"Bang, jangan diladeni. Lebih baik kita pulang saja," ajak Alina yang khawatir melihat Bang Arka yang akan berkelahi melawan empat pemuda mabuk tersebut.
Sementara Alea hanya berdiri mematung di samping adiknya. Ia tak ambil pusing mau kakaknya berkelahi ataupun tidak, yang penting dirinya sudah selamat.
"Diam Lina, tak perlu khawatir. Biar mereka tahu rasa dan tidak berbuat seenaknya lagi. Apalagi kepada wanita," timpal Bang Arka yang sudah dibakar emosi.
"Banyak omong, sini lawan Acil!" teriak pemuda bertubuh cungkring itu dengan nada menantang.
Satu persatu dari mereka maju ke depan dan melawan Bang Arka. Di tengah terminal yang kosong tersebut pergulatan terjadi.
Keadaan mereka yang sedang mabuk membuatnya sempoyongan dan tidak bisa mengendalikan diri. Sehingga dengan mudah Bang Arka menaklukkan mereka.
Setelah itu, keempat pemuda itu menggelepar di tanah bagaikan ikan yang dikeluarkan dari air. Bang Arka lalu mengajak kedua adiknya untuk pulang ke rumah.
"Ayo, cepat kita pulang," ajak Bang Arka kepada kedua adiknya.
"Enggak! Aku enggak mau pulang. Biar nunggu minibus saja di sini. Aku akan pulang ke Bandung!" tolak Alea yang keras kepala dengan setengah berteriak.
Setelah kejadian yang hampir membuatnya celaka tadi, ia masih nekat akan meneruskan perjalanannya ke Bandung. Sungguh Bang Arka dan Alina dibuat geleng-geleng kepala olehnya.
"Kamu jangan keras kepala! Biar kita bicarakan lagi nanti di rumah. Lagipula kalau preman lain datang bisa saja kamu beneran dirudapaksa!" bentak Bang Arka yang sudah sangat kesal pada adiknya itu.
"Sudah, Kak. Lebih baik kita pulang saja. Bahaya di sini," ucap Alina lembut membujuk kakaknya.
Melihat mata Bang Arka yang nyalang menatapnya nyali Alea menciut juga. Ia masih punya rasa takut jika kakaknya itu juga menghajarnya seperti kepada keempat pemuda tadi.
Akhirnya, dengan terpaksa, ia ikut naik ke motor Bang Arka. Mereka berboncengan bertiga di satu motor melewati jalan desa. Maklum di perdesaan seperti itu, tidak ada polisi yang akan menghadang. Jadi, mereka bebas meskipun satu motor bertiga dan tanpa menggunakan helm.
Motor melaju menyusuri jalan yang begitu gelap. Di sisi kanan adalah perkebunan milik warga yang luas. Sedangkan di sisi kiri terdapat jurang yang cukup dalam.
Selama perjalanan, tak ada satupun yang bicara. Hanya suara jangkrik dan binatang lainnya yang meramaikan perjalanan tersebut.
Udara juga begitu dingin menusuk tulang. Belum lagi motor Bang Arka yang tidak bisa dibawa ngebut. Jadi, semakin lamalah mereka di perjalanan.
Saat melewati bapak-bapak yang ronda, ada seseorang yang bertanya kepada Bang Arka.
"Loh kok, dijemput lagi, Ka?" tanya Pak Lukman pura-pura tidak tahu.
"Enggak apa-apa, Pak. Belum ada aja minibusnya," jawab Bang Arka sekenanya.
"Ya, pasti belum ada orang tadi berangkatnya masih tengah malem," timpal yang lainnya.
Bang Arka tak menanggapinya lagi. Ia lalu melanjutkan perjalanan ke rumahnya yang tinggal beberapa puluh meter lagi.
Sesampainya di depan rumah, ibu dan bapaknya langsung menyongsong keluar.
"Kamu enggak apa-apa, kan?" tanya Bu Ani sambil memeluk Alea.
Sejak tadi ia begitu cemas dengan keadaannya. Perasaannya sangat tidak enak dan diliputi kekhawatiran. Ia sangat takut Alea kenapa-napa.
"Kita masuk dulu, Bu," ucap Pak Asep kepada istrinya.
Bu Ani merangkul Alea dan mengajaknya masuk ke dalam rumah. Rasa kantuk sudah hilang dari benak mereka.
Mereka lalu duduk di ruang tengah, sekaligus ruang tamu tersebut. Bu Ani terus saja memeluk Alea, seakan takut kehilangan. Perasaan seorang ibu memang tak dapat dibohongi.
Alea yang dipeluk seperti itu oleh ibunya merasa terenyuh. Sisi hatinya mengatakan kalau apa yang tadi dilakukannya begitu salah. Tapi, di sisi lain hatinya, terus berkata kalau ia memiliki cita-cita yang pantas untuk diperjuangkan.
"Kamu kenapa, Nak? Sampai berpikiran untuk kabur dari rumah ini," tanya Bu Ani dengan berlinang air mata.
"Aku sudah bilang, Bu, aku enggak mau nikah. Aku mau ngejar cita-cita," jawab Alea dengan penekanan.
Meskipun sebenarnya hatinya merasa bersalah saat tadi melihat air mata yang diteteskan oleh ibunya dikarenakan ulahnya.
"Tapi, bukan begini caranya, Nak," protes Bu Ani.
Ia takut sekali terjadi apa-apa tadi pada Alea. Apalagi di daerah yang gelap juga terkenal sering ada begal.
"Ada apa? Ibu merasakan ada hal yang tidak beres dari tadi. Ada apa tadi?" tanya Bu Ani penasaran dengan begitu panik.
"Alea tadi hampir dirudapaksa, Bu. Untung aku datang di waktu yang tepat," jawab Bang Arka mewakili adik-adiknya yang tak sanggup membicarakan hal tersebut.
"Apa?! Ya Allah!" tanya Bu Ani tak percaya.
Entah bagaimana jadinya kalau Dudung tidak ke rumahnya dan dia tidak segera menyuruh Bang Arka untuk menjemput Alea. Mungkin saat ini masa depannya telah hancur.
"Lea, kamu kenapa enggak sadar juga. Justru dengan kamu kabur bisa saja tadi masa depan kamu hancur!" bentak Bu Ani saking kagetnya dan juga marah dengan sikap Alea yang keterlaluan.
"Ibu marah sama aku? Terus aku harus marah sama siapa?!" tanya Alea dengan suara setengah berteriak.
"Bu, sudahlah. Lebih baik kita ke kamar mandi dulu, sudah azan subuh." Alina melerai pertengkaran antara ibu dan anak itu.
Sementara Pak Asep sedang menahan nyeri di dadanya. Tapi, tidak begitu parah. Hanya saja ia menggigit bibir bawahnya untuk menahan nyeri tersebut.
Satu persatu dari mereka kemudian bergantian ke kamar mandi untuk melaksanakan ibadah subuh.
Setelah itu, Alea kembali masuk ke kamar. Sementara ibunya bersiap untuk pergi ke pasar bersama Bang Arka.
Hari ini akan ada acara masak besar untuk mengundang keluarga besarnya datang di acara pernikahan Alea nanti. Lalu, nanti akan dilanjut dengan memasak untuk resepsi pernikahan Alea.
"Arka, sudah siap?!" tanya Bu Ani, ia harus menyiapkan untuk masak-masak. Sehingga tak lagi mengingat Alea yang tadi sedang marah padanya.
"Sudah, Bu. Ayo," jawab Bang Arka.
Mereka lalu pergi ke pasar. Sebelum pergi, Bu Ani telah menitipkan Alea pada adiknya. Ia khawatir Alea kembali berbuat nekat.
Alina duduk di samping Alea yang tengah berbaring dengan menghadap ke dinding. Dinding yang terbuat dari anyaman bambu itu berwarna pink. Khusus untuk kedua anak perempuan Pak Asep dan Bu Ani.
"Kak," panggil Alina lembut.
Ia ingin bicara dari hati ke hati pada kakaknya itu. Ia ingin membuat Alea mengerti kalau apa yang dilakukan bapak dan ibunya itu untuk kebaikannya.
Alea tak menyahut sama sekali panggilan adiknya. Ia masih sibuk dengan perasaannya yang hancur lebur.
"Kakak, tolong mengerti ya, keadaan keluarga kita," ucap Alina pelan. Ia tahu kalau Alea tidak tidur dan mendengarkan ucapannya.
"Maksud kamu mengerti dengan menikah? Begitu?" tanya Alea pelan tapi dengan nada kesal yang begitu jelas terdengar.
"Kak, apa ada yang salah dengan menikah?" tanya Alina masih dengan lembut.