Pagi itu cuaca lebih panas dari kemarin. Mikail terbangun lebih siang daripada biasanya. Ia keluar dari kamar dengan hanya memakai celana lari khas yang selalu ia kenakan. Sedangkan di dapur, Rakheem dengan hanya mengenakan celana jengki, melirik Mikail tanpa mengatakan apa pun dan fokus pada makanan yang sedang ia masak. Beberapa detik kemudian, Kojiro datang, jalan berderap dengan katana terhunus di tangan dan hanya memakai hakama trousers. Wajahnya bengis dan pandangannya fokus pada Mikail. Kojiro yang berlumur keringat menghunuskan pedang yang ia bawa di tangan kanannya, tepat di leher Mikail, dan dengan kecepatan yang sama, Mikail menodongkan pistol pada Kojiro dengan tangan kirinya sambil menguap lebar. “Astagfirullah! Mikail! K! Tidak bisakah kalian saling bertegur sap

