Hati yang Masih Menolak

1041 Kata
Alina kembali ke kamar untuk mengajak Alea ikut duduk bersama saudara-saudara mereka. Setidaknya untuk menunjukkan kalau Alea tidak hamil seperti yang dituduhkan oleh mereka. "Kak, kita ngumpul di sana yuk. Enggak ngapa-ngapain, enggak usah bantu-bantu," ajak Alina dengan penuh harap kepada kakaknya tersebut. "Mau apa? Menunjukkan kalau aku nggak hamil gitu? Lihatkan, kalau nikah dadakan gini, tuh, malah tanggapan mereka itu yang enggak-enggak," jawab Alea dengan penuh penekanan. Terlihat sekali kesal wajahnya, juga begitu masam saking kesalnya dengan keadaan tersebut. "Justru Kakak harus buktikan, kalau Kakak itu enggak hamil dan akan nikah sama orang kaya. Mereka pasti iri sama Kakak," ucap Alina memberi sedikit ruang untuk Alea berbangga diri. Alea terdiam sejenak, membenarkan apa yang dikatakan oleh adiknya itu. Setidaknya ia tidak akan terlalu malu karena calonnya itu adalah orang kaya. "Baiklah, demi ibu dan bapak," ucap Alea singkat. Ia kemudian keluar dari kamar dan wajahnya yang dipoles tipis terlihat berseri. "Duh ... pengantin mau ke mana?" tanya salah satu saudara mereka yang melihat Alea keluar. Alea memang selalu ingin terlihat lebih di mata orang lain. Jika sekolah, ia ingin selalu terlihat paling pintar, sehingga mati-matian belajar dan sekarang ia pun ingin kalau calonnya itu dinilai istimewa oleh mereka semua. "Aku mau ikut duduk aja di sini," jawab Alea dengan senyum yang dipaksakan. Sementara itu, Alina kembali ke dapur untuk membantu saudara-saudaranya yang sedang sibuk untuk memasak. Di luar, tungku dan juga tenda sudah jadi. Beberapa orang keluar untuk mengeksekusi bahan makanan yang mesti digoreng. Sementara itu, Bu Ani masih sibuk di dapur dengan bumbu-bumbu untuk masakan yang mesti dibumbui. Seperti sambal goreng kentang dan lainnya. Mereka masak begitu banyak karena akan dibagikan kepada semua saudara dan tetangga terdekat. Hal itu berarti mengundang ke hari H pernikahan. "Lea, kenal dari mana calon kamu itu?" tanya Sari sepupunya yang duduk di sampingnya sambil membentuk kotak nasi yang baru dibeli. "Aku kenal di Bandung, soalnya dia kan orang sana juga," jawab Alea sedikit gugup. Ia bahkan belum tahu apapun soal Gavin, calon suaminya itu. Tempat tinggalnya, pekerjaannya, tak ada hal yang ia tahu soal Gavin. Karena memang sampai detik tadi di kamar, ia masih tak ingin menikah dengan lelaki tersebut. "Oh, orang Bandung pantes bisa kenal. Terus pekerjaannya apa di sana? Kan, banyak juga tuh kuli bangunan di kota besar," tanya Sari lagi. Ia penasaran dengan calon suami Alea. Pasalnya belum pernah dikenalkan kepada saudara-saudara yang lain. Padahal biasanya tradisi di sana jika ada yang mau menikah maka calon suami atau istrinya akan dikenalkan kepada seluruh keluarga besar mereka. Maka dari itu, pernikahan Alea ini termasuk dadakan dan seperti tidak direncanakan. Karena memang tidak ada perkenalan ke semua keluarga. Menjelang siang, beberapa makanan sudah digoreng dan ditata di atas ayakan yang dibuat dari bambu. "Masih panas juga, sudah diamkan saja. Kalau beres nanti sore langsung dibungkusin aja terus dibagiin, biar masih hangat," ucap Bi Narti yang lebih paham dengan acara pernikahan dan resepsi seperti itu. Bi Narti adalah orang yang digunakan, karena ia adalah anak pertama dan juga sudah pernah menikahkan juga mengantar nikah anak-anaknya. "Iya, gimana baiknya aja," timpal Bu Ani yang merupakan pemilik acara. Menjelang sore, semua makanan telah selesai dimasak. Mereka lalu membungkus makanan tersebut dan memasukkannya ke dalam kotak nasi. "Nanti dibagikannya sama Arka dan Deni aja," ucap Bi Narti. Deni adalah anak lelakinya, sedangkan Bang Arka adalah anak Bu Ani yang merupakan keponakannya juga. "Siap, Bibi," ucap Bang Arka yang mendengar perintah tadi untuk membagikan makanan. "Bagus, kalau siap," ucap Bi Narti. Mereka kemudian membungkus satu-persatu makanan tersebut. Alina juga ikut membantu memasukkan beberapa lauk ke kotak nasi. Total mereka membuat seratus lima puluh bungkus kotak nasi. Itu semua untuk semua orang kampung dan juga saudara-saudara Bu Ani dan Pak Asep. "Ani, kamu dapat uang ipekah berapa? Sampai bisa belanja segini banyak, kayaknya gede ya. Calonnya si Alea orang kaya?" tanya salah satu saudara yang yang masih merupakan bibi dari Bu Ani. "Lumayan, yang penting cukup buat semuanya," jawab Bu Ani yang tidak ingin menggembar-gemborkan uang yang didapatnya untuk menyelenggarakan acara pernikahan. Asalkan menikah di rumah mempelai wanita, sebenarnya tidak apa-apa. Tapi, jika menikah di rumah mempelai pria, maka untuk adat Sunda itu adalah hal yang fatal, karena dinilai telah menjual anak perempuan mereka. "Arka, Deni, coba ini antar dulu. Dicicil biar enggak terlalu berat nanti," titah Bi Narti yang sudah membuat catatan pengantaran. Total ada sekitar seratus dua puluh rumah yang mesti didatangi. Masih sekitaran kampung dan juga beberapa di desa lain yang masih saudara jauh. "Siap, Komandan. Ke siapa aja ini?" tanya Bang Arka sambil mengambil satu kresek besar berisi beberapa bungkus kotak nasi. Bi Narti merincikan siapa-siapa saja yang akan diberi terlebih dahulu. Kemudian, Bang Arka pergi dengan menggunakan motornya. 'Apa pernikahan ini akan benar-benar terjadi?' gumam Alea dalam hati. Ia masih merasa tak percaya kalau dirinya harus menikah dengan dalam waktu dekat. Alea masih memikirkan nasibnya. Seakan tak percaya dengan takdir yang menghampirinya. Di dapur, semua keluarga masih repot membagikan makanan. Juga membereskan perabotan bekas masak. Bang Arka dan Deni bolak-balik mengantar makanan untuk semua orang di kampung tersebut. Besok Bu Ani sudah harus membeli cemilan untuk para tamu yang datang ke rumah. Biasanya mereka adalah orang dekat yang tak akan hadir ke acara resepsi. Menjelang malam, semua keluarga pulang ke rumah masing-masing. Tinggal keluarga Bu Ani dan Pak Asep yang ada di rumah. "Cepek banget ya, hari ini," ucap Alina sambil merenggangkan otot-ototnya yang terasa kaku sejak pagi. Alea juga ada di sana. Ia lebih banyak diam dan melamun seperti memikirkan sesuatu. "Ibu malah ini kepala rasanya pusing banget. Berasa berat rasanya," ucap Bu Ani yang tiduran di lantai dengan menggunakan bantal tipis. "Biar aku pijitin, Bu," ucap Alina sambil menghampiri ibunya dan memijit kepalanya. "Arka, besok pagi antar lagi Ibu ke pasar, ya," ucap Bu Ani sebelum lupa untuk memberi tahu Bang Arka. "Sip, Bu," ucap Bang Arka singkat. "Kak, tadi ada yang nanya loh, emang calonnya Alea itu kaya ya. Wah, bangga deh Kakak kalau dapat laki kaya seperti Bang Gavin," ucap Alina sumringah untuk menghibur kakaknya. "Hem ...." Alea hanya berdehem tanpa mau menanggapi ucapan adiknya. Ia masih sibuk dengan pikirannya. Menikah dalam waktu dekat. Berarti pernikahannya tinggal enam hari lagi. 'Duh, hari kok, cepat banget rasanya,' gumam Alea dalam hati. Ia mulai deg-degan menghadapi hari besar dalam hidupnya itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN