Kabur dari Rumah

1036 Kata
Alina dan Bang Arka tak mencomot apapun dari meja itu. Bukan apa-apa, tapi istri Paman Ucup yang bernama Yuni itu, sifat buruknya sudah terkenal. Ia juga sebenarnya malas berhubungan dengan Bi Yuni tersebut, karena sifatnya yang nyinyir dan sombong. "Begini, Paman. Ibu mengundang Bibi untuk bantu masak di rumah besok. Soalnya Kak Alea mau nikah," jawab Alina sambil tersenyum. "Mau nikah? Bukannya mau ngelanjutin kuliah dulu? Waktu itu, kalau enggak salah Alea ngomongnya begitu," tanya Paman Ucup yang heran dengan pernikahan mendadak tersebut. Karena memang Alea memang selalu berkata tegas jika tak ingin menikah sebelum lulus kuliah dan bekerja. "Ya ... gimana lagi, Paman. Kebetulan jodohnya dekat," jawab Alina sekenanya. Ia takut jika sampai salah bicara di rumah itu. "Kok, dadakan begini. Emangnya hamil, ya?" tanya Bi Yuni dengan wajah menyebalkan. Pertanyaannya juga seperti menuduh. "Enggak kok, Kak Alea enggak hamil," jawab Alina dengan cepat. "Bibi, tolong dijaga ya ucapan," ujar Bang Arka dengan penuh penekanan. Ia tak terima adiknya disangka hamil di luar nikah. Mereka tak terima Alea disebut hamil, tapi memang identiknya di desa jika menikah dengan buru-buru dan mendadak akan dikira hamil duluan. Padahal tidak semua yang memutuskan untuk menikah cepat karena hamil duluan. Bisa saja karena menghindari zina dan yang lainnya. Tapi, kebiasaan yang sudah mendarah daging memang begitu. Jadi sulit untuk diubah. "Oh, begitu. Kita lihat aja nanti, jangan-jangan nanti baru berapa bulan nikah, udah ngelahirin aja," ucap Bi Yuni dengan sinisnya. "Ya sudah, kalau begitu, besok Bibi kalian bakal datang ke rumahmu, ya," ucap Paman Ucup yang tidak enak dengan sikap istrinya tersebut. "Ya sudah, Paman, kami pulang dulu," ucap Alina yang kemudian keluar dari rumah tersebut. Bang Arka juga mengikuti Alina keluar dari rumah itu tanpa pamit. "Dasar anak enggak tahu sopan santun," celetuk Bi Yuni dengan santainya. "Yun!" tegur Paman Ucup sedikit keras. Bang Arka hampir saja balik lagi untuk menghajar mulut nyinyir bibinya itu. Mereka heran, kenapa orang baik seperti Paman Ucup mesti berjodoh dengan Bi Yuni yang sifatnya buat orang emosi. Mereka kembali menaiki motor dan mengunjungi saudara yang lain. Tujuannya sama, untuk mengundang mereka untuk membantu masa-masa di rumah besok. Sementara itu, Alea kembali berbaring di kamarnya. Meskipun sebenarnya kepalanya sudah sangat pusing, karena kebanyakan berbaring tanpa aktivitas. Ia lalu mengambil ponsel yang ia simpan tak jauh darinya. Sejak mendapat kabar kalau dirinya akan menikah, Alea jadi tidak mau memegang ponsel. Saat dia membuka ponselnya, begitu banyak chat grup yang masuk. Juga beberapa dari kawan-kawannya. Ia membukanya satu persatu, penasaran dengan apa yang diobrolkan oleh mereka. Tak ada yang menarik dari obrolan teman-temannya. Alea lalu menutup kembali chat tersebut dan menyimpan ponselnya. 'Apa aku akan benar-benar menikah? Tidak adakah cara untuk membatalkan semua ini?' gumam Alea dalam hati. "Apa aku kabur saja, ya, dari rumah ini," ucap Alea dengan pelan. Ia merasa dirinya masih bisa bekerja di kota, tanpa bantuan orang tuanya. Ia juga bisa membayar hutang pengobatan ayahnya kepada Gavin, tanpa harus menikah dengannya. 'Ya, aku harus pergi malam ini,' gumam Alea dalam hati. Ia telah bertekad untuk kabur dari rumah malam itu juga. Tanpa memikirkan keluarganya dan apa yang akan terjadi ke depannya. Menurutnya keluarganya juga tak memikirkan dirinya. Lalu, kenapa dia harus memikirkan keluarganya. Tapi, untuk masalah hutang pada Gavin ia akan menanggungnya. Alea lalu berpura-pura tidur kembali. Adik dan kakaknya yang disuruh mengundang saudara juga belum pulang. Sementara itu, Bu Ani tengah memasak di dapur untuk makan malam mereka semua. Ia percaya pada anaknya takkan melakukan sesuatu yang diluar keinginan mereka. Menjelang malam, Alina dan juga bang Arka baru saja pulang memberitahu saudara-saudara mereka. Alina mengucapkan salam sebelum masuk, begitupun dengan kakaknya. a Bu Ani langsung menyongsong kedatangan Alina sambil menanyakan bagaimana respon saudara-saudara mereka. "Bagaimana mereka akan datang?" tanya Bu Ani begitu antusias. "Bakal, kok, Bu. Cuma begitulah, mereka pada nanya kenapa nikahnya dadakan. Bukannya mau kuliah dulu. Seperti itu rata-rata, cuma istrinya Paman Ucup yang nyinyir tahulah Ibu juga bagaimana sifatnya," tutur Alina menceritakan hal yang tadi dialaminya. "Ya sudah, biarkan saja orang yang nyinyir. Toh, nanti juga akan kena imbasnya sendiri," ujar Bu Ani dengan bijak. Meskipun ia juga tak enak dengan kata-kata Yuni yang merupakan istri adiknya. Ia tak ingin menambah penyakit hati dengan merasa sakit hati. Ia ingin hidupnya damai, apalagi di usianya yang sudah tidak muda lagi. "Ya sudah, kalian cepat ke kamar mandi, nanti kita makan malam bersama," titah Bu Ani pada dua anaknya. Pukul setengah delapan malam, Bu Ani memanggil semua anak-anaknya untuk makan malam bersama. Juga tak lupa mengajak suaminya. Keadaan Pak Asep sudah jauh lebih baik. Meski nyeri di bagian dadanya kadang masih terasa akibat sakit asma yang dideritanya. Setelah semuanya berkumpul di dapur, mereka lalu makan malam bersama. Hanya dengan lauk seadanya, yaitu sawi putih dari kebun dan juga sambal yang cabainya juga dari kebun. Dengan kebersamaan makan pun terasa nikmat. Setelah selesai makan, mereka lalu duduk di ruang tengah. Alina dan ibunya membuat complong, yaitu daun panjang yang di rekatkan agar jadi bulat untuk nantinya menjadi tempat bibit ditanam. Sementara itu, Alea langsung masuk ke kamarnya. Ia membereskan baju-bajunya yang kemarin dibawa pulang. Tidak banyak hanya satu tas ransel biasa. Ia sudah bulat untuk kabur dari rumah itu. Dia merasa bisa hidup mandiri tanpa bantuan kedua orang tuanya. Lalu, ia menyembunyikan tas tersebut di dalam lemari. Setelah itu, berpura-pura tidur lebih dulu. Malam semakin larut, Alina dan keluarganya baru memasuki kamar setelah selesai membuat ratusan complong yang dipesan oleh orang lain. Itu merupakan salah satu pekerjaan sampingan mereka. Meskipun hasilnya tak seberapa, tapi lumayan untuk menambah resiko dapur. Alina tidur di sebelah Alea. Tubuhnya yang lelah setelah seharian mengunjungi saudara dan juga dilanjut dengan membuat complong membuatnya tertidur lelap. Alea melirik jam di kamarnya, sudah pukul dua malam. 'Aku harus pergi sekarang. Pasti mereka sedang sangat nyenyak tertidur,' gumam Alea dalam hati. Ia pun bangkit dari tempat tidur itu secara perlahan. Ia mengambil tasnya dengan sepelan mungkin agar Alina tidak bangun. Setelah itu, ia keluar dari kamar tersebut dan berjalan keluar pintu utama. Ia tak memegang uang sepeserpun, tapi tetap nekat untuk pergi dari rumah itu. "Aku masih punya cita-cita yang harus diperjuangkan. Aku harus pergi," ucap Alea pelan ketika berjalan menyusuri jalan kampung yang gelap. Belum ada lampu penerangan jalan di kampung tersebut. Sehingga jalan begitu gelap gulita.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN