Bab 17: Band Rajawali

1827 Kata
Berbagai keluhan dari mulut para siswa SMA Nusa terdengar di lapangan basket. Kegiatan upacara dan langsung dilanjutkan dengan pelantikan anggota OSIS baru membuat mereka tertahan lebih lama di bawah sinar matahari pagi yang mulai menyengat. Pemilihan ketua OSIS telah dilaksanakan hari Jumat yang lalu dan kini langsung dilantik oleh kepala sekolah. Sesekali perhatian siswa-siswi teralihkan ketika ada yang tumbang dan dilarikan ke UKS oleh anggota PMR yang siap sedia di pinggir lapangan. Lorry mengipasi lehernya dan menyingkirkan anak-anak rambutnya yang melengket di sana karena basah. Gara-gara terlambat bangun lagi, ia terburu-buru ke sekolah dan lupa mengikat rambutnya. Alhasil, gadis itu ke sekolah dengan rambut panjang sepinggang yang terurai kusut dan belum disisir. Lorry menoleh ketika seseorang menoel bahunya. Sebuah tangan terulur ke depan wajahnya. Ia tersenyum kecil ketika melihat di telapak tangan itu ada sebuah karet. Dengan senyum tertahan, Lorry mengambilnya dan segera mengikat rambutnya. “Lo nggak kepanasan? Kenapa rambutnya diurai, sih?” tegur Raiden yang memberinya karet gelang tadi. Selama upacara, ia berdiri paling belakang dan hanya bisa menatap Lorry dari belakang. Gemas melihat rambut gadis itu terurai, ia diam-diam keluar barisan setelah upacara selesai dan menghampiri anggota PMR, mencari karet gelang di sana. “Lupa, tadi buru-buru ke sekolah soalnya,” jawab Lorry. “Sini gue bantu rapiin.” Raiden beralih ke belakang gadis itu dan menyisir rambutnya yang kusut, tak peduli siulan-siulan dari teman sekelasnya yang geli melihat keduanya mengumbar hal yang terlihat uwu di mata mereka. Keduanya akhirnya berdiri bersisian di dalam barisan setelah Raiden membujuk Sarah agar mundur ke belakang. Mereka lalu fokus menatap ke depan, di mana anggota inti OSIS maju untuk serah terima jabatan dengan anggota OSIS yang baru. Satu per satu anggota OSIS inti baru naik ketika nama mereka dipanggil. Lorry tersenyum kecil ketika Kiara dengan jabatan Sekretaris OSIS yang baru naik ke depan. Sebelumnya, Kiara mencalonkan diri untuk menjadi ketua OSIS, namun ia kalah suara dengan calon lainnya dan akhirnya terpilih menjadi sekretaris OSIS sekarang. Serah terima jabatan akhirnya selesai. Anggota lama OSIS akhirnya kembali ke barisan kelas masing-masing. Acara pelantikan belum selesai sampai di situ. Seluruh anggota OSIS, termasuk ketua seksi-seksi beserta anggotanya dipanggil naik satu per satu. Senyum Lorry perlahan memudar ketika mendengar nama Melly Ara Diani dipanggil sebagai salah satu anggota Seksi IPTEK. Ia menggigit bibir dalamnya saat melihat gadis itu maju ke depan, bergabung dalam barisan untuk dilantik. “Lo kenapa?” tanya Raiden. Bingung melihat perubahan ekspresi Lorry yang berubah cepat. “Nggak apa-apa, cuma kepanasan doang,” dalih Lorry. “Mau gue kipasin?” tawar Raiden lalu mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajah gadis itu. “Ih, nggak usah, Rai!” tahan Lorry menahan senyum geli. Sementara itu, dari barisan kelas 10 IPS 2, Alfa berjinjit dengan mata tertuju pada barisan kelas 11 IPA 3. “Waw,” ucap gadis itu tanpa suara lalu menoel Lisa yang berada di barisan kelas 10 IPS 1, tepat di sebelahnya. “Kenapa, sih?” tanya Lisa dengan nada sedikit jengkel karena kepanasan. “Tuh, lihat ke sana,” tunjuk Alfa dengan hati-hati ke barisan kelas 11. “Apa?” tanya Lisa mulai kepo dan melihat ke arah yang ditunjuk temannya itu. “Kak Lorry, kelas 11 IPA 3,” bisik Alfa. Lisa lalu curi-curi pandang ke arah Lorry. “Kenapa?” “Perhatiin mukanya. Dia gitu sejak nama Melly dipanggil ke atas,” ujar Alfa lalu bergidik ngeri, “haish! Kalau ini karena Kak Rai, Melly sekarang dalam bahaya!” Lisa diam sejenak lalu menghembuskan napas kasar. “Biarin aja, itu masalah mereka. Lo mau ikut-ikutan kena bahaya, ya, kalau bahas itu terus?” *** “Guys, mau ke kantin?” Alfa masuk dengan langkah riang ke dalam kelas 10 IPS 1 tepat setelah bel tanda istirahat berbunyi. Gadis itu berhenti di meja Lisa dan Melly. “Hm, ayo,” ujar Lisa setuju sembari merapikan buku-bukunya dan memasukkan semuanya ke dalam tas. “Ayo, gue juga ikut,” susul Melly tersenyum tipis Ketiganya berdiri hendak keluar keluar kelas, namun berhenti ketika pengumuman dari broadcast sekolah terdengar. “Pengumuman, bagi siswa yang mendaftar untuk bergabung dengan band agar segera ke ruang seni. Sekali lagi, untuk ....” Melly tersenyum mendengar pengumuman itu. “Guys, kayaknya gue nggak jadi ke kantin. Nitip aja, ya?” “Lho, kenapa?” tanya Lisa lalu terdiam sejenak. “Lo daftar buat gabung band?!” tanyanya kemudian dengan heboh. Melly mengangguk. “Kok, bisa?” tanya Alfa juga terkejut. “Ya, bisa, dong! Gue pastiin, gue yang bakal jadi vokalis selanjutnya di band itu.” Lisa menggaruk lehernya yang tak gatal. “Iya, lo emang cocok, sih, jadi vokalis. Secara di SMP lo mulu yang menang kalau lomba nyanyi solo.” “Tapi, lo yakin cuma itu alasan lo mau gabung band? Bukan karena Kak Rai?” pancing Alfa. “Rai alasan utama gue, suara emas gue cuma bonus,” jawab Melly blak-blakkan. “Lo seniat itu buat dapatin Kak Rai?” tanya Lisa tak habis pikir. Melly menatap keduanya lalu mengambil ponselnya, memperlihatkan kontak Raiden di sana. “Kok, bisa?” Alfa lagi-lagi syok. “Ya, bisa, dong!” Melly tersenyum senang lalu melenggang keluar kelas, meninggalkan dua temannya itu yang terlihat speechless. *** Semua tes untuk bergabung dengan band akhirnya selesai dilakukan. Beruntungnya Melly karena yang mendaftar untuk vokalis hanya dia, sementara peserta lainnya mengambil musik dan itu kebanyakan laki-laki. Hanya ada tiga perempuan dari kelas lain selain Melly yang ikut seleksi itu untuk gitar dan piano. Kini mereka duduk melantai di dalam ruang seni, menunggu pemberitahuan dari Bu Rina yang saat ini pergi ke kantor sebentar. Mereka berhadapan dengan anggota band yang sesekali memberi mereka pertanyaan seputar band. Rio dan Agus yang paling bersemangat mengajukan pertanyaan sekaligus menunjukkan senioritasnya. “Alasan kalian masuk band ini apa?” tanya Agus “Ingin mengasah kemampuan saya dalam memainkan musik serta belajar percaya diri, Kak.” “Belajar percaya diri?” “Iya, saat tampil untuk nge-band, ‘kan, butuh kepercayaan diri. Saya mau meningkatkan kepercayaan diri saya di sini.” “Jawaban yang bagus,” celetuk Rian yang sibuk dengan gitarnya. “Tadi nama lo siapa? Gue lupa,” tunjuk Rio pada salah satu gadis yang rambutnya dikepang layaknya Elsa dalam Frozen. “Lila, Kak.” “Oh, Lila, ya. Nggak sekalian belakangnya ditambahin huruf C?” “Jadi, Lilac dong, Kak?” “Iya, itu warna favorit gue. Tapi, kalau kamu gadis favorit gue,” gombal Rio mengedip-ngedipkan matanya. “Dih, jijik gue,” sembur Raiden langsung. “Nggak mutu banget pertanyaan lo!” Agus ikut-ikutan. “Jangan mudah terlena sama gombalannya, Lila. Dia itu buaya.” “Lo yang buaya!” balas Rio langsung. “Orang jomblo gini lo katain buaya! Lihat diri lo sendiri, mantan udah nggak kehitung. Orang lain koleksi barang antik, lo koleksi mantan!” Para peserta yang melihat mereka menahan tawa. Melly menatap Raiden yang duduk di depannya dan tersenyum kecil ketika pemuda itu terkekeh mendengar adu bacot teman-temannya. Namun, saat tatapan mereka bertemu, Raiden lantas membuang muka, melihat ke arah lain. Melihat itu, Melly mencibir tanpa suara. “Halo semuanya!” Perhatian orang-orang di ruang seni itu teralihkan pada Bu Rina yang baru saja memasuki ruang seni dengan sebuah buku di tangannya. “Iya, Bu!” “Baik, pertama-tama saya mau berterima kasih untuk para siswa yang sudah bersedia diseleksi untuk bergabung dengan band ini. Kalian semua adalah anak-anak yang berbakat dan ibu sangat bersyukur kalian mau menuangkan bakat kalian ke dalam band ini. Namun, sayang sekali ibu hanya bisa memilih beberapa dari kalian.” Bu Rina lalu membuka bukunya, hendak membacakan nama-nama yang lolos untuk bergabung dengan band secara resmi. “Melly, terpilih sebagai vokalis. Hardi untuk drum. Lila sebagai pemain piano dan Gara sebagai pemain gitar bas. Nah, itu dia posisi kalian di band ini. Untuk yang lainnya jangan berkecil hati, kalian bisa saja tiba-tiba dipanggil untuk bergabung jika diperlukan.” Peserta yang namanya tak disebut mengangguk paham dan akhirnya dipersilahkan keluar dari ruangan. “Oke, untuk yang baru terpilih, kalian sudah siap latihan?” “Latihan apa, Bu?” tanya Hardi mengangkat tangannya. “Sebentar lagi, ‘kan, studi banding dengan SMA Nusa akan dilaksanakan di sekolah kita. Kalian wajib tampil, lho.” “Wah, dua minggu lagi acaranya akan tiba. Jadi, waktu latihan kita lumayan singkat, ya, Bu?” tanya Lila Bu Rina mengangguk. “Ya, sebenarnya ini juga sudah ibu percepat seleksinya agar kalian punya banyak waktu untuk berlatih. Ah iya, untuk Raiden, Rian, Rio dan Agus, ini bukan berarti kalian udah nggak main band lagi, ya,” ucap wanita itu menatap keempat siswanya. “Hah?” Rio melongo bingung. “’Kan, kalau udah ada anggota baru, mereka yang akan tampil seterusnya, Bu?” “Kali ini ibu mau buat perubahan. Selama kalian masih kelas 11, kalian tetap anggota band. Jadi, sebelum kalian naik kelas 12, kalian akan terus dampingi junior kalian walaupun sudah jarang tampil. Dan untuk studi banding ini, ibu mau Raiden dan Melly menjadi vokalisnya.” Kalimat terakhir Bu Rina membuat semuanya melotot. “Duet maksudnya, Bu?” tanya Melly Bu Rina mengangguk. “Iya, kalian duet, khusus penampilan untuk study banding nanti. Bisa, ya?” Melly mengangguk semangat. “Bisa, Bu!” “Raiden? Bisa?” tanya Bu Rina beralih pada Raiden. Raiden berpikir sejenak namun pada akhirnya tetap mengangguk. “Bisa, Bu.” “Oke, sudah beres berarti, ya. Latihannya bisa mulai hari ini atau besok. Untuk lagu, bisa kalian sendiri yang pilih, tapi mars sekolah wajib jadi salah satu dari lagu-lagu yang akan kalian tampilkan. Oh iya, untuk pemain musik lama, tolong bimbing adik-adik kalian yang bagian musik. Ini awal mereka untuk tampil jadi persiapkan sematang mungkin.” “Siap, Bu!” “Oke. Sampai di sini dulu. Saya sesekali akan memantau latihan kalian. Terima kasih atas waktunya, saya permisi,” pamit Bu Rina lalu keluar kelas. “Nah, latihannya udah bisa mulai hari ini?” tanya Rio. Raiden berdiri lalu meregangkan otot-ototnya. “Besok aja, deh.” “Baik, Kak,” jawab junior mereka bersamaan lalu pamit keluar satu per satu terkecuali Melly. “Rai, boleh ngomong sebentar?” tanya Melly. Gadis itu menahan pergelangan tangan Raiden yang hendak keluar dari ruang seni. “Sorry, gue harus balik ke kelas, ada tugas yang belum gue kerjain,” tolak Raiden melepas tangannya dan melenggang keluar. Rian menyusulnya tanpa mengeluarkan sepatah kata pun dari mulutnya. Kini, tinggal Melly, Agus dan Rio yang ada di dalam ruangan itu. “Dih, godain kok cowok orang. Nih, Agus lebih baik untuk lo godain. Selain jomblo, dia juga udah suka sama lo,” ujar Rio mengejeknya. Melly menatap dua pemuda itu dengan sinis. “Iya, Mel, lo sama gue aja. Pawangnya Raiden serem, lho,” tambah Agus seperti menakut-nakuti anak kecil. Melly tak mau lagi berurusan dengan Agus setelah pembicaraan mereka beberapa waktu lalu yang membuat waktunya terbuang sia-sia —walaupun sebenarnya secara tidak langsung, Agus menyelematkan dirinya dari kecerobohan yang ingin dibuatnya. “You guys are really stupid!” ucapnya muak lalu pergi dari ruang seni.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN