POV Author Di lapangan sekolah Fadli duduk membeku dengan tatapan kosong. Kalimat sang Ayah terus terngiang-ngiang di kepalanya, membuat Dli merasa bersalah dan marah sekaligus. “Setelah adik lucu itu lahir, kita keluarga yang sempurna.” “Mamamu semakin tidak bisa meninggalkan Papa karena kalian.” Fadli menggeram. Ditatapnya nyalang barisan siswa-siswi yang tengah bermain bola. Sejak tadi, Fadli hanya bisa duduk menonton karena kesehatan tubuhnya tidak memungkinkan bagi bocah itu untuk bergabung. Fadli yang masih memakai seragam putih-biru membangkitkan tubuh. Dilepasnya sepatu yang tadi membalut kakinya lalu berlari kencang mengitari lapangan. Fadli tahu dia tidak akan sanggup, penyakit jantung bawaannya akan membuat Fadli cepat lelah dan bisa saja kumat. Tapi karena sekarat tujuann

