CHAPTER LIMA

2090 Kata
Suara dencit mobil yang berhenti di garasi membuat kedua wanita yang sedang menikmati camilan sambil menonton serial dari salah satu layanan steraming itu menatap ke arah pintu secara bersamaan. Aillen sudah mengambalikan tatapannya ke layar datar di depannya sementara Lula menatap jam dinding di ruangan itu. Sudah hampir jam sepuluh malam. Tak lama suara salam terdengar, lalu pintu utama terbuka. Tubuh tegap Vano muncul di baliknya. “Kok udah pulang, Van?” tanya Aileen yang langsung membuat Lula melotot sedangkan yang diberi pertanyaan justru mengernyit bingung. “Maksudnya?” katanya saat berhasil mendudukkan diri di samping Aileen di sofa ruang tamu. “Ini masih terlalu sore buat orang yang baru aja dekat setelah lama LDR.” Kata Aileen yang membuat Lula langsung melempar bantal sofa ke arahnya dan tepat mengenai kepalanya. Aileen tertawa sementara Lula berdecak. “Tadi kita cuma makan kok.” Kata Vano yang kini mendapatkan tatapan menyelidik dari wanita di sebelahnya. “Masa? Kok di chat Lula balesnya lama?” tanya Aileen dengan nada jahil. “kirain lagi nanggung.” Lanjut Aileen sambil tertawa. Vano menggeleng sambil tersenyum. “Gue robek mulu lo ya, Ai.” Sungut Lula. Mulut Aileen memang kadang tak bisa di atur. Wanita itu terlalu blak- blakan dan vulgar. Ia tak mau karena ucapan wanita itu, Vano malah berpikir untuk macam- macam. Meski umur laki- laki itu sudah menginjak dua puluh lima tahun, baginya laki- laki itu masih adik kecilnya dan ia tak ingin laki- laki itu berhubungan secara berlebihan yang nantinya akan merugikan keduanya. “Iya… nanggung ngobrolnya.” Jawab laki- laki itu. “Nah, maksud gue juga gitu. Masa gue bilang gitu aja Lula ngomel- ngomel.” Aileen melirik Lula yang sudah mengembalikan tatapannya pada layar televisi. “Nginep Kak?” tanya Vano pada Aileen. “Nggak. Nunggu diusir aja sama Lula.” Jawab Aileen sambil terkekeh pelan. Setelah mengborol sebentar. Vano pamit masuk ke kamarnya untuk membersihkan tubunnya. Laki- laki itu masuk ke dalam kamar. Mendekati stop kontak dan menekannya hingga ruangan yang semula gelap gulita itu mendadak terang. Ia menaruh tasnya di atas meja lalu masuk ke kamar mandi. Ia membasuh tubuh telanjan9nya di bawah pancuran. Membuat busa di kepalanya dengan shampo dan mengusap seluruh tubuh telanjan9nya dengan sabun hingga berbusah. Saat memastikan tak ada bagian tubuhnya yang terlewat, laki- laki itu membilas seluruh tubunya hingga bersih. Ia menyeka seluruh tubuhnya dengan handuk lalu melitikannya di pinggangnya dan keluar dari kamar mandi. Ia mendekati lemari bajunya dan mengambil sepotong kaos dan celana pendek. Ia baru hendak keluar dari kamar saat mendengar ponselnya berbunyi. Ia mendekati meja dan mengambil ponselnya yang tergeletak di atasnya. Ada nama Risa di layarnya. Ia menslide layar lalu mendekatkan gawainya ke sebelah telinganya. Suara yang sudah sangat dihapalnya menyapanya di ujung sambungan. Ia menjawab beberapa pertanyaan dari gadis itu sambil berjalan keluar dari kamar. “Lihat, tuh. Baru aja ketemuan. Udah teleponan lagi.” Kata Lula saat melihat adiknya keluar dari kamar dan tampak tersenyum sambil mengobrol dengan orang dalam sambungan. Tak perlu menebak siapa itu karena ia sudah langsung tahu siapa itu. Laki- laki itu tak mendekat ke ruang tamu namun berjalan mendekati dapur. “Biarin aja, sih, lo tuh nggak bisa banget lihat orang bahagia.” Kata Aileen. “percaya deh, La. Kalau nanti lo jatuh cinta, di jamin lo mungkin lebih bucin daripada Vano.” Lanjut Aileen. “atau bisa jadi, pacar lo yang bucin banget sama lo.” Lula menoleh ke arahnya dan melotot. “Dih. Seumur gue mana pantes bucin- bucinan. Geli.” Lula berdigik ngeri membayangkan kata- kata Aileen. Pertama, ia tak sedang dekat dengan laki- laki manapun, dan sepertinya sedang tak ingin terlibat cinta dengan laki- laki. Ia sedang dalam masa menikmati hidupnya dan tak lagi berpikir kapan jodohnya akan datang walau umurnya semakin lama semakin bertambah. “Jangan gitu. Kalau nanti tiba- tiba lo dapat pacar seumur Vano dan bucin gimana?” kata Aileen, “dan parahnya, lo juga suka sama dia. Apa nggak Double combo, tuh.” Aileen kali ini tertawa keras. Membuat lagi- lagi satu buah bantal mengenai wajahnya. Aileen mengatupkan mulutnya rapat- rapat. Mencoba menahan tawanya. Ia melirik jam dinding. Sudah lewat dari jam setengah sebelas. “Gue balik, ah.” Kata Aileen akhirnya. Ia ingat besok ada banyak pekerjaan harus yang ia kerjakan di kantor. “Jangan lupa cuci piring dulu, ya, tuan putri.” Kata Lula yang langsung membuat Aileen berdecak. “Iya… iya… cuma lo doang, nih, yang berani nyuruh gue nyuci piring.” Keluh Aileen. Ia mengambil gelas dan piring bekas pakainya lalu berdiri dan berjalan menuju dapur. “Iya, lah, kapan lagi bisa nyuruh anak konglomerat nyuci piring. Kalau orangtua lo, tahu, gue bisa dikasih duit segepok terus diminta jauhi lo, kali, ya?” kali ini Lula tertawa. “Otak lo sinetron banget.” Kata Aileen sedikit keras. Ia masih bisa mendengar tawa wanita itu saat sampai di dapur. Vano masih berada di dapur. Baru saja menutup sambungan teleponnya. Laki- laki itu sedang mengisi teko yang ia letakan di bawah kran dispenser. “Taruh di sana aja, Kak, nanti biar Vano yang nyuci.” Kata laki- laki itu pada Aileen yang langsung menggeleng. “Nggak apa- apa. Gue udah biasa. Berkata Lula, skill nyuci piring gue meningkat drastis.” Kata Aileen sambil menyalakan keran air dan mengusap piring dan gelasnya dengan spons hingga berbusa. Vano terkekeh lalu membawa teko airnya dan menaruhnya di atas meja sementara ia duduk di salah satu kursi sana. “Gue bungkusin gyoza sama chicken popcorn buat lo. Ada di kulkas, ya. Panasin besok buat sarapan.” Kata Aileen sambil berbalik dan menatap Vano yang duduk menghadap ke arahnya. Ia mengambil tisu di dekatnya dan menyeka kedua tangannya yang basah. Pinggangnya bersandar pada pinggiran bak sink. “Ya ampun. Kak Aileen baik banget. Makasih, ya.” Kata Vano. Aileen mengangguk lalu maju beberapa langkah dan duduk di kursi kosong tepat di depan laki- laki itu. “Kak Lula tumben belanja banyak banget. Kulkas sampai penuh gitu.” Kata laki- laki itu. “Iya, kan. Gue pikir juga tuh anak mau hajatan.” Aileen dan Vano tertawa bersamaan. “katanya biar lo nggak kelaparan.” Kata Aileen lagi. “terus katanya lo juga suka masak, jadi sengaja dia belanja banyak biar bisa menghemat pengeluarannya.” Vano tertawa mendengar penjesalan Aileen yang jujur. Ia mengangguk setuju dengan kalimat terakhir wanita itu. Ia memang hobi memasak. Hobi dan skill memasak ibunya diturunkan padanya dibanding pada kakaknya yang perempuan. “Kak Lula memang pintar memanfaatkan keadaan.” Kata Vano sambil terkekeh pelan. “Lo siap- siap aja jadi pembokatnya Lula.” Kata Aileen tekikik geli. “Udah biasa, Kak. Daridulu juga kalau serumah udah pasti gue di suruh- suruh mulu.” Kata Vano yang membuat Aileen tak bisa menyembunyikan tawanya. “Kasihan banget, sih, lo. Nanti kalau udah bosan jadi adiknya Lula, jadi adik gue aja, ya.” Kata Aileen dengan tawa sambil berdiri. Ia memutar dan mengusap pucuk kepala laki- laki itu sambil berkata, “gue balik dulu.” “Hati- hati, Kak.” Vano agak berteriak. Mamastikan wanita itu mendengar kata- katanya. *** Pagi- pagi sekali, Revano sudah sibuk di dapur. Ia sudah sibuk dengan centong dan panci di atas kompor. Laki- laki itu sudah memakai celana kerjanya, namun atasanya masih kaos polos berwarna putih. Ia memakai apron berwarna merah bergaris dengan sebelah tangan yang sibuk mengaduk sayur. Aroma harum yang menguar di dalam rumah langsung menggugah Lula yang baru saja keluar dari kamarnya. Ia menaruh tas laptopnya di sofa ruang tamu lalu berjalan ke dapur. Di dapur, ia melihat adik kesayangannya sedang berdiri di depan rice cokeer, laki- laki itu tengah mengaduk nasi yang baru matang. Lula melirik ke atas meja. Sudah ada satu piring berisi potongan ayam goreng. Di piring lainnya ada tahu dan tempe sedangkan di mangkok kecil ada sambal buatan laki- laki itu. “Pagi…” kata Lula sambil mendekati meja dan duduk di salah satu kursi yang ada di sana. Laki- laki itu tak menjawab, ia berbalik dengan panci kecil berisi sop bakso dan ditaruhnya di atas meja. “Waaahh…” Lula menjilat bibirnya. Wangi masakan rumahan itu tiba- tiba mengingatkannya pada sosok ibunya yang masakannya selalu cocok di lidahnya. Ia tidak memungkiri bahwa ia merindukan masakan ibunya dan ia senang Vano ada di sini sekarang. “Tumben rapi banget?” tanya Vano saat baru saja menaruh panci rice cooker di atas atas meja. Ia sedang melepas apronnya saat melihat Lula tampak rapi hari ini. Wanita itu berjalan di depannya untuk mengambil dua buah gelas dari lemari dan membawanya ke atas meja. Wanita itu memakai blouse berwarna hitam dan rok A line sebagai bawahannya. Rambut panjangnya dibiarkan tergerai dan sedikit bergelombang karena di blow. Bibirnya tampak segar karena pilihan lip tintnya yang berwarna peach orange. “Cantik banget gue, ya?” tanya Lula sambil tertawa. Sebelah tangannya mulai mengambil centong nasih dan menaruh nasi di piring Vano dan piringnya. “lagi pengin rapi aja. Biar kayak orang kantoran.” lanjutnya “Alangkah baiknya kalau kayak gini tiap hari. Kenapa nggak kerja kantoran lagi aja, sih?” ucap Vano yang langsung membuat Lula menggeleng pelan. “Lo belum tahu aja nikmatnya bangun tidur bisa langsung kerja, kerja cuma pakai baju tidur, nggak terikat waktu, nggak diomelin bos, bisa kerja di mana aja.” Kata Lula. Ia membandingkan bagaimana ia bekerja dan adiknya bekerja. “Iya… iya…” kata Vano. Ia tahu bahwa pembicaraan itu tak akan menemui titik temu. Lula telah mendapatkan hidup yang ia inginkan dan tak akan merubah hal yang baginya sudah sempurna. Vano merasa tak ada yang salah dengan pekerjaan kakaknya. Ia juga tak keberatan karena wanita itu juga menghasilkan banyak uang dari pekerjaan lepasnya. Sekali lagi, hal itu hanya membuatnya khawatir karena pola hidup dan jam tidur kakaknya menjadi tak menentu. “Baru kali ini gue ngerasa pagi gue hidup banget.” Kata Lula sambil menyendokan sop dengan sendok dan menyesap kuahnya yang hangat lagi segar. Vano hanya tersenyum lalu memulai sarapannya. Keduanya sibuk dengan isi piring mereka masing- masing. Sesekali mengobrol membicarakan banyak hal. Angin pagi berembus masuk dari jendela dan pintu dapur yang mengarah ke taman kecil dibiarkan terbuka. Sinar matahari mulai menghangat. “Kakak mau ketemu klien?” tanya Vano saat ia menyelesaikan makannya. Ia menuangkan air dari teko ke gelasnya dan menyesapnya pelan. “Nggak. Mau ke Daily.” Jawab Lula. “Daily?” dahi Vano mengernyit. “Coworking space di depan komplek itu, lho.” Lula memperjelas. “Oh. Mau ke sana doang aja rapi nya udah kayak mau meeting sama direksi lo, Kak.” Kata Vano sambil terkekeh ringan. “Kali nanti gue ketemu sama salah satu direksi yang lagi meeting di sana.” Lula tertawa. Ia berdiri dari duduknya dan membawa piring bekas pakainya dan Vano ke bak sink dan mencucinya. “Amin… gue doain. Kali aja gue bisa cepat nyusul sama Risa.” Kata Vano. Setelah menaruh piring di rak, Lula membalik badan lalu berjalan di tempat semula. “Lo yakin mau nikah sama Risa?” tanya Lula. Ia menyesap air dalam gelasnya dan melihat laki- laki di depannya mengangguk dengan mantap. “yakin?” Lula bertanya sekali lagi. “Yakin. Memang kenapa, sih?” tanya Vano. Ia seharusnya tak perlu bertanya karena ia tahu bahwa kakaknya tak begitu menyukai kekasihnya. Kakaknya selalu berpikir bahwa Risa terlalu egois, keras kepala, dan dominan. Hal yang tak bisa ia sangkal juga. Gadis itu memang seperti itu. Namun ia merasa bahwa itu belum keterlaluan dan masih bisa diterimanya. Ia berpikir bahwa rasa cintanya pada gadis itu terlalu besar sehingga ia tak masalah menerima kejelekan Risa. “Ingat. Gue nggak mau dilangkahin.” Lula memperingatkan. Ia sebenarnya tak benar- benar meminta Vano untuk menunggunya menikah. Ia hanya ingin membuata Vano berpikir matang- matang sebelum memasuki pernikahan. Ia ingin adiknya mempertimbangkan banyak hal jika ingin menikah. Lula tahu bahwa Vano punya tabungan yang cukup jika ingin menikah dalam waktu dekat. Laki- laki itu cukup hemat dan bisa mengelola keuangan dengan baik. Jika ia adalah tipe yang termasuk boros, Vano adalah sebaliknya. Laki- laki itu hanya membeli barang- barang yang sesuai dengan kebutuhannya dan lebih suka menyimpan uangnya dalam berbagai investasi. “Iya… iya…” jawab Vano. “mama juga nggak bakal biarin gue ngelangkahin lo.” Katanya lagi. “Kalau gue sampai sepuluh tahun lagi nggak nikah- nikah gimana?” pertanyaan Lula membuat Vano berdecak. “Lo mau ngapain nggak nikah coba?” “Ya kali aja, jodoh gue mungkin datangnya lima belas tahun lagi.” “Omongan tuh do’a lho.” Vano memperingkan. “Amit- amit.” Lula menggeleng cepat- cepat. TBC LalunaKia
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN