Pemuda di Pasar

1044 Kata
Baru saja berjalan beberapa meter dari rumahnya, tiba-tiba ada orang yang menyapanya. "Loh, Alea mau ke mana malam-malam begini?" tanya seorang bapak dengan kaget, melihat seorang gadis pergi sendirian lewat tengah malam. Ada empat bapak-bapak yang sedang duduk di pos ronda. Mereka tengah meronda pada malam hari itu. "Sa—saya mau pergi sekarang, Pak, ke Bandung. Biar enggak macet," jawab Alea dengan gugup. "Bahaya, Lea. Ini lewat tengah malam, minibus juga paling lewatnya nanti subuh," tutur Pak Lukman yang merupakan warga desa itu juga. "Enggak apa-apa, Pak," ucap Alea kekeh dan melanjutkan perjalanan. Setelah beberapa meter Alea pergi. Para bapak-bapak itu membicarakannya. "Kok, Pak Asep membiarkan anak gadisnya pergi sendirian, ya," ucap Pak Lukman heran. "Iya, aneh anak gadis cantik begitu. Kalau diambil kucing garong gimana," ucap yang lainnya. "Padahal punya kakak laki-laki, kenapa enggak dianterin ya," ujar yang lainnya. "Ah, perasaan saya enggak enak, Dung. Nanti kita disalahkan lagi, coba kamu tanyakan ke keluarganya. Emang bener si Alea mau ke Bandung," titah Pak Lukman pada Dudung. "Baik, Pak," jawab Dudung yang masih pemuda kampung itu. Dudung lalu pergi meninggalkan pos ronda. Ia berjalan menuju ke rumah Pak Asep yang tak jauh dari sana. Hanya sekitar beberapa puluh meter. "Punten, Pak Asep~," ucap Dudung sembari mengetuk pintu rumah itu. Tak terdengar sahutan dari dalam. Keluarga Pak Asep yang merupakan pekerja keras tengah lelap tertidur di jam seperti itu. Dudung mencoba menggedor pintu itu. Ia sendiri khawatir disalahkan kalau tidak memberi tahu keluarga Pak Asep. Mendengar gedoran pintu dari luar, Pak Asep dan Bu Ani pun terbangun. Mereka bangkit dari tidurnya dan membuka pintu. "Ada apa, Dudung? Kamu malam-malam begini gedor rumah orang!" tanya Bu Ani dengan sedikit marah karena kesal rumahnya digedor pada pukul setengah tiga dini hari. "Bu, emang benar si Alea pergi ke Bandung jam segini?" tanya Dudung memastikan. "Apa kamu ini ngada-ngada aja. Masa pergi ke Bandung jam segini. Alea lagi tidur di kamarnya," elak Bu Ani. Pak Asep hanya memerhatikan obrolan itu tanpa bicara. "Bu, coba lihat aja ke kamar Alea ada atau enggak," titah Pak Asep yang khawatir anaknya kabur. "Astaghfirullah! Bapak, si Alea enggak ada!" jerit Bu Ani dengan keras. Alina langsung terperanjat dari tidurnya. Ia bertanya ada apa. "Lina bangunin Bang Arka suruh susul Alea kabur!" titah Bu Ani pada anaknya yang baru bangun tidur dengan setengah berteriak. "Nah, kalau begini sudah jelas, kan. Saya balik ke pos dulu, Pak," pamit Duduk pada Pak Asep. "Iya, silakan, Dung," jawab Pak Asep. Alina dan Bang Arka keluar dari kamar belakang. "Ada apa, Bu?" tanya Bang Arka masih dengan wajah bantalnya. "Kamu cari Alea sekarang! Dia kabur!" titah Bu Ani dengan setengah berteriak. Ia tak menyangka anak gadisnya kabur lewat tengah malam seperti itu. Padahal jalanan kampung sangat gelap karena masih minim penerangan. Belum lagi cerita-cerita seram yang beredar di beberapa tempat. Seperti di Legok Burak. Bang Arka mengangguk dan langsung keluar dari rumah. "Bang, aku ikut! Takutnya Abang enggak fokus carinya sambil nyetir!" teriak Alina yabg akan ikut pada kakaknya. Bu Ani dan Pak Asep tak melarangnya. Bang Arka dan juga Alina langsung menaiki motor. Mereka mencari Alea ke jalanan kampung menuju ke tempat pemberangkatan minibus. Di jam seperti itu pasti terminal kecil di desa itu masih sepi. Kejadian itu pasti akan menjadi trending topik pembicaraan besok. Para ibu-ibu pasti akan bertanya-tanya soal keributan yang terjadi di rumah Pak Asep. 'Ya ampun, Kak Alea kenapa sih, nekat banget. Bikin ibu sama bapak khawatir lagi,' gumam Alina dalam hati sambil mengedarkan pandangannya ke sekeliling untuk mencari Alea. Jalanan begitu gelap dan sunyi. Tak ada satu orang pun yang hilir mudik. Penerangan jalan juga minim. Belum lagi, motor Bang Arka yang memang tak memiliki lampu penerangan di depan. "Cepetan, Bang. Keburu jauh Kak Leanya," titah Alina yang tak sabar dengan laju motor Bang Arka yang lambat. "Tenang aja. Bakal kesusul kok, lagian kan, si Alea jalan kaki," jawab Bang Arka dengan santainya. Sementara itu, Alea telah hampir mendekati terminal. Langkahnya begitu cepat dengan rasa was-was di hatinya. Alea meneruskan langkahnya. Tiba-tiba ada segerombolan pemuda yang sedang mabuk menghadangnya. "Mau ke mana, Cantik?" tanya salah satu pemuda tersebut dengan mata yang menyipit karena mabuk. "Pergi! Kalian!" teriak Alea yang justru memancing kemarahan para pemuda tersebut. "Berani juga kau, ya. Tangkap!" titah salah satu pemuda berbadan cungkring yang tak memakai baju. Dua orang pemuda lainnya mendekatinya. Mereka langsung memegangi tangan Alea. "Lepaskan!" teriak Alea dengan suara yang paling keras dimilikinya. Ia juga takut bila terjadi sesuatu yang tak diinginkannya. Ia tak berpikir sejauh ini saat kabur. Ia tak menyangka kalau akan ada pemuda-pemuda mabuk seperti mereka di kampung itu. "Bawa! Kayaknya kita dapat jatah gratis hari ini!" ucap pemuda cungkring tadi sambil tertawa terbahak-bahak. Ketiga temannya ikut tertawa. Merasa mendapat angin segar. Biasanya mereka harus menyewa dan membayar. Alea terus saja berontak, tapi cekakan tangan dua pemuda itu begitu keras. Hingga pergelangan tangannya begitu sakit. "Lepaskan ...!" jerit Alea lebih keras lagi. Mereka lalu menyeretnya ke suatu tempat. Kaki Alea sampai memar karena beradu dengan aspal terminal. Tak ada yang mendengarnya. Terminal dan pasar itu memang cukup jauh ke perumahan warga desa. Mereka memasuki sebuah kios yang sudah lama tak terpakai. Di sana kotor dan bau, juga pengap karena lama tak dibuka pintu dan jendelanya. Kedua pemuda itu masih mencekal pergelangan tangan Alea. Ia lalu dibaringkan paksa. Alea menangis sejadinya dengan begitu kencang. "Sumpal mulutnya. Berisik!" titah pemuda cungkring. Sementara itu, Arka dan Alina baru saja sampai di pasar. "Bang, itu suara tangis Kak Lea!" ujar Alina dengan panik. Mereka baru saja sampai di terminal sekaligus pasar desa itu. "Ayo, cari," ujar Bang Arka. Mereka mengikuti asal suara tersebut. "Lepaskan, adikku!" teriak Bang Arka menggelegar. Kedua pemuda tadi melihat siapa yang datang. Mereka tiba-tiba melepaskan Alea begitu saja. Alea langsung kabur dan berdiri di belakang kakaknya. Ia masih menangis terisak-isak. Alina juga ada di sebelah Bang Arka. "Beraninya sama perempuan kalian semua!" teriak Bang Arka yang tak terima adiknya hampir dilecehkan oleh para pemuda mabuk itu. "Hei, kau berani sama kita, hah!" teriak pemuda cungkring tadi. Bang Arka memiliki tubuh yang berisi. Wajahnya juga berjambang tipis, jadi sedikit menyeramkan. Keempat pemuda itu hendak menyerang Bang Arka berbarengan. Mereka keluar dari kios itu dan berdiri di tengah terminal yang luas. "Satu satu, kalau berani!" teriak Bang Arka yang sudah kadung dibakar emosi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN