Bab 13: Rian

1143 Kata
“Kursi di aula udah siap?” “Masih sementara diatur, Ki.” “Pak Haris udah datang belum? Nanti yang resmiin acaranya beliau, ‘kan?” “Iya, katanya udah datang tapi masih di ruang guru. Ntar dipanggil kalau acara udah mau mulai.” “Oke, oke. Peserta LDK-nya udah pada datang, belom?” “Ada yang belum datang!” “Umumkan di grup biar yang belum datang segera ke sekolah. Harusnya lima belas menit lagi acara pembukaannya udah dimulai, ini banyak yang belum beres. Kita juga masih harus periksa surat izin orang tua mereka.” “Oke, Kiara, gue cek dulu, ya!” “Oke, sana!” Kiara bolak-balik melihat semua kelengkapan untuk kegiatan LDK yang diadakan hari Sabtu sampai Minggu itu. Ia lalu mengarah ke aula, mengawasi anggota OSIS yang tengah sibuk menyusun kursi. Matanya mengawasi panggung, lantas mengerutkan keningnya ketika merasa ada yang kurang di sana. “Mic dan speakernya kenapa belum diambil dari ruang seni?” tanyanya pada salah satu gadis yang lewat dengan piring berisi roti dan minuman. “Nggak tahu, tuh, anak cowoknya,” jawab gadis itu lalu berjalan terus, meletakkan piring tadi di meja. “Ck, Kak Tirta mana, sih?” tanyanya gusar. Mic dan speaker yang merupakan komponen penting di acara pembukaan justru belum tersedia di panggung aula. “Belum datang, Ki. Katanya ada halangan di rumahnya,” jawab salah seorang pemuda yang tengah merapikan kursi di dekat Kiara. Kiara lantas berdecak pelan. “Ron, lo ambil mic sama speakernya, gih!” suruhnya lagi pada pemuda bernama Roni itu. “Lah, ini gue masih mau ambil kursi dari gudang bareng lainnya. Coba lo minta tolong sama senior yang duduk di sana, tuh,” tunjuk Roni pada sekumpulan anggota OSIS kelas 12 yang tengah asyik bercengkrama di depan aula. “Dih, ogah! Sia-sia aja nyuruh mereka. Mereka ke sini cuma mau tebar pesona sama peserta LDK,” cibir Kiara. “Yaudah, kalau gitu lo aja yang ambil mic sama speakernya. Udah, ya, gue ke gudang dulu,” ujar Roni sambil lalu dari aula. Kiara memutar bola matanya jengah lalu berjalan keluar aula, melewati kumpulan seniornya yang asyik cerita dengan gaya sok keren, seolah semua pekerjaan telah beres. Kakinya melangkah menuju ruang seni, di mana mic dan speaker biasanya di simpan. Sampai di sana, ia langsung mengambil dua benda itu dan menyeretnya keluar. "Ini kesannya kayak gue yang ketua padahal cuma wakil,” gumam Kiara kesal. “Kak Tirta, awas lo. Pintar banget ngeles buat menghindari pekerjaan. Gue tahu lo ngincar posisi OSIS karena mau ikutan seleksi jalur OSIS untuk penerimaan mahasiswa baru,” sambungnya lagi. "Sini." Kiara terkejut ketika seseorang yang entah tiba-tiba muncul dari mana datang dan mengambil alih mic dan speaker dari tangannya. Ia mendongak dan membulatkan matanya ketika mengenal orang itu. "Rian? Lo ngapain di sini? Sejak kapan? “....” "Oi, gue nanya!" "Dari ruang musik. Barusan." "Terus lo , kok, bisa ada di sini?” tanyanya lagi. Matanya beralih pada mic dan speaker di tangan Rian. “Sini biar gue yang bawa." "Gapapa." "Gue nggak mau ngerepotin lo." Rian berhenti dan mendengkus kesal. "Nurut aja apa susahnya, sih? Telinga gue gatal denger lo ngomel-ngomel soal Kak Tirta. Kalau nggak ikhlas, nggak usah dikerjain." "Masalahnya, selain gue nggak ada lagi yang mau repot-repot jalan ke ruang musik buat ambil ini!" balas Kiara sewot. "Lo-nya aja yang terlalu rajin!" "Bentar, lo beneran Rian, ‘kan?" “....” "Wah, seriously? Ini pertama kali gue denger lo ngomong panjang!" Kiara mengingat saat mereka MOS. Ia satu kelompok dengan Rian dan sebangku. Saat mengajak pemuda itu ngobrol, Kiara merasa seperti orang gila yang berbicara dengan dinding. Rian tak menanggapi dan melangkah lebar menuju aula. Kiara berusaha menyesuaikan langkah mereka dan tertawa geli. Menggoda Rian yang untuk pertama kalinya berbicara lebih dari lima kata. *** Melly mengecek jam tangannya lalu melihat keadaan di sekitarnya yang lumayan sepi dan langit sore perlahan menggelap. Waktu istirahat masih ada kurang lebih satu jam lagi. Tak ada yang ia kenal dekat di acara LDK ini. Teman dekatnya sejak masuk SMA hanyalah Alfa dan Lisa, itu pun tak terlalu akrab. Tak tahu harus berbuat apa, Melly akhirnya diam-diam berjalan masuk lebih dalam ke sekolah dan berhenti di depan kantor. Di sana ada papan yang menunjukkan denah sekolah. Ia mengambil ponselnya, menyalahkan senter dan mengamati denah itu secara seksama. “Laboratorium komputer,” gumamnya dengan jari menyusuri denah itu. “Dari sini, belok kiri terus, naik ke lantai dua ... Ah, I see,” ujarnya mengangguk pelan ketika sudah menguasai keberadaan laboratorium komputer. Ia menjauhi area kantor lalu melangkahkan kakinya menuju laboratorium, sesuai dengan arah denah tadi. Tak butuh waktu lama, ia akhirnya sampai di sana. Keadaan remang-remang dan sepi tak membuatnya takut. Saat memasuki ruangan itu, barisan komputer berwarna putih menyambutnya. Ruangan besar itu terlihat sunyi namun ia tahu, pasti ada orang di sini karena pintunya terbuka lebar. Benar saja, ketika Melly mencoba masuk lebih dalam, sosok seorang gadis berpakaian seragam olahraga yang duduk membelakanginya tengah serius menggerakkan mouse dengan layar komputer yang memperlihatkan sebuah permainan. “Permisi,” sapa Melly hati-hati. “Ya, siapa?” gadis itu berbalik dan tersenyum lebar ketika mendapati Melly berdiri di belakangnya. “Melly! Hai, lo apa kabar? Ayo, duduk di sini,” ujarnya antusias lalu menepuk kursi kosong di sebelahnya. Melly tersenyum kecil dan duduk di sana. Ria, teman seangkatannya saat SMP namun beda kelas. Mereka hanya sempat akrab saat MOS SMP. “Lo ngapain di sini?” tanya Melly basa-basi. “Yah, sejak gabung OSIS, markas gue emang lebih sering di sini. Seksi IPTEK gitu, lho,” ujar Ria mengedip-ngedipkan sebelah matanya. Melly tertawa geli melihat kelakuan gadis itu yang ternyata masih sama. “By the way, lo ikut LDK, ‘kan?” “Iya.” “Wah, gue kadang belum percaya, bisa-bisanya lo sekarang malah jadi adek kelas gue,” ujar Ria menggelengkan kepalanya. “Ya, gitulah,” balas Melly hanya mengedikkan bahunya. “By the way, nanti penempatan anggota baru itu gimana, sih?” tanyanya ingin tahu. “Mungkin seperti tahun lalu. Untuk sekarang, gue bakal naik pangkat jadi ketua seksi IPTEK, nah itu artinya gue yang bakal milih anggota yang gue mau masuk ke seksi IPTEK ini. Tentunya setelah memenuhi syarat gitu, nanti dinilai dari acara LDK ini,” jelas Ria. Melly mengangguk-angguk paham. “Gue boleh gabung seksi IPTEK, gak?” “Lo serius mau gabung di sini?” tanya Ria antusias. “Hm, rencananya nanti lanjut kuliah gue mau ambil jurusan yang berhubungan dengan informatika, setidaknya melalui organisasi OSIS ini gue bisa lebih dalam mempelajari tentang ilmu komputer, lah.” Ria lantas bertepuk tangan. “Daebak! Masih kelas sepuluh aja lo udah mikirin itu. Oke, deh, ntar gue bakal milih lo masuk seksi ini,” ujar gadis itu tersenyum lebar. “Makasih, ya,” ujar Melly tersenyum kecil. Kali ini, jalannya untuk mendapatkan keinginannya sudah terbuka lebar.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN