CHAPTER TIGA PULUH DUA

1661 Kata
            Vano menatap Risa dengan tatapan bingung. Ia berharap bahwa gadis itu bercanda. Namun wajah gadis itu tak bercanda. Gadis itu menatapnya dengan tatapan dingin dan serius. Matanya menyalang tajam, tak bisa menyembunyikan bahwa gadis itu benar- benar marah.              “Aku serius, lho, Van.” Kata Risa lagi yang membuyarkan semua kemungkinan yang sempat Vano pikirkan. “aku minta kamu hapus nomor teman kamu barusan.” Katanya lagi.             “Ris, dia teman SD aku. Aku tukeran kontak karena dia bilang mau ada reuni dalam waktu dekat.” Vano berusaha menjelaskan kepada Risa bahwa tak akan terjadi apa- apa antara dirinya dan Putri. “dia juga cerita baru tunangan sama pacaranya.” Lanjutnya lagi.             “Pokoknya aku bilang hapus, ya hapus.” Kata Risa dengan nada tak bisa di ganggu gugat. “aku juga nggak suka kamu ikut- ikut reuni.” Katanya lagi, “kamu tahu, kan, kalau di reuni tuh biasanya banyak yang CLBK.”             Vano menghela napas kasar, “Ris, ini teman- teman SD aku, lho. SD. Aku masih terlalu kecil saat itu buat cinta- cintaan.” Kata Vano dengan nada pelan dan penuh tekanan.             “Ya kalau gitu, kali aja nanti kamu naksir salah satu teman SD kamu. Kita nggak ada yang tahu apa yang akan terjadi nanti.” Kata wanita itu. Kali ini wanita itu melipat kedua tangannya di depan d**a dan menyandarkan punggung ke kursi.             “Ris, ini teman- teman SD aku. Aku udah belasan tahun nggak kontak dan ketemu sama mereka. Aku pengin jalin silaturahmi sama mereka. Pikiran kamu nggak perlu sejauh itu.” Vano berusaha mendebat meski tetap dengan nada pelan.             “Kamu nggak perlu teman- teman kamu, sayang. Kamu cuma perlu aku.” Risa memajukan tubuhnya dan menggenggam tangan laki- laki itu di atas meja. “kamu pilih aku atau mereka?” tanya Risa. Kali ini dengan nada lembut namun menuntut.             Vano menatap ponselnya lalu ke arah Risa secara bergantian.             “Sini biar aku yang hapus.” Vano membiarkan Risa mengambil benda pipih dari tangannya dan mengutak- atiknya sebentar. “udah. Sekarang ayo makan.” Kata gadis itu.             Keduanya mulai makan. Vano sedang tak ingin bertengkar sehingga ia membiarkan Risa melakukan apa yang ia inginkan. Vano memaksakan masakan itu masuk ke mulutnya. Perasaannya mulai tak enak. Pikirannya melayang ke semua kejadian yang sudah menimpanya akhir- akhirnya.             Vano tak tahu bahwa Risa mulai menguasainya. Dengan dalih cinta, Vano memaklumi semua perbuatan gadis itu. Laki- laki itu belum merasa bahwa dilehernya kini sudah terikat sebuah tali tak kasat mata yang akan membuat Risa mempermudah mengaturnya. Vano tak sadar bahwa ia mulai kehilangan jati dirinya. Vano tak sadar bahwa hubungan itu semakin lama akan semakin terasa mencekiknya. Apa yang ia rasakah akhir- akhir ini selalu ia kaitkan dengan cinta gadis itu. Laki- laki itu tak sadar bahwa semakin hari, cintanya semakin membutakannya. Ia selalu menuruti gadis itu dengan alasan tak ingin bertengkar dengan gadis itu. Ia tahu bahwa jika mereka bertengkar, itu akan sangat menguras tenaga dan emosinya. Ia memilih jalan aman seperti biasa.             Setelah mengabiskan makannya, keduanya kembali berjalan menuju bioskop. Risa melingakar lengannya ke lengan laki- laki itu dengan posesif. Gadis itu tersenyum puas karena sekali lagi merasa menang. Gadis itu tak sadar bahwa ia baru saja menyakiti kekasihnya. Ia selalu berpikir bahwa yang ia lakukan adalah untuk menjaga hubungan keduanya. Ia tidak ingin kehilangan laki- laki itu dan akan melakukan apapun agar tak kehilangannya.             Saat mereka sampi di gedung bioskop, teater yang mereka tuju sudah di buka. Keduanya langsung menuju teater dan Risa memberikan tiketnya pada wanita berseragam yang berjaga di depan pintu yang terbuka. Teater itu penuh. Hampir semua kursi terisi. Keduanya pergi menuju bagian tengah sesuai dengan nomor yang ada di dalam tiket yang mereka beli.             Setelah berbagai iklan dimunculkan di layar, lampu bioskop di matikan, tanda sebentar lagi film akan di mulai. Suara- suara yang sempat terdengar di sekelilingnya kini mulai meredup hingga akhirnya benar- benar hening.             Jika Risa tampak fokus menetap layar besar itu dengan sekotak popcorn di tangannya yang ia beli dari penjual yang masuk ke dalam teater, Vano tak terlalu memerhatikan jalannya cerita. Laki- laki itu tak terlalu suka film dengan genre romance yang dipilih Risa. Ia sudah sempat memberitahu bahwa ia mudah bosan jika menonton genre itu dan menwarkan untuk memilih film lain, namun Risa tak ingin mengalah. Ia bilang bahwa ia tak suka film thriller apalagi horror sehingga Vano kembali mengalah dan mengikuti keinginan gadis itu.             Getar di sakunya membuatnya mengalihkan pandangan dari layar di depannya. Ia merogoh dan mengeluarkan gawainya dari sana. Satu buah pesan dari kakaknya masuk ke ponselnya.             Lula: Van, lo di mana?             Ia mengetuk- ngetuk ibu jarinya di atas layar untuk membalas pesan itu.             Vano: Di bioskop. Kenapa?             Ia menekan ikon send untuk mengirim pesan. Ia tak mengembalikan benda pipih ke sakunya dan mengganggamnya di sebelah tangannya. Tak lama getar kembali terasa. Ia membalik ponselnya dan belum sempat membuka pesan yang masuk karena Risa sudah mengambil paksa darinya.             “Kamu bikin aku nggak fokus.” Kata gadis itu dengan nada pelan. Ia memasukkan ponsel Vano ke dalam tasnya setelah mengubahnya menjadi mode hening.             “Itu Kak Lula, Ris.” Kata laki- laki itu dengan suara tak kalah pelan.             “Ya terus kenapa?”                 Dalam cahaya minim di teater itu, Vano bisa melihat kilatan kesal dalam tatapan gadis di sebelahnya.             “Aku perlu baca chatnya kak Lula.” kali ini nada suara laki- laki terdengar putus asa.             “Ya nanti aja bacanya kalau udah selesai filmnya.” Kata Risa. Masih dengan suara pelan karena tak ingin menganggu penonton lain.             Vano menghela napas kasar lalu kembali membenarkan posisi duduknya. Begitu juga dengan Risa yang menyesal melewatkan beberapa adegan film.             Vano tahu menatap layar di depannya meski pikirannya tak sepenuhnya fokus ke sana. Ia memikirkan banyak hal. Ia tahu bahwa ia tak seharusnya seperti ini. Ia seharusnya membaca pesan itu dan memastikan bahwa kakaknya dalam keadaan baik- baik saja. Pasalanya, Lula jarang mengirimnya pesan dan bertanya di mana dirinya. Wanita itu selalu tahu bahwa ia bersama Risa sepulang dari kantor. Namun saat tiba- tiba wanita itu mengiriminya pesan, ia takut sesuatu terjadi dengan kakaknya.             Ia melirik sekeliling, jika ia mengambil paksa gawainya dari Risa, ia yakin mereka berdua akan membuat keributan dan menggangu yang lainnya. Ia tak ingin itu terjadi. Ia akhirnya memejamkan matanya dan berdoa semoga kakaknya dalam keadaan baik- baik saja.   ***                “Nggak diangkat sama Vano lagi.” Keluh Lula. Mareka berdua ada di pinggir jalan yang sepi karena mobil Aileen tiba- tiba mogok karena kehabisan bensin, dan diperparah dengan ponsel Aileen yang kehabisan baterai.             “Lo nggak punya teman apa, La?” kata Aileen yang sudah duduk di pinggir trotoar. “siapa kek yang ada di daftar kontak lo. Yang bisa dimintain bantuan.” Katanya lagi.             Lula memeriksa daftar kontak yang baru ia sadari sangat sedikit. Beberapa isinya adalah saudaranya yang berada di luar daerah. Sebagian lagi teman- teman sekolah dan kampusnya yang sudah lama tak bertukar kabar.             “Nggak ada, Ai. Kan lo tahu teman gue lo doang.” Kata Lula. Ia memindai sekeliling dan menyadari bahwa mereka baru saja menepi dekat sebuah komplek perumahan. Jalan mulai sepi, kafe- kafe dan warung di sekitar mereka sudah tutup. Ia melirik jam tangannya, sudah jam sebelas malam. “Baterai HP gue juga mau abis lagi” Kata Lula lagi yang semakin membuat Aileen ingin menangis. Ia merasa ini menjadi hari tersialnya.             “Lo nggak nyimpen nomor salah satu keluarga gue, La?” tanya Aileen lagi. Ia tak mengerti bagaimana mungkin sekian lama mereka bersahabat tapi wanita itu sama sekali tak menyimpan salah nomor keluarganya padahal Lula cukup dekat dengan keluarganya.             “Nggak, Ai. Terakhir kan semua kontak gue kehapus. Ya tinggal yang tersisa aja. Nomor abang- abang lo hilang semua.”             Aileen berdecak. Lula ikut duduk di samping wanita itu. Mencoba berpikir bagaimana caranya mereka bisa keluar dari situasi ini.             “Kita nyetop taksi aja, gimana?” tanya Lula.             “Terus mobil gue ditinggal sembarang di sini. Nanti kalau kenapa- kenapa gimana.” Jawab Aileen. Lula mengangguk. Ia lupa bahwa mobil Aileen harganya jauh lebih mahal dari harga satu ginjalnya jika dijual.                        “Gue pesen gojek aja, ya. Minta di beliin bensin.” Kata Lula. Ia melihat Aileen mengangguk pasrah.             Lula akhirnya membuka menu aplikasi transportasi online. Ia menunggu hingga aplikasi itu menunjukkan bahwa sedang mencari pengemudi terdekat. Namun tak ada satu orangpun yang nyangkut diaplikasinya hingga akhrinya ponselnya mati. Gawai itu kehabisan daya.             “HP gue mati.” kata Lula.             Aileen menghela napas pasrah. “kebelet pipis lagi gue.” katanya.             Mereka menatap jalanan untuk beberapa saat sambil terus berpikir. Jalanan sudah mulai sepi. Hanya beberapa mobil dan motor yang terlihat melintas. Tak ada gerombolan tukang ojek yang biasanya mangkal di mana- mana.             Keduanya akhirnya masuk ke dalam mobil karena merasa lebih aman berada di sana. Lula duduk di belakang kemudi dengan kaca yang terbuka lebar. Ia pikir ia bisa menyetop sseorang yang berjaket salah satu aplikasi transportasi online jika lewat dan memintanya membelikan bensin di pom bensin terdekat.             Mata Lula memicing saat melihat sebuah sedan putih berhenti di belakang mobilnya.             “Kenapa, La?” tanya Aileen saat melihat Lula tefokus pada spion.             “Ada yang berhenti di belakang mobil kita.” Jawab Lula. Aileen ikut menatap spion di sisinya. “siapa, La? Kalau orang jahat gimana?” kata Aileen dengan nada ketakutan yang tak bisa disembunyikan. “Duh… ya Tuhan… Aileen belum nikah ya Tuhan…”             “Ish… lo pikir Tuhan bisa nunda kematian mentang- mentang lo belum nikah.” Lula berdecak. Ia masih menatap spionnya dan melihat tak ada yang keluar dari mobil itu.             “Dia orang baik kali, La. Buktinya nggak keluar- keluar mobil.” Kata Aileen lagi saat melihat tak seorangpun keluar dari mobil itu.             Mata Lula masih memicing. “bentar. Kayaknya gue tahu deh itu mobil siapa?” wanita itu membuka pintu mobilnya.             “La… lo mau ke mana?” Tanya Aileen dengan nada berteriak. Ia melihat Lula yang sudah keluar dari mobilnya dan melihat wanita itu mendekati mobil yang berhenti di belakangnya.  TBC LalunaKia
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN