Aileen melirik jam tangannya. Sudah jam setengah sembilan malam. Ia menegakkan tubuhnya lalu menyandarkannya di punggung kursi dan menghela napas. Ia menyadari bahwa ia telah bekerja begitu keras. Ia nyaris menghabiskan waktunya hari ini di ruangannya. Ia hanya bangun dari duduknya dan keluar untuk ke kamar mandi.
Ia mengambil ponsel yang tergeletak di atas mejanya dan membaca pesan yang masuk.
Lula: Gue masih di Daily.
Aileen bergegas mematikan komputernya setelah menyimpan semua pekerjaannya. Ia membereskan dokumen- dokumen yang ada di mejanya dan menaruhnya di sudut meja. Sebelah tangannya menaruh pulpen yang baru saja ia gunakan ke tempatnya. Setelah memastikan mejanya rapi, ia berdiri dan mengambil tasnya di lemari belakang kursi juga coat cokelatnya di gantungan dan keluar dari ruangannya.
Saat ia keluar dari ruangannya, Novi masih ada di mejanya. Masih sibuk berkutat dengan lembaran kertas dan komputernya.
“Meja udah gue beresin. Nanti langsung di kunci aja. Pulang… udah malam.” Kata Aileen saat melewati meja Novi.
Gadis itu mengangguk sambil tersenyum, “Iya… Mbak…” jawab gadis itu. Ia menatap punggung Aileen yang berdiri di depan lift lalu menghilang saat pintu besi menelan wanita itu.
Kotak bersi itu langsung membawa Aileen ke lantai bawah tanpa behenti di lantai lain. Ia keluar dari sana dan melihat lantai dasar kantor kosong. Resepsionis sudah tak terlihat dibalik meja besar. Hanya ada security yang masih berdiri di depan pintu dan tampak mengamati sekeliling.
Pria berseragam itu membuka pintu saat Aileen mendekat. Pria itu menyapanya saat mereka bersisian. Aileen hanya mengulas senyum tipis lalu bergegas menuju mobilnya yang terparkir di depan kantor.
Setelah memasang safety belt, ia mneyalkan mesin mobilnya dan menekan pedal gas hingga roda mobil itu berputar. Kendaraan roda empat itu keluar dari area perkantoran itu dan menyatu bersama dengan kendaraan lain di jalan raya yang malam itu sudah cukup lenggang.
***
Lula masih ada di Daily saat ruangan besar di lantai dua dengan beberapa sekat itu mulai kehilangan pengunjungnya. Beberapa meja mulai kosong. Meja yang ia huni hanya tinggal dirinya sendiri. Namun ia tahu bahwa beberapa ruang meeting di lantai itu masih berpenghuni.
Beberapa kali, tatapan Lula terlempar ke sekeliling. Sejak siang, ia merasa aneh karena tak melihat kehadiran Malik di sekitarnya. Padahal ia melihat dengan jelas bahwa mobil laki- laki memasuki parkiran Daily.
Secara tak langsung, Lula tampak lega. Ia senang karena hari ini bisa bekerja tanpa sosok laki- laki itu. Ia juga makan dengan tenang. Tak ada lagi yang mengajaknya bicara omong kosong tentang proses terjadi hujan, juga kandungan- kandungan zat yang ada dalam rokok. Lula merasa hari ini kembali menjadi miliknya.
Suara tas yang ditaruh agak kasar di meja di depannya membuat Lula menengadahkan kepalanya. Ia menatap Aileen yang menjulang tinggi di depannya.
“Pekerja keras banget lo.” Kata Aileen. Ia duduk kursi kosong di depan Lula dan menaruh dua cup kopi yang ia beli di atas meja. Ia mendorong salah satunya ke depan Lula.
“Kalau nggak kerja keras nggak bisa foya- foya.” Jawab Lula. Ia menyesap es kopi yang baru saja diberikan Aileen melalui sedotan yang mencuat di dari dalam gelas.
“Lo sendirian aja dari tadi?” tanya Aileen. Ia melirik sekeliling. Ia pikir ia akan menemukan sahabatnya bersama dengan Malik yang akhir- akhirnya terlihat begitu mengejar Lula.
“Iya lah… sama siapa lagi…” kata Lula. Ia melepaskan pandangannya sejenak dari layar komputer dan pekerjaannya. Kini ia menatap ke arah Aileen lekat- lekat. “Ai… lo bisa tahu nggak sih, cara biar Vano lepas dari Risa.” Kata Lula akhirnya. Ia tahu setelah mencoba maklumi, ia tak bisa lagi menoleransi sikap gadis itu. Ia tak bisa menyimpan semuanya sendiri sehingga memutuskan untuk bercerita pada Aileen apa yang terjadi kemarin.
“Lo bayangin… cuma karena Vano telat ngangkat telepon karena lagi makan, dia bisa marah- marah sampai segitunya.” Kata Lula diakhir ceritanya. Lula tahu bahwa percuma meminta adiknya untuk meninggalkan Risa. Ia yakin sampai mulutnya berbusa pun, Vano tak akan pernah mendengarkan kata- katanya. Laki- laki itu selalu menutup telinga dari semua omongannya yang selalu benar.
Aileen menatap Lula baik- baik. Ia mendengar semua cerita yang kaluar dari mulut Lula dengan seksama. Ia tahu bagaimana perasaan wanita itu. Ia tahu apa yang wanita itu rasakan saat tahu bahwa adik kesayangannya diperlakukan dengan tidak baik. Ia tahu bahwa Lula akan melakukan apapun agar Vano bisa lepas dari Risa. Ia tahu bahwa Lula telah banyak menoleransi perbuatan Risa hingga akhirnya wanita itu kehabisan kesabarannya.
Ia berdecak. Kadang tak mengerti kenapa Vano bisa bertahan dalam hubungan seperti itu. Vano tak kekurangan apapun. Ia pikir laki- laki itu bisa mendapatkan gadis yang jauh lebih baik Risa. Ia tak mengerti kenapa laki- laki memilih bertahan setelah apa yang ia dapat dari gadis itu.
“Ya gimana, ya, La… kadang kita itu memang suka nggak sadar kalau kita terjebak dalam toxic relationaship. Kita cuma berpikir bahwa semua yang pasangan kita lakukan itu ya memang karena cinta.” Kata Aileen. Memberitahu Lula bahwa memang ia tak akan bisa meminta Vano secara terang- terangan untuk melepaskan diri dari Risa.
Aileen melihat Lula tampak berpikir keras. “gimana kalau kenalin Vano sama perempuan lain?” Aileen memberi ide. Ia melihat Lula menatap ke arahnya lalu menggeleng pelan.
“Vano terlalu setia. Kalau dia bisa tertarik sama perempuan lain saat sama Risa, mereka nggak akan sampai sejauh ini.” kata Lula. “lagipula, kalau Risa sampai tahu Vano dekat sama perempuan lain, bisa dilabrak habis- habisan adik gue.” katanya lagi.
Aileen mengangguk. Setuju dengan pendapat Lula. Suara denting ponsel membuat keduanya menoleh. Lula mengambil ponselnya yang layarnya menyala dalam satu sentakan dan membuka pesan yang masuk.
Vano: Kak, di rumah?
Lula mengetuk- ngetukkan ibu jarinya di atas layar untuk membalas pesan yang masuk. Dari pesan yang di kirim laki- laki itu. Ia tahu bahwa adiknya belum sampai di rumah.
Lula: Masih di Daily.
Vano: Gue ke sana, ya.
Lula tak membalas lagi. Ia menaruh kembali gawainya di atas meja.
“Tapi La, orang- orang yang keluar dari toxic relationship itu biasanya bisa keluar karena dirinya sendiri. Susah kalau cuma dengar omongan orang lain.” Kata Aileen. Lula mengangguk. Menyadari bahwa apa yang dikatakan Aileen ada benarnya. Semua keputusan jelas ada di tangan Vano. Ia tak bisa menyeret Vano keluar sementara laki- laki itu ingin bertahan.
“Gimana kalau lo banyak ngabisin waktu sama Vano.” ucap Aileen. “paling nggak, dengan begitu, Vano nggak sama Risa mulu.” Katanya lagi.
“Tapi sumpah, ya, gue takut kalau itu malah nyulut amarahnya Risa lagi. Gue nggak bisa ngebayangin kalau Risa marah- marah sama adik gue.”
Aileen menyentuh tangan Lula yang ada di atas meja. Mencoba menenangkan wanita itu dengan sentuhannya.
“Sabar, La. Percaya aja kalau jodoh itu cerminan diri. Gue yakin suatu saat Vano akan dapat perempuan yang sebaik dirinya sendiri.”
Mengalihkan pembicaraan dari masalah Vano dan Risa yang tak akan pernah menemui jalan keluar. Keduanya membicarakn hal- hal lain. Aileen bercerita apa yang membuatnya agak sibuk akhir- akhir ini. Wanita bercerita bahwa perusahaannya baru saja mendapatkan proyek untuk event garhering sebuah perusahaan besar.
“Pantesan dari kemarin nggak kelihatan.” Kata Lula.
“Kangen lo, ya.” Aileen tertawa sementara Lula berdecak. “Malik nggak kelihatan, nih.” Kata Aileen. Ia memindai sekeliling dan menyadari ruangan itu sudah kehilangan beberapa orang. Ruangan itu semakin sepi karena waktu sudah berjalan semakin malam.
***
Vano turun dari mobilnya saat berhasil memarkirkan mobilnya di parkiran Daily. Setelah mengambil ranselnya yang ada di kursi di sebelahnya, ia keluar dari mobil dan berjalan ke dalam Daily.
Lantai pertama di gedung itu ramai. Meja- meja masih terisi penuh orang- orang yang sedang menikmati makan malam. Area outdoor tak kalah ramai. Area itu didominasi oleh geromob0lan para lelaki yang mengobrol sambil menikmati lintingan rok0k di tangan masing- masing.
Meninggalkan lantai satu, ia mendekati lift untuk pergi ke lantai dua. Suasana coworking space di lantai dua itu berbanding terbalik dengan lantai satu. Ruangan besar dengan beberapa sekat itu sudah sepi. Meja- meja dan kursi- kursi itu sudah banyak yang kosong. Salah satu karyawan di sana terlihat sedang membersihkan meja.
Ia langsung menemukan Lula dan Aileen di salah satu meja yang ada di sana. Ia mendekat dengan langkah hati- hati mendekati keduanya yang masih asik mengobrol. Posisi Lula yang mengarah padanya membuat wanita itu yang pertama melihatnya. Ia menaruh jari telunjuknya di depan bibirnya. Mengisyratkan kakaknya untuk tetap diam.
Saat ia sampai di bekalang kursi Aileen. Ia mengarahkan kedua tangannya ke samping kanan dan kiri wajah Aileen dan menutup mata keduanya.
“Siapa, nih?” kata Aileen. Lula sendiri tak memberitahu wanita itu bahwa Vano akan ke sana.
Vano masih diam. Keduanya tangannya masih menutup kedua mata Aileen.
“Nggak usah sok romantis, ya. Awas lo naksir gue nanti.” Kata Aileen. Kedua tangan itu terlepas. Aileen melihat senyum Vano dari balik tubuhnya hingga laki- laki itu duduk di sebelahnya.
“Ish… Bocah.” Kata Aileen.
“Lo baru pulang? Atau abis ketemu Risa?” tanya Lula tanpa basa- basi.
“Tadi nganterin Risa dulu. Tapi memang pulang kantor juga udah malam sih.” Kata Vano. "kak Aileen kemana aja, baru kelihatan lagi.”
“Gue sibuk memperkaya diri.”
***
Malik melihat Bagas yang baru saja menyelesaikan presentasinya. Mereka masih meeting di kantor itu dengan beberapa bagian yang terlibat. Sebagian membahas masalah- masalah yang terjadi dan belum terselesaikan. Termasuk juga masalah yang terjadi di cabang.
Setelah membahasnya, Bagas menutup rapat itu. Beberapa karyawan mulai bangkit dari kursinya dan berjalan keluar dari ruang meeting, meninggalkan Malik dan Bagas yang masih mengecek beberapa berkas.
“Gue udah dapat beberapa calon supplier daging. Gue masih dalam tahan nego harga. Kalau udah fix. Gue kirim infonya ke email lo.” Kata Bagas.
Malik mengangguk. Ia tahu bahwa laki- laki itu selalu melakukan tugasnya dengan sangat baik. Malik mengenal laki- laki itu karena mereka menempuh pendidikan di kampus yang sama. Bagas adalah kakak tingkatnya dan keduanya menjadi dekat karena satu dan lain hal.
“Lo mau balik nggak?” Bagas sudah membereskan barang- barangnya. Ia menatap Malik yang langsung mengangguk dan mengikutinya. Keduanya keluar dari ruang meeting. Malik masuk ke ruangannya sementara Bagas ke ruangan di sebelahnya. Keduanya membereskan barang- barangnya dan keluar dari ruangan dengan waktu yang hampir bersamaan.
Keduanya masuk ke dalam lift. Malik menekan tombol angka satu dan merasakan kotak besi itu mulai bergerak turun. Tak lama pintu terbuka. Malik keluar lebih dahulu hingga akhirnya mendengar suara yang sudah sangat di kenalnya. Suara itu berasal dari tangga yang berada tepat di samping lift.
“Kenapa?” tanya Bagas yang masih berdiri di belakang Malik yang berhenti.
Malik membalik badan, ia bergegas berdiri di belakang Bagas dan menendang b****g temannya itu hingga laki- laki itu tersungkur di lantai dengan kepala membentur kaki meja. Bagas mengaduh sementara Malik kembali menekan tombol lift agar pintu tertutup.
“Siyalan… kenapa sih tu orang.” Keluh Bagas sambil berusaha bangun. Ia melirik sekeliling dan bersyukur bahwa ruangan indoor itu sudah sepi, semua orang yang masih berada di sana memilih ruang outdoor. Namun ia bisa melihat bawa beberapa pasang mata tetap menghujam ke arahnya.
“Nggak apa- apa, Mas?” sang kasir yang awalnya tengah berada di balik mejanya berlari kecil mengampiri laki- laki itu.
“Nggak apa- apa.” Jawab Bagas.
“Suara apaan tuh tadi?” tanya Aileen yang sudah sampai ke tangga terakhir. Ia menatap Bagas, mencoba mencari jawaban. “Lo yang jatuh?” tanyanya saat melihat laki- laki itu mengusap- usap dahinya. Bagas kini tahu alasan Malik menyingkirkannya. Laki- laki itu pasti tak ingin terlihat bersamanya. Laki- laki itu pasti berpikir bahwa itu akan menimbulkan kecurigaan Lula dan Aileen.
“Ya ampun…” kata Lula saat melihat Bagas nyengir. “kenceng banget lho suaranya. Lo nggak apa- apa?” tanya Lula. Ia melihat laki- laki itu menggeleng sementara si kasir sudah kembali ke tempatnya.
“Nggak apa- apa. Gue kepeleset barusan.” Jawab Bagas. “kalian baru mau pulang?”
Kedua wanita itu mengangguk. Suara denting pintu lift yang terbuka membuat keempat orang itu menoleh ke asal suara. Delapan pasang mata itu langsung menghujam ke arah Malik yang baru saja keluar dari kotak besi itu.
“Hai… Malik…” Aileen menyapa ramah sementara Bagas melotot ke arahnya.
Malik hanya mengulas senyum tipis pada Bagas, Aileen, Vano dan Lula yang memasang wajah datar. “duluan…” kata Malik lalu berlalu dari hadapan semuanya.
Aileen berkacak pinggang lalu menatap punggung Malik yang menjauh. “tumben tuh orang.” Katanya. Kepalanya menggeleng karena tak meyangka bahwa laki- laki akan langsung pergi saat melihat Lula.
“Bagus lah.” Kata Lula. “lo beneran nggak apa- apa?” tanyanya sekali lagi pada Bagas yang langsung menjawab bahwa dirinya tidak apa- apa.
“Yudah kita balik dulu kalau begitu.” Kata Aileen. Bagas mengangguk dan memintaa ketiganya berhati- hati.
Selepas kepergian ketiganya, Bagas tak henti- hentinya memaki. Ia berjanji akan membuat perhitungan pada laki- laki itu besok. Ia berjalan keluar dari restoran setelah berpamitan dengan karyawan- karyawan yang berada di shift malam.
“Lo nggak apa- apa?” Bagas menoleh ke asal suara, ia melihat Malik berjalan menghampirinya dari samping.
“Parah lo, ya.” keluh Bagas. “sakit nih jidat gue.” laki- laki itu menunjuk dahinya yang memerah dan terasa nyeri.
“Sorry… gue refleks pas dengar suara Lula dan Aileen.”
“Ya tapi nggak usah kenceng- kenceng juga kali. Lo mah sekuat tenaga banget. Ada dendam apa lo sama gue?” protes laki- laki itu.
“Sumpah gue nggak sengaja.” Kata Malik dengan nada tak enak.
“Baru pendekatan aja gue udah lo giniin. Apalagi lagi nanti kalau lo pacaran.”
Malik tertawa melihat lirikan sinis Bagas yang ia tahu bahwa laki- laki- tak serius.
TBC
LalunaKia