Hari Pernikahan

1518 Kata
Hari berganti hari, persiapan untuk menuju ke pernikahan Alea semakin matang. Ia seperti menunggu bom waktu yang akan meledak. Tak dapat dibayangnkan entah bagaimana hari besarnya nanti. "Duh, pengantin yang besok nikah," ucap Bi Narti yang membantu persiapan pernikahan besok. Alea hanya tersenyum getir. Ia tak berniat menjawab pernyataan bibinya itu. Entah bagaimana pernikahannya nanti, pastinya bukan pernikahan yang diharapkan. 'Tinggal sehari lagi, tapi kenapa rasanya hatiku enggak karuan. Bukan bahagia tapi takut untuk menghadapi hari esok,' gumam Alea dalam hati. Perasaannya semakin tak karuan, apalagi melihat banyak orang yang lalu-lalang di rumahnya. Membuatnya semakin tak nyaman. Padahal mereka seperti bahagia menyambut hari H. Tetapi dirinya yang merupakan ratu utama malah merasa sedih. Hanya beberapa saat, ia duduk di luar kamar. Sebatas menunjukkan diri kalau dirinya masih hidup. Alea lalu masuk kembali ke dalam kamar. Mengurung dirinya di sana. Ia lalu berdiri di depan lemari yang ada cermin di pintunya. Pantulan dirinya tergambar jelas di sana. Wajahnya cantik, khas orang Asia. Hidung mancung dan bagian wajahnya menurun pada ayahnya. Sementara kulit putihnya berasal dari ibunya. Perpaduan yang sempurna. 'Ya ampun, besok tinggal sehari lagi ....' Alea mengacak rambutnya frustasi. Semakin kesini, rasanya ia semakin tak ingin menikah dengan Gavin. Tetapi, semua persiapan telah di lakukan dan tinggal menunggu kurang dari dua puluh empat jam untuk akad itu dilaksanakan. Tenda dan juga panggung hiburan telah tersedia di depan rumahnya. Alea heran dari mana ibunya mendapatkan uang sebanyak itu untuk mengadakan resepsi yang terbilang cukup mewah di kampung. Malam hari semua keluarganya dan beberapa saudara masih sibuk memasak berbagai makanan yang akan dihidangkan besok di resepsi. Alea hanya terdiam di kamar, ia tak tahu harus berbuat apa. Saat ke dapur pun para saudara-saudara melarangnya untuk ikut membantu. Lagipula ia juga tidak suka dengan pekerjaan memasak dan sebagainya. Alina masuk ke kamar dengan wajah lelah dan mengantuk. "Kalau kamu capek, istirahat aja kali," ucap Alea yang melihat wajah letih Alina. "Belum beres, Kak. Kasihan Ibu di dapur," jawab Alina dengan pelan. "Terus kamu ngapain di sini?" tanya Alea heran melihat kedatangan adiknya. "Enggak apa-apa sih, Kak. Cuma mau ngelurusin pinggang aja. Capek tahu," jawab Alina sambil meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku dan lelah karena bekerja dari pagi. "Ya makanya aku suruh tidur," ucap Alea dengan sedikit kesal. "Kak, seneng enggak sih, mau nikah dengan Bang Gavin? Dia kan, ganteng, kaya, baik lagi," tanya Alina dengan mata berbinar dan senyum yang mengembang. "Biasa aja, lagian kan aku enggak cinta sama dia. Ini juga pernikahan karena terpaksa aja," jawab Alea dengan dingin. Padahal dalam hati ia pun tak karuan menghadapi hari esok. "Kalau aja aku udah lulus sekolah. Aku mau kok, gantiin Kakak," ucap Alina, seperti ada makna tersirat dalam ucapannya. "Gantiin nikah sama Gavin? Ya sudah sana," ucap Alea ketus. "Dia itu baik loh, Kak," pungkas Alina dengan tegas. Tapi, masih dengan senyuman sehingga tidak menyeramkan sama sekali. "Emangnya dia baik apa? Oh iya, kok Mama bisa ngadain resepsi sebesar ini, sih? Uangnya dari mana?" tanya Alea yang penasaran sejak kemarin. "Dari Bang Gavinlah. Emang dari siapa lagi?" jawab Alina dengan bangga. Sepertinya ia senang akan memiliki kakak ipar seperti Gavin. Kehidupan keluarganya juga bisa lebih terjamin dengan kehadirannya. "Masa, sih?" tanya Alea seakan tak percaya. "Beneran, aku nanya sendiri. Aku juga soalnya takut kalau ibu sampai ngutang ke mana-mana. Tapi, ternyata enggak tuh, emang Bang Gavin itu pengertian," jawab Alina dengan sumringah. "Oh ya sudah," jawab Alea dingin. Ia tidak mau memuji Gavin ataupun terpesona dengannya. Dia menegaskan pernikahan ini hanya sebatas batu lompatan untuknya bisa meraih cita-cita. Melanjutkan kuliah di luar negeri dan menjadi orang sukses dan mapan. "Ya sudah, Kak. Aku ke dapur lagi, ya. Oh ya, Kakak mending istirahat biar auranya besok terpancar," titah Alina dengan wajah sumringah. Alea heran dengan adiknya yang satu itu. Dia pendiam, tapi kadang juga begitu sumringah. Padahal pernikahan yang menimpa kakaknya ini bukanlah yang diharapkan oleh Alea. Sampai tengah malam, pekerjaan di rumah tersebut masih juga belum selesai. Alea yang hendak mengejamkan mata pun merasa tak nyaman. Setengah sadar ia mendengar semua suara-suara di luar dengan jelas. Mulai dari orang masak, mengaduk makanan, dan lain-lain. "Katanya nyuruh istirahat tapi berisik banget," gerutu Alea sambil menutup kepalanya dengan selimut. Alina juga belum kembali ke kamar sepertinya pekerjaan di luar sangat banyak. 'Ngapain sih, mereka repot-repot nyiapin itu semua. Aku kan enggak cinta sama Gavin,' gumam Alea dalam hati. Sejak Gavin mengirimkan berkas-berkas pernikahan, ia tak pernah lagi melihatnya. Ia bahkan lupa-lupa ingat dengan wajahnya. Alea terbangun di pagi buta. Saat matahari juga belum menampakkan sinarnya sama sekali. Di luar juga masih terlihat gelap. Alea langsung ke kamar mandi untuk membersihkan diri. "Alea, di kamar sudah ada Kak Intan dan yang lainnya untuk merias kamu. Cepat masuk ke kamar," titah Bu Ani ketika melihat Alea baru saja keluar dari kamar mandi. Sepagi itu, ia harus bersiap untuk didandani dengan make up tebal. "Memangnya harus sekarang ya, Bu?" tanya Alea. Padahal setahunya jadwal akad masih beberapa jam lagi. Yaitu pukul sembilan pagi, karena mengingat lokasi Gavin yang jauh dari kampung mereka. Ia bahkan tak menyangka kalau resepsinya akan seperti itu. Dia pikir hanya sebatas akad dengan mengundang keluarga terdekat saja. "Sudah nurut saja, Sayang," ucap Bu Ani dengan lembut sambil menuntun putrinya menuju ke kamar. Alea hanya menurut, ternyata ia dibawa ke kamar orang tuanya yang lebih luas dari kamarnya. Kamar tersebut juga sudah didekorasi dengan kelambu dan yang lainnya. Ada kelopak-kelopak mawar yang ditabur di tempat tidur juga. Beberapa orang juga ada di sana. Mereka siap untuk merias Alea. Ada sebuah koper juga yang berisi baju dan alat make up yang lengkap. Agar hasil make up-nya cantik paripurna. "Oh, ini anaknya Bu Ai ya, yang kuliah di Bandung itu?" tanya Kak Intan yang kelihatannya juga masih muda. Ternyata ia baru memiliki satu anak yang berusia setahun. "Iya, Tan. Ini anak saya ya. Monggo, saya serahkan untuk dirias secantik mungkin," ucap Bu Ani sambil tersenyum sumringah "Siap, Bu Ani," jawab Kak Intan. Ia lalu mengarahkan Alea untuk duduk di kursi yang sudah disediakan. Lalu, ia mulai mengoleskan beberapa krim ke wajah Alea. Proses mendandani pun dimulai. "Ya ampun, Kak, ini berapa lapis kok tebal banget?" protes Alea yang tidak terbiasa dengan make up tebal. "Ini mau dibikin natural kok, Dek," jawab Kak Intan yang merupakan tukang riasnya. Di depan, tidak ada cermin sama sekali. Jadi, ia sendiri tidak tahu sedang diapakan wajahnya tersebut. "Nanti lihat hasilnya aja, ya," ucap Kak Intan yang masih sibuk dengan wajah Alea. Pukul enam pagi, beberapa orang juga masuk ke dalam kamar itu. Mereka juga akan dirias, mereka merupakan bridesmaids Alea atau dalam bahasa daerah disebut pagar ayu. Di antaranya ada Alina dan juga ibunya sendiri. Juga beberapa saudara Bu Ani yang masih gadis seperti Sari dan Heli. "Ini belum beres ya, Kak?" tanya Alea yang sudah tidak nyaman wajahnya terus dipermak oleh orang lain. "Belum, kalau pengantin kan beda, harus berlapis-lapis biar awet," jawab Kak Intan yang masih sibuk dengan wajah Alea. "Mau lihat dulu kali," celetuk Susi yang merupakan kawan dari Kak Intan. Ia juga yang merias para pagar ayu untuk pernikahan tersebut. Pukul delapan, Alea sudah selesai di make up. Ia lalu disuruh untuk mengenakan pakaian yang sudah disediakan, yaitu berupa gaun seperti kebaya yang sudah modern. Jadi tidak terlalu seperti kebaya tradisional, tapi juga bukan gaun bergaya eropa. Mereka kemudian menata rambut Alea agar lebih terlihat bagus. Berkali-kali rambut area disemprot oleh hair spray. Pukul setengah sembilan lantunan lagu thola'al badru mengalun dari speaker yang ada di di luar rumah tersebut. Terdengar beberapa orang ribut kalau pengantinnya akan segera datang. Alea telah tampil sempurna. Alea lalu menatap dirinya sendiri di cermin besar yang ada di lemari ibunya. Tepat di belakangnya, ia tersenyum melihat dirinya sendiri begitu anggun dan cantik. Hanya saja sayang ia menikah dengan orang yang tidak dicintainya. Seandainya Gavin adalah orang yang sangat ia cintai. Mungkin pernikahan itu akan begitu bahagia. Ia juga tak perlu repot-repot kabur saat itu dan akhirnya tertangkap kembali ke rumah. Cukup lama ia menunggu untuk dipanggil. Ternyata di luar masih acara acara penyambutan pengantin pria dan keluarganya. Entah dengan siapa Gavin datang, karena setahunya ayah Gavin sedang sakit dan ibunya adalah ibu tiri. "Sah!" terdengar gema ucap sah dari luar. Menandakan kalau kini Alea sudah menjadi istri seseorang. Sesaat setelah itu, Alina dan Sari datang ke kamarnya untuk menjemput Alea. Mereka akan membawa Alea ke panggung di mana dilaksanakannya akad. Rumahnya cukup jauh dari masjid, sehingga jika harus berjalan akan repot lagi. Perlahan tapi pasti, Alea dan beberapa bridesmaid-nya berjalan menuju ke panggung yang berada di luar rumah. Alina memegang gaun yang menjuntai ke belakang. Para tamu memberi jalan untuk Alea ke panggung tersebut. Ia menaiki empat anak tangga yang berada di sisi panggung dengan perlahan. Ia lalu didudukkan di samping Gavin yang sekarang sah menjadi suaminya. Mereka lalu disuruh untuk menandatangani selembar kertas yang merupakan berkas perkawinan. Setelah itu mendatangani buku nikah untuk nantinya dipegang oleh suami dan istri. Acara diteruskan dengan acara sungkeman dan yang lainnya. Sampai akhirnya Alea dan juga Gavin diboyong ke pelaminan yang berada di dalam jam rumah. Mereka berjalan berdua beriringan, tapi hati mereka tidak bersatu. Alea hanya tersenyum tipis untuk menghargai keluarganya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN