Bab 18: Calling

1564 Kata
Raiden buru-buru memarkir motornya di garasi ketika melihat mobil ayahnya juga terparkir di sana. Dengan sigap, ia melepas helmnya dan berlari-lari kecil masuk dalam rumah. Langkahnya terhenti ketika sampai di depan pintu, menatap ayahnya yang tengah memeriksa sesuatu di ruang tamu. “Pa, Rai pulang,” sapa pemuda itu melangkah menghampiri ayahnya. Ia mencoba mempertajam penglihatannya pada sebuah buku besar yang diamati ayahnya. Matanya membola begitu menyadari buku apa itu. “Itukan rapor Rai, Pa! Papa mau apain?” tanyanya gugup. Bagaimana tidak gugup, isi rapornya tak ada yang bisa dibanggakan. Nilainya bahkan sama rata dengan nilai KKM. Ayahnya tak langsung menjawab. Pria dengan mata yang terlihat lelah itu menghela napas panjang dan menatap putra satu-satunya dengan intens. “Duduk, Rai ....” Raiden menelan ludah gugup. Dengan langkah pelan, ia duduk di sofa yang berhadapan dengan ayahnya. Meja kaca sebagai penengah mereka tak bisa menutupi rasa waspada Raiden. “Rai,” panggil ayahnya lalu menghela napas, “kamu ngapain aja selama di sekolah?” Raiden menautkan jari-jarinya dan meremasnya, melampiaskan perasaannya saat ini. “Belajar, nge-band, tidur, makan—“ “Papa ini lagi nanya serius, Rai! Apa yang bisa dibanggakan dengan nilai seperti ini, hah? Kamu tidak akan bisa ikut SNMPTN! Bahkan nilaimu saat ini lebih rendah dari nilaimu tahun lalu. Kamu sering bolos sekolah, ya?” “Nggak, Pa!” elak Raiden. “Terus, kamu ngapain aja di sekolah, hah? Kebanyakan nge-band? Papa rasa tidak. Guru kamu pasti membatasi kegiatan ekstrakurikuler di jam pelajaran, bukan?” Raiden mengambil napas dalam-dalam. “Pa, Rai tahu Rai salah. Seharusnya Rai lebih rajin belajar. Tapi, jika mendapatkan nilai tinggi di sekolah memangnya untuk apa? Rai merasa nggak punya seseorang untuk bangga pada nilai Rai. Dan seingat Rai, Papa baru kali ini ngebuka raporku. Apa Rai harus punya nilai jelek dulu baru Papa peduli?” tanyanya dengan nada lirih. “Pokoknya, usahakan tingkatkan nilai kamu di semester-semester berikutnya. Papa akan periksa lagi!” balas Anda berusaha menyembunyikan kecanggungannya. Pria itu lalu pergi ke kamarnya. Raiden mengacak-acak rambutnya, melepas semua kegugupannya. Ia berdiri, naik ke lantai dua menuju kamarnya dan senyum-senyum sendiri. Aneh, ia justru merasa terharu ketika diomeli ayahnya. Ini adalah hal yang langka. Agak berlebihan jika Raiden berpikir seharusnya ia merekam pembicaraan mereka tadi agar bisa mendengarnya di lain waktu. Sekarang ia sadar, perasaan gugup yang tadi sempat muncul, bukan didorong oleh rasa takut ayahnya akan marah melihat nilainya. Namun perasaan gugup itu muncul karena ia tidak terbiasa dalam situasi itu. Ia merasa situasi yang terjadi tadi adalah hal yang baru dan terjadi tiba-tiba. Sama seperti saat ia tampil pertama kali sebagai anggota band, rasanya gugup namun menyenangkan. Seperti itulah keadaan hatinya sekarang. Lamunan bahagia Raiden berakhir ketika merasakan ponselnya berbunyi dari kantung celananya. Ia mengambilnya dari sana dan melihat kontak Lorry tertera di panggilannya. “Halo, Lor?” “Halo, Rai, latihannya gimana?” “Udah selesai. Ini baru aja sampai di rumah,” ujar Raiden melihat jam dinding di kamarnya. Sudah pukul setengah 6 sore. “Latihannya lama juga, ya. Yang nge-band masih tetap kalian berempat? Anak kelas sepuluh belum ada yang direkrut?” Raiden diam sejenak. Ia belum bilang Melly bergabung dengan band dan malah akan duet dengannya nanti. Ia khawatir Lorry cemburu dan nantinya malah menimbulkan masalah baru lagi. Lebih baik menyembunyikan ini untuk sementara. Lagi pula mereka latihan setelah semua siswa lainnya pulang, jadi tidak akan ada yang tahu selain anggota band. “Rai? Kok, diam.” “Ah, sorry. Udah ada anak kelas sepuluh yang ikut, tapi main musik.” “Vokalisnya tetap lo?” “Ada kelas sepuluh juga.” “Gimana, gimana? Jadi, maksudnya vokalisnya dua, gitu? Duet?” “Y-ya, semacam itu, duet.” “Sama siapa?” “Anak kelas 10, dong. Masa si Rian.” Suara gelak tawa Lorry terdengar. “Terus yang lo temenin duet itu cowok apa cewek?” “Cowok,” jawab Raiden menggigit bibir dalamnya. Satu kebohongan, pasti akan membuatnya harus mengatakan kebohongan lainnya. “Oh iya, deh.” Raiden tiba-tiba teringat tentang ayahnya yang mengomelinya tadi. “Oh iya, Lor ....” “Hm, apa?” Suara Raiden yang sudah hampir keluar ia tarik kembali. Ia teringat saat Lorry bercerita mengenai orang tuanya dan justru meminta maaf karena keadaan mereka yang sama. Jika ia mencerita hal ini pada Lorry, cewek itu pasti iri padanya dan jadi sedih. Raiden menatap langit-langit kamarnya dan menghembuskan napas dengan perlahan. “Nggak jadi, gue tiba-tiba lupa.” “Ih, gimana, sih, lo? Bikin penasaran! Coba ingat-ingat lagi!” “Nggak penting, kok. Lo udah makan?” tanya Raiden mengalihkan topik “Belum, ini masih sore. Nanti aja.” “Oke, jangan lupa makan, ya. Jangan begadang, nulis secukupnya aja, masih ada hari besok, kok. Kalau ngerasa ada yang sakit langsung minum obat.” “Lo ngomong gitu kayak kita jarang ketemu aja, ih,” ujar Lorry terkekeh geli. “Iya, tapi akhir-akhir ini, ‘kan, kita cuma ketemu di kelas doang. Gue sibuk latihan.” “Ya, nggak apa-apa. Abis study banding, ‘kan, kita punya banyak waktu lagi buat ketemuan.” “Hm, oke deh. Kalau gitu, udahan dulu, ya, telponnya. Gue mau mandi dulu.” “Oke, see you, Rai.” “See you, Lor.” Raiden memutuskan panggilan dan menatap layar ponselnya lama hingga meredup dan akhirnya mati. Dia merasa kejadian tentang ayahnya yang mengomelinya harus ia bagi pada seseorang, tapi pada siapa? Seketika Raiden mengingat Melly yang berkata akan bersedia jadi pendengar yang baik untuk Raiden saat butuh bercerita dengan seseorang. Tangannya tanpa sadar mencari nama Melly di kontaknya. Namun, sebelum menekan ikon calling, Raiden menggeleng pelan. “Menelepon dia, berarti secara nggak langsung gue ngasih harapan untuk dia, ‘kan?” Raiden berjalan bolak-balik di kamarnya. Niat awalnya ingin mandi kini terlupakan. Layar ponselnya masih tetap memperlihatkan kontak Melly. Ia berhenti melangkah, menatap kontak Melly lagi. Sekali saja ... tidak apa-apa, ‘kan? *** Melly baru saja selesai mandi ketika ponselnya yang ada di atas tempat tidur berbunyi. Ia mengambil ponselnya sembari menyisir rambutnya yang masih basah. Matanya membulat begitu melihat kontak Raiden memanggilnya. “Di-dia nggak salah sambung, ‘kan?!” Gadis itu menutup mulutnya menahan teriakannya yang ingin keluar. Melly mengipasi wajahnya yang menghangat lalu duduk di bibir tempat tidurnya. Ia mengangkat panggilan dari pemuda idamannya itu dengan hati-hati. “Halo, Rai?” “Oh, halo, Mel.” Melly menggigit bibirnya. “Kenapa, Rai?” “Sebelumnya, lo pernah bilang, ‘kan, kalau gue butuh pendengar yang baik, gue bisa hubungin lo.” “Hm, boleh banget, kok! Lo mau cerita apa? Gue bakal denger!” Melly dengan semangat naik ke tempat tidurnya dan duduk bersandar di sana dengan bantal di atas pahanya. “Tapi, ini bukan berarti gue ngasih harapan buat lo, ya.” “Ish, nggak usah bilang gitu! Hancurin perasaan gue aja!” “Ya, biar lo nyadar lo cuma sebatas pendengar yang baik buat gue.” “Iya, iya, udah cerita aja!” Melly memutar bola matanya jengah. “Hari ini bokap gue tiba-tiba pulang ke rumah. Bokap ngecek rapor gue dan marah-marah karena nilai gue jelek.” “Terus?” “Gue gugup pas denger bokap gue marah, tapi anehnya gue justru seneng denger beliau marah-marah begitu, gue langsung ngerasa ... wah, ternyata bokap gue masih peduli sama gue. Apa gue sengaja b**o aja biar beliau marah lagi sama gue?” “Nggak boleh, dong, Rai! Karena sekarang beliau marah, lo harusnya buat beliau bangga di semester selanjutnya! Tunjukin kalau beliau peduli sama lo, lo bisa berkembang dengan baik.” “Gitu, ya?” “Iya, Rai. Gue rasa, sikap bokap lo sekarang itu pengen akrab lagi sama lo, pengen deket lagi sama lo. So, lakuin yang terbaik, jadi anak yang baik di mata bokap lo, biar dia ngerasa kalau beliau peduli sama lo, itu berdampak positif sama lo.” Melly bingung sejenak ketika mendengar Raiden justru terkekeh. “Lo kenapa ketawa? Ada yang lucu?” “Hm, ada. Dulu lo bilang cuma bisa jadi pendengar yang baik, sekarang udah bisa ngasih solusi juga, ya?” “Ya, karena sekarang gue merasa udah paham betul dengan perasaan bokap lo, jadi gue bilang gitu. Gimana? Udah cerita semua atau masih ada yang mau diceritain?” “Udah nggak ada lagi, sih— Iya, Pa?” Melly mengeraskan volume suara ponselnya ketika mendengar suara berat lain dari ujung telepon. Itu pasti ayah Raiden. “Kamu belum mandi?” “I-iya, Pa.” “Mandi dulu. Papa udah masak, nanti turun makan ke bawah, gih.” “Hah? I-iya, Pa.” “Kenapa?” tanya Melly antusias. “Bokap gue ngajak makan malam. Ini pertama kalinya. Lo bener, bokap gue mungkin udah mau buka hatinya dan berusaha akrab dengan gue.” “Bagus! Jadi, gue orang pertama yang tahu ini berarti?” “Hm, iya lo yang pertama tahu hal ini.” Melly mengacungkan tinjunya ke udara. Dia orang pertama yang tahu, bukan Lorry. Pencapaian yang bagus! “Kalau gitu, udahan dulu, ya. Gue mau mandi.” “Hm, oke. Thanks udah mau cerita ke gue.” “Urwell, Mel.” Panggilan telepon mereka berakhir. Melly menjauhkan ponselnya dari telinganya dan menatap nama Raiden di daftar log panggilannya. Salah satu sudut bibirnya naik ke atas, membentuk senyum miring. “Kalau gue kasih tahu ini ke Lorry, kira-kira reaksinya apa, ya? Cowoknya yang datang ke gue, ini pasti bakal meledak besar,” ujarnya mendesis.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN