaan Alea.
"Kenapa tidak boleh? Aku juga berhak untuk mengetahui kebenarannya," ujar Alea heran dan sedikit memaksa.
"Bukankah kau menikahiku untuk membantumu mendapatkan harta warisan itu? Setidaknya kau jelas bisa jelaskan padaku tentang duduk masalahnya sekarang," ucap Alea dengan nada suara yang sedikit meninggi.
"Aku lelah dan ingin istirahat. Kembalilah ke tempat tidurmu," titah Gavin dengan suara dingin. Matanya tajam memandang manik coklat terang Alea.
Dilihat seperti itu, nyali Alea mendadak menciut. Ia tak bisa berbuat apa-apa lagi dan langsung menuju ke tempat tidurnya. Kebetulan tugasnya juga sudah beres tadi sebagian, bisa dilanjut lagi besok sebagiannya.
Alea lalu beranjak danmembaringkan dirinya di tempat tidur. Sambil memainkan ponsel, ia hanya sekedar berselancar di dunia maya. Melihat kawan-kawannya dan juga beberapa hal yang menarik dari dunia itu dunia dalam sentuhan jari itu.
Tiba-tiba ponsel yang ada yang Alea pegang terjatuh ke wajahnya sendiri, karena ia mengantuk.
Gavin yang melihat kejadian itu menggeleng. Ia heran ada perempuan model Alea yang bisa sampai segitunya.
"Istirahatlah," titah Gavin sambil menatap tajam istrinya itu. Dia tak bangkit dari tempat duduknya tapi cukup membuat Alea takut.
"Iya, iya," ucap Alea sambil menyimpan ponselnya di atas nakas. Kemudian, ia melanjutkan tidurnya yang tadi terganggu dengan ponsel jatuh.
Sayangnya rasa kantuk yang tadi membuatnya tertidur hilang entah ke mana. Alea hanya berpura-pura memejamkan matanya.
'Ada apa ya, antara Gavin dan juga Fia? Apa aku tanyakan sekarang? Aku ingin tahu,' gumam Alea dalam hati.
Ia masih penasaran dengan masa lalu Gavin dan Fia. Juga masih memiliki niat untuk menjodohkan suami dengan sahabatnya itu. Kemudian, ia menjalani hidupnya tanpa apa ikatan pernikahan.
Meskipun sebenarnya ia yakin kalau Gavin takkan mau melakukan rencana tersebut. Apalagi dia yang meminta Alea untuk menjadi istrinya, tidak mungkin kalau sampai berani berbuat bodoh dengan tiba-tiba berselingkuh dan meninggalkan Alea begitu saja.
Ia tahu kalau Gavin bukan orang yang suka meninggalkan tanggung jawab. Suaminya itu pasti akan melaksanakan tanggung jawabnya hingga akhir. Apalagi soal perebutan harta warisan itu belum setengahnya berjalan, masih banyak tugas yang harus Gavin lakukan.
Memikirkan semua itu membuat Alea jadi pusing. Rasa ngantuk yang tadi hilang kembali datang Alea pun tak ingin kecolongan lagi. Ia langsung memejamkan matanya dan tertidur malam itu. Mengistirahatkan tubuhnya yang telah lelah seharian.
Sementara itu, Gavin masih sibuk dengan tugasnya. Ia harus menyelesaikan pekerjaannya dan juga menyusun rencana untuk menjatuhkan Herni dan juga anaknya.
Gavin heran Herni sebenarnya sudah berumur tapi ya begitu licik bagai belut berani untuk mendapatkan apa yang ia inginkan.
'Benar, masa lalu Herni,' gumam Gavin dalam hati.
Ia baru terpikirkan dengan masa lalu Herni. Sepertinya ada sesuatu di sana yang bisa memberinya petunjuk untuk mempermudah jalannya.