Lula keluar dari rumahnya saat jam menunjukkan pukul sepuluh pagi. Ia berdiri di depan rumahnya setelah mengunci pintu rumahnya. Matanya menatap layar ponselnya. Mengamati satu ikon motor dalam peta yang bergerak dan semakin lama mendekati titik tempatnya berada.
Wanita itu mengenyit menyadari matahari sudah bersinar terik. Sebelah kakinya bergerak gelisah. Ia menatap sepasang sneakers berwarna putih yang melapisi kedua kakinya. Hari ini ia berpakaian cukup santai, sebuah kaos pendek berwarna merah dengan celana jeans.
Sebuah mobil berhenti tepat di depannya. Sama sekali bukan orang yang ia tunggu. Senyum Malik terlihat saat pemilik mobil itu membuka kaca jendelanya.
“Mau ke Daily? ayo bareng.” Ajak laki- laki itu.
Lula menggeleng dan berkata, “nggak… nggak mau ke Daily.”
“Yaudah aku antar ke mana aja.” Kata Malik lagi. Ia sudah keluar dari mobil dan kini berdiri di depan Lula.
“Kalau aku bilang mau ke akhirat, kamu masih mau ngantar?” Lula berkacak pinggang dan bertanya dengan tatapan menantang.
“Kenapa mikir mau mati? kalau ada masalah cerita aja.” Jawab Malik yang langsung membuat Lula melotot.
“Nggak beneran kali.” Keluh Lula. Ia melirik sepeda motor yang baru saja berhenti di depan mobil Malik. Ia menyesuaikan plat nomor kenadaraan roda dua itu dengan yang ada di aplikasinya. “Bye…” Lula menepuk bahu Malik lalu berjalan mendekati seorang pria yang langsung mengulurkan sebuah helm padanya setelah mengonfirmasi namanya.
“Bareng aku aja. Aku jamin kamu selamat sampai tujuan.” Malik mendekati Lula yang baru saja hendak naik ke motor.
“Nggak mau.” Kata Lula tegas. Ia memakai helmnya lalu naik ke jok belakang. Tak peduli semua perkataan Malik agar dirinya berubah pikiran.
Malik akhirnya kembali masuk ke dalam kemudi setelah melihat kendaraan roda dua itu melaju. Ia mengikuti motor itu dari belakang hingga akhirnya keluar dari komplek perumahaan itu.
Lula berdecak saat menyadari mobil Malik mengikutinya. Ia yang tadinya memilih tujuan salah satu kafe yang dekat Daily akhirnya meminta pengendara motor mengantarnya ke Daily. Ia tahu bahwa laki- laki itu akan mengikutinya dan tak ada cara untuk menghidarinya kali ini.
Motor itu berhenti di depan Daily. Lula melepas helmnya dan memberikan sejumlah uang setelah turun dari motor. Ia masih di sana saat melihat mobil Malik memasuki parkiran.
Wanita itu membalik badan lalu masuk ke dalam. Suara pelayan menyapanya saat ia melewati pintu transparan itu. Lula berjalan mendekati kasir dan tersenyum melihat seorang laki- laki yang baru saja keluar dari pintu khusus karyawan yang berada tepat di belakang kasir.
“Baru kelihatan lagi. Dari mana aja?” tanya Lula pada Bagas yang langsung tersenyum dan berdiri di samping kasir.
“Abis ada keperluan urus cabang di luar kota.” Jawab laki- laki itu. “sendirian aja. Aileen mana?” tanyanya.
“Lagi agak sibuk dia akhir- akhir ini.” jawab Lula. Ia kembali menatap daftar minuman yang tertempel di tembok dengan ukuran besar.
“Iced chocolate caramel?” tanya Bagas. Sudah sangat tahu minuman kesukaan Lula dan hampir selalu dipesan oleh wanita itu.
Lula mengangguk sambil tersenyum. Ia mengulurkan selembar uang seratus ribuan pada gadis yang berada di belakang meja kasir.
Lula dan Aileen mengenal Bagas dengan baik. Sebagai manager yang bertanggung jawab penuh dengan operasional restoran, laki- laki itu memang banyak menghabiskan waktu di bawah. Mengamati langsung berjalannya restoran dan mengevaluasi hal- hal yang menurutnya kurang. Lula dan Aileen yang merupakan member tetap terlama jelas sering melihat laki- laki itu mengerjakan tugasnya memantau langsung jalanannya restoran.
Di suatu saat, mereka berkenalan hingga akhirnya berhubungan baik. Lula dan Aileen tak melihat laki- laki itu beberapa minggu ini dan saat bertanya dengan salah satu pelayan, laaki- laki itu katanya sedang mengurus sesuatu di cabang yang ada di luar kota.
“Selamat menikmati.” Kata Bagas dengan senyum ramah saat Lula mendapatkan kembalian dan minuman pesanannya.
Lula tertawa melihat sikap sopan dan ramah laki- laki itu. Ia tahu bahwa laki- laki bermaksud memberi contoh yang baik untuk anak buahnya. Tak dipungkiri, laki- laki itu memang bisa lebih ramah dibanding yang lainnya.
Lula membalik badan lalu pergi ke lantai atas menggunakan tangga. Ruangan di lantai itu hari itu ramai, namun suasana masih tetap tenang, berbanding terbalik dengan lantai bawah yang sepi.. Ia memindai sekeliling dan menyadari hanya ada empat meja yang kosong. Ia memilih meja di ujung ruangan dekat dispenser. Meja dengan partisi meja yang tak terlalu tinggi. Batas partisi itu hanya setinggi laptop sehingga tak bisa menutup hingga kepalanya. Ia mengambil tempat di tengah. Di sebelah seorang wanita di sisi kanan dan kirinya. Di depannya seorang pria berkaus hiam dengan headphone di telinga tampak fokus ke layar komputer di depannya.
***
Malik berjalan tergesa- gesa mendekati kasir saat melihat Lula sudah naik ke lantai dua. “Gas, ikut gue.” kata Malik pada Bagas yang masih berdiri di samping kasir. Bagas menatap Malik kebingungan, namun tetap berjalan mengekori laki- laki itu yang sudah mendekati lift.
“Kenapa?” tanya Bagas saat melihat raut wajah Malik yang terlihat tak seperti biasanya. Malik tak menjawab, ia masuk ke dalam lift saat pintu besi di depannya terbuka. Bagas masih mengikuti dengan patuh hingga keduanya masuk ke ruangan Malik.
Malik menaruh ranselnya di kursi lalu menatap Bagas yang baru saja mendudukkan diri di kursi kosong di depan meja kerjanya.
“Lo kenal sama Lula?” tanya Malik tanpa basa- basi.
Bagas terdiam, ia tampak berpikir sejenak hingga akhirnya Malik memperjelas sosok yang ia maksud. “Cewek yang barusan lo temuin di kasir.”
“Oh… Lula yang itu. Kenal. Kenapa memang?” tanyanya balik.
“Udah lama? Kenal di mana” tanya Malik lagi. Kali ini duduk di kursinya setelah memindahkan ranselnya ke lemari yang ada di belakang kursi.
“Lumayan. Ya di sini. Dia kan member tetap udah lama.” Jawab Bagas meski masih tak mengerti ke mana arah pembicaraan sahabatnya.
Malik mengangguk. Seharusnya ia tidak heran karena memang Bagas menghabiskan sebagian besar waktunya di lantai satu. Ia jelas mengenal banyak pelanggan- pelanggan tetapnya. Tak seperti Malik yang baru rutin keluar bekerja di luar ruangannya beberapa bulan ini hingga akhirnya bertemu dengan sosok Lula yang menarik perhatiannya.
“Kenapa sih?” tanya Bagas saat melihat Malik terdiam dan sepertinya tak ingin menjelaskan.
“Gue suka sama dia.” Ucap Malik dengan nada jujur.
“Lah, lo bukannya gay?” tanya Bagas dengan tawa yang langsung membuat Malik melotot. Jika yang barusan berbicara bukan sahabatnya dan ia tahu bahwa itu bercanda, ia mungkin sudah menyiram laki- laki itu dengan air yang ada dalam gelas di atas mejanya.
“Serius lo suka sama dia?” tanya Bagas, kali ini tampak bersungguh- sungguh. Ia melihat sahabatnya mengangguk. “udah kenalan sama dia?” tanyanya lagi. Ia kembali melihat sahabatnya mengangguk.
“Tapi dia nggak tahu kalau gue owner di sini.” Kata Malik, “dan gue juga udah di tolak mentah- mentah.”
Bagas tertawa. Ia tak bisa menyembunyikan tawanya saat mendengar kata- kata sahabatnya. Tak heran, sahabatnya itu memang tak pernah terlibat dengan perempuan sebelumnya sehingga bukan hal aneh kalau melihat laki- laki itu ditolak oleh seorang wanita. Laki- laki itu tidak bisa mendapatkan perempuan dengan pengalamannya yang nol besar.
“Kenapa lo nggak bilang aja kalau lo owner di sini. Kali aja lo bisa di terima.” Kata Bagas.
“Gue ketemu dia di lantai dua. Gue nggak nyaman memperkenalkan diri gue sebagai owner di sini. Lagipula gue tahu dia bukan perempuan matre.” Kata Malik yang langsung membuat Bagas mengangguk setuju. Malik akhirnya menceritakan lebih jelas bagaimana hubungannya dengan Lula saat ini. Bagaimana ia ditolak. Juga sikap sinis dan kasar wanita itu padanya.
“Terus lo mau gimana?” tanya Bagas. Ia melihat laki- laki di deapannya mencondongkan tubuhnya dan menumpu kedua sikunya di atas meja.
“Bantuin gue. Gimana caranya gue bisa dekatin dia.” Ucap Malik dengan nada serius.
Salah satu alasan ia meminta bantuan Bagas karena sepak terjang laki- laki itu di dunia percintaan sudah tidak diragukan lagi. Laki- laki itu supel, mudah bergaul, tahu cara mendekati perempuan, dan yang pasti, selama yang ia tahu, laki- laki itu tak pernah ditolak cintanya.
Bagas menyandarkan punggungnya di kursi dan menatap Malik lekat- lekat. “Lo udah tahu umur Lula?” tanyanya.
Malik mengangguk, ia tahu karena memeriksa data wanita itu di daftar member yang ada di sistem.
“Lo tahu kalau dia dan Aileen itu fashionable banget. Gue pikir lo seharusnya merubah sedikit penampilan lo.” Kata Bagas. “Lo tahu kan dengan penapilan lo, lo terlihat jauh lebih tua dari pada umur asli lo.” Kata Bagas lagi.
“Nggak bisa. Gue udah nyaman kayak gini.” Kata Malik. Ia memang sudah terlalu mencintai stylenya yang bagi Bagas mungkin terlihat kuno. Secara penampilan, Malik dan Bagas memang sangat berbeda. Malik setia dengan kemeja, celana bahan, sepatu pantofel, juga rambut klimis yang tersisis rapi. Sedangkan Bagas lebih suka memakai celana jeans dan kemeja pendek yang berwarna cerah. Tekadang laki- laki itu malah memakai polo shirt. Bagas hanya memastikan bahwa penampilannya rapi.
Malik menatap Bagas yang terdiam. Ia menghela napas kasar dan menyetujuinya.
“Karena hubungan lo sama Lula kayaknya udah nggak baik. Gue saranin lo agak menjauh dulu dari dia. Jangan ngikutin dia terus. Jelas itu bikin perempuan nggak nyaman.” Jelas Bagas.
“Setelah itu, lo cari cara gimana bisa dekat sama dia tapi nggak bikin dia ngreasa nggak nyaman.” Lanjut Bagas. “pokoknya kalau lo dekat sama dia, lo biasa aja. Jangan terlalu keliahatan kalau lo naksir berat sama dia.”
Malik tampak tertarik. Ia menatap Bagas dan sangat menanatikan kalimat laki- laki itu selanjutnya. “Nah, kalau dia udah terbiasa dekat sama lo dan mulai ngrasa nyaman, baru deh lo sisipin perhatian- perhatian kecil.” Bagas mengakhiri wejangannya.
“Yakin bakal berhasil?” tanya Malik menyakinkan.
“Gue udah praktekin itu bertahun- tahun dan selalu berhasil.” Jawab Bagas dengan nada jumawa dan meyakinkan.
“Kok bisa dia nggak tahu kalau lo owner di sini. Dia kan cukup dekat sama beberapa karyawan di bawah?” tanya Bagas. Masih bingung bagaimana bisa Malik menyembunyikan identitasnya di tempat di mana banyak orang tahu siapa dirinya.
“Gue udah briefing semua karyawan supaya pura- pura nggak kenal sama gue kalau gue di bawah.”
Bagas tertawa mendengar jawaban Malik. “totalitas banget lo. Biasanya yang kayak gini bisa sampai pelaminan, nih.”
“Do’ain aja. Gue udah bosan dipaksa kenalan sama anak tetangga dan teman- teman nyokap gue mulu.”
Setelah mendengar nasihat Bagas, Malik memutuskan untuk berada di dalam ruangannya seharian. Ia matian- matian menahan diri untuk tak keluar dari sana dan pergi ke bawah demi melihat wajah Lula.
Ia menyibukkan diri dengan dokumen- dokumen yang menumpuk di mejanya. Hari itu, ia mencoba melupakan sosok Lula sejenak meski sosok itu terus menerus mengetuk pikirannya dan minta diperhatikan.
Waktu bergulir begitu lambat. Malik berkali- kali melempar pandangannya ke jam dinding yang ada di ruangan itu, juga ke benda yang melingkari pergelangan tangannya. Sebelah kakinya bergerak gelisah meski kedua tangannya tetap aktif menari di atas papan ketik. Ia tak henti- hentinya berpikir apakah Lula masih ada di bawah, apakah wanita itu sudah makan siang. Desain apa yang sedang dikerjakan wanita itu. Malik tidak tahu bahwa selain mengambil hatinya, wanita itu juga bisa mengambil fokusnya.
Ia keluar dari ruangannya dan pergi ke ujung ruangan yang ada di lantai itu. Ia masuk ke ruangan IT dan melihat tiga orang karyawannya sedang sibuk di depan komputernya masing- masing. Tiga orang itu tampak kaget melihat Malik masuk ke ruangan mereka secara tiba- tiba. Salah satu senior IT menyapanya dan menanyakan apakah ada yang bisa mereka bantu.
“Saya cuma mau lihat CCTV.” Malik mengacungkan sebelah tangannya. Meminta mereka kembali melanjutkan pekerjaannya sementara ia pergi ke sudut ruangan, di mana beberapa layar berada di atas sebuah meja besar.
Ia duduk di kursi yang ada di belakang meja. Ia melihat potongan- potongan kecil semua tempat yang ada di gedung itu. Setelah menemukan CCTV yang ada di lantai dua, ia mengklik dua kali pada layar dengan mouse yang ia arahkan sehingga tampailan itu membesar.
Ia tersenyum karena langsung menemukan sosok Lula yang kebetulan berada tak tahu dari letak kamera pengintai itu.
Tiga karyawan yang ada di ruangan itu melirik diam- diam ke arah Malik. Dalam hari bertanya- tanya apa yang sedang terjadi. Karena tak biasanya, laki- laki itu mendatangi sendiri ruang IT dan mengecek CCTV tanpa memberitahu apa yang ia cari.
Seperti biasa, Malik melihat wanita itu fokus pada pekerjaannya. Sesekali wanita itu menyesap air dalam cupnya. Sesekali melirik sekeliling. Sesekali terlihat asik dengan ponselnya. Wanita itu memenuhi hati dan pikiran Malik begitu cepat. Satu- satunya alasan Malik yakin pada wanita itu adalah karena sebelumnya, tak pernah ada perempuan lain yang bisa membuatnya seperti itu.
TBC
LalunaKia