Bab 19: Hari Sabtu

1385 Kata
Lorry menyandarkan kepalanya ke atas meja, menutup matanya dengan tangannya dan mencoba untuk tidur walaupun rasanya tidak nyaman karena dalam posisi duduk. Kali ini, ia terlalu kepagian berada di sekolah. Kelasnya bahkan masih kosong saat ia tiba di sana. Mata gadis itu tertutup namun pikirannya kini tengah berputar-putar mencari ide baru untuk naskahnya yang sedikit lagi tamat. Dulu ia tak sepayah ini mencari ide. Tinggal bersemedi di dalam kamarnya, gelap-gelapan di dalam sana dengan suasana sunyi lalu menenangkan pikirannya, Lorry sudah bisa mendapatkan ilham untuk kelanjutan ceritanya. Pengaruh dari Melly sangat berdampak di hidupnya. Pikirannya kacau balau walaupun ia terlihat baik-baik saja dari luar. Kini, ia tak terlalu peduli lagi dengan apa yang terjadi pada Raiden, naskahnya harus ditulis buru-buru —mungkin saja ada beberapa bagian yang feel-nya tidak terasa— bahkan untuk ke sekolah pun rasanya tidak bersemangat, padahal sebelumnya ia paling suka berada di sekolah. Tempat yang ramai, banyak teman dan paling penting, Rai selalu ada di dekatnya. Ia mengingat-ingat lagi saat bertemu dengan Melly untuk pertama kalinya sejak mereka lulus SMP. Waktu itu, dia bahkan tak pernah berpikiran sedang bertemu dengan orang yang memegang kunci rahasianya dan berusaha mengendalikannya dengan bukti yang dipegangnya. Lorry menghela napas dengan pelan. Menutup matanya justru membuat pikirannya makin aktif. Telinganya menangkap beberapa suara langkah kaki yang berderap memasuki kelasnya. Teman-temannya pasti sudah berdatangan. Ia mengalihkan wajahnya ke dinding, tak peduli siapa pun yang datang. “Tumben cepet datang, Lor.” Suara Sarah terdengar dari sampingnya. “Hm, kebetulan aja,” jawab Lorry asal. Tak ada suara apa pun lagi selain langkah kaki yang terdengar memasuki kelas. Hanya saja, kali ini Lorry merasa aneh, seolah ada seseorang yang mengawasinya. Ia mengernyit ketika Sarah menoel pundaknya dari belakangnya. “Apa, sih, Sar—argh!” Lorry berbalik, namun menjerit kaget begitu sadar yang ada di belakangnya bukan Sarah melainkan Raiden yang ikut-ikutan menyandarkan kepalanya di meja. Lorry langsung duduk tegak dan mengalihkan pandangannya ke arah lain. Selain kaget, ia merasa malu karena wajah mereka tadi sangat dekat. “Kaget tahu!” Lorry memukul lengan pemuda itu dengan wajah salah tingkah. “Ya maaf. Lo, sih, masih pagi udah molor aja.” “Dari pada telat ke sekolah,” balas Lorry tak mau kalah. “Iya, deh, iya!” Raiden terkekeh kecil dan mengacak lembut puncak kepala pacarnya itu. “Naskah lo gimana? Baik-baik aja, ‘kan?” Lorry mengangguk. “Um, baik-baik aja. Akhir-akhir ini idenya ngalir lancar lagi,” jawabnya dengan senyum tipis. Ya, lebih baik menjawab seperti itu dari pada Raiden makin curiga ada yang aneh darinya. “Oh iya, kita belum pernah jalan bareng lagi, ya. Hari Sabtu lo ada waktu?” “Hari Sabtu?” Lorry berpikir sejenak. “Nggak ada. Paling di rumah. Kenapa?” “Mau jalan-jalan?” tawar Raiden dengan wajah semringah. “Ke mana?” “Lho, lo kok jadi pelupa gini, sih? ‘Kan, dulu kita udah janjian, mau jalan-jalan nggak usah diatur mau ke mana. Ke mana aja yang penting menyenangkan buat kita, ‘kan?” Lorry menggigit lidahnya dengan sengaja. “Gue bukannya lupa, tapi ....” “Tapi apa, hm?” Lorry menatap mata Raiden yang berbinar-binar lalu menghembuskan napas kasar. Ekspresi pemuda itu seolah meminta dia untuk bercerita. “Lo tahu, ‘kan, tanpa sadar makin kita dewasa, makin banyak yang kita pikirkan, sepele apa pun masalahnya. Itu terjadi sama gue sekarang. Bahkan saat kehilangan ide nulis cerita pun, itu kadang buat gue merasa stress.” Dan masalah gue sekarang bukan masalah yang sepele, Rai, itu yang buat gue makin kepikiran, ngerasa trauma dan stress sampai lupa dengan hal-hal yang telah kita buat bersama. Lorry sangat ingin meneruskan itu keluar mulutnya, namun ia tak bisa. Ia takut Raiden akan takut dan menjauh darinya. Lorry tak bisa bayangkan ketika dirinya tanpa pemuda itu. “Ya, gue juga tahu itu. Tapi, kalau lo bijak memilih mana yang harus lo pikir dalam-dalam dan mana yang harus lo biarin gitu aja, semuanya akan baik-baik aja, Lor. Itu tergantung pada diri lo sendiri. Banyak-banyak bersyukur juga bahkan untuk hal sekecil apa pun,” ucap Raiden menatap gadis itu lembut. “Jadi, hari Sabtu nanti ayo jalan-jalan ke mana pun yang lo mau. Gue akan bawa lo sampai lo puas.” Lorry tersenyum kecil dan mengangguk pelan. Dia ingin masalah masa lalu ini masuk dalam hal yang seharusnya ia biarkan saja, tapi Lorry tidak bisa. Jika ia membiarkan itu, tinggal menunggu waktu saja sampai bomnya meledak. Namun, jika ia hanya diam dan memikirkannya saja, ia tak tahu kapan ini akan berakhir. Lorry juga takut pada resikonya jika ia berani menantang Melly, juga tak mau melepaskan Raiden sebagai syarat bukti itu aman. Lorry benar-benar ada dalam dilema besar. *** Pesan grup: OSIS IPTEK Ria: Pengumuman! Untuk anggota IPTEK silakan merapat ke laboratorium komputer sekarang juga. Melly bergegas keluar dari kelasnya setelah membaca grup itu. Beberapa saat sebelum pelantikan, Ria memang sudah bilang padanya akan melatih anggota baru untuk mengelola laman siswa mulai dari website, i********:, f*******: dan lain-lain. Mungkin hari inilah waktunya. Ketika ia sampai di sana, beberapa anggota lainnya sudah tiba. Ria yang tengah duduk di depan komputer langsung menyapa Melly begitu gadis itu muncul. “Oi! Sini!” panggil Ria bersemangat. Melly segera mendekatinya. “Kenapa?” “Selain OSIS, lo masuk organisasi apa lagi?” “Gue gabung band.” Ria bertepuk tangan dengan heboh. “Good, good, Mel. Itu pilihan yang sempurna. Sekolah ini memang butuh suara emas lo itu!” “Jangan berlebihan, ah!” ucap Melly tersenyum malu. “Gue nggak berlebihan, ini kenyataan, Mel. Terus, terus, lo bakal nyanyi pas studi banding nanti?” Melly diam sejenak. Bu Rina menyuruh mereka untuk merahasiakan personel band yang akan berpartisipasi dalam studi banding nanti, katanya karena ini untuk pertama kalinya ada duet antar vokalis cowok dan cewek. Gadis itu akhirnya menggeleng. “Mungkin belum, deh.” “Yah, masih Raiden dong berarti,” ujar Ria cemberut. “Memangnya kenapa? Suara Raiden juga bagus, kok,” bela Melly. “Ini bukan masalah bagus nggaknya suara Rai, tapi gue lebih antusias kalau lo naik jadi vokalis. Pasti cowoknya SMA Bangsa langsung kecantol sama lo, tuh.” Melly terkekeh pelan dan menggelengkan kepalanya. “Lo bisa aja, deh.” Ria mengibas-ngibaskan rambutnya ke belakang dan memperhatikan anggota lainnya yang makin banyak. “Udah lengkap semua? Siapa yang belum datang?” “Udah datang semua, Kak,” jawab salah satu dari mereka. “Oke!” Ria bergegas menyambungkan komputer yang selalu di pakainya dengan LCD proyektor menggunakan kabel power lalu berbalik pada anggota IPTEK. “Nah, perlu diperhatiin kalian juga harusnya bisa menguasai cara memakai proyektor. Setelah disambungkan, tekan tombol power ....” Ria menjelaskan dengan rinci bagaimana menyalakan proyektor itu dari awal sampai akhir. Ia bersandar ke belakang kursi ketika proyektor telah berhasil memproyeksikan gambar ke layar putih besar yang ada di sudut ruangan itu. “Udah ngerti caranya?” “Ngerti, Kak!” “Oke, lanjut.” Ria beralih pada PC-nya. “Tetap perhatikan layar proyektornya, ya.” “Iya, Kak “Nah, jadi selama jadi anggota IPTEK kalian akan sama-sama bertugas menjalan laman siswa dan media sosial khusus SMA Nusa. Jadi, acara atau kegiatan maupun pengumuman yang ada di sekolah harus dibagikan ke sini juga. Kecuali untuk yang bersifat rahasia, jangan sebarkan ke media sosial, cukup di website saja, oke?” “Oke, Kak!” “Nah, sekarang gue mau bagi kelompok. Ada yang bertugas kelola website laman siswa, i********:, f*******:. Melly, lo bisa di bagian website?” tanya Ria langsung. Melly mengangguk setuju. “Gue bisa.” “Oke.” Ria lalu membagi anggota lainnya, bergabung dengan Melly di bagian website dan yang lainnya untuk mengelola i********: dan f*******:. Setelah itu, khusus untuk anggota bagian website, ia mengajarkan bagaimana langkah-langkah untuk menambahkan informasi ke sana. “Nanti masing-masing dari kalian akan diberi password sesuai bagian kalian. Yang bagian website akan diberikan password website, untuk anggota i********: dan f*******: juga begitu.” Anggota lainnya mengangguk paham. “Oke, pekerjaan pertama!” Ria bertepuk tangan sekali lalu menunjuk Melly. “Gue baru aja dapat pamflet untuk pengukuhan KIR dari ketuanya. Coba upload ke website sesuai yang tadi gue ajarin.” “Oke.” Melly mengambil alih tempat duduk Ria dan menatap layar PC dengan antusias. Ia membaca pamflet pengukuhan KIR dan melihat nama Lorry sebagai sekretaris KIR di sana.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN