Raiden mengedarkan pandangannya ke sekelilingnya namun tak ada tanda-tanda keberadaan Lorry. Sekolah sudah sangat sepi, bahkan siswa yang mengikuti kegiatan ekstrakurikuler pun juga sudah pada pulang. Pemuda itu berjalan menjauh dari parkiran mencoba mencari Lorry.
“Dia nggak mungkin pulang, ‘kan?” gumam Raiden bertanya-tanya lalu mengecek room chat-nya. Tidak ada pesan apa pun yang masuk dari Lorry.
Raiden lantas berbalik ketika seseorang menyentuh pundaknya. Ia bernapas lega tatkala melihat Lorry ada di balik punggungnya.
“Lo dari mana?” tanyanya berbalik menghadap gadis itu.
“Dari toilet, kebelet pipis,” jawab Lorry tersenyum tipis.
Raiden terdiam sesaat ketika melihat anak-anak rambut Lorry basah. “Abis cuci muka juga, ya?”
“Hah? Oh i-iya, gue juga abis cuci muka,” jawab Lorry meraba wajahnya. Gadis itu mengalihkan pandangannya ke arah lain dan meneguk ludah gugup.
“Gue lama banget, ya, sampai lo ngantuk nungguin gue?”
“Nggak, kok,” elak Lorry begitu melihat wajah bersalah Raiden. “Beneran nggak, kok. Ayo pulang,” ajak Lorry mengalihkan pikiran pemuda itu dan menariknya menuju parkiran.
Raiden tak bertanya apa pun lagi. Pemuda itu menyalakan mesin motornya setelah memakaikan helm untuk Lorry lalu keduanya beranjak meninggalkan sekolah.
“Lo nggak mau singgah dulu?” tanya Raiden setengah berteriak agar Lorry mendengarkan suaranya.
“Singgah di mana?”
Dari balik helmnya, Raiden mengerutkan keningnya. Singgah yang dimaksudnya adalah singgah di kedai ice cream. Saat kelas sepuluh, mereka singgah di sana hampir tiap hari. Seharusnya Lorry sudah mengerti saat ia menanyakan itu.
“Di kedai ice cream,” jawab Raiden akhirnya.
Lorry terdiam cukup lama sampai akhirnya bersuara lagi. “Kapan-kapan aja, ya. Gue lagi sibuk nulis naskah. Jadwal gue banyak yang bolong pas masa-masa ospek.”
“Oh, oke, kalau gitu.” Raiden mengangguk mengerti. Ia mengerti setelah mendengarkan alasannya, namun tetap saja ia merasakan ada yang janggal dari sikap Lorry akhir-akhir ini.
Setelah menghabiskan waktu lima belas menit di perjalanan, mereka akhirnya sampai di rumah Lorry. Lorry turun dari motor dan membuka helmnya, menyerahkan benda itu pada Raiden.
“Makasih, ya.”
“Sama-sama. Lo sendirian di rumah?”
Lorry mengangguk pelan. “Hati-hati pulangnya,” ujarnya berbalik hendak mmebuka gerbang.
Raiden tak langsung pulang. Ia turun dari motornya dan menarik pergelangan tangan Lorry hingga gadis itu berbalik padanya.
“Kenapa?” tanya Lorry bingung.
“Selain kangen sama ortu lo, lo nggak ada masalah lain lagi?” tanya Raiden menatap pacarnya itu dengan tatapan dalam.
Lorry menggigit bibir dalamnya. Ia membalas tatapan yang seolah memohon padanya agar berbagi cerita mengenai masalahnya.
Gue mau cerita sama lo, Rai. Pengen banget, batin Lorry nyeri. Namun, masalahnya sekarang bukan hal yang sepele, ini menyangkut nyawa seseorang yang telah tiada. Jika ia menceritakan itu pada Raiden, apakah Raiden tetap mau berada di sisinya? Apakah Raiden tetap mau mengakuinya sebagai kekasihnya? Apakah Raiden masih tetap akan mempercayainya? Lorry tidak yakin. Karena itu ia tidak bisa membagi masalahnya pada siapa pun saat ini.
“Hei, kok diam?” tanya Raiden lembut. Ia menyentuh dagu gadis itu agar menatapnya.
Lorry mengambil napas panjang dan berusaha tersenyum. “Nggak apa-apa, gue beneran nggak apa-apa, Rai. Cuma lagi ada masalah soal naskah gue sekarang, itu aja, kok,” ucapnya penuh kebohongan.
Raiden menurunkan tangannya dari wajah Lorry dan menghela napas. Ia beralih menepuk lembut kepala gadis itu. “Nggak perlu berusaha terlalu keras untuk nyelesaiin cepet-cepet naskah lo. Kesehatan lo tetap yang utama, oke?”
Lorry mengangguk pelan, mengetatkan rahangnya, berusaha sebisa mungkin untuk menahan matanya agar tak berkaca-kaca di depan Raiden.
***
Suara ketika di keyboard laptop memecah kesunyian malam di dalam kamar gelap Lorry. Jam setengah satu, gadis itu masih duduk di depan laptopnya dengan kacamata bertengger manis di hidungnya yang mancung. Tangannya masih cekatan menulis huruf demi huruf membentuk kumpulan kalimat yang menjadi satu bab. Walaupun sudah duduk hampir tiga jam di sana, Lorry tetap bertahan demi mengejar target.
Selain itu, kesempatan ini tak boleh ia lewatkan. Di awal-awal semester biasanya belum terlalu banyak tugas, ia bisa menghabiskan waktunya di rumah untuk menulis naskahnya.
“Huft.” Lorry bersandar ke belakang ketika berhasil menyelesaikan bab kelima untuk malam ini. Ia merenggangkan otot lehernya sejenak dan bunyi kretek langsung terdengar hingga beberapa kali. Sejenak, ia memejamkan matanya yang terasa kering. Ketika meneguk ludah, tenggorokannya terasa sakit.
Ia mengambil botol airnya di sudut meja, namun kosong. Mata Lorry beralih pada jam. Sudah setengah satu. Rasanya sangat malas untuk turun ke bawah untuk mengambil air.
Namun, rasa malasnya kalah oleh haus yang tiba-tiba mendera. Ia keluar dari kamarnya setelah mematikan laptopnya dan turun ke lantai satu yang gelap. Dengan hati-hati, kaki Lorry menapaki anak tangga karena gelap.
Gadis itu berhenti melangkah turun ketika merasakan hawa dingin tiba-tiba menyapa punggungnya. Bulu kuduknya juga otomatis naik. Lorry mengerutkan keningnya ketika merasakan kegelisahan. Tangannya memegang erat botol kosong dalam genggamannya.
Tuk ... tuk ... tuk ...
Suara yang terdengar seperti ketukan sol sepatu di lantai tangga terdengar tepat di belakang Lorry. Ia terpaku, seolah tak bisa melangkah dari tempatnya berdiri ssekarang.
Itu ... tidak mungkin ayah atau ibunya, ‘kan? Mereka tidak ada di rumah.
Ini juga bukan sekedar khayalan Lorry. Suara sepatu itu bahkan masih terdengar jelas di telinganya.
Dengan perlahan, Lorry membalikkan tubuhnya. Ia menunduk dalam dan menutup mulutnya ketika mengenali sepatu itu.
“Viona?”
Lorry mendongak, walaupun dalam kegelapan ia tahu pasti itu adalah Viona berkat rambut tebak bergelombang gadis itu.
“Lo udah nggak ada! Tolong jangan muncul di depan gue!” Lorry berteriak histeris dan menutup rapat matanya. Gadis itu terisak pelan, ingin lari namun kakinya seolah tak bisa melangkah ke mana pun, seolah ada perekat di bawah telapak sandalnya.
“Kenapa ....” Suara serak Viona terdengar di telinganya. “Kenapa lo ngelakuin itu?”
“Arghhh! Lo nggak nyata! Pergi! Jangan ganggu hidup gue! Please, Viona, pergiiii!”
Lorry berteriak keras lalu tak terdengar apa pun. Hening seperti awal. Lorry perlahan membuka matanya yang sudah basah dan melihat ke depannya dengan hati-hati.
Tidak ada apa pun.
Lorry memejamkan matanya dan berusaha bernapas dengan normal. Ia berbalik hendak turun namun sosok Viona tiba-tiba muncul menghadangnya dan menarik kerah piyamanya.
“Ayo, ikut gue!”
“ARGHHH!”
***
Bugh!
“Awww!” Lorry menjerit kesakitan dan langsung meraba punggungnya yang terasa sakit setelah mencium lantai kamarnya dengan keras.
Ia bangun, melihat sekelilingnya dengan mata sayu. Sinar matahari pagi menyeruak masuk melalui celah-celah ventilasi membuatnya tersadar hari sudah pagi. Lorry menghela napas lega ketika mengetahui semuanya hanyalah mimpi. Sosok Viona yang tiba-tiba muncul di depannya dan menariknya jatuh dari tangga hanyalah mimpi belaka. Ia bersyukur untuk kenyataan bahwa ia hanya jatuh dari tempat tidur.
Lorry memperbaiki posisinya, duduk di lantai dan bersandar di tempat tidur. Matanya menatap lurus pada tirai jendela yang terlihat terang karena pantulan matahari. Ia tahu, mimpi itu muncul karena pikirannya selalu terisi tentang Viona akhir-akhir. Padahal ia juga membuat cerita genre horor dan gore tapi tak pernah sampai terbawa ke mimpi.
“Ah, iya!” Lorry berdiri dan berjalan kemeja belajarnya, segera membuka laptopnya dan mengecek file ceritanya. Ia bernapas lega ketika menyelesaikan lima bab dalam semalam itu benar-benar nyata terjadi.
Drrrt ....
Ponsel Lorry yang ada di tempat tidur bergetar lama. Ia mengambilnya dan melihat kontak ibunya di layar panggilan telepon. Tangannya menggeser ikon hijau ke atas untuk menerima panggilan ibunya.
“Halo, pagi, Sayang! Udah bangun?” sapa ibunya dari seberang telepon.
Tanpa sadar, Lorry mengangguk pelan. “Iya, udah bangun, kok, Ma.”
“Kamu baik-baik aja, ‘kan?”
Lorry menggigit bibirnya. “Um, iya. Lorry baik-baik aja.”
“Mama dan Papa belum bisa pulang minggu ini. Kamu ... nggak apa-apa, ‘kan, Sayang?”
“Iya, Ma. Lorry nggak apa-apa, kok.”
“Maaf, ya, Sayang. Mama akan telepon kamu sering-sering. Udah dulu, ya, kamu harus siap-siap ke sekolah. Bye, Sayang.”
“Iya, Ma. Bye.” Lorry segera mengakhiri panggilannya dan menundukkan kepalanya, menangis dalam diam.
Lorry benar-benar merasa frustrasi, bahkan pada ibunya sendiri pun ia tak bisa berbagi masalah.