Proses Balik Nama

1120 Kata
Sesampainya di kamar, Gavin langsung masuk ke kamar mandi tanpa banyak bertanya lagi. Ia ingin menenangkan dirinya yang baru saja bertemu Fia di saat yang tidak terduga. Sementara Alea, hanya terduduk di sofa sambil menyalakan televisi. Ia sebenarnya penasaran, ada apa dengan masa lalu Fia dan Gavin, sehingga saat bertemu mereka seakan menyimpan luka yang dalam. 'Seandainya Gavin ingin menikah dengan Fia dan menceraikanku, aku rela. Asalkan hutang-hutang lunas semua,' gumam Alea dalam hati sambil senyum-senyum sendiri. Ia membayangkan hidupnya yang kembali normal. Tanpa ikatan pernikahan, meneruskan kuliah, dan bekerja seperti biasa. Mengingat bekerja, ia tadi benar-benar lupa untuk menemui Pak Ferdi, pemilik lapak minuman yang waktu itu dijaganya. Ia lalu kembali merenung, sebenarnya apa tugasnya di rumahnya itu. Apa hanya sebatas sebagai istri pajangan yang hanya dibutuhkan statusnya saja. Televisi di hadapannya menayangkan siaran-siaran terbaik yang dimiliki oleh stasiunnya. Tapi, sayang di saat seperti itu, Alea tidak tertarik dengan tayangan yang disuguhkan oleh mereka. Setelah beberapa saat melamun, Gavin keluar dari kamar mandi. Seperti biasa ia hanya mengenakan setengah handuk di setengah badannya. Alea mulai terbiasa, ia hanya tidak menatapnya saja ketika Gavin lewat. Tidak seperti saat awal-awal melihat sampai menjerit karena saking kagetnya. Beberapa saat kemudian, Gavin telah berpakaian rumahan. Ia duduk di samping Alea sambil kembali membuka laptopnya. Alea menatap Gavin yang seperti tidak ada lelahnya dalam bekerja. "Mas," panggil Alea kepada lelaki yang sedang fokus dengan gawai dihadapannya itu. Benar saja, saking fokusnya Gavin sampai tidak mendengar panggilan Alea. "Mas!" panggilan sekali lagi dengan menaikkan nada suaranya satu oktaf. "Ada apa?" tanya Gavin dengan wajah kesal karena Alea mengganggu pekerjaannya "Aku bertanya boleh tidak?" tanya Alea dengan sedikit ragu. Ia takut buat mood Gavin kembali hancur seperti tadi. Apalagi yang hendak ditanyakannya masih soal Fia yang merupakan sahabatnya. Kalau berani, ia akan melanjutkannya dengan permintaan yang tadi direncanakannya. Ia rela melepaskan Gavin untuk Fia, lagipula dirinya juga tidak mencintai suaminya itu. "Tanyakan saja, masalah menjawab atau tidak itu urusan belakangan," jawab Gavin dengan dinginnya sambil kembali menatap gawai di hadapannya. Ia sepertinya begitu tidak tertarik untuk mengobrol dengan istrinya sendir. Hanya gawai yang menjadi pusat perhatiannya. 'Kalau mau dicuekin gini, ngapain dinikahin sih,' gerutu Allea dalam hati. Meskipun ia tidak mencintai Gavin, setidaknya sebagai wanita ia kesal selalu dicuekin oleh suaminya itu. Ia bahkan heran kenapa Gavin tidak ada usaha untuk mendapatkan cintanya atau setidaknya memperbaiki hubungan dengannya. Malah terkesan cuek dan lebih mementingkan pekerjaan. Entahlah bagaimana ibu tirinya nanti dan bagaimana ia akan menghadapi ibu tiri dari suaminya itu. "Aku mau tanya, sebenarnya hubungan kamu sama Fia itu apa dulu?" tanya Alea yang penasaran dengan hubungan mereka di masa lalu. "Hanya teman," jawab Gavin singkat. Ia juga sepertinya tidak berniat meneruskan perkataannya. "Kalau hanya teman, kenapa tadi kamu dan Fia seperti yang ...." Alea kebingungan untuk meneruskan perkataannya. ia bingung memilih kata yang tepat untuk apa yang ingin diungkapkan. "Tidak perlu bahas dia lagi, ya," ucap Gavin sambil memandang Alea. Mata elangnya berwarna hitam pekatnya menatap tajam Alea. Alea terdiam sejenak dipandang tajam oleh manik mata hitam suaminya. Sorot matanya begitu tajam, menusuk hatinya. Sebenarnya Alea masih penasaran dan ingin bertanya alasannya, tapi ia tahu pasti Gavin tidak akan menjawabnya. "Aku bukan tipe orang yang suka mendua," ucap Gavin yang masih menatap tajam wajah istrinya tersebut. Alea terperangah mendengar kata-kata tersebut. Bukankah mereka menikah hanya karena status, tapi kenapa seolah Gavin serius. Sampai tidak mau mendua, padahal dirinya baru saja mau menyarankan agar Gavin menceraikannya lalu menikah dengan sahabatnya itu. Bingung mau mengatakan apa lagi, lalu Alea bangkit dari duduknya. Ia pun menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri. "Soebenarnya apa yang diinginkan lelaki itu dari diriku? Aku tak punya apa-apa juga," ucap Alea pelan ketika di kamar mandi. Ia masih memikirkan Gavin. Selesai membersihkan diri, Alea celingak-celinguk mencari bajunya. Biasanya ia selalu membawanya ketika hendak ke kamar mandi, tapi tadi ia benar-benar lupa karena langsung masuk ke kamar mandi. Pasalnya tadi ia kesal sekali kepada Gavin. "Duh, bagaimana ya ini, masa minta Gavin ambilin baju sih," gumam Alea, ia bingung sendiri bagaimana mengambil bajunya. "Apa suruh aja dia keluar dulu, ya." Alea terus memikirkan apa yang sekiranya bisa dilakukan untuk menyelamatkannya dari keadaan tersebut. Ia akhirnya meminta Gavin untuk keluar terlebih dahulu. Ia tak ingin suaminya sendiri melihat isi tasnya dan mengambil pakaian dalamnya. "Mas, boleh kamu keluar dulu enggak?" tanya Alea sedikit keras, karena ia berada di dalam kamar mandi. Sementara Gavin berada di sofa di depan televisi. "Emangnya kenapa, ini kan kamarku?" tanya Gavin dengan polosnya. Ia tak mengerti kalau Allah ingin mengambil bajunya. "Pokoknya keluar dulu!" titah Alea kepada suaminya tersebut. "Iya, iya," ucap Gavin, tapi ia belum juga keluar karena kadung menyelesaikan pekerjaannya yang sudah hampir rampung. Alea yang tidak mendengar suara Gavin lagi, menyangka kalau suaminya itu telah keluar dari kamar. Ia lalu keluar dengan hanya lilitan handuk di tubuhnya. Alea yang langsung terfokus ke tas yang berada di samping tempat tidur. Tanpa memperhatikan sofa, ketika setengah jalan ia baru sadar kalau Gavin masih berada di kamar tersebut. "A ...!" jerit Alea karena Gavin melihatnya dalam keadaan seperti itu. "Kenapa kamu masih di sini!" teriak Alea yang tak habis pikir ternyata Gavin masih berada di kamar tersebut. Padahal ia pikir dari Gavin sudah keluar. "Aku belum keluar, sudahlah ganti bajumu sana," jawab Gavin sambil kembali memerhatikan gawai di hadapannya. Alea lalu segera mengambil bajunya. Ia kemudian masuk ke lemari Gavin dan berganti baju di sana. "Gavin bilang agar aku merapikan bajuku di sini, tapi di sebelah mana," ucap Alea pelan sambil melihat-lihat lemari yang lebih seperti ruangan baju tersebut. Ia mengitarinya dan melihat barang-barang koleksi milik suaminya itu. Merek-mereknya tidak ia kenal, tapi ya tahu kalau itu pastilah merek ternama. Bahkan aksesoris berupa jam tangan berjajar dan pastinya dengan harga yang fantastis. Mungkin untuk mendukung penampilan untuk bertemu dengan klien. Orang seperti Gavin memang harus tampan. Setelah puas melihat-lihat barang, Alea pun kembali keluar dari ruangan baju suaminya. Ia kembali duduk di samping suaminya yang masih di depan laptopnya. "Pekerjaanmu memangnya banyak sekali ya? Sampai-sampai tak bisa istirahat begitu," tanya Alea yang sebenarnya khawatir dengan suaminya. "Begitulah, tak ada habisnya memang," jawab Gavin tanpa menoleh sedikitpun ke arah istrinya. Alea mulai bosan berada di kamar itu. Bertanya pada Gavin pun hanya dijawab dengan singkat-singkat. Membuatnya malas untuk bertanya lagi. Ia lalu bangkit dari duduknya. Mengambil minuman dingin dari kulkas kecil yang ada di kamar itu. Kemudian, melenggang santai menuju ke balkon. Menikmati sore yang sudah semakin sore. Semburat orens cahaya matahari terlihat begitu cantik. Ia duduk di kursi rotan yang ada di sana. Sementara Gavin hanya melirik sebentar, kemudian kembali fokus pada pekerjaannya. Selain pekerjaan kantor, ia juga mengecek aset-aset miliknya. Ia ingin segera membalik namakannya agar segera menjadi miliknya. Tapi, ternyata proses balik nama tidak semudah yang dibayangkan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN