“Aish!” Kiara mengumpat pelan lalu menghela napas keras.
Sedari tadi, yang didengar telinganya hanyalah suara-suara sumbang yang membahas kejadian saat jam istirahat tadi. Nama Lorry kembali menjadi trending topic di SMA Nusa.
Kiara memperhatikan empat cewek yang keluar dari gedung sekolah, berjalan melewati taman menuju pintu gerbang karena bel pulang sudah berkumandang sejak lima menit yang lalu. Keempatnya terlihat heboh membicarakan sesuatu sembari tertawa kecil.
“Lo tadi lihat kejadiannya?”
“Iya, dong! Kelas kami sebelahan.”
“Ah, sayang banget! Gue tadi lagi di kantin. Seru, gak, sih?”
“Seru banget anjir. Baru kali ini gue ngeliat Lorry dipermaluin.”
“Dia cemburunya overdosis banget, sih. Dikurang-kurangin, kek.”
“Padahal selama ini Raiden kelihatannya nggak keberatan sama sifatnya itu.”
“Halah, dari dulu pasti Raiden udah muak, cuma ditahan aja! Tuh, buktinya tadi udah keluar semua. Tambah kesal lagi karena Lorry numpahin makanannya.”
“Ck, ck, ck, sekarang nggak dijuluki pasangan sempurna lagi dong di sekolah ini.”
“Ya iyalah! Udah bertengkar gitu mana bisa akur lagi!”
“Kesempatan gak tuh dapetin Rai.”
“Nyerah aja lo! Udah ditikung duluan sama si anak kelas sepuluh itu. Namanya siapa, sih? Mel? Ah, iya Melly!”
“Ck, telinga gue gatel banget, dah!” teriak Kiara agak keras ketika empat gadis itu melewati mereka. Keempatnya langsung menatapnya dari atas sampai bawah dengan bingung, namun akhirnya kembali melanjutkan langkahnya.
Kiara mendecak kesal. Rupanya sindirannya tak sampai ke otak mereka. Ya, wajar, sih. Otak mereka dipakai cuma buat mikirin masalah orang lain.
Ia lalu memperbaiki duduknya di kursi taman dan mengamati siswa yang lalu-lalang menuju gerbang untuk pulang ke rumah masing-masing. Kiara lega, Lorry sudah pulang lebih dulu karena jam terakhirnya kosong. Gadis itu tak perlu lagi mendengar suara-suara gila yang berbincang dengan membawa namanya.
“Heh!” Kiara berjengit kaget ketika seseorang tiba-tiba datang dan duduk di sampingnya. Ia menoleh dan menatap orang itu heran. “Rian? Lo ngapain di sini?”
“Lo belum pulang?” Rian malah bertanya balik.
Dengan ekspresi bingung, Kiara menggeleng. “Belum.”
“Kenapa?”
“Ya, nggak kenapa-kenapa. Gue cuma terbiasa pulang kalau sekolah udah sepi.”
“Pengaruh masuk OSIS, ya?”
Kiara menggeser pantatnya agar duduk agak jauh dari Rian. “Mungkin. Kadang gue parnoan kalau pulang cepet. Pembina biasanya tiba-tiba nyuruh kumpul, jadi gue sengaja pulang lambat sampai ngerasa pasti kalau nggak ada lagi acara kumpul-kumpul segala ... eh, kok gue malah jelasin ke lo, sih?”
“Ya, bagus biar lebih jelas.” Rian berucap dengan kaku lalu menoleh sekilas, menatap gadis itu dari samping. “Btw, Lorry naik daun lagi, ya,” sambungnya.
Kiara terkekeh pelan. “Kata kiasan lo menarik juga. Ya, dia emang lagi naik daun karena salahnya sendiri. Gue juga nggak tahu harus bagaimana lagi sama anak itu.”
“Katanya Raiden ngamuk sama dia?”
“Nggak, itu pasti cuma dilebih-lebihin sama anak-anak. Lo nggak tanya Rai soal ini? Kenapa malah nanya ke gue?” tanya Kiara bingung.
“Gue belum ketemu dia.”
“Oh.” Kiara mengangguk pelan. “Ya gitu, deh. Mungkin Rai lebih ke kecewa aja sama Lorry yang nggak ngasih dia kesempatan buat jelasin dan malah ngebuang makanan dari papanya. Btw, Lorry ngira bekal itu pemberian Melly jadi dia cemburu. Huft, tapi tetap aja Lorry salah. Makanan nggak boleh dibuang gitu.” Kiara menghela napas keras, namun beberapa detik kemudian dia baru menyadari sesuatu yang ganjil.
“Tumben lo ngomong banyak.”
Rian menatap gadis itu lama. “Karena gue suka lo.”
“Dih?” Kiara melongo. “Lo lagi kerasukan apaan, sih?”
“Gue serius.”
Kiara mengedip-ngedipkan matanya dan menatap ke arah lain, tak sanggup berlama-lama melakukan kontak mata dengan pemuda di depannya —yang sepertinya tengah menyatakan cinta padanya, namun kenapa sekaku itu? Udara di sekitarnya tiba-tiba berubah aneh, jadi terasa hangat.
“Lo ... sejak kapan suka gue?”
“Sejak MOS,” jawab Rian langsung.
“Hah?”
“Punya pacar?”
“Enggak.” Kiara menggeleng pelan namun langsung menutup mulutnya. Jawabannya seolah mengatakan ia membuka jalan lebar-lebar untuk Rian.
“Mau jadi pacar gue?”
***
Lorry menatap ke belakang, tepatnya pada Raiden yang fokus menatap guru di depan yang tengah menjelaskan. Ia kembali menatap ke depan dan menghela napas pelan. Sarah yang duduk di sampingnya menyentuh tangannya dan tersenyum kecil, memberinya semangat. Lorry membalas senyumnya. Di kelas mereka, sepertinya hanya Sarah yang benar-benar peduli pada keadaannya. Sebelum masuk kelas, gadis itu banyak mengajaknya bicara agar pikirannya teralihkan dari anak-anak lain yang memperhatikannya lalu saling berbisik.
Sejak ia datang ke sekolah pula, dirinya memang sudah jadi pusat perhatian. Namun kini tak ada yang berani berbicara terang-terangan di depannya lagi. Lorry tak apa. Dia sudah kebal dengan suara sumbang seperti itu.
Ia justru frustrasi karena ini pertama kalinya hubungannya dengan Raiden mengalami masalah separah ini. Sejak kemarin ia sudah berusaha menghubungi pemuda itu, baik melalui chat dan panggilan telepon bahkan video call, namun Raiden tidak mengangkatnya.
Lorry benar-benar tak tahu lagi bagaimana cara mengembalikan semuanya ke tempat semula. Ia dan Raiden memang kadang bertengkar, namun itu hanya untuk hal yang sepele dan Raiden pasti lebih dulu mengalah. Kini, ia yang harus berjuang lagi. Segala cara yang biasa dipakai Raiden untuk membuatnya luluh lagi, Lorry lakukan untuk pemuda itu namun sepertinya tak mempan.
Kriiiiiiiiiing!
Lorry tersentak karena ditarik paksa dari lamunannya setelah mendengar bunyi bel panjang pertanda jam istirahat tiba. Ia menghela napas lega ketika guru yang sedari tadi hanya menjelaskan —hingga membuatnya bosan dan setengah mati menahan kantuk— akhirnya pamit keluar dari kelas.
Lorry menoleh ke belakang lagi. Raiden tengah menyimpan bukunya ke dalam tas. Pandangan mereka sempat bertemu, namun Raiden memutuskannya lebih dulu dan berjalan keluar kelas.
Lorry menggigit bibirnya. Sebenarnya ada satu cara lagi yang belum dicobanya. Ini tidak pernah dilakukan Raiden padanya tapi murni terpikirkan olehnya sendiri. Kalau ia melakukan itu, apa Raiden akan menerima permintaan maafnya lagi?
“Gue harus coba dulu,” gumam Lorry.
Sarah yang mendengarnya samar-samar lantas menoleh. “Apa, Lor?”
“Hah? Oh, nggak apa-apa.”
“Nggak ke kantin?” tawar Sarah.
Lorry meringis dan menggeleng pelan. “Nggak dulu, deh,” tolaknya mengingat keadaan sekarang.
Sarah yang baru mengerti langsung memukuli mulutnya sendiri. “Maaf, Lor. Kalau gitu, mau nitip makan atau minuman? Nanti gue bawain.”
Lagi-lagi Lorry menolak. “Nggak usah,” ujarnya lalu berdiri.
“Eh, lo mau ke mana?” tanya Sarah lalu menyusul gadis itu.
Lorry berlari ke luar kelas, menyalip beberapa siswa yang lalu lalang di lorong-lorong sekolah, menyusul Raiden yang masih ada dalam jangkauan matanya. Ia sudah memikirkan cara ini kemarin, sekaligus menyiapkan mentalnya.
“Rai!” panggilnya lalu menahan pergelangan tangan pemuda itu.
Rai berbalik, mengerutkan keningnya heran dan menatap Lorry yang terengah-engah. Tidak butuh waktu lama, mereka sudah menjadi pusat perhatian.
“Lo apaa—“
“GUE MINTA MAAF!” seru Lorry memejamkan matanya.
Ia terdiam, mendengarkan respon dari sekelilingnya sembari menunggu jawaban dari Raiden.
“Gila, Lorry benar-benar bermental baja, njir.”
“Mukanya juga tebel amat. Kalau sampai Rai nolak permintaan maafnya, gua yang ngerasa malu!”
“Kok, gue jadi berharap Rai nolak permintaan maafnya, ya?”
“Dendam ya?”
“Iya, ish! Dia dulu permalukan gue waktu kelas sepuluh cuma gara-gara diam-diam suka sama Raiden.”
Lorry mengepalkan tangannya yang bebas, berusaha menguatkan dirinya dari komentar-komentar miring itu. Dia memang sudah terbiasa, namun tetap saja hatinya juga sakit saat mendengar cerita-cerita negatif tentangnya.
Lorry membuka perlahan matanya ketika mendengar hembusan napas kasar Raiden. Ia menatap pemuda itu dengan hati-hati dan keduanya bertatapan beberapa saat.
“Ikut gue.” Raiden akhirnya bersuara. Pemuda itu melepaskan tangan Lorry dari pergelangannya dan sebagai gantinya, ia menggenggam tangan gadis itu lalu membawanya pergi meninggalkan kerumunan. Di belakang mereka, terdengar keluhan penonton karena tak bisa mengetahui kelanjutan ceritanya.
“Mau ke mana, Rai?”
Raiden tak menjawab. Ia membawa gadis itu menjajaki tangga hingga sampai di rooftop. Di sana, ia segera melepaskan genggamannya pada tangan Lorry dan mengusap wajahnya.
“Lor, bukan gini caranya nyelesaiin masalah. Lo malah buat diri lo sendiri jadi bahan cerita di sekolah ini. Lo nggak apa-apa denger komentar-komentar miring kayak gitu?” tanya Raiden tak habis pikir.
“Ya, karena dari kemarin gue nge-chat, nelpon sampai nyoba vidcall lo, tapi lo nggak pernah respon gue. Giliran gue berbuat gini, lo malah nggak terima?”
“Lorry ....” Raiden menghela napas berat. “Gue bukannya nggak terima. Gue ... hanya pengen waktu buat mikir sejenak. Jujur, gue capek dengan sifat pencemburu lo itu. Gue juga kecewa, lo nggak ngasih gue kesempatan untuk berbicara.”
“Rai ....”
“Gue tahu lo sayang sama gue, dan gue lebih sayang sama lo, tapi gue nggak pengen hubungan yang toxic. Lo pacar gue, bukan berarti gue nggak bisa lagi dekat atau sekedar ngobrol dengan cewek lain. Lo juga gitu, gue nggak bakal cemburu kok selama perasaan lo itu cuma buat gue.” Raiden membasahi bibirnya yang terasa kering. “Jadi, ayo jangan berhubungan untuk sementara waktu. Biar masing-masing kita introspeksi diri. Perbaiki yang jadi kekurangan kita. Gue janji nggak bakal macam-macam dan gue percaya lo juga pasti nggak akan seperti itu. Tunggu sampai gue hubungin lo lagi dan gue harap lo juga udah selesai ngelakuin yang terbaik untuk diri lo sendiri,” ucap Raiden panjang.
Lorry menunduk dalam. Raiden justru memintanya menjauh sejenak. Alasannya memang bagus, namun apakah itu benar-benar alasan Raiden? Ia takut, Raiden hanya berbohong dan tak akan pernah menghubunginya lagi.
“Lo ... janji?” lirih Lorry mengangkat kepalanya.
Raiden mengangguk pelan. “Gue janji.”
“Terus, rencana kita untuk jalan-jalan besok lusa?”
“Sorry, Lor, kita batalin aja dulu,” ujar Raiden, “kalau gitu, gue duluan turun,” ujarnya berbalik pergi, meninggalkan Lorry yang makin murung.