CHAPTER EMPAT

2116 Kata
            Saat keduanya keluar dari supermarket, matahari sudah turun ke ufuk barat. Selesai dengan kegiatan belanjanya, mereka berdua berkeliling. Lula masih mendorong keranjang belanjaan yang kini semua isinya sudah dimasukkan ke dalam plastik dan tersusun rapi di dalam troli.             “Mau makan apa?” tanya Lula saat keduanya keluar dari lift. Mereka sampai di lantai khusus food court dan restoran. Keduanya memindai sekeliling. Meneliti di antara keramaian restoran- restoran yang menarik perhatian.             “Makan ramen aja, yuk.” Ajak Aileen akhirnya. Lula menyetujui karena tak punya pilihan. Mereka berdua masuk ke restoran yang menjual ramen itu dan langsung menempati meja yang kosong. Keduanya membolak- balik buku menu. Saat pelayan menghampiri meja keduanya, keduanya langsung menyebutkan pesanannya.             “Saya ulanagi pesanannya, ya, Kak.” Kata gadis berseragam itu setelah selesai mencacat. “Chicken hot ramen, satu. Chicken curry ramen, satu. Fried chicken gyoza, satu. Minumnya, sparkling orange sama Sparkling lime. Yang dibungkus, spicy chicken popcorn sama grilled chicken gyoza.”             Aileen dan Lula mengangguk bersamaan. Pramusaji itu pamit dari hadapan keduanya dan meminta keduanya menunggu sebentar.             “Lo mau bungkus buat siapa?” tanya Lula pada Aileen yang duduk di depannya.             “Buat Vano.” Jawab wanita itu singkat.             “Bukannya lo bilang dia mau dinner sama pacarnya?”             “Iya, sih. Ya nggak apa- apa. Lo aja yang kebangetan, makan nggak inget sama adik.” Kata Aileen.             “Lah. Dia makan sama pacarnya aja nggak inget gue.” Kata Lula yang langsung membuat Aileen tertawa geli.             “Tetap aja. Lo harusnya bersyukur punya adik. Gue nggak punya. Minta adik sama nyokap, gue malah disuruh nikah dan punya anak aja.” Adu Aileen yang kini membuat Lula tertawa.             “Ya lo yang benar aja. Masa nyokap lo masih lo suruh hamil lagi cuma karena lo mau punya adik.” Kata Lula.             Lula melihat mulut sahabatnya mengerucut sebal.             “Nggak melulu punya adik itu enak, tahu. Lo belum aja ketemu adik yang bandelnya melebihi set4n.” Kata Lula sambil tertawa. “udah benar lo jadi anak bontot. Orangtua kaya, kakak pada perhatian, dimanjain.”             Lula dan Aileen tertawa bersamaan, tepat saat dua gelas minuman pesananya disajikan di atas meja.             Aileen memang terkadang suka iri dengan teman- temannya yang mempunyai adik. Ia merasa bahwa menjadi anak terakhir tak enak karena tak punya teman bermain. Kedua kakaknya laki- laki yang meski sangat perkatian padanya, kadang sibuk masing- masing. Mereka lebih suka menghabiskan waktu dengan teman- teman sebaya mereka.             Aileen tahu bahwa ia tak bisa meminta adik sesuai dengan keinginannya. Ia sering mendengar teman- temannya kerap bertengkar dengan adiknya yang menyebalkan. Hal yang justru semakin membuat Aileen tertarik. Selain dia tak punya teman di rumah, mungkin juga karena ia tak punya musuh. Ia ingin merasakan rasanya bertengkar dengan adiknya.   ***               Vano menghentikan mobinya di parkiran depan kantor Risa, pacarnya. Gadis itu bekerja di sebuah perusahaan asuransi sebagai marketing. Ia mematikan mesin mobilnya lalu merogoh saku celananya untuk mendapatkan gawainya.             Ia mengirim pesan pada Risa dan bilang bahwa ia sudah sampai. Ia memilih menunggu di dalam mobil dibanding masuk ke kantor itu. Laki- laki itu membuka sedikit jendela mobilnya. Membiarkan angin menerpa wajahnya dan masuk ke dalam. Hari sudah gelap. Cahaya matahari digantikan oleh lampu- lampu yang berpendar di sekitarnya. Lampu- lampu jalan, lampu gedung di sekitar, lampu- lampu yang keluar dari kendaraan tak kalah terang. Ia melihat beberapa orang keluar dari pintu kaca kantor di depannya, namun sosok Risa tak juga terlihat.             Denting ponsel terdengan. Fokusnya teralihkan pada benda pipih yang masih ada di tangannya.             Risa : Bentar lagi, ya.             Vano tak membalas. Ia kembali menaruh gawainya di saku dan menatap orang yang hilir mudik di depannya melalui kaca mobil. Jalanan tampak padat saat ia menuju ke sana. Hal yang cukup membuatnya kaget. Jogja tempat tinggalnya sudah padat, namun jelas tak pernah sepadat Jakarta. Belum lagi panas, bising dan kualitas udara yang tak sebagus kota kelahirannya.             Vano pernah lama tinggal di sana. Saat ia sekolah dasar, ia dan semua keluarganya tinggal di Jakarta. Namun sejak masuk SMP, kedua orangtuanya memutuskan untuk kembali ke kota kelahiran ibunya karena nenek yang sudah mulai sakit- sakitan. Sejak saat itu, ia dan kedua orangtuanya tinggal di Jogja, sementara kakaknya menyelesaikan satu tahun SMAnya dengan tinggal bersama tante lalu kuliah dan menempati rumah kedua orangtuanya. Rumah yang sampai saat ini di tempati Lula.             Namun ia senang ada di sini. Ia tak perlu lagi menjalani hubungan jarak jauh dengan pacarnya. Ia bertemu Risa saat gadis itu liburan di Jogja. Mereka bertemu di sebuah kedai kopi yang kala itu sedang hits di kota itu. Mereka menempati meja yang tak jauh dengan posisi saling berhadapan. Keduanya beberapa kali bertemu pendang hingga akhirnya Vano memberanikan diri mengulas senyum tipis. Gadis itu membalasnya.             Vano berkali- kali melirik Risa yang hari itu datang bersama teman- temannya. Gadis itu memakai kaos berwarna merah dengan celana pendek. Gadis itu memakai topi sebagai tutup kepala saat masuk ke dalam kafe. Alas kakinya hanya sendal jepit biasa. Dalam pandangannya gadis itu terlihat sangat cantik. Senyumnya tampak menawan dibawah lampu temaran kafe itu.             Saat itu Vano tahu perasaannya pada gadis itu. Ia mungkin belum  bisa menyimpulkan itu cinta atau hanya ketertarikan sesaat. Namun ia tau bahwa ia tak ingin kehilangan kesempatan untuk berkenalan. Ia mulai mencari cara agar bisa berkenalan dengan gadis itu.             Saat ia melihat gadis itu berdiri dari duduknya dan pergi mendekati elatase yang memajang kue- kue, Vano tak berpikir panjang. Ia ikut berdiri dan mendekati gadis itu hingga berdiri di sebelahnya.             “Yang matcha enak.” Kata Vano saat melihat gadis itu menatap satu persatu kue yang ada di sana.             “Saya gak suka matcha.” Jawab gadis itu. Gadis itu melihat Vano terdiam saat mendengar jawabannya. Gadis itu tersenyum lalu berkata, “bercanda.”             Vano ikut tersenyum. Ia meminta pegawai mengambilkan satu potong kue matcha. Vano memberikan piring kecil berisi kue itu pada Risa sementara ia menggeser tubuhnya hingga berada di depan meja kasir.             “Gue yang traktir.” Kata Vano sambil merogoh saku dan mengeluarkan selembar uang seratus ribuan dan memberikannya dari kasir.             “Thanks.” Kata gadis itu. “Risa.” Gadis itu mengulurkan sebelah tangannya pada Vano. Setelah mengambil kembalian dan memasukkannya ke dalam saku, ia menjabat tangan itu.             “Vano.” Laki- laki itu mengulas senyum yang tak kalah manis. Keduanya terdiam, masih berdiri dan berada tak jauh dari meja kasir. Beberapa teman Risa yang menepati satu meja menatap keduanya dengan tatapan bingung.             “Liburan?” tanya Vano. Ia melihat Risa mengangguk di depannya. Laki- laki itu mengeluarkan ponsel dari sakunya, “boleh minta akun media sosialnya?” ia menyerahkan ponselnya yang menu instragramnya sudah terbuka. “nanti saya follow back.” Katanya lagi. Benda pipih itu berpindah tangan. Risa mengetuk- ngetukkan jarinya di atas layar lalu mengembalikan ponsel itu.             Vano mengambil ponselnya kembali yang layaranya sudah menunjukkan menu utama. Setelah Vano mengucapkan terima kasih, Risa mengangguk lalu kembali ke mejanya. Kembali berkumpul dengan teman- temannya.             Meski sudah bertahun- tahun, Vano bahkan sama sekali tak melupakan sedetikpun bagaimana pertemuan manis keduanya. Hari itu, Vano sadar bahwa gadis itu tak mengikuti akun instagramnya. Ia mencari satu persatu akun- akun yang mengikutinya namun tak menemukan akun gadis itu. Ia sudah tak berharap banyak saat itu hingga ia menyadari sesuatu. Ia membuka kontak dan mencari nama Risa dalam kontaknya. Ia menemukannya. Gadis itu tak membertahu media sosialnya namun langsung memberinya nomor ponselnya.             Suara ketukan di jendela mobilnya membuat Vano lamunan Vao tergugah. Ia melihat senyum Risa di luar mobilnya. Gadis itu berputar lalu melesak masuk di sampingnya.             “Maaf lama.” Kata gadis itu.             “Nggak apa- apa.” Jawab Vano. Ia tersenyum menatap Risa yang hari itu tampak cantik dengan blouse berwarna cokelat muda dan rok pendek hitam. Rambut panjang wanita itu dibiarkan tergerai melewati bahu. Ia masih bisa melihat make up tipis yang menempel di wajah gadis itu. Bekerja sebagai marketing di sebuah perusahaan asusransi memang menuntut wanita itu untuk selalu berpenampilan rapi, sama sepertinya yang bekerja sebagai front liner di sebuah bank swasta.             Vano menjalankan mobilnya ke sebuah resto pasta sesuai dengan keinginan Risa. Mobil itu mulai membelah jalanan ibukota.             “Kamu tadi makan siang doang sama kak Aileen?” tanya Risa tiba- tiba. Vano menoleh dan mengagngguk.             “Iya.” Jawab Vano. “tadi kak Aileen ke kantor karena ada satu giro yang belum ditanda tanganin, terus ketemu deh. Karena pas jam makan siang, jadi dia ngajak sekalian makan siang bareng.”             “Aku nggak suka, ya, kamu makan sama orng lain nggak info aku dulu.”             Vano menoleh dan melihat gadis di sebelahnya mengerucut sebal.             “Iya, maaf. Kamu juga kalau mau ngajak makan bareng jangan dadakan, ya.” Sebelah tangan laki- laki itu terulur untuk mencubit sebelah pipi kekasihnya. Kantor keduanya memang tak jauh, hanya memerlukan waktu tempuh sekitar lima belas menit.             Risa mencoba menarik garis bibirnya hingga akhirnya keduanya sampai di resto yang Risa maksud.             Keduanya keluar dari mobil, masuk ke dalam dan menempati meja kosong yang ada di sana. Resto itu ramai. Meja- meja di sana hampir penuh. Desain klasik dengan lampu- lampu gantung dan meja kursi berbahan kayu membuat tempat itu terlihat menarik.             Keduanya langsung memesan dua porsi pasta berbeda dan dua gelas lemon tea saat pelayan menghampiri keduanya dan menanyakan pesanannya.             Mereka membicarakan banyak hal. Apa saja yang terjadi dengan keduanya hari ini. Hal- hal yang keduanya percaya akan mempererat hubungan keduanya. Pesanan mereka disajikan di atas meja. Keduanya sibuk dengan isi piringnya masing- masing namun masih mengobrol sesekali.               Selesai dengan makanannya, keduanya menyingkirkan piring bekas makan lalu kembali mengobrol. Risa kembali memesan dua buah dessert dan akhirnya mereka nikmati hingga malam semakin larut.             Semakin malam, resto itu semakin penuh. Bagian outdoor dan indoornya penuh. Orang- orang bergerombol dalam satu meja dan asik mengobrol. Meja- meja di luar penuh dengan orang- orang yang menaruh lintingan nikotin berasap dari sela jari telunjuk dan jari tengahnya.             Risa dan Vano masih berada di sana. Seakan tak terganggu oleh suasana yang semakin ramai. Vano yang semula duduk di depan Risa sudah berpindah duduknya menjadi di sampingnya. Mereka mendekatkan kursi keduanya hingga ujung lutut mereka nyaris bersentuhan.             Kedekatan itu membuat Vano bisa dengan jelas menatap wajah Risa yang cantik dan selalu membuatnya jatuh cinta. Sesekali tangannya terulur untuk menyelipkan sejumput rambut Risa dan menyelipkan ke belakang telinganya.             Gadis itu tengah bercerita tentang apa yang akhir- akhir ini terjadi di kantornya dan masalah- masalah yang sedang ia hadapi. Biasanya mereka akan membicarakan hal itu di telepon dan memakan waktu hingga dua jam. Sekarang, semuanya jelas lebih mudah. Vano hanya perlu menatap dan mendengengarkan wanita itu bercerita. Mengamati senyum dan tawanya. Dua hal yang tidak berubah sejak pertama kali mereka bertemu. Senyum dan tawa gadis itu tetap telihat menawan di matanya.             Sebelah tangan Vano terulur untuk mengusap ujung bibir Risa yang meninggalkan bekas es krim. Keduanya tersenyum. Laki- laki itu melirik jam di pergelangan tangannya.             “Udah hampir jam sembilan.” Vano memberitahu. Risa mengambil sebelah tangan laki- laki itu dan mengusapnya pelan.             “Tapi aku masih kangen.” Lirih Risa dengan nada manja yang membuat laki- laki itu gemas.             “Kita kan udah dekat. Bisa setiap hari ketemu.” Kata Vano sambil tersenyum. Ia menggenggam sebelah tangan Risa dengan erat. “lima belas menit lagi, ya. Aku nggak enak sama mama kamu. Jangan sampai mama kamu mikir kamu jadi pulang malam terus karena aku.”             Suara denting ponsel terdengar, tanda sebuah pesan masuk ke perangkat itu. Keduanya menatap ponsel Vano yang layarnya menyala di atas meja. Vano baru hendak mengambil benda pipih itu saat tangan Risa menyambar lebih dulu. Wanita itu membalik ponselnya dan menaruhnya di sisi kanannya. Sisi yang berlawanan dari arah Vano.             “Lima belas menitnya cuma buat aku kan?” tanya gadis itu. Vano menghela napas lalu mengangguk dan tersenyum kecil. Ia sudah tahu bagaimana watak kekasihnya. Gadis itu tak suka waktu bersamanya diinterupsi oleh apapun. Ia selalu ingin Vano hanya terfokus padanya.             Vano tak pernah keberatan karena saat LDR, mereka memang seharusnya lebih terfokus satu sama lain karena jarang bertemu. Gadis itu selalu ingin fokus Vano tercurahkan sepenuhnya pada dirinya. Saat keduanya bertemu, keduanya tak pernah memegang ponsel masing- masing. Ponsel keduanya tergeletak di atas meja, atau di saku masing- masing. Tak ada distraksi apapun yang bisa membuat keduanya memecah fokus. Mereka hanya terpaku satu sama lain. Dan Risa ingin hal itu tetap berlanjut meski kini mereka berada dalam satu kota dan bisa bertemu dengan siapa saja.             Risa mencintai Vano. Jelas. Peretemuan pertama mereka sudah membuat ia tertarik pada laki- laki itu. Dalam pertemuan pertama mereka, Risa menyukai paras Vano dan senyumnya yang tulus. Saat ini, ia menyukai semua yang ada dalam diri laki- laki itu. Semua sifatnya, wataknya, kemandiriannya, fisiknya. Baginya, laki- laki itu tak kekurangan suatu apapun dan yang jelas, ia tidak pernah ingin kehilangan laki- laki itu. TBC LalunaKia
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN