Vano buru- buru menarik tangan Risa saat mereka sudah berdiri dan sedang mengantre untuk keluar dari teater. Ia mencari celah di antara orang- orang yang ada di depannya untuk sampai di luar lebih dulu.
Saat berhasil keluar dari teater, ia menggandeng Risa ke pojok dan mengambil tempat tepat di depan gadis itu. “mana ponsel aku?” sebelah tangan Vano sudah terulur untuk meminta benda miliknya yang ada di dalam tas Risa.
Gadis itu berdecak, lalu merogoh tasnya dan mengeluarkan ponsel Vano dari sana. Ia menyerahkan ponsel itu ke tangan Vano yang masih terulur dan melihat laki- laki itu langsung mengecek ponselnya.
Vano melihat ada sebelas panggilan tak terjawab dari kakaknya. Ibu jarinya mengetuk- ngetuk layar untuk membuka kunci dan membaca pesan yang masuk.
Lula: Selesai jam berapa?
Lula: Mobil Aileen mogok, nih, di pinggir jalan.
Lula: Kehabisan bensin.
Vano mulai panik. Ia mulai berjalan sambil mencoba menghubungi nomor Lula yang ternyata tidak aktif, begitu juga nomor Aileen.
“Kenapa?” tanya Risa. Ia terseok- seok mencoba mensejajari langkahnya dengan langkah Vano yang lebar- lebar.
“Mobil Kak Aileen kehabisan bensin, mogok di jalan.” Kata laki- laki itu. Masih mencoba menghubungi dua nomor itu meski tak membuahkan hasil. “Nomornya nggak aktif lagi.” Kata laki- laki itu.
“Udah sampai di rumah kali.” Kata Risa saat mereka masuk ke dalam lift untuk menuju basement.
“Kalau udah sampai rumah, ponselnya pasti aktif. Ini mereka pasti juga kehabisan baterai.” Kata Vano. Risa terdiam di sebelah laki- laki yang masih tampak panik itu.
“Tenang… Van…. Mungkin…” omongan Risa berhenti karena Vano menyentaknya.
“Gimana bisa tenang, sih, Ris…” sentak laki- laki itu. “ini kakak aku, lho.” Kata Vano. “seandainya kamu nggak ambil HP aku, aku nggak mungkin sepanik ini.” keduanya keluar dari lift saat pintu besi itu terbuka di depannya.
“Jadi kalau tadi HPnya nggak aku ambil, kamu bakal nyusulin kakak kamu?” tanya Risa, “terus acara nonton kita gimana?” mereka sudah sampai di mobil saat Risa mengatakan itu.
“Ris, kakak aku dalam bahaya, lho. Sedangkan film itu bisa kita nonton besok lagi.” Kali Vano tak bisa menahan emosinya. “kamu masih mikir akan halangin aku buat nyusulin kakak aku yang perlu bantuan?” Vano menatap Risa yang terdiam. Bahkan di saat- saat seperti ini, tak ada kata maaf yang keluar dari mulut gadis itu. Gadis itu masih saja memikirkan kesenangannya sendiri.
Vano masuk ke dalam mobil. Risa melesak di sebelahnya. Lula tak sempat mengirimkan lokasi ataupun memberitahu di mana posisinya sehingga Vano tak tahu persis wanita itu ada di mana. Vano mengarahkan mobilnya menuju kediaman Risa. Ia meneliti jalan- jalan yang dilaluinya, berharap bisa menemukan kakaknya di jalan yang ia lewati.
Namun sampai mobil itu berhenti di depan gerbang rumah Risa, ia tak menemukan kakaknya. Risa melepas safety belt dan langsung keluar dari mobil tanpa sepatah katapun. Yang Vano dapat hanya suara pintu mobil yang dibanting. Ia menghela napas dan melihat gadis itu masuk ke dalam gerbang rumahnya tampa menoleh ke arahnya lagi.
Laki- laki kembali memutar kemudi menyusuri jalan hingga keluar dari komplek perumahaan Risa. Ia berputar- putar mengeliling Jakarta malam itu. Mulutnya tak berhenti berdoa semoga kakaknya baik- baik saja.
Vano menepikan mobilnya saat usahnya tak membuahkan hasil. Ia kembali mencoba menghubungi nomor kakaknya dan Aileen namun nomor keduanya masih tidak aktif. Ia memukul setir mobilnya lalu memutuskan untuk mengecek ke rumah. Ia berharap kedua wanita itu sudah sampai di rumah.
Vano menjalankan mobilnya dengan kecepatan di atas rata- rata. Ia menerobos lampu merah demi sampai di rumahnya secepatnya. Ia menekan pedal gas dalam- dalam. Suasana jalanan yang sudah lenggang memudahkannya sampai ke rumah lebih cepat.
Vano mengentikan mobil di seberang rumahnya. Hatinya mencelos saat melihat tak ada mobil Aileen yang biasanya terparkir di depan rumahnya. Namun ia tetap keluar dari mobilnya dan memasuki rumahnya yang masih terkunci. Gelap pada seluruh ruangan di rumah itu menyadarkannya bahwa Lula memang belum sampai di rumah. Ia membuka pintu kamar kakaknya dan jelas tak menemukan siapapun di sana.
Ia berdiri di tenagh- tengah ruang tamu dan mengacak- ngacak rambutnya dengan kasar. Ia mulai kebingungan dan penyesalan tiba- tiba memenuhi perasaannya. Jika sesuatu terjadi dengan kakaknya, ia tidak akan bisa memaafkan dirinya sendiri.
Langkah kaki kembali membawanya keluar dari rumah. Ia jelas tak bisa berdiam diri dan hanya menunggu kakaknya. Saat ia sedang mengunci pintu, ia mendengar sebuah mobil memasuki garasi rumahnya. Ia menoleh dan merasa lega saat mengentahui itu adalah mobil Aileen. Ia bergegas mendekat dan memeluk Lula saat wanita itu keluar dari mobil.
“Lo nggak apa- apa, kan, Kak?” tanya Vano. Ia mengurai pelukannya dan menatap Lula dari atas sampai bahwa. Memastikan tak terjadi apa- apa pada kakak perempuannya.
“Nggak apa- apa.” Jawab Lula.
“Syukurlah.” Vano mengehela napas lega.
“Gue nggak dipeluk, nih?” tanya Aileen saat ia berdiri di samping Lula. Vano menatap Aileen lalu memeluk wanita itu sekilas, merasa bersyukur karena kedua wanita itu baik- baik saja.
“Lo memang kebangetan, ya.” kata Lula saat mereka sudah masuk ke ruang tamu dan menjatuhkan diri di sofa. “bener- bener chat gue nggak dibalas.”
“Sorry, Kak, sumpah, gue minta maaf banget.” Kata Vano dengan nada bersalah. “kalian beneran nggak apa- apa? Terus tadi siapa yang nolong?” tanyanya, “pas Vano tadi telepon nomor kalian berdua nggak aktif.”
“Untung tadi ketemu Malik.” Kata Lula lagi.
“Tadi kebetulan mobil kita berhenti pas banget dekat perumahan Malik. Nah pas dia mau lewat, ngerasa familiar sama mobil gue. Jadi ya gitu, dia yang nyariin bensin.” Aileen bercerita, “untung gue sama Lula nggak mabok.”.
“Lo tahu nggak, Van. Gue habis bikin ribut di bar.” Kata Aileen lagi.
“Ribut?”
“Iya, gue nyelametin perempuan yang mau dikerjain sama kenalannya, terus gue di gampar, terus Lula nendang tuh cowok sampai jatuh.” Aileen bercerita dengan nada semangat.
“Haduh… udah makanya jangan ke tempat- tempat kayak gitu lagi deh.” Kata Vano.
“Seru tahu, Van. Lula tendangannya oke juga.” Kata Aileen.
“Seru? Lo ingat tadi abis di gampar nangis- nangis.” Lula berdecak sambil menatap Aileen yang langsung tersenyum malu.
***
Malik sampai di rumahnya dengan napas terengah- engah. Ia menyeka peluhnya dengan lengannya yang dilapisi jaket. Ia duduk di beranda rumah. Mengatur napasnya sambil menatap langit yang sudah terang.
Malik baru saja selesai lari pagi mengelilingi komplek perumahannya. Hal yang biasa ia lakukan paling tidak seminggu sekali atau dua kali. Setelah melepas sepasang sepatu kets yang tadi menemaninya lari, ia masuk ke dalam rumah dan langsung menuju dapur.
Di dapur, ia melihat ibunya yang sedang sibuk dengan kegiatan paginya. Memasak. Ia sudah berkali- kali bilang pada ibunya bahwa mereka bisa memesan makanan daripada ibunya harus masak hanya untuk dua orang di rumah itu. Namun wanita itu tak pernah mau mendengarkan Malik. Ibunya selalu bilang bahwa ia suka memasak dan akan selalu memasak untuk Malik setiap hari.
Malik duduk di salah satu kursi kosong di meja makan saat ibunya tengah sibuk mengaduk sayur dalam pancinya. Dengan sebelah tangannya, Malik menuangkan teko berisi air ke dalam gelas kosong lalu menenguknya hingga tandas.
“Kamu lari pagi sendiri?” tanya Indah saat ia berbalik dan menyajikan semangkok sayur asam yang uapnya masih mengebul di atas meja makan.
“Iya. Memang mau sama siapa lagi?” Kata Malik.
“Sama Ardina nggak berlanjut jadinya?” Indah membalik badannya dan kembali menghadap meja dapur untuk memasak lauk.
“Nggak, Bu. Kan Malik udah bilang.”
“Lula cantik.” Indah membalik badan dan tersenyum ada anaknya yang terdiam.
“Ibu udah tahu?” tanya Malik seraya meyakinkan. Ia melihat wanita itu mengangguk.
“Kelihatannya anaknya baik.” kata Indah lagi. Ia memang belum bisa memastikan, namun dilihat dari raut wajahnya, wanita itu terlihat baik dan sopan.
“Wajah bisa menipu, lho, Bu.” Malik mengingatkan.
“Lho… maksud kamu, dia nggak baik?” kali ini Indah mendekat dan duduk di kursi, tepat di depan Malik, dipisahkan oleh meja makan persegi panjang itu.
“Ya bukan gitu. Cuma agak berbeda aja.”
“Bagus dong. Unik berarti.”
Malik hanya mengangguk mendengar kata- kata ibunya. Ia bingung bagaimana menjelaskan pada ibunya bahwa wanita itu tampak tak menyambut dengan baik perasaannya. Wanita itu bahkan menolaknya secara terang- terangan. Ia tak ingin ibunya berharap banyak. Urusan percintaannya tak pernah berjalan baik sehingga ia tak menjamin bahwa kali ini akan sesuai keinginannya. Tak ingin melanjutkan pembicaraan itu, ia pamit kembali ke kamar untuk membersihkan diri.
***
Aileen bangun lebih dahulu saat Lula masih meringkuk pulas di sebelahnya. Ia bangun dan langsung pergi menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Kurang dari satu jam ia keluar dari kamar mandi dan langsung menghampiri lemari yang ada di sana. Ia memang sudah memindahkan beberapa bajunya dari lemari pakaian di kamar Vano karena tak ingin kejadian beberapa waktu lalu terulang lagi.
Ia mengambil dress floral berwarna mint dan memakainya. Dress selutut itu ia beli saat berlibur di Korea beberapa tahun yang lalu. Setelah selesai memakai dressnya, ia menghampiri meja rias dan mengambil sisir untuk merapikan rambutnya yang masih basah karena habis keramas.
“Enak banget jadi lo, sih, La.” Kata Aileen saat melihat Lula masih meringkuk pulas di bawah selimutnya. Ia pergi keluar kamar dan langsung mencium aroma masakan yang berasal dari dapur.
Kakinya melangkah mendekati dapur dan melihat Vano dengan apron merahnya tengah berdiri membelakanginya. Ia mendekat dan berdiri di samping laki- laki itu. “Masak apa?” tanyanya.
“Eh, udah bangun, Kak? bikin bihun goreng seafood nih. Ngabisin bahan yang ada di kulkas.” Jawab laki- laki itu.
Vano mengambil bihun goreng di dalam penggorengan dengan garpu lalu mengarahkannya ke Aileen. Mengiyaratkan wanita itu untuk mencicipinya. Aileen membuka mulutnya dan membiarkan bihun itu memasuki mulutnya. Ia mengunyah pelan dan langsung mengacungkan dua jari jempolnya pada Vano yang langsung tersenyum.
Sebelah tangan Vano mematikan kompor lalu menatap Aileen yang masih berdiri di sebelahnya. Wanita itu menatap keluar jendela yang ada di di depan kompor.
“Kak, pipinya nggak apa- apa? Masih kelihatan agak merah, tuh.” Kata Vano. Dengan sebelah tangannya, ia mengambil dagu wanita itu dan menatap pipi Aileen lebih jelas. “agak bengkak juga kayaknya.” Katanyanya.
“Iya… ya… memang masih agak nyeri sih.” Kata wanita itu sambil mengusap sebelah pipinya yang terkena tampar semalam. “sekuat tengaga banget memang tuh orang kayaknya.” Keluh Aileen, “lihat aja kalau ketemu gue lagi. Gue balas gampar bolak balik biar tahu rasa.” Aileen tampak menggebu- gebu.
Vano terkekeh ringan lalu memagang kedua pundak Aileen dan menyuruhnya duduk di salah satu kursi yang mengelilingi meja makan. Ia mendekati kulkas dan mengambil beberapa es batu dan menyelimutinya dengan kain bersih yang baru saja ia ambil dari salah satu lemari yang ada di dapur. Ia mendekati Aileen dan duduk di sebelahnya, kakinya menggeser kursi hingga bisa menghadap wanita itu.
Ia menyentuh dagu wanita itu dengan ujung jarinya dan mengompres salah satu pipinya dengan kain berisi es batu itu.
“Biar nggak terlalu bengkak.” Kata Vano saat melihat Aileen menatapnya dengan tatapan bingung.
“Biar gue aja.” Aileen mengambil kain berisi es batu itu dari tangan Vano dan menempelkannya ke pipi sendiri. Ia melihat Vano sudah berdiri dan kini tengah menyajikan bihun goreng buatannya ke dua piring dan menyisakan di penggorengan untuk kakaknya.
Ia kembali ke meja makan dengan dua buah piring berisi bihun goreng yang langsung membuat Aileen lapar. Laki- laki itu duduk di depannya dan kini tengah menuangkan air dari dalam teko ke dua buah gelas kosong yang ada di atas meja.
“Ayo makan, Kak.” ajak Vano. Laki- laki itu sudah memulai suapan pertama. Aileen mengangguk. Ia menaruh kain berisi es batu yang sudah mencair itu di bak sink lalu memulai suapan pertama.
“Lo kenapa nggak buka resto aja, sih, Van?” tanya Aileen saat rasa masakan Vano kembali membuatnya takjub. Laki- laki itu terlalu mahir memasak untuk laki- laki biasanya yang tak pernah mengenyam pendidikan tata boga.
Vano tersenyum. “Buka resto kan butuh modal gede, Kak.” jawab laki- laki itu. Sebelah tangannya yang memegang garpu kembali menjejelkan bihun goreng ke dalam mulutnya.
“Gue kasih modal kalau lo mau serius.” Aileen tak pernah main- main dengan kata- katanya sehingga Vano langsung menggeleng. Tak peduli wanita itu sekaya apapun, ia tidak akan menggantungkan diri pada wanita itu. Ia sudah sangat tidak enak menerima semua barang mewah dari wanita itu.
“Duh… rahang gue kenapa ikutan nyeri, ya.” kata Aileen saat merasakan nyeri saat berusaha mengunyah.
“Lagian memang nggak bisa diselesaikan baik- baik apa, Kak?” tanya Vano, “kan kakak tinggal bilang aja sama perempuannya kalau minumannya udah ditaruh sesuatu.”
“Bisa, sih, cuma memang gue nya aja yang suka ribut.” Aileen terkekeh pelan sementara Vano berdecak.
Keduanya melanjutkan sarapan saat mendengar suara ponsel menjerit dari ruang tamu. Aileen menatap Vano yang terdiam. Ia tahu ponsel siapa yang berbunyi.
“Risa kali.” Kata Aileen. Vano hanya mengangguk karena tahu tak ada orang lain yang akan meneleponnya sepagi ini selain gadis itu. Namun Vano masih di tempatnya. Jika biasanya ia langsung berlari jika mendengar ponselnya berbunyi, karena Risa kerap marah kalau ia lama mengangkat teleponnya, kini ia tampak cuek dan kembali sibuk dengan garpu dan isi piringnya.
Laki- laki itu tak bisa menyembunyikan kekesalannya pada Risa. Ia merasa bisa menuruti semua kemauan gadis itu, namun kali ini, gadis itu sudah keterlaluan. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi pada kakaknya dan Aileen jika malam tadi mereka berdua tak bertemu Malik.
Laki- laki itu tak mengerti dengan pikiran Risa. Jika gadis itu cemburu oleh rekan kerjanya, ia bisa terima. Jika ia cemburu pada teman lamanya, ia bisa terima. Ia bahkan melakukan semua yang gadis itu minta. Namun jika gadis itu cemburu pada kakak kandungnya, ia jelas tidak bisa terima. Gadis itu tak tahu bahwa semalam Vano menyesali keputusannya untuk membiarkan gadis itu merampas ponselnya sehingga ia tak tahu kesulitan yang kakaknya alami. Dua orang perempuan, hampir tengah malam, terdampar dengan mobil yang kehabisan bensin, juga ponsel kehabisan baterai. Vano tak sanggup membayangkan hal- hal yang mungkin terjadi jika keduanya tak bertemu Malik.
“Vano udah nggak ngerti lagi sama Risa.” Kata laki- laki itu sambil menggeleng pelan. Ia memutar- mutar garpunya di atas piring yang masih menyisakan bihun goreng di atasnya. “Vano udah turutin semua kemauan dia untuk nggak terlalu dekat sama rekan kerja, juga sama teman lama yang kemarin Vano temuin. Tapi kali ini dia udah keterlaluan, dia ambil ponsel Vano saat Vano baca pesan dari kak Lula.” laki- laki itu bercerita. “itu alasan Vano nggak langsung balas pesan kak Lula.” lanjutnya, “Vano nyesal banget.”
Aileen menatap laki- laki di depannya yang raut wajahnya memancarkan penyesalan yang mendalam. Ia berkali- kali melihat laki- laki itu menghela napas berat. Ia tahu bagaimana perasaan laki- laki itu.
Aileen menggenggam tangan laki- laki itu di atas meja. “Udah. Toh, kita nggak apa- apa, kok.” Kata Aileen. Mencoba memberitahu laki- laki itu bahwa tidak ada yang perlu disesali karena keduanya kini baik- baik saja.
“Kalau Vano mau ketemu Malik, gimana ya?” tanya laki- laki itu.
“Dia selalu ada di Daily. Hampir setiap hari. Lo bisa ketemu dia di sana.” jawab Aileen. Aileen melihat laki- laki di depannya mengangguk pelan. Sebelah tanganya mengambil bihun goreng di piringnya dengan garpu dan mengarahkannya ke depan mulut Vano.
“Aaaaa…” katanya sambil membuka mulutnya. Menyuruh laki- laki itu melakukan hal yang sama.
Vano tersenyum dan membuka mulutnya, membiarkan makanan itu masuk ke mulutnya dan mengunyahnya pelan.
“Anak pintar.” Kata Aileen sambil terkekeh pelan. “habisin makannya. Pura- pura bahagia itu butuh tenaga.” Kata Aileen lagi. Ia berdiri dan membawa piringnya yang sudah kosong ke bak sink dan mencucinya. Suara dering ponsel laki- laki itu kembali terdengar.
“Kebo banget si Lula.” kata Aileen sambil menyeka tangannya yang basah dengan kain.
Vano berdiri dari duduknya dan menghampirinya. Berdiri di sebelahnya dan mencuci piring bekas pakainya.
“Mau langsung ke kantor, Kak?” tanya Vano saat melihat wanita itu selesai menyesap air dalam gelasnya.
“Iya. Ya ampun… monoton banget, ya, hidup gue. Kerja, ketemu Lula, kerja, ketemu Lula.”
Vano tersenyum mendengar kata- kata wanita itu. “coba cari pacar, Kak. Kali aja hidupnya bisa lebih berwarna.” Kata Vano.
“Halah, lo punya pacar aja hidupnya malah suram.” Aileen tertawa puas sementara Vano berdecak. Menyadari bahwa omongan wanita itu ada benarnya.
TBC
LalunaKia