CHAPTER TIGA PULUH SATU

1084 Kata
            Lula dan Aileen menghabiskan malam di salah satu bar di bilangan Kemang. Mereka berdua duduk di meja bar dengan dua buah gelas berisi minuman. Suara ingat bingar mengelilingi keduanya. Musik berdentum- dentum keras. Suara orang mengobrol semakin membuat berisik. Bartender yang berada di balik meja tepat di depannya sibuk bolak balik membuatkan minuman sesuai dengan pesanan. Kursi- kursi tinggi di sebelah Lula dan Aileen terisi semua.             “Gue bilang sama dia, kalau bilang gue cantik lagi, gue tendang dia.” Jelas Lula saat Aileen bertanya padanya mengapa Malik menjawab takut ditendang saat ia bertanya siapa yang lebih cantik.             Aileen terbahak. Ia tak menyangka dengan apa yang baru saja keluar dari mulut Lula. “beneran naksir berat dia sama lo, La.” Kata Aileen. Ia menyulut rokok keduanya lalu menyelipkannya diantara bibirnya.             Lula menggeleng. Sungguh tak mengerti dengan laki- laki itu. “padahal udah gue ketusin mulu.” Ucapnya. “tapi tetap aja ngikutin gue mulu.” lanjutnya             “Pantang menyerah dia.” Kata Aileen. Ia mengembuskan asap rokoknya melalui mulut.             “Beneran, deh. Gue kayaknya harus nyari tempat lain lagi. Daily makin bikin nggak nyaman.” Kata Lula.             “Lah… salah oknumnya, jangan salahin Dailynya.” Kata Aileen.             “Ya maksud gue juga gitu. Lagian heran banget, tuh, orang ada di sana setiap hari.”             “Lah ya biarin. Siapa tahu dia member juga. Masa lo doang yang boleh ada di sana setiap hari.” Balas Aileen yang langsung membuat Lula berdecak.             “Ya tapi gue jengah. Dia duduk di sebelah gue. Gue turun ke bawah, ikut ke bawah, gue pindah keluar, ikut keluar. Padahal dia nggak ngerokok.”             Aileen terkikik geli mendengar curhatan Lula yang rasa kesalnya tak bisa disembunyikan dalam nada suaranya.             “Jangan ngomel- ngomel mulu. Nanti cepat tua.” Aileen memperingatkan. Namun raut wajah kesal Lula terlanjur tak bisa dihapuskan begitu saja.             “Besok gue ke kantor lo aja, deh.” Kata Lula akhirnya. Ia tahu ia tak punya tempat lain yang bisa ia singgahi selain kantor wanita itu. Kafe- kafe yang ada di dekat rumahnya, baru buka sekitar pukul sepuluh pagi. Sedangkan jika ia ingin bareng Vano, laki- laki itu selalu berangkat ke kantornya pagi- pagi sekali. Sekitar pukul tujuh pagi. Dan saat itu, hanya Daily yang sudah buka karena memang tempat itu buka dua puluh empat jam selama tujuh hari penuh.             “Nggak bisa. Besok gue ada meeting sama klien di luar seharian.” Kata Aileen langsung. Memberitahu sahabatnya bahwa dirinya tak akan bisa lari ke manapun.             “Tega banget lo, ya.” kata Lula. Bibirnya mencebik kesal. Aileen mengulum senyum dan kembali menghisap lintingan nikotinnya.             Aileen memindai sekeliling. Riuh suara obrolan di sekitarnya dan asap rokok mengudara di mana- mana. Tatapannya menatap seorang laki- laki yang gerak- geriknya tampak mencurigakan. Laki- laki itu melirik sekeliling, lalu mengeluarkan sebuah bungkusan kecil dari saku belakang celananya. Pria itu menyobek barang kecil itu lalu memasukkannya bubuk dari dalam bungkusan ke dalam salah satu minuman yang ada di atas meja. Ia mengaduknya dengan sedotan lalu kembali menaruh bekas bungkusannya ke tempat semula.             Aileen memandang geram. Ia menatap laki- laki yang duduk menyamping ke arahnya itu. Laki- laki seumuran Vano itu memakai koas hitam dan jenas warna serupa. Jam, sepatu dan jaket yang melapisi kaosnya terlihat mahal.             Aileen masih memerhatikan ketika seorang gadis datang dan duduk di depan laki- laki itu. Gigi Aileen gemelutuk menahan marah. Ia berdiri dari duduknya dan mendekati meja itu. Lula menoleh dan kebingungan melihat Aileen tiba- tiba bangkir dari kursinya.             “Dasar laki- laki mesum.” Kata Aileen saat tiba di meja keduanya. Sepasang penghuni meja itu menatap Aileen dengan nada bingung. Tak terkecuali orang- orang yang ada di sekitarnya yang kini serentak menghujam tatapannya ke arah Aileen.             “Lo kenal gue?” tanya laki- laki itu saat sadar Aileen menatapnya dengan tatapan marah sementara ia merasa tak mengenal wanita itu.             “Cowok- cowok kayak lo nih yang suka manfatiin cewek- cewek polos.” Sebelah tangan Aileen sudah memegang gelas berisi minuman yang laki- laki beri bubuk entah apa. Laki- laki itu baru hendak membuka mulut untuk marah tepat saat Aileen menumpahkan air dalam gelas ke atas kepala laki- laki itu.             Semua orang di sekitar tercekat kaget. Tak terkecuali Lula yang sudah berada di sampingmya. Gadis yang duduk di depan laki- laki itu tak kalah kaget dengan perbuatan Aileen.             Laki- laki berdiri dan merasa tak terima sehingga ia menampar pipi Aileen. Cukup keras hingga pipi wanita itu sampai terlempar ke samping.             “Heh!!!” Mata Lula membulat melihat laki- laki itu berani- beraninya menampar sahabatnya, ia menendang perut laki- laki itu hingga jatuh tersungkur. Dalam sekejap ketiga orang itu menjadi pusat perhatian.             “Ini kenapa, ya?” gadis yang sudah tampak ketakutan itu akhirnya bertanya. Aileen mengangkat tangannya. Mengisyaratkan gadis itu agar diam. Aileen mendekati laki- laki yang masih meringkuk memegangi perutnya dan meringis kesakitan karena tendangan Lula yang sekuat tenaga.             Aileen berjongkok di samping laki- laki itu lalu merogoh paksa kantong belakang celananya. Mata laki- laki itu menatap tak percaya saat wanita itu mengambil bekas bungkusan dari saku celananya.             Aileen menatap bekas bungkusan kecil itu. “apaan nih? Narkoba? Atau obat perangsang?” tanya Aileen pada laki- laki yang mulai terlihat ketakutan itu. Gadis yang bersama laki- laki itu mulai mengerti apa yang terjadi dan menatap kenalannya dengan tatapan tak percaya.             Lak- laki itu berdiri lalu melarikan diri membelah kerumunan dengan paksa.             “Lain kali kalau ketemu sama stranger, pastikan pesan minuman baru kalau ditinggal ke toilet.” Kata Aileen. “selalu tutup minuman kalau lagi asik ngobrol.” Katanya lagi.             Gadis di depannya mengangguk dan mengucapkan terima kasih pada Aileen dan Lula. Orang- orang sudah mulai kembali ke kegiatannya masing- masing.             Aileen menyentuh sebelah pipinya yang baru terasa panas. Ia kembali ke kursinya dan mengeluarkan beberapa lembar uang seratus ribuan dan menaruhnya di bawah gelasnya lalu pergi dari sana.             “Lo nggak apa- apa, Ai?” tanya Lula saat mereka hampir mencapai mobil yang ada di parkiran.             “Sakit, La.” Kata Aileen sambil berjongkok di samping mobilnya. Wanita itu tiba- tiba terisak, “gue seumur hidup gak pernah digampar.” Kata wanita itu lagi. “ini sakit banget, sumpah.” Kata wanita itu. “harusnya tadi gelasnya gue benturin ke kepala tuh cowok sekalian.”             Lula meringis sambil jongkok di depan Aileen yang masih menangis. Gadis itu memegangi sebelah pipinya yang memerah.             “Nggak apa- apa. Tadi kan udah gue tendang. Gue jamin ginjal dia bergeser. Gue sekuat tenaga banget tadi soalnya.” Lula berusaha menenangkan Aileen yang masih meringis kesakitan.  TBC LalunaKia
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN