"Kamu beneran enggak hamil duluan kan?" tanya Tias seolah takut kalau temannya itu sampai terjerumus pergaulan bebas.
"Ya, enggaklah, Tias .... Jadi, papanya dia sama bapakku sahabat lama, terus kita dijodohin dari lama gitu," jawab Alea berbohong.
Ia tak bisa menjelaskan tujuan Gavin menikahinya kepada siapapun. Itu sudah menjadi konsekuensi dari pernikahannya. Jika sampai bocor maka ibu tiri Gavin akan menaikkan kasus ke pengadilan dan Gavin bisa-bisa kehilangan semua harta warisannya.
"Wah, masih ada jaman sekarang yang dijodohkan?! Tapi, kalau kamu sih, bener-bener beruntung banget. Aku juga mau sih kalau dijodohkan sama orang kayak gitu," ujar Dinda dengan ekspresif dan sumringah.
"Kalian liat Fia enggak? Kangen juga lama enggak ketemu dia," tanya Alea kepada kedua temannya itu.
Fia merupakan teman satu kamar indekosnya. Kuliah di universitas yang sama, hanya saja beda fakultas. Jika Alea memilih jurusan sastra Inggris, sementara Fia mendapatkan jurusan ekonomi.
"Lihat, tadi pagi juga kuliah dia. Lagian dia pulang ya cuma pas weekend aja, enggak keterusan nikah kayak kamu," jawab Dinda dengan nada bercanda.
Alea tertawa pelan, biarlah teman-temannya tak perlu tahu apa yang sebenarnya terjadi. Asalkan nanti semuanya terbukti kalau pernikahan itu harus menjadi batu lompatannya untuk sukses. Apalagi Gavin telah berjanji untuk menanggung semua kehidupan dirinya dan keluarganya. Belum lagi akan membiayai kuliah Alea ke jenjang berikutnya.
Setelah mereka asik mengobrol, tepat pada pukul tujuh lebih lima belas menit seorang dosen memasuki kelas mereka. Alea dan kedua temannya langsung duduk di bangku masing-masing.
"Selamat pagi semua. Kita mulai kegiatan hari ini dengan doa, apa kabar semua?" tanya seorang dosen di depan para mahasiswa tersebut.
Dosen itu masih muda dan tampan, juga baru pertama kali mengajar di kelas itu. Ia menggantikan Bu Ani yang cuti sementara.
"Perkenalkan saya, Alfi, menggantikan Bu Ani mengajar di kelas ini. Tadi saya juga mendapat pesan dari kepala dekan untuk mengucapkan selamat datang kembali kepada Alea," tutur Alfi sambil mencari orang yang bernama Alea di kelas tersebut.
"Alea yang mana, ya?" tanya dosen tersebut yang sepertinya penasaran dengan sosok Alea.
Alea mengacungkan tangannya, tanpa berkata apapun. Kemudian, kembali menyimpan tangannya pada meja yang berada di hadapannya.
"Oh iya, itu yang bernama Alea ya," ucap Dosen Alfi sambil tersenyum kepada Alea.
"Kalau begitu, kita mulai pelajaran hari ini ya," ucap Dosen Alfi itu membuka pelajaran untuk hari tersebut.
Dia kemudian mulai menjelaskan rancangan materinya untuk hari itu. Setelah empat puluh lima menit berlalu, dosen itu pun pamit undur diri. Ia melenggang pergi dari kelas tersebut tanpa banyak bertanya lagi.
Hanya saja selama pelajaran berlangsung dan sebelum keluar dosen tersebut terus saja mencuri-curi pandang kepada Alea. Sepertinya ia tertarik dengan Alea.
"Kalian sadar enggak sih, Dosen Alfi tadi terus-terusan lihatin Alea?" tanya Dinda yang menyadari tatapan Dosen Alfi yang terus saja melihat ke arah Alea saat jam pelajaran berlangsung.
"Iya, kok bisa ya," jawab Tias yang juga melihat hal tersebut.
"Apaan sih, kalian. Aku enggak ngerasa tuh dilihatin. Orang dosen tadi lihatnya ke semua mahasiswa di sini," elak Alea yang memang tidak merasa diperhatikan oleh muda dan tampan tadi.
"Enggak, ini antisipasi aja, Lea. Seandalnya dia memang suka sama kamu, dia harus tahu status kamu itu sudah jadi istri orang. Suami kamu CEO!" ucap Dinda dengan berapi-api.
"Dan ... akhirnya dosen tampan itu bisa jatuh ke pelukanku," lanjutnya sambil tersenyum-senyum tak jelas.
Membuat Alea dan Tas tak bisa menahan tawa. Mereka mentertawakan Dinda yang memang masih jomblo hingga saat itu.
"Kalian malah ngetawain ah, kesel," ujar Dinda pura-pura merajuk.
"Ya sudah, aku mau cari Fia dulu. Rasanya kangen juga lama nggak ketemu dia. Sama pengen ke kamarku dulu sebentar," pamit Alea kepada dua temannya itu.
Ia lalu bangkit dari duduknya dan melenggang pergi begitu saja. Tanpa mengajak kedua temannya tersebut.
Ia memang berbeda fakultas dengannya. Hanya saja seingat Alea jika hari Rabu seperti itu, jadwal kuliah dirinya dan Fia sama. Biasanya dia juga akan pulang dulu ke kosan untuk makan atau istirahat karena jadwal pelajaran kedua masih cukup lama.
Lagipula kamar indekos yang ditempati mereka memang tidak terlalu jauh dari kampus. Alea melewati jalan belakang kampus. Di mana jalannya hanya seperti pintu pagar biasa yang ada di salah satu sisi tembok pembatas kampus bagian belakang.
Ia melewatinya dan menyusuri g**g kecil. Untuk sampai menuju ke kamar indekos yang ditempatinya bersama Fia. Kamar itu merupakan sebuah bangunan rumah yang didalamnya berisi kamar-kamar yang ditempati oleh para mahasiswa. Dilengkapi dengan satu ruang tamu di depan dan juga satu dapur bersama di belakang dan dua kamar mandi.
Sesampainya di depan kosannya, Alea masuk ke dalam. Melewati ruang tamu lalu menuju kamarnya yang berada di ujung. Dekat menuju dapur, ia membuka pintu, benar saja tidak terkunci dan Fia ada di dalamnya.
"Fia!" ucap Alea setengah berteriak saking senangnya melihat kawannya tersebut.
"Alea, ini beneran kamu, kan?" ucap Fia saat melihat orang di hadapannya. Ia bahkan sampai bertanya untuk memastikan kalau itu memang Alea atau bukan. Ia seperti tak percaya melihat Alea ada di hadapannya.
"Ini aku, beneran," jawab Alea sambil menghambur ke pelukan Fia. Rasanya sudah lama sekali tidak bertemu. Padahal hanya berselang dua minggu.
"Kamu ke mana aja, sih? Aku hubungi juga enggak bisa, enggak diangkat, enggak di-read malah chat-ku," tanya Fia yang penasaran ke mana perginya sahabatnya itu.
"Maaf," ucap Alea yang menarik napas panjang saat akan bicara. Berat baginya untuk menceritakan apa yang telah terjadi kepadanya.
"Kenapa? Kamu enggak apa-apa kan?" tanya Fia sedikit cemas melihat temannya yang sepertinya memiliki beban berat.
"Kita enggak akan tinggal bareng lagi di kamar ini," ucap Alea sambil mengedarkan pandangannya ke seisi kamar indekos tersebut.
Kamar yang menyimpan banyak cerita tentangnya.
Mulai dari perjuangan masa kuliah sampai saat ini bisa bertahan tetap kuliah di universitas ternama itu.
"Emangnya kenapa? Jangan bilang kamu enggak akan meneruskan kuliah, ya," tanya Fia heran, tidak biasanya Alea seperti itu.
Alea yang ia kenal adalah orang yang selalu bersemangat untuk mencari ilmu dan juga kesuksesan. Ia selalu bilang kalau dirinya akan sukses, juga selalu yakin bila dibarengi dengan usaha dan kerja keras.
Dia sangat tahu keseharian Alea selama kuliah di Bandung. Mulai dari jam kuliah, jam kerja, bahkan sampai jam tidurnya ia tahu.
"Aku sudah nikah," ucap Alea dengan suara tertahan. Dia tahu pasti semua orang akan kaget dengan pengakuannya tersebut.
"Apa?! Beneran?!" tanya Fia saking kagetnya mendengar pengakuan Alea.
"Beneran, tapi bukan mauku sih, terpaksa karena ...." Alea hampir saja keceplosan menyebutkan kalau pernikahan itu dikarenakan oleh perebutan harta warisan.
"Kenapa?" tanya Fia mendesak Alea untuk jujur, karena ia pun penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi pada sahabatnya itu. Setidaknya jika telah tahu mungkin dia juga bisa sedikit membantu atau hanya menjadi tempat sampah untuk curhatan Alea.
Meskipun ia tahu sejak dulu Alea tidak pernah membagikan kesusahannya pada orang lain. Ia bekerja keras tanpa mengeluh, ia selalu berkata semua itu untuk masa depan yang cerah. Tapi, kali ini ia justru datang membawa kabar kalau dirinya sudah menikah.
Sebenarnya menikah bukan hal yang salah, hanya saja untuk Alea yang asalnya mengejar cita-cita seperti berubah haluan. Tiba-tiba menikah di tengah perjalanan kuliah dan karirnya sebagai penjaga minuman.
"Dijodohkan, aku dijodohkan sama anaknya sahabat bapakku dan aku nggak bisa nolak. Mau gimana lagi," ucap Alea dengan sedikit menunduk. Ia sendiri masih sedih jika mengingat hal tersebut.
"Kok bisa, sih, bapak kamu mau jodohin sama siapa?" tanya Fia yang juga kaget dengan pernyataan Alea.
Seingatnya dulu ayah dan ibunya Alea juga mendukung kalau untuk kuliah. Meskipun sempat menolak karena tidak memiliki biaya.
"Namanya Gavin. Dia kaya sih, cuma yang namanya terpaksa, sebenarnya aku enggak cinta sama dia. Aku jujur ya sama kamu," ucap Alea yang memang hanya bisa jujur kepada Fia itupun jika sudah berselang cukup lama.
"Iya, enggak apa-apa. Kamu kayak enggak kenal aku aja, kita sudah temenan sejak SMA. Aku bisa jaga rahasia kamu," ucap Fia sambil menatap lekat wajah Alea. Ia tahu kalau Alea tidak bahagia dengan pernikahannya.
"Kamu kurusan," ucap Fia sambil meraba-raba tangan Alea. Ia melihat pipi dan juga tangan Alea yang sedikit menyusut.
"Padahal cuma dua minggu, Fi. Masa sih kamu bisa tahu sampai segitunya?" tanya Alea heran sambil terkekeh geli.
"Justru karena biasanya ketemu, terus enggak ketemu. Aku jadi tahu," sahut Fia dengan begitu yakinnya.
"Untuk saat ini aku memang belum bisa menerima pernikahan ini, kalau bukan saat itu karena bapak sakit. Mungkin aku juga enggak mau untuk menikah dengan lelaki itu," tutur Alea menceritakan awal mula ka bisa menikah dengan Gavin.
"Kok, gaya yang ada di cerita-cerita ya, kirain itu cuma fiktif. Ternyata di dunia nyata juga ada ya," ujar Fia yang memang suka membaca cerita-cerita di platform online di sela waktu senggangnya.
Meskipun begitu ia turut merasakan kesedihan yang dialami sahabatnya tersebut.
"Begitulah, aku juga enggak nyangka kali, tapi ya sekali lagi, mau gimana lagi, aku enggak bisa berbuat apa-apa," jawab Alea sendu.
"Terus ke depannya kamu mau gimana?" tanya Fia penasaran.