“Nomor yang nada tuju sedang tidak aktif atau berada di luar service area.” Malik mendengar suara operator saat menelepon Lula untuk kesekian kalinya hingga akhirnya ia tersenyum melihat wanita itu keluar dari mobil dan mendekatinya.
Ia membuka kaca mobilnya dan mendengar wanita itu berseru. “Benar kan dugaan gue.” kata Lula. Tak urung merasa lega bahwa Malik adalah sang pemilik mobil. Beberapa kali naik mobil laki- laki itu, ia mulai merasa familiar saat melihat jenis dan plat nomor laki- laki itu.
“Kenapa berhenti di sini?” Malik keluar dari mobil. Bersamaan dengan Aileen yang juga keluar dari mobilnya.
“Malikkkkkkk!!!” wanita itu berseru lalu berlari mendekati Malik dan Lula. “gue mau pipis buruan tolongin gue.” kata wanita itu.
“Kenapa memang mobilnya?” tanya Malik.
“Kehabisan bensin.” Lula yang menjawab.
“Mahal doang, bisa- bisanya kehabisan bensin.” Kata Malik yang langsung membuat Aileen melotot. “Iya… iyaa... maaf.” Kata Malik lagi saat tahu sebentar lagi Aileen akan melancarkan protes atas kata- katanya.
“Lo bisa beliin bensin kita?” tanya Lula.
“Gue dulu ini mau pipis gimana? Bensin mah belakangan aja.” Protes Aileen yang isi kandung kemihnya sepertinya tak bisa ditahan terlalu lama lagi.
“Rumah gue di dalam komplek ini. Lo bisa mampir kalau mau.” Kata Malik pada Aileen yang langsung mengangguk. Wanita itu langsung masuk ke kursi penumpang belakang mobil Malik tanpa disuruh.
“Terus gue?” tanya Lula.
“Ikut aja. Nanti aku minta security komplek untuk jagain mobil sampai aku dapat bensin buat mobil kalian.” Malik memberi solusi.
“Buruan… Woy…” Aileen berteriak dari dalam mobil.
Lula akhirnya mengangguk, ia masuk dan melesak di samping kemudi. Malik melajukan mobilnya masuk ke komplek perumahaannya dan berhenti di depan pos security.
“Pak, di depan komplek ada mobil teman saya. Bisa minta tolong jagain sebentar? Takut ada yang usil.” Kata Malik pada dua orang pria yang sudah sangat di kenalnya.
“Oh… bisa, Mas. Siap. Nanti saya ke sana.” kata salah satu pria berseragam itu.
Malik mengucapkan terima kasih lalu kembali melajukan mobilnya menuju kediamannya.
Lula menatap rumah- rumah yang berjejer rapi di kanan kirinya. Pohon- pohon rindang masih terlihat sepanjang perjalanan. Komplek perumahan itu sama seperti komplek perumahannya yang tak memiliki gerbang di setiap unit rumahnya. Mobil Malik berhenti di depan sebuah rumah. Ketiganya keluar dari mobil secara bersamaan.
“Ayo buruan.” Aileen menyantelkan lengannya pada lengan Malik dan menariknya agar laki- laki itu berjalan lebih cepat. Sementara Lula mengekor di belakangnya.
Malik menekan bel pintu rumahnya dan tak lama pintu di depannya terbuka. Wajah ibunya muncul di baliknya.
Indah menatap anak laki- lakinya yang berdiri di depan pintu. Tak biasa, laki- laki itu bersama dua orang wanita yang tersenyum manis padanya. Ia memblas senyum dan sapaan kedua wanita itu dan melihat sebelah lengan salah satu wanita bertengger di lengan anaknya.
“Toiletnya diujung, pintu putih sebelah kiri.” Kata Malik pada Aileen yang langsung melepaskan tautan lengannya dan mengangguk.
“Tante, numpang ke toilet, ya.” kata Aileen. Indah mengangguk lalu memberi jalan hingga Aileen masuk ke dalam rumah dan menunaikan hajatnya di toilet di rumah itu.
“Saya Lula, Tan.” Lula mengulurkan sebelah tangannya dan mencium punggung tangan wanita itu. Memperkenalkan diri secara singkat.
“Ayo masuk.” Indah mempersilakan Lula dan Malik yang masih berdiri di depan pintu.
“Kamu masuk aja. Biar aku yang beli bensin.” Kata Malik.
“Aku ikut aja.” Kata Lula.
“Terus Aileen?”
Indah masih menatap kedua orang itu dengan raut wajah bingung. Ia tidak mengerti dengan situasi yang terjadi, di waktu yang hampir menuju tengah malam.
“Udah tinggal aja. Nanti biar aku jemput ke sini kalau mobilnya udah nyala.” Kata Lula.
“Bu… mobil teman Malik mogok di depan komplek. Malik mau bantu cari bensin dulu, ya. Sebentar.” Kata Malik. Menjelaskan apa yang sedang terjadi pada dua wanita itu agar ibunya tak kebingungan.
“Oh… yaudah… hati- hati.”
Indah melihat kedua orang itu menjauhi pintu rumahnya dan masuk ke dalam mobil dan mobil itu perlahan hilang dari padangannya.
Suara pintu tolilet yang dibuka membuat Indah menoleh. Ia melihat Aileen berjalan menghampirinya.
“Malik sama teman kamu nyari bensin katanya.” Kata Indah saat melihat wanita itu menatap keluar rumah.
“Oh.” Kata Aileen. “Saya Aileen, Tan.” Wanita itu mengulurkan sebelah tangannya dan duduk di sofa di ruang tamu saat Indah mempersilakan.
Aileen memindai sekeliling, sementara Indah pergi ke dapur untuk mengambl minum. Ruang tamu itu tak terlalu luas namun tampak rapi dan mewah. Dindingnya di cat warna putih nyaris tanpa noda. Di depannya ada sebuah televisi layar datar berukuran 52 inc dan seperangkan PS lengkap dengan speakernya. Di depan sofa, sebuah meja persegi panjang berwarna putih dengan lapisan kacanya terlihat mewah. Ada bunga hidup di dalam vas di atasnya. Karpet bulu rasfur terbentang di bawah meja. Lampu gantung besar terlihat di langit- langit ruang tamu. Ada satu buah rak buku yang terletak di samping televisi.
“Nggak usah repot- repot, Tan.” Kata Aileen saat Indah kembali dengan sebuah nampan di tangannya. Ada tiga buah cangkir di atasnya nampan yang langsung wanita itu pindahkan ke atas meja ruang tamu.
“Nggak apa- apa. Nggak repot, kok.” Kata Indah. Ia mengambil posisi di depan Aileen dan menatap wanita itu dari atas sampai bawah.
“Maaf sebelumnya, tante mau tanya, boleh?” kata Indah dengan nada hati- hati.
“Boleh, Tan.” Jawab Aileen. Ia menatap wanita di depannya yang tampak kebingungan. Wanita itu sepertinya tengah memilih kata- kata yang tepat.
“Kamu… apa perempuan yang disukai Malik?” pertanyaan itu akhirnya keluar dari mulut Indah. Aileen tersenyum sambil menggeleng pelan.
“Bukan, Tan. Itu Lula. Teman saya yang tadi.” Aileen memberitahu. Ia tak perlu berpikir dan sangat yakin bahwa perempuan yang dimaksud Indah adalah Lula. Ia tahu sendiri bagaimana perasaan Malik pada sahabatnya. Lula pasti orang yang sama dengan yang diceritakan Malik pada ibunya.
“Oh… gitu…” Indah mengangguk sambil mengingat- ingat wajah Lula yang hanya dilihatnya sebentar.
“Malik udah cerita banyak, Tan, tentang Lula?” kali ini Aileen yang bertanya.
“Belum. Dia cuma bilang lagi naksir perempuan.” Jawab Indah. “Lula… kira- kira apa punya perasaan yang sama, sama Malik?” tanya Indah dengan nada hati- hati. Indah menatap Aileen tampak berpikir. Ia menatap Aileen lekat- lekat. Sangat menantikan apa yang akan keluar dari mulut wanita itu.
“Sejujurnya…” Aileen membuka kalimatnya, “nggak, sih, Tan.” Kata Aileen akhirnya. Ia melihat bahu wanita di depannya melemas.
“Kenapa? Apa yang dia nggak suka dari Malik?” Indah tampak begitu antusias. Ia tahu bahwa sepak terjang anaknya di dunia percintaan masih sangat minim. Ia tak heran jika tak banyak perempuan yang tertarik dengan anaknya meski baginya, anaknya tak kurang suatu apapun.
“Lula memang belum mau berhubungan serius, sih, Tan.” Kata Aileen.”tapi saya udah bilang sama Malik untuk kejar terus aja kalau serius sama Lula. Saya yakin lama- lama dia bakal luluh juga."
Indah tersenyum senang saat menyadari bahwa Aileen tampak mendukung hubungan keduanya. Mereka akhirnya membicarakan banyak hal mengenai keduanya. Indah meminta bantuan agar Aileen bisa membantu Malik mendekati Lula. Aileen juga bercerita bagaimana sosok Lula. Ia jelas memberitahukan semua bagian- bagian terbaik dari sahabatnya.
Suara dencit mobil terdengar. Keduanya menoleh ke arah pintu yang satu daun pintunya terbuka dan tak lama Malik dan Lula terlihat.
“Udah dapat?” tanya Aileen langsung. Ia melihat Lula mengangguk. Wanita itu mendekat dan berdiri di samping Aileen sementara Malik sudah duduk di sebelah ibunya.
“Ayo pulang. Takut Vano nyariin.” Kata Lula dengan nada pelan.
“Duduk dulu. Ini udah di buatin minum sama Ibunya Malik.” Kata Aileen. Ia menarik sebelah tangan Lula agar duduk di sebelahnya.
“Ayo diminum dulu.” Kata Indah. Ia mendekatkan satu cangkir berisi teh hangat ke arah Lula yang langsung mengucapkan terima kasih.
Malik menatap ibunya yang tempak melihat Lula dari atas sampai bawah. Dalam pandangannya, ibunya pasti tahu bahwa sosok itu adalah Lula. Ia lalu melirik Aileen yang tersenyum jahil padanya. Tak salah lagi, Aileen pasti memberitahu ibunya bahwa Lula ada perempuan yang sedang ia taksir.
“Kalian rumahnya jauh?” tanya Indah saat Lula menaruh cangkir kembali ke atas meja.
“Nggak kok, Tan. Rumah Lula di lebak bulus.” Kali ini Aileen yang menjawab.
“Kalian tingga berdua?” tanya wanita itu lagi.
“Lula tinggal sama adiknya, Tan. Saya sesekali nginep di rumahnya.” Aileen menjawab lagi.
“Kalian darimana jam segini masih di luar rumah? Hati- hati. Bahaya, lho. Apalagi mobil kalian sampai bisa kehabisan bensin.”
Kali ini Lula dan Aileen saling pandang. Bingung harus menjawab seperti apa. Mereka tidak mungkin bilang bahwa mereka baru saja dari salah satu bar dan hampir terlibat baku hantam dengan salah satu pengunjung di sana.
“Yasudah…” kata Indah saat tak mendapati jawaban dari dua wanita di depannya. “kalian mau pulang atau tidur di sini aja. Tante punya kamar kosong kalau kalian mau nginap.” Kata Indah. Ia menoleh dan melihat anak laki- lakinya menatapnya dengan tatapan tidak percaya.
“Kita pulang aja, Tan.” Kata Lula. “nanti malah ngerepotin. Ini udah beruntung banget ketemu Malik.” Katanya lagi. Ia menyyenggol lengan Aileen dan meminta wanita itu untuk berdiri dan berpamitan.
“Kita pulang dulu, ya, Tan.” Kata Aileen. “Makasih yaa, Malik.” Lanjutnya. Lula hanya mengeluas senyum pada keduanya. Setelah menjabat tangan Malik dan Ibunya, keduanya berjalan keluar dari rumah. Indah dan Malik mengekori hingga ambang pintu.
“Hati- hati, ya.” kata Malik. Secara refleks, Lula langsung menoleh sementara Aileen langsung berjalan mendahului menuju mobilnya, membuat suasanya menjadi canggung. Ia mengangguk lalu buru- buru mengejar langkah Aileen dan masuk ke dalam mobil.
“Gue kira lo mampir check in dulu sama Malik.” Kata Aileen sesaat setelah menjalankan roda mobilnya.
“Gilak kali lo yaa!!!”
TBC
LalunaKia