Bab 14: Agus

1206 Kata
Lorry duduk di kursi taman, memandangi kegiatan anak OSIS yang tengah membersihkan aula. Upacara Senin baru saja selesai. Guru yang seharusnya masuk kelasnya di jam pertama tidak hadir karena acara keluarga. Ia akhirnya memutuskan pergi sendiri ke taman yang sepi karena kelas lain tengah belajar. Pikirannya kembali mengingat Kiara yang memberitahu padanya bahwa Melly ikut OSIS. Teman dekatnya itu heran, Melly mau gabung OSIS padahal saat SMP sangat anti dengan yang namanya kegiatan organisasi. Ya, Lorry juga ingin tahu alasan yang sebenarnya mengapa Melly mau ikut-ikutan dengan organisasi yang paling sibuk di sekolah itu. Sejak tahu masa lalunya diketahui Melly, Lorry selalu waspada pada gerak-gerik gadis itu. Ia yakin, gadis itu tak semata-mata ingin masuk ke OSIS, pasti ada alasan khusus yang membuatnya lari ke sana. Lorry menunduk dan memijit pelan kepalanya yang tiba-tiba terasa pusing karena terlalu banyak berpikir. Ketika ia mengangkat kepalanya, sebuah botol minuman dingin diletakkan di sampingnya. “Gue traktir,” ucap Raiden masih berdiri di depan gadis itu. Lorry tersenyum kecil. “Makasih.” “Sama-sama,” balas Raiden lalu duduk di samping gadis itu. “Lo kelihatan lagi banyak pikiran sejak ketemu sama Melly,” ujarnya to the point. Lorry menoleh cepat pada pacarnya itu dan mengangkat alisnya. Diam-diam ia menelan ludah gugup. Sikapnya akhir-akhir ini ternyata sudah terbaca oleh Raiden. “Nggak, kok. Bukan karena dia. Gue ... kangen sama ortu gue, itu aja,” ujarnya membuang muka. Namun, beberapa saat tak mendengar suara Raiden, ia tersadar telah mengucapkan hal yang salah. Ia seharusnya tak mengatakan hal seperti itu di depan orang yang bahkan sangat jarang bertemu orang tuanya dibanding dia. Lagipula, Lorry bohong kalau ia merindukan orang tuanya. Sudah tiga hari ini, mereka ada di rumah, menemaninya untuk sementara setelah insiden ia menangis keras itu. “So-sorry, Rai, gue nggak bermaksud gitu.” Lorry mencicit pelan. “Gue harusnya nggak bilang gitu di depan lo,” sambungnya lirih. Raiden menatap gadis itu dan tersenyum hangat. Tangannya terangkat mengusap kepala Lorry dengan lembut. “Nggak apa-apa, Lor. Gue nggak tersinggung, tapi justru paham gimana perasaan lo. Kalau mau cerita, cerita ke gue, ya? Jangan disimpan sendiri. Gue khawatir banget akhir-akhir ini lo nggak seperti biasanya.” Lorry menunduk dan menggigit bibir dalamnya. Ucapan Raiden itu justru membuatnya makin merasa bersalah. Di lain sisi, timbul perasaan aneh di dalam hati Raiden. Ia seperti laki-laki jahat yang menyuruh gadisnya berbagi cerita dengannya, sementara ia sendiri berbagi cerita dengan gadis lain. Raiden segera menggeleng pelan, mengusir pikiran negatif itu dari kepalanya. Yang dilakukannya sudah benar. Tidak mungkin dia menceritakan masalahnya pada Lorry yang kini juga ada masalah. Raiden yakin, Lorry bukan hanya merindukan orang tuanya. Ada hal lain yang masih disembunyikan gadis itu. Ia hanya pura-pura tak tahu dan berusaha menunggu sampai Lorry menceritakan semuanya. *** Melly memutar bola matanya ketika melihat sosok Raiden dan Lorry tengah berduaan di taman sekolah yang sepi. Niatnya ingin mencuci mata karena free class malah berakhir melihat orang yang disukainya bermesraan dengan sang pacar. Gadis itu tetap berdiri di tempatnya dengan tangan dilipat di depan d**a, memperhatikan dua orang yang ada di taman itu dengan intens. “Boleh nyapa mereka, nggak, sih?” gumamnya mempertimbangkan. “Lorry pasti udah nggak berani macam-macam sama gue, ‘kan?” Melly terkekeh pelan. Ya, gadis itu pasti tak akan berani bertingkah di depannya lagi. Sejak ia membawa-bawa nama Viona, Lorry tidak pernah muncul di depannya atau mungkin berusaha menghindar darinya. Dasar pengecut, batin Melly. Gadis itu akhirnya memutuskan untuk pergi bergabung dengan mereka. Namun, baru beberapa langkah, seseorang entah muncul dari mana berhenti di depannya, menghadang jalannya. “Hayo, mau ke mana lo!” tuding pemuda itu tersenyum aneh. “Ck, siapa, sih, lo? Minggir!” kesal Melly. “Lo nggak ingat gue siapa?” “Nggak!” “Coba ingat-ingat lagi, deh.” Melly memutar bola matanya. “Nggak usah sok dekat lo, kenal aja belum!” “Ya, makanya karena belum kenal, ayo berkenalan. Nama gue Agus, kita udah beberapa kali ketemu tapi sayangnya di tiap kesempatan itu, mata lo hanya tertuju pada pacar orang,” ujar Agus dramatis lalu mengulurkan tangannya. Melly tak membalas uluran tangan itu dan menatap pemuda di depannya dengan risih. “Melly,” balasnya pendek. “Udah, ‘kan? Sekarang, minggir dari hadapan gue.” “Eeeh, belum, dong!” tahan Agus lagi. “Lo mau gabung band, ‘kan?” Mendengar band disebut, membuat Melly agak tertarik. “Iya, kenapa?” “Gabung untuk piano aja! Lo cocok main piano,” bujuk Agus menaik-turunkan alisnya. Melly langsung menolak mentah-mentah. “Gak, gue maunya jadi vokalis. Lagi pula, gue nggak tahu main piano.” “Lah, ada yang namanya belajar!” “Tetap nggak mau! Lo dibilangin kok keras kepala banget, sih?” sewot Melly. “Gue juga tahu alasan lo mau gabung band. Karena Rai, ‘kan?” tebakan Agus benar. “Udah tahu masih nanya!” bentak Melly sudah berada di ambang batas kesabarannya. “Sopan-sopan, ya, sama kakak kelas!” Agus membulatkan matanya, berusaha menakut-nakuti gadis itu. “Hei, faktanya kita ini seumuran, nggak usah sok-sokan di depan gue, deh!” “Ya, ya, ya, gue tahu itu. Tapi, terlepas dari itu, gue cuma mau peringatin lo, jangan main-main sama Lorry, ya,” ujar Agus. Nada suaranya perlahan berubah serius. “Gue nggak main-main, gue serius mau pacarin Raiden,” ujar Melly cuek, memperhatikan kukunya yang bersih. “Ya itu namanya lo udah berani mainin Lorry. Gue udah yakin banget lo pasti udah denger gimana kelakuan Lorry sama cewek lain yang berusaha deketin Raiden. Jangan sampai mental lo jatuh gara-gara dia.” “Nggak semudah itu dia jatohin gue. Gue yang bakal buat mentalnya jatuh sampai nggak mampu bangkit lagi,” desis Melly. Agus menggaruk tengkuknya yang tak gatal, bingung menghadapi sikap gadis yang ditaksirnya itu. Dilihat dari perlakuan Lorry lain dari yang lain saat berhadapan dengan Melly, gadis ini sepertinya serius dengan kata-katanya. Apa dia tahu kelemahan Lorry hingga berani seperti ini? Batin Agus bertanya-tanya. “Udah, ya, gue mau pergi. Lo udah ngabisin waktu gue dengan obrolan yang nggak penting!” ucap Melly berjalan melewati Agus. Namun, lagi-lagi ia ditahan oleh pemuda itu. “Apaan, sih!” kesalnya lalu menarik kasar tangannya yang digenggam pemuda itu. “Lo kalau mau ganggu mereka jangan sekarang, lo nggak perhatiin suasana di sana nggak ada mesra-mesranya? Mereka kelihatan lagi serius.” “Itu bukan urusan lo!” “Ya, itu memang bukan urusan gue. Tapi, gue cuma mau bilang ini, bukan Lorry yang akan lo hadapi nantinya setelah berani ganggu waktu mereka saat ini, lo malah akan buat Raiden ilfeel dengan kelakuan lo itu,” ujar Agus serius. “Oke, gue selesai. Sorry buang waktu lo, gue cuma mau nyelametin lo dari kecerobohan lo sendiri. Bye,” pamit pemuda itu lalu pergi dari sana. Melly terdiam di tempatnya, tak melanjutkan langkahnya ke taman. Ia memikirkan perkataan Agus yang ada benarnya juga. Dia sudah mengambil hati Raiden dengan berjanji bersaing secara baik-baik dengan Lorry dan berhasil mengambil nomor ponsel pemuda itu. Jangan sampai kelakuan cerobohnya itu malah membuatnya makin jauh dari Raiden. Pandangan Melly beralih pada punggung Agus yang makin mengecil ditelan jarak. Ya, setidaknya sosok bernama Agus itu sudah menyelamatkannya dari kecerobohannya sendiri walau pun harus menguras emosi dan waktu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN