“Oke, tapi kita nanti nggak usah makan di kantin, ya. Gue bawa bekal ....”
Raiden tak menyelesaikan perkataannya saat merasa itu hanya sia-sia. Ia mengacak-acak rambutnya merasa frutasi karena Lorry tak mau mendengarnya.
“Nanti bakal kembali lagi, kok,” ujar Rama acuh tak acuh yang duduk di depannya.
Raiden hanya mengedikkan bahunya lalu memutuskan untuk mengeluarkan bekal dari ayahnya tadi dan menaruhnya di atas meja. Ketika ia membukanya, aromanya langsung menyebar ke seisi kelas yang untungnya lumayan sepi karena banyak yang ke kantin.
“Buset harum amat, Rai! Bagi-bagi, dong!” ujar Rama doyan.
“Nggak! Ini mau gue makan bareng Lorry. Lo ke kantin aja, gih!”
“Dih, pelit banget! Nggak usah, gue juga lagi puasa!”
“Yaudah, kenapa malah minta?” sewot Raiden namun Rama tak lagi menghiraukannya.
Raiden menatap bekalnya dan mencobanya sesendok saja. Kepalanya otomatis mengangguk-angguk ketika merasakan makanan yang dibuat ayahnya enak. Dulu sewaktu ibunya masih ada, ayahnya memang suka menemani ibunya memasak di dapur. Mengingat itu membuat Raiden tanpa sadar tersenyum kecil.
“Halo, Rai!”
Raiden mendongak dan melotot kaget ketika Melly sudah duduk di samping Rama yang juga terkejut. “Lo ngapain di sini?”
“Ada yang mau gue tanyain. Eh, btw, lo bawa bekal? Gue coba, ya!” Melly baru mau mengambil satu sendok yang masih bersih namun Raiden mengambilnya lebih dulu.
“Ini mau gue makan bareng Lorry.”
“Dih, pelit,” cibir Melly.
“Udah, nggak usah basa-basi. Lo mau ngapain di sini?” todong Raiden to the point.
“Mau nanya soal band. Itu yang ‘biasa’ nanti sore jadi?” tanya Melly dengan kode.
Raiden yang kurang ngeh mengerutkan keningnya.
“Yang biasa itu, lho!” ujar Melly greget.
“Eh, maaf nimbrung, btw lo Melly, ya? Yang heboh dulu gara-gara ditangkap basah sama Lorry karena berani minta nomor Raiden?” tanya Rama tiba-tiba nimbrung.
Melly mengangguk.
“Wih, lo masih berani juga ya masuk kandang singa.”
Baik Melly dan Raiden tertawa mendengar itu. Namun, Rama yang tadinya mengeluarkan guyonan itu langsung menepuk tangan Raiden dengan panik. “Lorry datang, Rai!”
Raiden menatap ke arah pintu. Lorry sudah berjalan mendekati mejanya. Ia berdiri hendak menjelaskan pada gadis itu namun yang terjadi justru di luar pikirannya.
“LORRY!” teriak Raiden keras menatap gadis itu dengan syok. Ia beralih menatap bekal dari ayahnya yang kini terhambur di lantai. “Lo ... apa-apaan ....”
“Lo yang apa-apaan! Baru gue tinggal bentar udah berani terima bekal dari cewek ini! Lo juga udah mulai berani bohong, ya? Udah berani main di belakang gue? Lo kira gue nggak tahu lo bohong soal alasan lo nelpon Melly?” teriak Lorry emosi.
Siswa lainnya yang mendengar keributan itu mulai berkumpul dan mengintip mereka dari luar jendela kelas. Beberapa dari mereka menyiapkan kamera secara diam-diam. Tak ada satu pun yang berniat untuk menjadi penengah. Tak ada yang benar-benar peduli dan menjadikan itu hal yang layak untuk ditonton.
Sementara itu, Raiden masih terpaku menatap makanannya yang terhambur. Tangannya mengepal erat ketika mendengar bentakan Lorry padanya.
“Lorry ... walaupun ini dari orang lain, seharusnya lo nggak seperti itu sama makanan,” lirih pemuda itu menatapnya dengan mata berair. “Gue bakal jelasin semuanya ... Gue emang bohong, tapi alasan gue berbuat gitu karena gue takut lo malah kesinggung, Lor!” suara Raiden meninggi karena emosi.
Gue jagain perasaan lo karena gue paham keluarga lo dan gue itu gimana! Tapi, lo bahkan nggak mau dengerin gue dulu! Dan ini!” Raiden menunjuk makanannya yang sudah terhambur. “Ini bekal pertama yang bokap gue buat untuk gue, bukan dari Melly! Lo tega banget berbuat gitu hanya karena ada Melly di sini! Kalau lo mau marah, marah aja! Gue bakal terima karena wajar kalau lo cemburu! Tapi gue nggak pernah bisa terima kalau lo buang makanan karena hal sepele ini!” Raiden mengalihkan wajahnya ke arah lain dan memejamkan matanya sejenak, berusaha mengendalikan dirinya agar tak mengucapkan makian lebih jauh lagi. Bagaimana pun Lorry adalah gadis yang berharga baginya.
Setelah merasa tenang, Raiden berjongkok dan memungut makanannya. Melly segera membantunya dan memasukkannya ke dalam kotak bekal. Tak ada yang bisa dimakan lagi dari bekal itu, namun Raiden tetap memungutnya karena ruang kelas adalah tempat umum.
Lorry yang terdiam, mengepal erat tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. Ia menunduk, baru kali ini menerima perlakuan seperti itu di tengah-tengah keramaian. Rasanya sangat memalukan hingga ia berharap ini hanyalah mimpi buruk. Bahkan jika ini memang mimpi buruk, Lorry ingin segera bangun dari tidurnya.
“Rai, gue—“ Lorry baru saja memberanikan diri untuk meminta maaf, namun Raiden memotong perkataannya.
“Lo udah keterlaluan, Lor,” ujarnya nyaris berbisik. Setelah itu, ia berjalan keluar kelas, entah ingin ke mana.
“Rai, tungguin gue!” Melly hendak menyusul pemuda itu, namun tangannya langsung ditahan oleh Lorry.
“Lo jangan macam-macam, ya!”
Melly menatap gadis itu risih lalu menepis genggaman Lorry dari pergelangan tangannya. “Apaan, sih! Makanya, jadi orang jangan cemburuan banget! Lagi pula gue ke sini cuma nanya soal band, bukan hal yang lain!” ujarnya sambil lalu dari kelas itu.
Lorry menunduk dalam ketika mendengar begitu banyak hujaman suara sumbang ke telinganya. Rasanya seperti ditelanjangi di tengah-tengah orang banyak.
“Sekali-kali si Lorry emang harus digituin, sih.”
“Iya, biar dia nyadar kalau kelakuan dia itu salah.”
“Masih pacaran aja udah ngekang banget. Nggak bisa gue bayangin ntar pas nikah gimana.”
“Yoi, walau pun belum pernah mikir ke sana, gue juga bisa pastiin, Raiden bakal tertekan kalau bareng cewek itu.”
“Kayaknya Melly emang ada di sekolah ini untuk ngelepasin Rai dari Lorry.”
“Lah, iya juga. Secara Melly kayaknya cewek yang paling lama bertahan buat dapetin Rai.”
“Semoga aja Rai jadiannya ntar sama Melly. Mereka cocok, sama-sama punya suara merdu, sama-sama anggota band juga.”
“Iya, iya, gue setuju! Lorry mah sebenarnya biasa-biasa aja. Dia terkenal karena novelnya doang, kalau bukan karena itu mana mungkin Rai mau sama dia.”
“KALIAN BISA DIAM, TIDAK!”
Hening sejenak, beberapa langsung tutup mulut dan yang lainnya masih ada mencibir.
“Itu karma buat lo karena selalu permalukan cewek-cewek yang suka sama Raiden!”
Lorry menatap gadis yang berani bersuara dari luar kelas itu dengan tajam.
“Apa?!” teriak gadis itu berani. “Lo mau ngancam nama gue bakalan lo masukin ke daftar korban di novel lo? Masukin aja! Yang punya nama Vena bukan cuma gue!”
“Lo!” Lorry maju ingin mendatangi gadis bernama Vena itu, namun Kiara muncul dari balik kerumunan dan menahan gadis itu.
“Jangan bertingkah lagi, Lor. Lo mau makin malu?!” bisik Kiara dari belakang.
Lorry terpaksa menghentikan dirinya dan menatap gadis bernama Vena itu dengan tatapan benci. Ia melepas pelukan Kiara dari tubuhnya dan berusaha menormalkan napasnya yang menderu.
“Udah, ayo ikut gue!” Kiara menarik gadis itu dari luar kelas menuju rooftop.
“Lepasin!” tepis Lorry merasa gusar.
“Lo,” tunjuk Kiara lalu memijit keningnya, “kenapa bisa jadi begitu, sih?”
“Lo nggak nonton dari awal?” Lorry malah balik bertanya.
“Nggak, gue awalnya cuma tau ada keributan di kelas lo, tapi gue nggak tahu kalau yang jadi biang keributan itu malah lo,” tunjuk Kiara lagi merasa gemas. “Nanti Raiden dan Melly lewat depan kelas gue dengan ekspresi yang nggak biasa, baru gue nyadar lo pasti terlibat masalah ini. Pas gue sampai di kelas lo, Lo udah hampir nyerang teman sekelas gue, Vena.”
“Cewek itu ngeselin banget. Gue nggak punya masalah sama dia tapi dia malah ngatain gue! Kenapa, sih, orang tertarik banget sama masalah orang lain. Mereka nggak ada masalah sendiri gitu buat diurusin?” sewot Lorry penuh emosi.
“Daripada mikir itu, coba ceritain kenapa kalian bisa berantem?” tanya Kiara baik-baik agar amarah Lorry tak melunjak lagi.
Lorry menatap temannya itu sejenak lalu menghembuskan napas kasar. “Gue tumpahin bekal Rai dari papanya.”
“Kenapa?”
“Karena gue kira itu dari Melly. Dia ada di kelas gue pas gue dari toilet.”
“Astaga, Lorry, bisa-bisanya lo—“
“Gue ngelakuin itu juga karena ada alasan, Ki. Raiden udah bohong sama gue. Sebelumnya gue mergokin ponselnya, dia pernah nelpon Melly dan pas gue tanya dia bilang bahas soal band, padahal yang sebenarnya dia itu lagi cerita soal keluarganya sama Melly,” jelas Lorry menggebu-gebu.
Kiara mengulum bibirnya dan menggeleng-geleng pelan. “Lorry, Lorry. Jujur nih, ya, menurut gue perbuatan lo itu salah. Kalau pun itu bekal dari Melly, lo nggak seharusnya buang makanan itu. Rai jelas aja marah karena itu bekal dari bokapnya. Dan lagi, harusnya lo dengerin dulu penjelasan Rai, jangan langsung berbuat ceroboh. Lihat sekarang, hancur, ‘kan?”
“Jadi, gue harus gimana?”
“Ya, jalan satu-satunya lo harus berani bertindak duluan, minta maaf sama Rai. Tapi, kasih dia waktu untuk sendiri dulu, jangan langsung ganggu dia. Dia pasti bakal makin kesal.”
“Argh!” erang Lorry mengusap wajahnya. “Gue harap ini cuma mimpi.”
Plak!
“Aw! Lo, kok, mukul gue, sih?!” Lorry mengusap lengannya yang terasa panas.
“Sakit, ‘kan? Jadi, nggak usah berharap ini mimpi!”