Bab 12: Hampir Saja

1263 Kata
Lorry membuka matanya perlahan-lahan, menyesuaikan netranya dengan cahaya yang masuk. Ia mengangkat kepalanya dan meregangkannya hingga bunyi ototnya terdengar keras. Lagi-lagi ia tidur dalam keadaan duduk dengan laptop di depannya masih terbuka. Tangannya menekan tombol power laptopnya lalu menyimpan file tulisannya yang belum selesai, memutuskan untuk melanjutkan nanti saja. Matanya beralih ke jam dinding yang sudah menunjukkan pukul setengah tujuh malam. Bunyi seperti kompor yang dimatikan terdengar samar dari bawah. Mendengar itu membuatnya mematung sejenak dan akhirnya menyadari sesuatu. Ia pasti ketiduran tadi sore setelah habis-habisan menulis sejak pulang sekolah. Lampu di kamarnya tidak ia nyalakan dan tirai jendelanya terbuka lebar. Lalu, siapa yang menyalakan lampu kamarnya dan menutup tirai jendelanya? “Nggak mungkinkan?” Lorry bergumam. Ia segera bangkit dari kursinya dan berjalan keluar kamarnya. Aroma masakan kesukaannya yaitu sup ayam dan perkedel langsung memasuki rongga hidungnya begitu ia berada di luar kamar. Dengan segera, ia menuruni tangga menuju lantai satu dan langsung ke dapur. Matanya berkaca-kaca ketika menatap punggung ibunya yang tengah menata makanan di atas meja makan. Dengan langkah pelan, ia menghampiri wanita yang sudah melahirkannya itu dan memeluknya dari belakang. Letha berjengit pelan ketika merasakan lengan mungil melingkari pinggangnya. Ia menoleh ke belakang dan menyunggingkan senyum kecil begitu melihat kepala putrinya yang merapat di punggungnya. Ia melepas tangan Lorry yang melingkar dan berbalik menghadap putrinya itu. “Kamu nangis? Ada apa, Sayang?” tanya Letha dengan nada sedikit terkejut. Ia tahu anaknya selalu keberatan karena ia dan suaminya terlalu sibuk kerja, tapi baru kali ini melihat putrinya itu sampai mengeluarkan air mata saking rindunya. Lorry mengambil napas panjang dan segera menghapus air matanya yang meninggalkan jejak di pipinya. “Nggak apa-apa, Ma.” “Nggak mungkin nggak ada apa-apa, Sayang. Kamu lagi ada masalah? Novel? Sekolah?” tanya Letha beruntun. Lorry terdiam sejenak ketika mengingat kembali pertemuannya dengan Melly. Perkataan gadis itu mengenai Viona kembali dalam bayang-bayang pikirannya. Mengingat itu semua membuatnya kembali merasakan sesak. Lorry ingin berbagi masalahnya dengan sang ibu, mencurahkan semua isi hatinya saat ini, namun ia sadar hal semacam ini tak bisa ia bagikan ke siapa pun, bahkan jika itu ibunya sendiri. Pada akhirnya, yang bisa Lorry lakukan hanya menangis tersedu-sedu di depan ibunya. Hanya itu yang bisa ia lakukan sekarang, melampiaskan semuanya dengan menangis di depan ibunya. Berharap setelah menangis, hatinya terasa lebih lega walaupun itu tak mengubah apa pun. Letha yang melihat keadaan putrinya sekarang, memeluknya dengan erat. Sapuan lembut ia berikan di punggung putrinya. Setidaknya agar putrinya tahu bahwa sesibuk apa pun ibunya, ia masih mempunyai tempat untuk bersandar di saat ada masalah. “Mama tidak tahu apa masalahmu sekarang dan juga nggak akan memaksa kamu untuk cerita sekarang, but believe me, it will pas, Dear.” *** “Mel!” Melly berbalik ketika suara Lisa terdengar memanggil namanya. Ia mengangkat alisnya dengan ekspresi bertanya-tanya ketika Lisa datang menghampirinya dengan berlari-lari kecil. “Ini flashdisk lo. Gue udah print tugasnya semalam,” ujar Lisa menyerahkan flashdisk Melly. “Oh iya, thanks ya. Udah dijilid belom?” tanya Melly seraya memasukkan flashdisk ke dalam tasnya. “Gampang itu mah. Ngumpulnya masih lama, nanti dekat-dekat baru gue jilid, deh.” “Oke. Ayo masuk bareng,” ajak Melly berjalan lebih dulu. “Duluan aja. Gue masih nunggu kakak gue mau bawain sesuatu.” Melly lalu mengangguk acuh. “Oke, duluan ya.” “Sip!” Lisa kembali berjalan keluar gerbang dan berdiri di trotoar, sesekali melirik ujung jalan, mengecek kedatangan kakaknya yang menyusulnya ke sekolah untuk membawakan pakaian olahraganya yang kelupaan. Tak lama kemudian, ponselnya yang berada di kantung jasnya bergetar. Ia mengangkat panggilan dari kakaknya itu. “Lo udah ada di mana? Iya, ini gue udah di pinggir jalan nungguin lo. Ngaco lo! Sekolah adek sendiri nggak tahu. Iya, iya, di perempatan lurus aja terus, gue nungguin di—“ Lisa mengerjap-ngerjapkan matanya ketika merasakan dirinya sudah jatuh tersungkur di trotoar. Suara kakaknya yang memanggilnya tak ia hiraukan. Kejadian yang terjadi sepersekian detik itu membuatnya belum bisa berkata-kata. Suara deru motor yang perlahan mendekatinya, lalu tasnya ditarik seseorang ke belakang hingga membuatnya terseret dan jatuh tersungkur. “Maling s*alan! Masih pagi udah buat dosa aja!” Seruan itu membuat Lisa berbalik, menatap sosok yang berteriak di belakangnya. Beberapa detik kemudian ia baru sadar, orang itu menyelamatkannya dari maling yang berencana mencuri ponselnya. “Lo nggak apa-apa? Sorry, gue narik lo kasar banget, ya?” tanya Lorry khawatir, memeriksa tubuh gadis itu dari atas sampai bawah. “HUAAA!” Lorry melotot kaget ketika Lisa tiba-tiba menangis keras di depannya. Ia menggaruk kepalanya dengan bingung dan melihat kaki dan tangan gadis itu. Tidak ada yang terluka, jadi apa yang membuatnya menangis seperti anak-anak begini? Lorry lalu menyimpulkan, gadis di depannya ini pasti syok karena kejadian itu terlalu tiba-tiba. “Udah, dong, nangisnya,” pintanya ketika siswa-siswi yang lalu lalang di gerbang mulai terpikat dengan mereka. Lorry mengamati gadis itu dan merasa familiar dengan wajahnya. Mulutnya membentuk huruf O ketika ia akhirnya ingat gadis di depannya adalah Lisa, junior yang berani-beraninya memberikan bunga kertas pada Raiden. “Lo takut sama gue?” tanyanya hati-hati. Lisa tak menjawab apa pun dan hanya menangis tersedu-sedu. Lorry menghela napas dan memeriksa sekelilingnya, baru sadar ada beberapa siswa saling berbisik-bisik dan menunjuk-nunjuk padanya. “Wah, pagi-pagi udah bikin nangis anak orang aja. Beneran, dah, si Lorry.” “Itu si Lisa, bukan, sih? Yang katanya ngasih bunga sama Raiden waktu ospek?” “Emang dia, kok.” “Dia nangis gara-gara diomelin Lorry, kali ya?” “Kayaknya, sih, gitu.” “Udah, udah, ayo masuk. Lorry udah ngeliatin kita.” Lorry memutar bola matanya dengan jengah. Orang-orang berspekulasi seenaknya tanpa mengetahui fakta yang sebenarnya. Memangnya tadi tidak ada siapa pun yang melihatnya menolong Lisa, ya? “Lho, lho, lo ngapain nangis di pinggir jalan, b**o?” suara cempreng seorang perempuan terdengar bersamaan dengan suara bunyi motor yang dimatikan. Ketika Lorry berbalik menatapnya, perempuan itu membulatkan matanya. “Eleomey?!” seru wanita itu dengan nada tertahan. Mendengar nama penanya disebut, Lorry yakin wanita di depannya adalah pembaca novelnya. “Iya, Kak,” jawabnya tersenyum kecil. “Ah, maaf, ya, Lisa kadang suka cengeng begitu. Pasti merepotkan, ya?” ujarnya merasa bersalah lalu menyenggol Lisa yang masih terisak-isak. “Lo kenapa, sih?” “Tadi hampir disambar sama motor, Kak. Ponsel juga hampir dicuri,” ucap Lorry. “Hah, kok bisa, sih?” Wanita itu mengerutkan keningnya pada Lisa, menuntut penjelasan. Lisa menarik napas panjang. “Nggak apa-apa, kok, Kak. Untung Kak Lorry cepet narik gue,” ujarnya terbata-bata. “Terus kenapa nangis?” “Cuma syok,” jawab Lisa pendek. “Dih, cengeng banget, dah. Ini pakaian olahraga lo, lain kali jangan kelupaan lagi!” Wanita itu memberi Lisa paper bag berisi pakaian olahraga milik gadis itu lalu beralih pada Lorry. “Makasih, ya, udah selamatin adek saya. Oh iya, by the way, nama saya Alia, saya udah baca semua novel kamu, lho.” “Terima kasih, Kak Alia,” ucap Lorry tersenyum dan menunduk sekilas. Alfa yang baru datang melihat ketiganya. Ketika sadar salah satu dari mereka adalah Lisa, ia segera mendekat. “Lisa?” “Lo temennya?” tanya Lorry. Alfa mengangguk kaku. “I-iya, Kak.” “Bawa ke dalam, gih,” suruhnya. Alfa mengangguk dan menuntun Lisa ke dalam sekolah, meninggalkan Lorry dan Alia yang masih ngobrol sejenak. “Lo kenapa nangis?” tanya Alfa. “Nggak apa-apa.” “Kak Lorry abis apain lo, sih?” “Abis nyelametin gue.” “Lha? Kok, malah nangis.” “Gak tahu, bawaannya pengen nangis aja gitu,” ujar Lisa menarik ingusnya. “Ih, jijik, Lis!”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN