Mikail membiarkan pria khayalan itu melakukan monolognya, sedangkan dirinya mulai mengalihkan pandangan dari malaikat kecilnya yang manis dan suka marah itu. Mikail tahu, ia harus menyelesaikan banyak pekerjaan. Mikail ingat, tadi, sebelum p*********n itu, ia dalam keadaan cepat-cepat melakukan suatu pekerjaan penting. Ia harus menyusun banyak rencana, rencana-rencana yang sempurna. Rencana yang--sialnya, kini ia sudah lupa. Terima kasih untuk kehadiran Yuri. Nanti akan dipikirkannya lagi nanti. Sekarang Mikail akhirnya hanya berdiam diri menikmati keberadaan gadis beraroma vanilla di hadapannya. “Dia sangat mirip Hinano. Tapi terlihat seperti Shin di waktu yang sama.” Dan tentu, ditemani oleh sosok ayah khayalannya yang selalu setia menemani, atau mengganggu ketenangan.

