CHAPTER TIGA PULUH ENAM

2092 Kata
            Karena tahu Lula tak akan ke sana hari itu, Malik menghabiskan harinya di ruangannya. Ia memeriksa semua laporannya di ruangannya. Jam menunjukka pukul empat sore saat pintunya terdengar diketuk pelan. Ia mempersilakan dan melihat wajah Bagas, manager sekaligus sahabatnya menyembul di balik pintu. Pria berkemeja hitam pendek itu masuk ke dalam ruang dan langsung duduk di kursi kosong di depannya.             “Bukannya besok ya?” Tanya Malik. Laki- laki itu sudah beberapa minggu ini berada di luar kota untuk mengurus beberapa masalah di cabang Daily yang ada di luar kota. Setelah memastikan semua masalah terselesaikan, ia kembali ke pusat.             “Gue mampir doang. Nggak niat kerja juga.” Kata laki- laki itu sambil terkekeh ringan. “udah dapet gedung baru?” tanya laki- laki itu berambut kriwil itu.               “Udah… coba lo cek deh.” Malik mengambil beberapa bendel dokumen yang berisi gambar- gambar gedung yang sempat ia lihat dan sudah ia print.             “Ish… baru gue bilang gue nggak mau kerja.” Keluh laki- laki itu.             “Yailah, cek gini doang.” Kata Malik. Ia melanjutkan pekerjaannya sementara Bagas membolak- balik tiap lembar di tangannya.             “Kayaknya yang ini oke.” Kata Bagas. Malik menengadahkan kepalanya dan menatap laki- laki di depannya mengulurkan satu gedung yang baru saja ia lihat tadi pagi.             “Sesuai sama perkiraan gue.” kata Malik. “ini tempatnya strategis banget, lho. Udah gitu nggak ada tempat serupa di sekitar sana.” kata Malik lagi.             “Tapi nanggung nggak sih kalau kita buka resto. Ini kayaknya lantai satunya nggak terlalu besar?” kata Bagas.             “Nah itu dia yang lagi gue pikirin juga. Gedung di sebelah kosong, sih, cuma nggak ada info dijual atau disewakan di sana.” Malik memberitahu.             “Yudah biar besok- besok gue cek deh. Laporan selama gue di Bandung udah gue kirim ke email, ya.” kata Bagas. Ia melihat Malik mengangguk. “Gue ke bawah dulu. Lapar. Lo mau ikut nggak?”             “Nggak deh. Gue nyelesain ini dulu baru nyusul ke bawah.” Kata Malik. Bagas mengangguk lalu berdiri dari duduknya dan keluar dari ruangan itu.     ***               Vano memarkirkan mobilnya saat langit mulai menggelap. Lampu- lampu jalanan menyala secara serentak, juga lampu- lampu kafe yang ada di sekeliling. Ia menatap tulisan yang baru menyala di depan sebuah resto. Papan bertuliskan Daily resto dan coworking space itu tampak terang dengan lampu- lampu yang menyala di dalam huruf yang membentuk kata itu.             Ia memindai sekeliling, parkiran itu penuh, dari mobilnya, ia bisa melihat bahwa restoran di lantai satu itu ramai. Ia datang ke sana untuk mencari Malik. Paling tidak, ia harus berterima kasih pada laki- laki itu karena semalam telah membantu kakaknya dan Aileen.             Ia turun dari mobil dan mendekati pintu transparan itu. Saat masuk, ia mdengar suara pelayan menyapanya dari balik meja area khusus staff. Ia tersenyum ramah lalu memindai sekeliling. Sudah masuk jam makan malam. Ia berpikir bisa menemukan laki- laki itu di lantai satu.             Saat tak menemukan laki- laki itu di sana, ia berjalan pelan mendekati lift, tepat saat pintu lift itu terbuka dan memunculkan sosok orang yang dicarinya. Tatapan keduanya bersirobok. Vano berjalan lebih cepat untuk mendekati Malik.             “Dengan Malik?” tanya Vano saat ia berdiri di depan laki- laki itu. Malik mengangguk.             “Saya Revano, adiknya Lula. Bisa minta waktunya sebentar?” tanya Vano lagi. Malik melirik Bagas yang berdiri di belakang kasir, yang juga tengah menatapnya.             “Boleh.” Katanya akhirnya. Ia berjalan ke area terbuka dan menempati salah satu meja yang kosong.             “Mbak… pesan es americano, satu…” kata Malik saat pelayan berjalan di samping mejanya. Ia menatap Vano, bertanya ingin memesan apa dengan tatapannya.             “Samain aja.” Kata Vano akhirnya.             “Dua.” Kata Malik pada pelayan berseragam itu. “ada apa, ya?” tanya Malik dengan nada penasaran.             “Saya cuma mau berterima kasih aja karena semalam udah bantuin kakak saya dan temannya.” Vano menjelaskan maksud dan tujuannya mendatangi laki- laki itu.             “Oh…”             Vano bercerita bahwa ia menyesal tak dapat membantu kakaknya secepatnya. Ia juga tak tahu apa yang akan terjadi jika Malik tak bertemu dengan kedua wanita itu.             “Nggak apa- apa. Tolong dibilang aja sama Lula dan Aileen supaya lebih hati- hati.” Kata Malik bijaksana.             Mereka akhirnya membuka obrolan ke hal- hal lain. Membicarakn banyak hal. Saling mengenal satu sama lain. Malik tak mau membuang kesempatan untuk bertanya lebih jauh mengenai sosok Lula. Ia merasa akan mendapatkan informasi berharga dari Vano karena laki- laki itu adiknya. Laki- laki iu pasti tahu banyak soal wanita itu.   ***               Suara derit mobil yang memasuki garasi rumahnya membuat Lula menoleh ke arah pintu. Ia melirik jam dinding di ruangan itu dan melihat waktu sudah menunjukkan pukul setengah sembilan malam.             Tak lama ia melihat pintu terbuka. Sosok Vano muncul di baliknya. Laki- laki itu mengucapkan salam lalu mendekatinya dan mencium punggung telapak tangannya. Laki- laki itu membawa sebuah bungkusan dengan tulisan Daily di bungkusnya.             “Udah mandi belum lo, Kak?” tanya Vano pada kakaknya sesaat setelah menghempaskan tubuhnya ke sofa. Lula duduk di lantai, dengan tubuh menghadap laptopnya yang ada di atas meja.             “Udah lah. Lo nggak lihat muka gue? apa nggak ada bedanya udah mandi atau belum?” Lula menoleh ke belakang dan menatap adiknya dengan jengkel.             “Tumben.”             “Berisik.” Kata Lula. “lo dari Daily? ngapain? Tumben?” tanyanya lagi. Kali ini ia sudah kembali menghadap layar laptopnya.             “Iya… nyari makan.” Jawab laki- laki itu. Lula berdecak. Ia mulai sebal mendengar restoran itu. Tadi siang Malik datang memabwa makanan dari tempat itu, kali ini adiknya. Ia tak tahu kenapa semakin lama semakin terasa terikat oleh tempat itu.             “Lo belum makan, kan?” tanya Vano. Ia melihat wanita di depannya menggeleng pelan. “yaudah gue mandi dulu.” Laki- laki itu berdiri dari duduknya. “Kak Aileen nggak ke sini? Tumben.” Lula tak menjawab. Vano berjalan mendekati pintu kamarnya dan menghilang di baliknya.             Denting ponsel membuat Lula melirik ponselnya yang tergeletak di atasnya. Tanpa mengangkat benda pipih itu, ia mengetuk layar untuk membuka kunci dan membaca pesan yang masuk.             +62812425865xx : Selamat malam, Lula.             Meski nomor itu belum di simpannya. Ia tahu betul siapa pemilik nomor itu. Malik. Ia tak membalas pesan itu dan memilih kembali melanjutkan pekerjaannya.             Tak lama ponsel Lula berdering. Nomor yang baru saja mengirimnya pesan kini tertera di layar. Ia berdecak lalu kembali memilih mengabaikan panggilan itu. Sekali lagi, ia tidak ingin laki- laki itu berpikir ia memberinya kesemapatan. Ponselnya berhenti bergetar dan tak ada lagi panggilan yang masuk.             Lula menyimpan pekerjaannya dan memilih membawa makanan yang Vano bawa ke dapur. Ia mengambil dua buah piring dan dua buah mangkok. Dengan kedua tangannya, ia memindahkan capcay dan udang saus tiram dari kotak makanan ke dalam mangkok. Ia juga mengambil panci rice cooker berisi nasi dan menaruhnya di atas meja.             Suara dering ponsel terdengar lagi. Namun Lula tahu itu bukan berasal dari ponselnya. Suara dering itu terus terdengar. Bunyi itu langsung terdengar lagi sesaat setelah panggilan mati. Lula berdecak kesal saat suara dering itu terus menerus memenuhi gendang telinganya.             “Gue banting juga tuh HP lama- lama.” Keluh Lula. Tak perlu menebak siapa yang memanggil karena tidak ada orang lain yang begitu terobsesi pada adiknya selain Risa. Ia tahu bahwa panggilan itu akan terus terdengar sampai si empunya ponsel mengangkatnya.             Suara ponsel itu akhirnya berhenti, dan setelah mendengar suara Vano, ia tahu bahwa panggilan itu sudah terangkat. Ia sudah duduk di meja makan saat melihat Vano masuk ke dapur, namun laki- laki itu langsung berbelok ke taman belakang. Wajah serius laki- laki itu membuat Lula tahu bahwa keduanya sedang berselisih. Tak perlu menebak penyebabnya, Lula bisa langsung tahu hanya karena laki- laki itu lama mengangkat panggilan gadis itu.             Lula mendecih ke arah Vano yang kini sibuk menjelaskan kenapa ia lama mengangkat panggilan kekasihnya. Ia tidak mengerti kenapa adiknya bisa berhubungan dengan gadis itu sampai tiga tahun lebih. Ia juga tak mengerti kenapa adiknya bisa begitu bodoh hanya karena cinta pada seorang gadis.             Tak lama Vano menyudahi panggilannya. Ia menutup panggilanya dan mendekati meja makan lalu duduk di depan kakaknya yang sudah mulai menyendokkan nasi ke dalam piring. Ia melakukan hal serupa.             “Kirain lo udah kenyang kena omel.” Ejek Lula. Vano berdecak, namun tidak bisa membalas perkataan Lula karena sadar bahwa semua yang dikatakan wanita itu ada benarnya. Risa memang baru saja memarahinya hanya karena ia lama mengangkat telepon. Gadis itu tak peduli jika ia sedang mandi, atau makan, atau bahkan ketiduran. Gadis itu selalu ingin ia mengangkat panggilannya dalam nada sambung pertama. Gadis itu paling tidak suka dibuat menunggu, hal yang sudah Vano tahu sejak awal berpacaran.             Setelah menyendokkan nasi ke piringnya, ia mengambil sayur dan lauk yang tadi ia beli dan sudah Lula pindahkan ke mangkok. Lula sudah memulai suapan pertama. Lula menatap Vano yang mulai fokus pada sendok dan isi piringnya.             “Tadi Vano ketemu sama Malik.” Kata Vano. Laki- laki itu tiba- tiba mengangkat kepalanya hingga tatapan keduanya bertemu.             Lula terdiam. Ia masih menunggu kata- kata selanjutnya yang akan keluar dari mulut laki- laki itu. “Vano bilang makasih karena semalam udah bantuin kakak sama kak Aileen.” kata laki- laki itu lagi. Lula hanya mengangguk, tak berniat menimpali kalimat adiknya.             “Baik, ya, orangnya.” Kata Vano lagi. Laki- laki itu menatap Lula yang sedang mengunyah di depannya. Wanita itu terdiam. Tampak tak semangat membicarakan laki- laki itu. “asik juga.” Kata Vano lagi.             “Bisa nggak, nggak usah ngomongin Malik?” kata Lula saat tahu bahwa Vano sepertinya akan membicarakan banyak hal mengenai sosok Malik.             “Kenapa?” sebelah alis Vano terangkat. Ia mengambil gelas berisi air dengan sebelah tangannya lalu menyesapnya pelan.             “Gue sebal aja.” Jawab Lula. Vano tak berbicara lagi. Keduanya menghabiskan sisa makanan yang ada di piring masing- masing.             Suara dering ponsel terdengar lagi. Kedua pasang mata itu langsung menghujam benda pipih milik Vano yang tergeletak di atas meja. Vano baru hendak mengulurkan tangan untuk mengambilnya saat tangan Lula sudah lebih dulu meraihnya.             “Risa lagi.” Lula menatap adiknya lalu kembali berkata, “lo bilang nggak sih kalau mau makan?” Lula melihat Vano mengangguk. “ini belum ada setengah jam, lho. Dia pikir lo kucing apa makan bisa cepet banget. Heran.” Kata Lula.             “Sini, Kak. Biar gue angkat dulu.” Vano sudah mengulurkan sebelah tangannya. Namun ia melihat Lula menggeleng. Sebelah tangannya bergerak untuk menslide layar lalu mendekatkan benda pipih itu ke sebelah telinganya.             Suara Risa langsung menyentaknya diujung sambungan, “Vano…. kenapa lama banget, sih, angkatnya. Berapa kali, sih, aku harus bilang kalau aku nggak suka kamu lama angkat telepon. Makan aja lama banget.” Suara Risa penuh amarah, kasar, dan menyakiti hatinya.             Lula menggertakkan giginya. Amarahnya tiba- tiba merambat dan terasa memenuhi seluruh sel- sel tubuhnya. Ia menatap Vano yang juga tangah menatapnya dengan tatapan cemas.             “Vano!!!” suara itu menyentak lagi saat tak ada yang menyambut omelannya. Lula menghela napas kasar.             “Risa… ini Lula…” kata Lula akhirnya. Keadaan di ujung sambungan mendadak hening.             “Kak Lula… maaf, Kak, Risa pikir…” suara gadis itu terpotong karena Lula langsung berbicara tanpa menunggunya menyelesaikan kalimatnya.             “Vano masih makan. Lain kali kalau telepon kamu nggak diangkat, itu tandanya orang yang kamu telepon lagi sibuk. Tolong hargai dengan hubungi beberapa saat lagi.” Lula langsung mematikan panggilannya tanpa menunggu jawaban Risa di seberang sambungan.             Ia setengah melempar ponsel itu ke atas meja dan jatuh tepat di depan adiknya.             “Bisa- bisanya lo, ya, diam aja di maki- maki dia kayak gitu.” Kata Lula dengan gelengan pelan. Ia sama sekali tak mengerti dengan jalan pikiran adiknya. “berapa kali sih gue bilang sama lo. Risa tuh toxic.” Kata Lula dengan nada penekanan yang jelas. Ia tak lagi tahu bagaimana caranya membuat Vano sadar bahwa ia hubungan keduanya tak lebih dari toxic relationship.             Vano terdiam. Ia menatap kakaknya yang menghela napas kasar. “kalau dia cinta sama lo, dia nggak akan kayak gitu. Dia nggak akan ngekang lo karena dia percaya sama lo. Dia nggak akan marah- marah cuma karena hal sepele.” Jelas Lula.             “Sampai kapan lo mau bohongin diri lo kalau lo nggak bahagia sama Risa.” Lula menatap adiknya dengan marah. Vano menghela napas. Ia menyentuh tangan kakaknya di atas meja dan menggenggamnya erat. Ia tahu seberapa besar ke khawatiran wanita itu. Hal yang bisa ia lakukan saat ini adalah membuat wanita itu percaya bahwa semuanya akan baik- baik saja.             “Risa udah banyak berubah, Kak.” kata Vano. “Dia lagi coba berubah pelan- pelan.” TBC LalunaKia  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN