Bab 20: Bekal

1290 Kata
Raiden keluar dari kamarnya lalu turun ke lantai bawah. Ia mengendus-ngendus ketika aroma masakan masuk ke rongga hidungnya. Langkah kakinya membawanya ke dapur. Pemuda itu membulatkan mata tatkala mendapati ayahnya dengan balutan apron hitam sedang memasukkan nasi dan beberapa macam lauk-pauk ke dalam kotak bekal. “Papa ngapain?” tanya Raiden sembari mendekati meja makan yang sudah penuh dengan pelbagai macam lauk-pauk. “Kamu sarapan sebelum ke sekolah. Terus ini bekalnya dibawa, makan bareng teman kamu juga bisa, nih. Papa isi banyak,” ujar Anda tak menghiraukan pertanyaan putranya. Raiden menghela napas panjang dan menatap langit-langit ruangan, berusaha menahan air mata harunya agar tak keluar. Ia duduk dan menunggu ayahnya selesai menyediakan bekalnya. “Ini,” ujar ayahnya menggeser kotak bekal itu ke depannya, “muat ke dalam tasmu, ‘kan?” “Iya, Pa, ini pasti muat, kok. Ayo duduk, Pa, kita makan bareng.” Anda tersenyum kecil dan duduk. “Ini, sarapan banyak-banyak, ya,” ujarnya menambahkan nasi ke piring Raiden. “Seandainya Papa dari dulu begini,” lirih Raiden terkekeh kecil menatap nasi di piringnya seolah itu adalah hal yang sangat berharga. “Papa minta maaf karena terlambat memperhatikan kamu, Rai.” Anda menghela napas panjang. “Akhir-akhir ini, Papa mikirin kamu dan akhirnya sadar selama ini Papa salah sudah biarin kamu bertumbuh sendiri sampai jadi seorang anak SMA. Papa akan berusaha untuk membagi waktu antara bekerja dan ada di sisi kamu. Maaf, karena Papa terlambat menyadari ini. Seharusnya Papa nggak mikirin perasaan Papa sendiri. Papa minta maaf, Nak.” Raiden menggeleng pelan. “Papa nggak usah minta maaf. Yang terpenting, Papa udah bisa berdamai dengan masa lalu dan sekarang berusaha untuk ada di sisi Rai. Hanya itu saja Rai udah bersyukur banget.” Anda menatap dalam-dalam putranya itu. Terkadang ia merasa baru kemarin menggendong putranya itu jika menangis dan sekarang sudah besar. Rasa bersalahnya makin besar saat memikirkan bagaimana selama ini Raiden bertumbuh tanpa perhatian orang tuanya. “Udah Rai bilang nggak usah merasa bersalah gitu, Pa.” “Papa nggak bilang apa-apa, kok,” elak Anda lalu menyendok nasi ke piringnya sendiri. “Tapi, mata Papa bilang begitu.” Raiden menyendok sayur bening dan menaruhnya di piring ayahnya. Anda tersenyum kecil ketika merasakan hatinya lega bercampur bahagia. Seandainya saja dia melakukan hal ini sejak dulu, mungkin hidup mereka akan lebih bahagia lagi. *** Lorry turun dari taksi dengan wajah gelisah. Ia buru-buru memasuki gedung sekolah menuju toilet wanita. P*mbalutnya terasa miring dan membuatnya jadi gelisah. Ia melepaskan tasnya dan menaruhnya di atas wastafel lalu masuk bilik toilet, mendekam di dalam beberapa lama. “Huh, selesai,” ujarnya lega sembari keluar dari bilik sembari merapikan roknya. “Hai.” Lorry berjengit kaget ketika melihat Melly tengah membasuh tangannya di wastafel. Ia melihat wajah Melly dari cermin. Gadis itu tersenyum miring. “Minggir, gue mau ambil tas gue,” ujar Lorry dingin. Tasnya berada di wastafel paling sudut dan Melly sepertinya sengaja mengapitnya, membiarkan Lorry tertahan di sana. Melly tak meresponnya. Gadis itu mematikan kran air dan mengeringkan tangannya dengan tisu. Ia berdiri tegak dan menatap Lorry melalui cermin. “Lo pasti udah tahu gue masuk OSIS, ‘kan?” tanya gadis itu basa-basi. Lorry mengalihkan wajahnya muak. “Yang gue suruhin di taman waktu itu ... lo udah beresin?” Lorry mengingat-ingat perkataan Melly waktu itu yang menyuruhnya mengakhiri hubungannya dengan Raiden. “Lo kira gue sebodoh itu mau nurut apa kata lo?” “Bodoh?” beo Melly lalu terkekeh geli. “Gue justru ngasih pilihan yang buat lo untung, Lor. Lo bodoh karena nolak itu. Ah iya, satu lagi, gue masuk band, lho.” Lorry langsung menatap gadis itu dengan tajam. “Udah gue bilang, jangan macam-macam sama Raiden! Lo bisa minta gue ngelakuin apa aja selain dari yang berhubungan dengan Raiden.” “Lo yang jangan macam-macam sama gue! Lo tahu, ‘kan, gue masuk OSIS bagian mana? Ingat Lor, bukti yang gue pegang itu, bocor dikit aja bakal buat hidup lo sengsara.” Melly membalas tatapan Lorry dengan tajam. “So, don't play with me,” ujarnya final lalu keluar dari toilet. Lorry mengepalkan tangannya dengan erat. Ia menatap dirinya sendiri di cermin. Wajahnya terlihat ketakutan. “Lo nggak boleh lemah, Lor,” gumamnya pada dirinya sendiri. “Dia hanya ngancam lo ... ya, dia hanya berani mengancam. Melly nggak mungkin berani sebarin itu.” *** Lorry melanjutkan langkahnya ke kelas setelah menenangkan dirinya beberapa saat. Keadaan kelasnya terlihat ramai karena semuanya sudah berdatangan. Ia menaruh tasnya di meja lalu beralih menghampiri meja Raiden yang kepalanya terkulai di atas meja. “Lah, perasaan baru kemarin dia ngejek pagi-pagi, kok, udah tidur,” gumam Lorry terkekeh kecil. Perhatiannya lalu teralihkan pada ponsel Raiden yang tergeletak di meja dengan layar menyala. Lorry lalu mengambilnya. w******p pemuda itu masih terbuka lebar. Sepertinya Raiden tertidur saat berselancar di w******p. Lorry baru saja ingin menonaktifkan ponsel pemuda itu, namun ketika ia tak sengaja menekan log panggilan Raiden, panggilan terakhir pemuda itu justru kontak bernama Melly. Ia mengerutkan kening, memastikan kode panah yang menunjukkan bahwa Raiden lebih dulu menelepon Melly. “What the ....” Lorry menggertakkan giginya saat melihat foto profil kontak itu adalah foto Melly yang dikenalnya. Dengan tak sabar, ia mengguncang bahu Raiden, memaksa agar pemuda itu bangun. Baru saja Raiden membuka matanya, ia langsung menghadapkan layar ponsel itu tepat di depan wajah Raiden. “Apaan, sih, Lor? Bel udah bunyi, ya?” tanya pemuda itu dengan suara serak. Pandangannya juga masih agak kabur. “Ini apa?” tanya Lorry datar. Raiden menyipitkan matanya berusaha menajamkan penglihatannya pada layar ponselnya. Pemuda itu langsung mematung begitu sadar dengan apa yang dilihatnya. “Lo nelpon Melly duluan?” “Nggak. Bukan begitu, Lor. Gue nelpon dia karena ada urusan band,” jawab Raiden bohong. “Band?” “I-iya. Dia mau jadi vokalis.” Lorry mengalihkan pandangannya ke arah lain dan menghembuskan napas kasar. “Lo—“ Kriiiing! Bunyi bel tanda pelajaran akan dimulai berbunyi. Lorry menatap Raiden dan tanpa berkata apa pun ia kembali tempat duduknya dengan wajah gusar. Namun, Raiden tahu itu masih akan bersambung nanti. *** Jam istirahat akhirnya tiba. Raiden belum sempat memasukkan buku-bukunya ke dalam tas, namun Lorry sudah berada di depannya. “Lo jangan kemana-mana. Gue belum selesai!” ujar Lorry lalu berbalik keluar kelas tanpa menghiraukan balasan Raiden padanya. Ia kembali ke toilet karena merasa tak nyaman dengan m*nstruasinya. Saat berada dalam bilik toilet, ia mendengar suara gadis yang dikenalnya, Ria yang terkenal heboh di SMP. “Eh, lo tahu si Melly?” tanya Ria yang berada di depan wastafel bersama temannya. “Melly Ara Diani?” “Ho’oh. Dia masuk jadi anggota band, lho!” “Wih, keren! Suaranya Melly bagus banget, udah pas sih dia milih masuk band! Dia kapan cerita sama lo?” “Kemarin.” “Wah, anggota band diam-diam gercep juga ya, ngerekrut anggota baru.” “Udah lama, mah. Yuk keluar.” Lorry terdiam di bilik. Perekrutan anggota band sudah selesai? Lalu kenapa Raiden bilang Melly meneleponnya karena ingin menjadi vokalis? Dilihat dari waktu mereka menelpon, itu kemarin dulu. “Dia ... bohong?” Lorry mengerutkan keningnya. Ia lalu memperbaiki roknya dan keluar dari toilet. Dengan langkah lebar, ia menuju kelasnya. Raiden harus menjelaskan semuanya padanya hari ini juga. Namun, saat sampai di kelas, ia berhenti di depan pintu dan mengepalkan erat tangannya. Raiden terlihat membuka bekal makanan dan Melly duduk di sampingnya. Teman sekelasnya yang melihat Lorry di depan pintu langsung memberi kode pada Raiden. “Lorry datang, Rai!” Perhatian Raiden dari bekal langsung teralihkan. Pemuda itu mendongak dan menatap Lorry yang berjalan mendekatinya. Ia tersenyum kecil lalu berdiri. “Lor, gue bisa jelas—“ Prang! Raiden mematung ketika bekal dari ayahnya kini terhambur di lantai kelas. “LORRY!”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN