Laptop Baru

1464 Kata
Setelah makan siang, mereka kembali ke kelas untuk melanjutkan pelajaran hari itu. Kadang rasanya memang membosankan dengan rutinitas yang sama setiap hari. Tapi, dibalik semua itu ada mimpi yang mereka kejar. Setelah semua pelajaran berakhir, Alea segera menuju ke parkiran untuk langsung pulang. Meskipun sebenarnya ia malas untuk bertemu dengan Helen dan Herni. Dua orang yang kini mengganggu kehidupannya. Saat berjalan menuju ke tempat biasa Gavin memarkirkan mobil, ia melihat suaminya itu tengah mengobrol dengan Fia. Ia merupakan teman kosnya dulu. Penasaran dengan apa yang mereka obrolkan, Alea menyelinap secara diam-diam untuk bisa berdiri tak jauh dari mereka. "Kenapa kita enggak bisa mulai semuanya dari awal? Lagipula dia nggak mencintai kamu kok," ucap Fia dengan memohon. Sepertinya ia ingin merajut kisah lama yang sempat terputus dengan Gavin. "Aku sudah punya istri. Mengerti?" ucap Gavin dengan penuh penekanan. Alea tak menyangka kalau Gavin akan bicara seperti itu. Padahal ia sendiri merasa bukan istri Gavin, terlebih Fia tahu tentang kebenaran dalam pernikahannya tersebut. "Istri apa?! Dia enggak mencintai kamu, begitu pun kamu yang tidak menyayanginya." Fia mulai meninggikan suaranya. Ia tak ingin Gavin kembali pergi darinya. "Sudahlah, lebih baik kau pergi. Sebentar lagi Alea juga akan datang," usir Gavin secara halus kepada mantan kekasihnya itu. 'Apa mereka ada hubungan?' gumam Alea dalam hati. Setahunya Gavin dan Fia adalah teman masa kecil. Hanya saja memang Gavin tidak menceritakan lebih jauh tentang hubungannya dengan gadis itu. Setelah diusir seperti itu Fia pun pergi tanpa berkata apa-apa lagi. Gavin menyandarkan tubuhnya di samping mobil. Ia terlihat frustasi sambil mengusap wajahnya. Sepertinya masa lalunya dengan Fia juga begitu berat. 'Padahal kalau memang Gavin ingin bersama Fia, aku juga rela kok, melepaskannya,' gumam Alea lagi dalam hati. Seolah pernikahannya itu tidak berarti. Seandainya jika Gavin yang melepaskan dengan Alea karena ingin bersama dengan Fia, ia juga tidak akan merasa bersalah kepada kedua orang tuanya. Mereka akan menganggap Gavin yang punya wanita idaman lain. Alea pun mendekati mobil dengan tenang seperti tak mendengar dan tak terjadi apa-apa. "Sudah lama?" tanya Alea kepada suaminya tersebut. "Belum, ayo kita pulang," ajak Gavin kepada istrinya itu. "Kamu baru sampai sini, kan?" tanya Gavin yang takut kalau Alea mendengar percakapannya tadi dengan Fia. "Iya, aku baru aja sampai. Baru beres kelasnya," jawab Alea berbohong. Ia tak ingin suaminya tahu kalau dirinya menguping pembicaraannya dengan Fia. Mungkin nanti ia akan membicarakannya dengan Gavin dalam keadaan dingin. Mereka lalu memasuki mobil. Gavin teringat telah menjanjikan Alea untuk membeli laptop baru. Tapi, wanita di sampingnya itu tidak menagih apapun darinya. Di perjalanan, Gavin menuju ke pusat perbelanjaan elektronik di Kota Bandung. Lalu, memarkirkan mobilnya di sana. Alea tersenyum sumringah melihat mereka berhenti di depan BIP. Gavin melihat aura kebahagiaan di wajah istrinya. Entah mengapa hal itu membuatnya ikut bahagia. "Ayo, turun," ajak Gavin sambil keluar dari mobil. Alea mengikutinya. Ia tahu maksud Gavin membawanya ke sana sebenarnya, itu adalah hal yang ia impikan sejak dahulu. Mereka berjalan bersama menyusuri parkiran. Kemudian masuk ke areal gedung bertingkat itu. Beberapa pasang mata menatap mereka dengan tatapan aneh. Seolah iri dengan keberuntungan yang dimiliki Alea untuk mendapatkan pewaris tunggal harta kekayaan keluarganya. Setibanya di toko yang menjual aneka gawai mereka pun memasukinya. "Pilih mana pun yang kamu mau," titah Gavin kepada istrinya tersebut. Alea menatap laptop yang berjajar dengan mata berbinar. Melihat satu persatu gawai yang berjajar di hadapannya. Dengan penerangan lampu terlihat begitu apik. "Mau pilih yang mana, Kak?" tanya salah seorang penjaga toko yang berada di sana "Saya mau yang ram-nya besar, prosesornya bagus, pokoknya yang spek dewa deh," ujar Alea dengan semangat. "Baik, Kak, ini kami tawarkan dari merek ini ya," ucap penjaga toko tersebut sambil memperlihatkan satu buah laptop kepada Alea. Alea terlihat begitu antusias dan melihat-lihat laptop tersebut. "Coba lihat yang lainnya juga," pinta Alea yang masih penasaran dengan merek lain yang ditawarkan di toko tersebut. Penjaga toko tersebut kemudian mengeluarkan merek lain dan menjelaskan spesifikasinya kepada Alea. "Mas, kalau boleh aku mau yang ini aja, ya," ujar Alea kepada Gavin. Ia terlihat begitu sumringah dan berharap seperti anak kecil yang meminta permen pada ayahnya. "Boleh," ujar Gavin. Dia kemudian langsung membayarnya tanpa banyak berkomentar. Setelah Alea mendapatkan apa yang dia mau, mereka pun langsung ke parkiran untuk menuju ke mobil. Setelah itu melaju menuju ke ke rumah. "Simpan saja laptopmu itu di jok belakang," titah Gavin kepada istrinya itu. Lagipula repot juga duduk sambil memegangi laptop seperti Alea. "Enggak usah, biarin aku pegang aja ya," jawab Alea sambil memeluk laptopnya. Ia terus saja melihat melihat laptop baru tersebut yang kardusnya baru saja dibuka dan disimpan di jok belakang. Gavin terkekeh, entah mengapa hatinya ikut bahagia melihat kebahagiaan yang terpancar di wajah Alea. Mobil melaju menyusuri jalanan yang terlihat lengang. Ternyata mereka menghabiskan waktu cukup lama berada di toko gawai tadi. Padahal Gavin hanya berniat untuk sebentar, tapi yang namanya perempuan ketika milih-milih barang pasti akan sangat selektif. Mereka sampai di rumah ketika hari telah gelap. Alea dan Gavin turun dan melangkah menuju ke dalam rumah. Rupanya Helen dan Herni sedang berada di ruang tengah, tapi suami Helen tidak ada di sana. Alea berjalan sambil menenteng kardus laptop. Saat akan turun ia telah memasukkan kembali laptopnya ke dalam kardus. Seolah ingin menunjukkan kalau ia dibelikan laptop baru oleh Gavin. "Cie ... pengantin baru, terus aja jalan-jalan. Bukannya perempuan itu harus banyak di rumah ya, urusin suami sama rumah, bukannya malah keluyuran," ujar Helen dengan ketus. "Kayaknya ada yang baru dibeliin laptop baru nih," ujar Herni sambil mendelikkan mata. Helen menatap apa yang dibawa Alea. "Cuma laptop murahan gitu doang, enggak usah seneng," celetuk Helen tanpa merasa bersalah. "Mau murahan, mau mahal yang penting aku suka dan ini diberikan oleh suamiku," ujar Alea sambil menggandeng lengan Gavin. Helen dan Herni hanya mendelikan mata. Mereka sepertinya kepanasan melihat Alea dengan Gavin. "Sudahlah, tak ada gunanya melayani mereka, ayo," ajak Gavin kepada Alea. Mereka kemudian menuju ke kamar yang berada di lantai dua. Alea masih saja memegangi lengan Gavin hingga memasuki kamar. Saat telah menutup pintu, Gavin menatap wanita yang ada di sampingnya itu. Alea yang baru sadar masih memegang lengan Gavin langsung melepaskannya seketika. "Ma—maaf aku nggak sengaja," ucap Alea dengan gugup. "Tidak masalah kok, mau sering-sering juga enggak masalah," jawab Gavin sambil tersenyum jahil. "Apaan sih." Alea melengos pergi dan menyimpan laptopnya di meja. Kemudian, masuk ke kamar mandi untuk menyegarkan tubuhnya yang terasa gerah. Beberapa saat kemudian, ia telah selesai dari kamar mandi. Langsung menuju ke tempat laptopnya berada. Ia sudah tak sabar untuk menggunakannya, kebetulan banyak tugas kuliah yang harus dikerjakannya. Baru kali ini rasanya ia begitu senang mendapat tugas kuliah dari dosen. Gavin tersenyum sekilas, kemudian memasuki kamar mandi untuk menyegarkan tubuhnya. 'Besok aku harus menjelaskan semuanya kepada Alea, agar dia memilih siap atau tidak untuk melanjutkan misi ini,' gumam Gavin dalam hati saat di kamar mandi. Selesai dari kamar mandi, Gavin kemudian menuju ke walk-in closetnya. Setelah rapi, ia kembali ke sofa dan membuka laptopnya. Mereka berdua sibuk dengan laptop masing-masing. Gavin dengan pekerjaannya dan Alea dengan tugas kuliahnya. Wajah mereka pun terlihat begitu fokus dan tak bisa diganggu oleh siapapun. Waktu makan malam tiba, terdengar cacing berdemo dari perut Alea yang tidak bisa dikendalikan. 'Duh, kebiasaan buruk banget sih, perut gue,' gumam Alea dalam hati. Ia masih saja merasa malu jika terdengar suara perutnya yang sedang keroncongan. "Rasa lapar itu manusiawi, sudahlah ayo kita makan malam dulu," ajak Gavin kepada istrinya itu. Alea kemudian bangkit dari duduknya dan mengikuti langkah Gavin menuju ruang makan yang berada di lantai satu. Suasana makan sekarang terasa sangat berbeda. Jika dulu, ketika belum ada Herni dan Helen, ia selalu bersemangat untuk menuju ke ruang makan. Alea memang menyukai makan, tapi untungnya badannya tidak pernah melar meskipun makan banyak. Sekarang suasananya berubah tak menyenangkan, sejak kehadiran Herni dan Helen. Rasanya ruang makan itu begitu panas dan tak mengenakkan. Sesampainya di ruang makan, ternyata Herni dan Helen sudah berada di sana. Alea dan Gavin pun duduk di sisi berlawanan. Kursi di meja makan itu ada sepuluh. Alea dan Gavin duduk di sebelah kanan, sementara Helen dan Herni di sudut kirinya. Cukup jauh sebenarnya l, untunglah bagian lauknya bisa diputar untuk mengambil makanan yang jauh. "Dasar suami b******k," gumam Helen pelan di meja makan sambil menatap ponsel yang sejak tadi dipegangnya. "Apa sih? Masih di meja makan marah-marah," tanya Herni heran kepada anaknya itu. "Enggak, enggak ada apa-apa. Makan aja," jawab Helen dengan ketus kemudian menyimpan ponselnya. Mereka kemudian makan malam bersama. Meskipun suasananya tidak nyaman tapi makanan itu tetap enak. Hanya saja tidak begitu nikmat seperti biasanya. "Makan yang banyak ... di kampung pasti jarang kan nemu makanan mewah kayak gini," celetuk Herni yang bertujuan untuk menyindir Alea. Mood Alea yang baru saja dibelikan laptop sedang baik. Ia tidak banyak tersulut emosi dengan ucapan-ucapan pedas dari Herni dan Helen, paling hanya menimpalinya sedikit-sedikit tapi tidak sampai fatal.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN