“Gue anter pulang, ya?” ajak Raiden.
Lorry yang tengah memasukkan buku dan alat menulisnya mendongak. “Oke, ayo,” ujarnya seraya berdiri dan mencangklong tasnya di punggung.
Keduanya berjalan beriringan keluar kelas menuju parkiran, namun saat melewati kelas Rio dan Agus, dua pemuda itu keluar dari kelas dan menahan Raiden yang lewat.
“Rai, kita disuruh pembina ke ruang seni,” ucap Agus.
“Kayaknya perekrutan anggota band, deh,” tambah Rio.
Raiden menatap Lorry sejenak. “Rian mana?”
“Udah duluan kayaknya, jam terakhirnya free class, njir,” umpat Agus cemburu.
Raiden menghela napas. Padahal ia lebih dulu mengajak Lorry pulang. Rasanya salah kalau menyuruh gadis itu pulang sendirian. “Lo mau pulang sendirian atau gimana, Lor?” tanyanya menyuruh Lorry memilih sendiri.
“Gue tungguin aja, ya,” jawab Lorry dengan senyum tipis. Sejak naik kelas sebelas, mereka jarang pulang bersama, kecuali saat ia sakit dulu. Sekarang ia tak ingin melewatkan kesempatan ini.
Raiden mengangguk. “Tungguin di parkiran aja, ya. Gue usahain ini cuma sebentar, kok,” ucapnya hangat.
“Dih, nggak usah bucin di depan makhluk jomblo,” sindir Rio.
Lorry menatap pemuda itu dengan datar. Tanpa mengatakan apa pun, ia melenggang pergi menuju parkiran.
“Serem amat,” gumam Agus.
“Udah, udah, ayo ke ruang seni,” ajak Raiden pada dua temannya itu.
Ketiganya beranjak menuju ruang. Di sana sudah ada Rian yang duduk di sudut ruangan dengan gitarnya. Ruangan itu terlihat sepi dan hanya ada pemuda itu di sana. Ketiganya masuk dan duduk di dekat Rian yang langsung mengerutkan kening, risih.
“Bisa jauh-jauh?” ucapnya jengkel.
“Sensitif banget, sih. Iya, iya, ini gue geser!” Agus menggeser tubuhnya duduk agak jauh dari temannya itu.
“Bu Rina mana?” tanya Raiden.
“Barusan keluar.”
“Kemana?”
“Tau,” jawab Rian pendek.
Raiden menghela napas panjang. Sesingkat-singkatnya balasan chat dari Lorry sewaktu mereka masih PDKT, lebih singkat lagi jawaban dari Rian. Cowok itu pendiam, irit kata, tak bisa dideteksi isi hati dan pikirannya apa. Namun terkadang, orang seperti Rian-lah yang kadang tahu segalanya dan menyimpannya sendiri.
Mereka akhirnya ngobrol-ngobrol sejenak tentang hal yang random, tentu saja yang menyumbang banyak suara adalah Agus, sisanya menimpali atau bahkan menambah informasi dari cerita mereka sementara Rian hanya menjadi pendengar yang sesekali mengeluarkan suara ketika ditanya.
“Oh, kalian sudah datang semua?” Bu Rina selaku pembina seni akhirnya muncul. Wanita berumur 30-an itu masuk dan duduk di kursinya, menatap empat pemuda itu secara bergantian. “Bagaimana? Kalian udah ngerekrut anggota baru untuk band?”
Keempatnya saling pandang. “Belum, Bu. ‘Kan, kita nunggu arahan dari Ibu,” jawab Raiden.
“Iya, tapi belum ada kalian dengar-dengar tertarik untuk gabung?”
Agus langsung mengangkat tangan. “Ada, Bu! Sewaktu kita habis tampil di MOS ada yang tertarik untuk gabung sebagai vokalis.”
“Beneran?”
“Iya, Bu. Cewek, cantik lagi.” Agus mengedipkan sebelah matanya.
“Ck, dia serius, tidak, sih?” tanya Bu Rina pada yang lainnya.
Rio mengangguk. “Benar, Bu.”
Bu Rina terdiam sejenak lalu mengangguk-angguk. “Baik. Jadi, baru satu, ya. Kalau begitu, rekrut lagi yang lainnya, baik itu untuk pemain musik dan vokalis karena kita masih perlu tes kemampuan mereka untuk gabung band.”
“Ngerekrutnya gimana, ya, Bu?” tanya Agus lagi.
“Ya, otakmu diputar, dong! Sekarang, ‘kan, ada yang namanya grup chat w******p atau telegram, sekalian umumin di laman siswa atau papan pengumuman,” jawab Bu Rina dengan nada sedikit tinggi.
“Baik, Bu, nanti akan saya umumkan di laman siswa kalau begitu,” ucap Raiden. “Oh iya, Bu, untuk tes seleksinya kapan?”
“Kalau bisa hari Kamis sudah di seleksi semua. Kita kejar waktu untuk studi banding dengan SMA Nusa. Band kalian nanti akan tampil dan yang tampil bukan cuma kalian tapi saya mau kelas 10 juga sudah bisa tampil. Rencananya nanti vokalisnya akan ada dua dan kemungkinan untuk musiknya, akan ditambahkan. Umumkan saja di laman siswa, syarat untuk gabung band itu bisa memainkan minimal satu alat musik dan untuk vokalis tentunya bersuara merdu dan punya pengalaman mengikuti kontes menyanyi,” jelas Bu Rina dengan rinci.
Keempatnya langsung mengangguk paham.
“Sudah mengerti, ‘kan?”
“Iya Bu, sudah.”
“Baik, kalau begitu, saya duluan, ya. Kalian juga sudah bisa pulang. Terima kasih atas waktunya, Anak-anak,” ujar Bu Rina lalu berdiri.
“Iya, Bu, sama-sama.”
Setelah Bu Rina keluar dari ruang seni. Raiden langsung menyenggol Agus. “Yang lo maksud mau jadi vokalis itu Melly?”
Agus mengangguk. “Lah iya! Siapa lagi kalau bukan dia?”
“Cewek yang juga minta nomor ponsel lo di kantin itu, ‘kan? Tapi nggak jadi karena ada Lorry,” tanya Rio.
Raiden mengiyakan dengan ogah-ogahan.
“Wah, dilihat dari niatnya, sih, dia kayaknya emang ngincar lo, Rai. Lo nggak takut nanti itu bakalan berimbas sama hubungan lo dengan Lorry?”
“Gue nggak tahu. Tapi, nggak ada alasan untuk kita tolak dia gabung band,” jawab Raiden memijit keningnya.
“Kali aja suaranya nggak bagus gitu, langsung keluarin aja!” seru Rio ngengas.
“Nggak akan.” Suara cewek itu membuat keempatnya kaget. Kiara yang sedari tadi berdiri di depan ruang seni akhirnya memperlihatkan diri. “Suara Melly emang bagus. Dia selalu juara satu nyanyi solo kalau Porseni di SMP.”
“Lo ngapain di sini?” tanya Raiden masih kaget.
Kiara mengedikkan bahu. “Kebetulan lagi lewat terus dengar nama Melly disebut. Yaudah gue nguping bentar. Udah, ya, gue duluan pulang. Bye!” pamit gadis itu sambil lalu.
“Dih, ngagetin aja pake acara muncul tiba-tiba,” ujar Agus menggeleng-geleng pelan. “Oke, nggak usah dipikirin lagi. Biarin aja si Melly gabung band,” ujar pemuda itu semangat.
“Lo suka Melly, ‘kan?” tanya Rian tiba-tiba.
Agus langsung mengiyakan.
“Hah?” Raiden dan Rio yang mendengarnya melongo tak percaya.
***
Lorry memandangi pintu masuk utama sekolah dari taman. Belum ada tanda-tanda kemunculan Raiden. Ia menghela napas pelan berusaha bersabar lagi. Namun beberapa saat kemudian, samar-samar ia melihat seseorang berjalan keluar dari pintu utama. Ia segera berdiri dari duduknya, mengira itu adalah Raiden. Namun, saat sosok itu makin terlihat jelas, Lorry baru sadar itu adalah seorang gadis.
Ia lantas membuang muka ke arah lain ketika gadis itu ternyata adalah Melly. Tanpa sadar mengumpat dalam hati ketika merasakan gadis itu berjalan menghampirinya.
“Lo lagi menghindar dari gue?” Benar saja, Melly datang menghampirinya dan segera melontarkan kalimat bernada sarkas itu.
“Buat apa memangnya?” balas Lorry menyembunyikan kegelisahannya.
“Raut pengecut dari wajah lo nggak bisa berbohong, Lor. Lo begini karena Viona, ‘kan?”
“Nggak usah sebut namanya di depan gue!” tegas Lorry. Gadis itu menelan ludah dengan susah payah. Dalam hati ia berusaha menguatkan dirinya agar tak ambruk di depan gadis itu.
Melly mengedik acuh. “Ya, sorry. Gue lupa topik tentang Vio— ups!” Ia menutup mulutnya dengan gaya dibuat-buat. “Gue lupa topik tentang cewek itu bikin lo jadi sensitif,” ralatnya.
“Mau lo apa sebenarnya?” tanya Lorry to the point.
Senyum Melly merekah. Ini pertanyaan yang ia mau keluar dari mulut Lorry. Jika semudah ini, ia tak perlu melakukan plan B, bukan?
“Gue suka sama Raiden,” ujar gadis itu melipat tangannya di depan d**a.
“Gue paling benci denger kalimat itu dari cewek manapun,” balas Lorry. Kilat cemburu terlihat jelas di matanya.
“Oh, ya? Tapi, gue nggak seperti cewek lainnya yang bisa lo takut-takutin semudah itu. Gue beda, Lor,” desis Melly tersenyum miring, “karena gue pegang bukti rahasia yang lo sembunyiin itu,” ujarnya setengah berbisik lalu mengeluarkan ponselnya dari dalam tas, memperlihatkan sesuatu pada Lorry yang langsung syok.
“Lo gila!?” teriak gadis itu histeris.
“Shut! Jangan keras-keras teriaknya, nanti ada yang denger, lho.” Melly memasang telunjuknya di depan bibirnya dan mengedip-ngedipkan sebelah matanya, mempermainkan gadis di depannya yang gelisah.
“Lo ....” Mata Lorry mulai berkaca-kaca. Ia merasakan kekosongan yang menyiksa setelah melihat bukti yang diberi Melly. Kalau bukti itu bocor, akan seperti apa hidupnya nanti?
“Ya, gue gila. Tapi lebih gila lo yang nyembunyiin fakta kematian Viona sampai sekarang!”
Lorry membalikkan tubuhnya ke arah lain dan meraup oksigen banyak-banyak ketika merasakan sesak kembali menyerangnya.
“Putusin Raiden dan hidup lo akan aman. Hanya itu syarat gue buat lo. Mudah, ‘kan?”
Lorry menggeleng. “Gue nggak bisa. Minta apa pun itu ... apa pun, selain putusin Raiden.”
“Lo nggak takut semua orang akan tahu yang sebenarnya terjadi waktu itu apa?” ancam Melly.
Lorry terdiam, berusaha untuk menenangkan dirinya sendiri untuk berpikir jernih. Namun, sebelum ia berhasil melakukan itu, Melly maju selangkah lebih dekat padanya, menepuk pundaknya dengan keras.
“Gue kasih lo waktu buat putusin Raiden,” ujarnya lalu berbalik pergi, meninggalkan Lorry yang langsung terduduk lemas ke tanah.