"Entahlah, aku belum ada rencana. Mungkin untuk sementara waktu ya ... menerima semuanya terlebih dahulu. Walaupun aku sebenarnya belum bisa menerima kenyataan ini," ucap Alea terdengar begitu menyedihkan.
Ia berbaring di tempat tidur Fia. Akhir-akhir ini, ia hanya tidur sendiri di kamar indekosnya itu. Meskipun begitu Fia tak keberatan jika harus membayar full uang sewa kamar tersebut. Lagipula ia sebenarnya punya jatah membayar sewa kamar indekos secara full dari kedua orang tuanya.
"Kenapa kamu enggak pisah aja? Lagipula pernikahanmu bukan yang kau inginkan," tanya Fia heran. Meskipun ia tahu sendiri di kampung bercerai adalah tabu dan memalukan. Bahkan seringkali wanita berstatus duda akan direndahkan
Apalagi jika janda muda dan cantik pasti akan banyak warga yang takut suaminya kepincut. Sehingga tak jarang janda didiskriminasi di daerah-daerah yang masih terbelakang, seperti perkampungan.
"Hutangku banyak sama dia, termasuk biaya pengobatan bapak, dia juga janji mau biayain kuliah aku," jawab Alea yang seakan terjebak dengan keadaan hutang orang tuanya.
"Kamu yang sabar ya kalau gitu." Fia sudah tak tahu akan berkata apa lagi. Hanya itu kata yang bisa ia lontarkan untuk saat ini.
Alea hanya mengangguk. Itulah ketetapan yang harus diterimanya saat ini. Takdir yang menurutnya begitu pahit, bagaikan makan buah mengkudu.
Hari ini Alea maupun Fia sedang tidak ada jadwal kuliah lagi. Sehingga mereka bisa santai di kamar kosan seperti itu.
"Fia, Pak Ferdi nanyain aku nggak?" tanya Alea kepada temannya itu.
"Ya pastilah, kamu kan janjinya sebentar. Cuma aku bilang nggak tau juga, soalnya emang belum balik ke sini. Mending kamu juga pamit baik-baik sama dia," jawab Fia sambil memberi saran kepada temannya itu.
"Bener juga, ya udah nanti aku ke sana deh mampir dulu bentar," ujar Alea dengan suara pelan.
Ia seakan tak memiliki semangat hidup untuk menjalani hari-harinya. Hanya saja satu tekadnya, ia masih ingin kuliah dan meneruskan mimpinya. Walaupun kini jalan yang ditempuhnya berbeda.
Bukankah ada seribu jalan menuju Roma. Mungkin ketika gagal dengan jalannya yang satu, kini ia menapaki jalan kedua atau bahkan mungkin nanti akan ada jalan ke-tiga.
"Suami kamu itu gimana orangnya? Dia baik nggak?" tanya Fia yang khawatir dengan pernikahan sahabatnya itu.
"Dia dingin sih, cuek, bahkan ngomong pun irit. Aku enggak pernah tuh diapa-apain sama dia," jawab Alea dengan jujur.
"Berarti kamu belum pernah melakukan hubungan suami istri, dong?" tanya Fia, seperti ada keheranan dalam nada suaranya. Karena biasanya yang dicari lelaki ketika menikah adalah hal tersebut.
"Ya begitulah," jawab Alea yang sebenarnya ambigu.
"Kalau gitu kamu sebenernya gampang lepas dari dia. Seenggaknya enggak ada yang dirugikan dari kamu." Fia masih mendukung Alea untuk meneruskan mimpinya dengan lepas dari lelaki yang telah menikahinya.
"Enggak semudah itu, Fi," jawab Alea yang lebih tahu dengan kondisi pernikahannya saat itu.
"Bener juga sih, kamu pasti lebih tahu lah bagaimana keadaannya sekarang," ucap Fia sambil mematikan laptopnya, kemudian berbaring di samping Alea.
Dulu, mereka selalu tidur bersama, bercanda, dan menghabiskan waktu bersama. Apalagi di sela-sela libur kuliah Alea tidak bisa kemana-mana. Uang yang ia miliki pas-pasan, sehingga hal paling me time yang bisa ia lakukan adalah menonton film di laptop. Itupun jika bukan bagian jaga stand minuman.
Fia bahkan seringkali membeli film terbaru yang belum tayang di televisi untuk temannya itu. Ia kasihan sebenarnya melihat keadaan Alea.
Mereka mengobrol kesana kemari seputar saat-saat kemarin di mana Alea belum masuk kuliah. Banyak yang menanyakannya, kehilangan sosok yang selalu optimis untuk kesuksesan.
Alea terkadang terkekeh dibuatnya. Nyatanya ia kalah dengan takdir dirinya sendiri. Ia merasa gagal membuktikan ucapannya yang akan sukses tanpa bantuan siapapun.
Tak terasa waktu sudah menjelang sore, ponselnya berdering nyaring. Ia menatap layar ponselnya tersebut, ternyata dari suaminya, yaitu Gavin.
Alea melirik jam dinding yang ada di kamar tersebut. Ternyata memang sudah jam pulang kerja, pantas saja Gavin mencarinya. Ia lalu menggeser tombol hijau untuk mengangkat telepon tersebut.
"Halo," ucap Alea dengan malas.
Fia yang melihat ekspresi Alea membayangkan suaminya bagaimana. Dalam bayangan Fia suami sahabatnya itu adalah seorang om-om yang gemuk, dengan kepala yang botak di depan, kaya raya, dan berjanji memberi kebahagiaan.
'Kamu di mana? Kita pulang sekarang,' kata Gavin sambil langsung mengajaknya pulang.
"Aku di kosan temanku. Oke, aku ke situ sekarang," jawab Alea dengan entengnya.
"Aku anter ya," ucap Fia sambil bangkit dari tidurnya. Ia juga penasaran dengan sosok suami Alea.
Mereka lalu berjalan bersama ke area parkiran kampus. Masih banyak mahasiswa di sana, mungkin ada beberapa fakultas yang belum selesai kelas.
Mereka menuju mobil yang sudah terparkir rapi di salah satu sudut parkiran. Gavin menunggunya sambil bersandar ke mobil. Untungnya matahari sudah tidak terik karena memang sudah sore.
Fia mengantar Alea sampai akhirnya tiba di dekat mobil suaminya tersebut. Gavin yang menyadari kalau Alea telah sampai di dekatnya menghampirinya.
Tanpa disangka ia tertegun sejenak saat melihat seseorang yang bersama istrinya.
"Fia," ucap Gavin yang mengenal gadis itu.
"Ga—Gavin," ucap Fia dengan suara lirih.
Ia tak menyangka bertemu lagi dengan Gavin di saat seperti itu. Saat yang menurutnya tidak mengenakkan, di mana Gavin telah menjadi suami dari sahabatnya sendiri. Sementara dirinya hanya ada dalam sisa memori di masa lalu.
"Kalian sudah saling kenal?" tanya Alea yang heran melihat suami dan sahabatnya saling mengenal.
"Ayo, pulang," ucap Gavin sambil menarik tangan Ale untuk masuk ke dalam mobil.
"Loh, sebenarnya ada apa ini?" tanya Alea yang heran dengan sikap Gavin seakan ingin menghindar dari Fia.
Setelah Alea masuk ke dalam mobil, Gavin pun ikut masuk di sisi lainnya. Ia duduk di belakang kemudi dan langsung menyetir mobil tersebut untuk menjauh dari kampus itu.
Gavin sendiri tak menyangka kalau akan bertemu dengan Fia lagi di sini. Padahal dulu ia pernah mencarinya kemana-mana, tapi tak juga ditemukan.
Alea heran melihat sikap Gavin. Juga seperti ada sesuatu di antara mereka. Melihat wajah Gavin yang masam dan juga dingin, Alea tak berani bertanya untuk saat itu. Lagipula pasti akan disuruh diam dan jangan bertanya lagi. Sepertinya dia sudah hafal dengan jawaban-jawaban suaminya yang sudah pasti tidak mengenakkan dan singkat.
Akhirnya, ia hanya duduk termenung sambil menatap jalanan yang dilewati oleh mobil. Ia ingat tadi pagi mengajaknya untuk membeli pakaian. Tapi, melihat mood Gavin yang seperti itu sepertinya rencana itu akan gagal total.
Kalaupun dilanjutkan pasti suasananya jadi tidak enak. Lagipula Alea merasa kalau baju-bajunya masih layak digunakan. Belum benar-benar seperti kain pel di rumahnya yang dipakai untuk keset kaki.
Benar saja, ternyata mobil terus melaju menuju ke arah rumah Gavin. Sesampainya di rumah, mereka langsung turun dan masuk ke dalam.
Alea hanya mengikuti Gavin tanpa banyak bicara. Mereka masuk ke rumah lalu langsung menaiki tangga menuju ke lantai atas.
Sepertinya ibu tiri Gavin juga belum pulang dari liburannya. Tidak terlihat ada ada orang lain di rumah tersebut, kecuali beberapa asisten rumah tangga yang sedang sibuk di dapur dan membersihkan rumah.
Alea sendiri tak hafal dengan siapa saja nama para asisten rumah tangga tersebut. Hanya satu yang ia kenal yaitu Bi Ijah.