Malik mengelilingi gedung itu didampingi oleh sekretaris pemilik gedung. Ia sedang melihat- lihat apakah gedung itu sosok untuk dijadikan cabang ketiga Daily. Ia mengambil beberapa potret sudut gedung itu sebagai bahan pertimbangan. Dari segi lokasi, ia akan cocok karena berada di kawasan perkantoran yang ramai. Namun gedung ini lebih kecil dibanding gedung utama Daily.
“Nanti kalau bapak cocok, kita bisa langsung atur pertemuan sama bos saya.” Laki- laki berpakaian rapi itu berkata pada Malik yang langsung mengangguk. Malik kembali berkeliling. Mengira- ngira apa yang harus ia ubah dan harus diperbaiki jika ia jadi membeli gedung ini. Ini bukan hal kecil sehingga ia harus memikirkannya matang- matang.
Setelah puas berkeliling, keduanya keluar dari gedung itu. Malik menjabat tangan laki- laki itu dan bilang akan menghubungi secepatnya hingga akhinya menjauh dan masuk ke mobilnya yang terparkir di depan gedung.
Malik menyalakan mesin mobilnya lalu menekan pedal gas hingga empat roda mobil itu berputar. Ia fokus pada jalanan yang tak terlalu ramai hingga akhirnya memelankan mobil saat mendekati komplek perumahan Lula. Ia berpikir sebentar hingga akhirnya memilih memutar kemudinya memasuki komplek perumahan yang tak terlalu besar itu dan pergi menuju kediaman wanita itu.
Ia berhenti di seberang rumah Lula. Sebuah rumah sederhana tanpa gerbang dengan beberapa tanaman yang tampak cantik di depannya. Ia menatap pintu dan jendelanya yang tertutup rapat. Namun ia melihat tirai jendela itu tersibak. Hal itu membuatnya yakin bahwa ada seseorang di rumah itu.
Ia melirik jam di pergelangan tangannya. Sudah hampir jam sepuluh pagi. Tak jauh dari tempatnya berdiri, ia melihat beberapa ibu- ibu mengelilingi gerobak tukang sayur. Mereka tampak asik mengobrol dengan tangannya yang sibuk memilah- milah sayur yang akan mereka beli.
***
Lula baru saja menyelesaikan sarapannya yang kesiangan. Ia mencuci piring dan gelas bekas pakainya di bak sink dan meniriskannya di rak piring. Setelah itu ia pergi ke ruang tamu lalu mengeluarkan laptop juga peralatannya dari ranselnya dan menaruhnya di atas meja ruang tamu. Ia pergi mendekati stop kontak untuk menyalakan lampu. Ia tak terlalu suka membuka pintu atau jendela untuk mendapat penerangan alami karena merasa bahwa cahaya matahari siang tak terlalu baik untuk kulit wajahnya.
Seetelah menyalakan komputer jinjingnya, ia mendekati pintu dan beniat keluar untuk menyiram tanaman- tanamannya. Ia membuka pintu dan terpaku. Ia merasakan seluruh fungsi tubuhnya berhenti. Di depannya, ia melihat Malik dengan sebelah tangannya terangkat seperti bersiap untuk mengetuk pintu.
“Hai…” suara Malik seakan menampar Lula. Gadis itu seketika tersadar lalu menutup pintu dengan keras, nyaris membuat Malik terlonjak kaget.
Lula mendesis. Tak mengerti kenapa tiba- tiba laki- laki itu ada di depan pintu rumahnya. Ia berjalan pelan menuju kamar mandi yang ada di samping ruang cuci untuk membasuh wajahnya dan berkaca. Memastikan wajahnya sudah cukup enak dilihat. Ia juga menyisir rambut panjangnya dengan jari- jari tangannya dan menggulungnya agar lebih terlihat rapi.
Lula tak henti menggerutu sambil kembali mendekati pintu rumahnya. Ia kembali membuka pintunya pelan dan melihat laki- laki itu masih di posisi semula. Berdiri di depan pintunya dengan satu buah paper bag di sebelah tangannya.
“Ngapain, sih?” tanya Lula dengan nada tak bersahabat. Ia berjalan keluar lalu mengambil selang setelah menyalakan kran dan menyirami rumput dan tanaman yang ada di halaman.
“Antar kopi dan camilan.” Laki- laki itu mengacungkan paper bag yang ia bawa pada Lula yang langsung mendengus.
“Aku nggak pesan.” Jawab Lula.
“Aku yang mau kasih.” Kata Malik. Ia masih berdiri di tempatnya. Mengamati Lula yang masih memakai piyaman berwarna biru mudanya. Dari penampilan wanita itu, ia tahu bahwa wanita itu belum mandi, atau mungkin baru saja bangun.
“Kamu nggak mau ke Daily?” tanya Malik. Ia kini melihat wanita itu mengambil gayung dekat kran dan mengisinya dengan air sebelum akhirnya menyiramkannya pada bunga- bunga yang di tanam dalam pot- pot penuh ukiran di luarnya.
“Nggak.” Jawab Lula dengan nada dingin dan tegas. Ia menaruh gayung itu kembali ke tempatnya dan berdiri menatap Malik yang berada tak jauh dari tempatnya.
“Kenapa?” tanya Malik dengan nada bingung.
“Nggak mau ketemu kamu.” Jawab Lula dengan jujur.
“Kenapa?” Malik bertanya lagi. Tak bisa menyembunyikan kebingungan dalam ada suaranya.
Kali ini Lula yang kebingungan. Ia bingung bagaimana harus menjawab pertanyaan laki- laki itu. Ia jelas tahu bahwa ia tak nyaman dekat dengan laki- laki itu. Tapi apa memang hanya itu alasannya? Ia bahkan tak tahu dengan pasti perasaan laki- laki itu. Apa Malik benar- benar menyukainya atau semua yang pernah keluar dari mulut laki- laki itu hanya sebuah candaan.
Lula memilih tak menjawab karena tak ingin dibilang kepedean. Ia berjalan mendekati Malik lalu berbelok dan duduk di kursi kayu yang ada di beranda rumah.
Malik mengikuti Lula dan bertanya, “boleh duduk?”
Lula melirik sinis dan berdecak. Sebuah jawaban unik yang akhirnya membuat Malik duduk di kursi kosong di sebelah Lula. Ia menaruh paper bagnya di atas meja.
“Kamu udah sarapan?” tanya laki- laki itu.
“Udah.” Jawab Lula. “kenapa, sih? kamu tuh ke sini ngapain?”
“Cuma mau tahu, kamu semalam sampai di rumah dengan selamat atau nggak.” Kata Malik. Lula terdiam. Ia menoleh dan melihat laki- laki itu tampak tulus.
“Selamat berkat kamu.” Kata Lula akhirnya. Ia tak mau menutup mata bahwa Malik adalah orang yang menyelamatkannya semalam. Ia tidak tahu bagaimana nasibnya dan Aileen jika tak bertemu dengan laki- laki itu. “thanks banget buat semalam.” Lula sedikit melunak.
“Mbak Lula…” suara itu membuat keduanya menoleh ke asal suara. Bu Amira dan Bu Ela, tetangganya terlihat berdiri di depan rumahnya dengan bungkusan plastik di tangan masing- masing.
“Dari mana, Bu?” tanya Lula berbasa- basi.
“Habis beli sayur.” Amira menjawab. Kedua ibu- ibu saling padang dan tersenyum sambil menatap Malik. “duluan, Mbak Lula…”
Lula hanya mengulas senyum tipis. Ia tahu bahwa sebentar lagi gosip akan menyebar di komplek itu. Ia tidak tahu apa yang ada dipikiran ibu- ibu itu, ia akan tahu saat gosip itu sampai ke telinganya.
“Yaudah aku pergi dulu kalau begitu.” Kata Malik karena bingung apa yang harus ia bicarakan dengan wanita itu. Ia melihat wanita itu mengangguk pelan.
Malik berdiri lalu menatap wanita itu sebelum akhirnya menjauh dan masuk ke mobilnya yang diparkir di depan rumah wanita itu.
Lula menatap hingga mobil laki- laki itu melewati rumahnya dan menghilang dari pandangannya. Matanya lalu melirik paper bag dengan tulisan Daily di bagian tengahnya. Ia berdecak, lalu membawa bungkusan itu ke dalam rumah dan menaruhnya di dapur. Setelah itu ia kembali ke ruang tamu dan memulai pekerjaannya.
***
Risa turun dari taksi setelah sebelumnya memberikan sejumlah uang untuk membayar biaya perjalanannya. Dengan sepatu haknya, ia berjalan mendekati bank swasta di bawah terik matahari yang menyengat.
Ia menemui security dan memberitahu bahwa tujuan kedatangannya adalah untuk bertemu salah satu branch service officer di bank itu. Ia menyebut nama Vano supaya lebih jelas. Risa tak punya hal yang lain yang bisa ia lakukan untuk meminta maaf pada laki- laki itu. Ia tahu sebagaimana marahnya laki- laki itu karena keposesifannya. Laki- laki itu tak menghubunginya dari semalam dan semua panggilannya sejak pagi tak terjawab sama sekali.
Risa memilih untuk menunggu di luar alih- alih mengikuti pria berseragam itu untuk masuk ke dalam. Ruang tunggu bank swasta itu semakin ramai padahal sudah memasuki jam makan siang.
Pria berseragam itu kembali dan memintanya untuk menunggu. Ia hanya mengangguk sambil mengulas senyum tipis. Tak lama ia melihat Vano berjalan menghampirinya. Laki- laki tarlihat tampan dengan kemeja panjangnya. Sebuah dasi terselip di bawah kerahnya. Sepasang pantofel membungkus kakinya. Risa bisa melihat beberapa pasang mata menatap Vano yang sedang berjalan ke arahnya. Ia menggeleng tanpa sadar. Ia tidak ingin kehilangan laki- laki itu. Ia tidak akan sanggup kehilangannya.
“Kenapa?” tanya Vano saat berdiri di depan Risa. Kalimat itu terdengar sangat dingin saat masuk ke gendang telinganya. Ia tahu bahwa laki- laki itu masih kesal padanya.
“Aku mau minta maaf soal semalam.” Kata Risa dengan nada penuh penyesalan. Vano melirik ke mobilnya. Mengisyaratkan wanita itu untuk menahan ucapannya dan membicarakn semuanya di mobil. Risa mengangguk. Ia mengekori Vano mendekati mobilnya dan melesak di samping kemudi saat laki- laki itu membukakan pintu untuknya. Risa melihat laki- laki itu mengitari mobil dan melesak di balik kemudi.
“Sayang… aku tahu kamu marah. Aku mau minta maaf. Aku tahu aku ketelaluan.” Kata gadis itu dengan nada lirih.
Vano menoleh dan melihat wajah Risa yang memelas. Ia menghela napas kasar, “Ris, aku udah ikutin semua kemauan kamu, ya. Aku nggak terlalu dekat sama rekan kerja aku, juga teman lama aku. Aku turutin semuanya, tapi kamu nggak bisa kayak gini ke keluarga aku. Dia kakak aku, lho.” Jelas Vano. Masih dengan nada jengkel yang tak bisa ia sembunyikan.
“Iya… sayang… aku ngerti… aku nyesal.” Kata wanita itu. Sebelah tangannya mengambil tangan Vano dan menggenggamnya erat. “kamu maafin aku, kan?” tanya gadis itu. Garis bibirnya terangkat membentuk senyuman saat melihat Vano mengangguk pelan.
“Jadi gimana kak Lula semalam?” Risa bertanya. Mencoba mencairkan suasana yang semula menegang. Ia tahu Vano belum bisa memaafkan sepenuh hatinya, ia menanyakan keadaan kakak laki- laki itu untuk menunjukkan bahwa ia peduli.
Vano akhirinya menceritakan semuanya pada Risa. Rasa kesal dihatinya tiba- tiba mencair. Ia tahu bahwa ia tak akan bisa marah lama pada gadis itu. Kata maaf yang akhir- akhir ini diucapkan Risa membuatnya kembali memaklumi gadis itu. Ia pikir gadis itu sudah berubah. Ia pikir kini gadis itu sudah belajar mengucapkan maaf saat melakukan kesalahan. Di satu sisi, ia senang dengan perubahan gadis itu.
TBC
LalunaKia