Bab 11: Give You Number

1351 Kata
Melly memandang rumah besar berlantai dua di depannya dengan lama lalu kembali menatap layar ponselnya. Alamat yang diberikan Lisa sudah benar namun entah kenapa dia masih betah berdiri di luar gerbang. Tangannya merogoh isi tas selempang yang tersampir di bahunya dan mengambil sebuah flashdisk biru bertuliskan namanya dengan huruf kecil. Di dalamnya sudah ada file tugas kelompok mereka yang tinggal diprint oleh Lisa karena gadis itu memiliki printer. “Permisi,” ucapnya keras dan tak lama kemudian Lisa muncul dari dalam rumahnya dengan kaos oversize dan celana pendek selutut membuka gerbang untuknya “Ayo masuk, Mel,” ajaknya. “Di sini aja, Lis. Gue mau lanjut lagi ke mall, ada yang mau dibeli,” dustanya. Ia hanya berasalan seperti itu karena tak terbiasa bertamu ke rumah temannya apa lagi sendirian. “Lho, serius nggak mau masuk dulu?” tanya Lisa lagi. Melly menggeleng lalu memberi flashdisk-nya pada gadis itu. “Ini flashdisk-nya. Nama filenya itu Tugas Bindo. Gue udah periksa ulang semuanya, tapi kalau bisa lo periksa lagi, ya, siapa tahu ada yang kurang dan mau lo tambahin.” Lisa menerimanya dan mengangguk-angguk paham. “Oke, deh, Mel. Jadi, lo mau langsung pergi, nih? Padahal gue udah nyiapin cemilan, lho,” ujarnya cemberut. Melly lantas tersenyum canggung. “Maaf, ya. Takutnya nanti kemalaman, gue disuruh cepet pulang sama nyokap gue.” “Yaudah, deh, kalau gitu. Hati-hati di jalan, ya,” ucap Lisa kembali tersenyum kecil. “Oh iya, lo lihat rumah besar yang ada di dekat pertigaan sebelum jalan poros itu? Itu rumahnya Kak Raiden, lho! Gue baru tahu padahal tinggal ndi sini udah dari lahir,” ujar gadis itu antusias. Mata Melly membulat. “Hah iya? Yang paling besar itu?” Lisa mengangguk. Melly tersenyum kecil. “Oke, makasih ya infonya. Gue pergi dulu!”. “Lo naik apa?” “Naik taksi. Jalan kaki sampai di jalan poros gue bisa, kok.” “Yaudah, kalau gitu hati-hati, ya! Makasih udah mau bawain flashdisk-nya!” Lisa melambaikan tangannya. Melly mengangguk lalu berjalan pergi. Ia sesekali menoleh ke belakang, memastikan Lisa sudah masuk ke dalam rumahnya. Setelah gadis itu tak ada lagi, ia berlari-lari kecil tak sabar mendekati pertigaan. Matanya berbinar seketika saat melihat rumah yang paling besar di sekitar sana sudah terlihat. Diam-diam ia melangkahkan kakinya mendekati gerbang rumah itu. Namun, ia langsung bersembunyi ketika melihat Raiden dan seorang pria baruh baya keluar dari dalam rumah. Dengan hati-hati, ia mengintip melalui celah-celah besi gerbang rumah itu. “Papa serius mau pergi lagi? Ini udah malam, lho. Nggak ada orang yang kerja malam-malam begini, Pa!” ujar Rai berusaha menghentikan ayahnya memasukkan koper ke dalam bagasi mobil yang terparkir di depan rumah. “Besok ada meeting pagi-pagi sekali. Papa takut terlambat jadi lebih baik berangkat ini malam,” ujar Anda tetap bersikeras. “Tapi, kenapa harus bawa koper lagi?” “Papa ada rapat di luar kota.” “Alasan! Bilang saja kalau Papa nggak tahan lama-lama di rumah ini!” teriak Raiden dengan mata berkaca-kaca. “Papa udah sediakan persediaan makanan untuk kamu di kulkas,” ujar Anda memejamkan matanya sejenak lalu masuk ke mobil. Ia tak menghiraukan raungan Raiden. Menyalakan klakson satu kali lalu mobilnya melaju keluar dari pekarangan rumah. Melly mematung ketika melihat wajah emosional Raiden untuk pertama kalinya. Pemuda itu terlihat baik-baik saja dan seperti pemuda normal pada umumnya di sekolah, namun ternyata menyimpan masalah ini sendirian. Ia akhirnya memutuskan keluar dari persembunyiannya dan berjalan masuk hingga membuat Raiden kaget dengan kemunculannya yang tiba-tiba. “Lo ngapain di sini?” Melly menelan ludah canggung dan menggaruk tengkuknya. “Abis dari rumah temen ngerjain tugas terus nggak sengaja lihat lo ....” “Jadi, lo nguping?” tuduh Raiden menatapnya risih. “Bu-bukan! Gue kebetulan lewat dan dengerin semuanya. Bahkan orang lain pun bakal tertarik dengerinnya kalau mereka juga lewat di sini!” bela Melly pada dirinya sendiri. Raiden menghela napasnya. “Terus kenapa lo muncul di depan gue? Kenapa nggak lanjut langsung pulang aja? Setidaknya gue nggak tahu kalau ada orang yang nguping pembicaraan gue dengan bokap gue.” “Gue mau minta maaf soal tadi siang,” ujar Melly mengutarakan alasannya agar Raiden luluh padanya. “Gue tahu omongan gue tadi mungkin kasar—“ “Bukan mungkin, tapi memang kasar. Perkataan lo, tuh, bener-bener gila,” potong Raiden meralat. “Oke terserah lo mau nilai gimana. Tapi, gue serius minta maaf. Gue sempat kesal aja sama Lorry setelah dengar cerita-cerita dari teman yang lain tentang kelakuannya sama cewek yang berusaha deketin lo.” “Oke, baguslah kalau lo cepet introspeksi diri,” ujar Raiden tak acuh. “By the way, kayaknya lo juga punya masalah sendiri sama bokap lo,” ujar Melly hati-hati. “Itu bukan urusan lo,” tegas Raiden. “Nggak apa-apa, cerita aja ke gue. Gue pendengar yang baik, kok. Janji, nggak bakal cerita ke siapapun.” Melly menggenggam tangan pemuda itu dan tersenyum meyakinkan. Raiden mengerutkan keningnya melihat tangan gadis itu lalu segera melepaskannya. Ia duduk di undakan tangga depan rumahnya dan Melly mengikutinya, duduk di sampingnya. Pemuda itu terdiam sejenak. Ia memang butuh pendengar yang baik saat ini. Sekarang ia tak bisa berharap banyak pada Lorry karena sepertinya gadis itu juga punya masalah sendiri. Raiden lalu menatap Melly. Mungkin menganggap gadis itu hanya sebatas pendengar saja boleh. “Nyokap gue meninggal waktu gue masih umur tujuh tahun. Nyokap bokap gue jadi korban kecelakaan tabrak lari yang sampai sekarang belum diketahui pelakunya. Dan masalahnya, sampai sekarang bokap gue malah nyalahin dirinya sendiri atas kecelakaan itu.” Raiden menatap jauh ke depan. “Sejak saat itu, bokap gue jadi penggila kerja. Setiap saat yang ia lakukan hanyalah kerja, kerja dan kerja. Berharap itu bakal buat dia lupa akan kesalahannya. Dia juga jarang di rumah karena pasti keingat sama nyokap gue. Bokap gue nggak sadar, dia masih punya anak yang seharusnya ia perhatikan karena kehilangan ibunya sejak kecil. Harusnya bokap gue selalu ada buat gue, bukannya malah buat gue merasa seperti udah nggak punya orang tua lagi.” Raiden mendongak, menahan air matanya yang ingin keluar seraya menatap langit malam yang terlihat terang karena bintang-bintang. Sapuan lembut ia rasakan di punggungnya selama beberapa saat. “Sorry, gue cuma bisa jadi pendengar yang baik, tapi nggak bisa ngasih lo solusi apa pun.” Melly menggigit bibirnya. “Tapi, terlepas dari itu, gue juga pernah ngerasain yang namanya tabrak lari. Untungnya, pelakunya cepat ditangkap.” Raiden menatap gadis itu dengan sorot terkejut. Melly yang melihat ada ketertarikan dari sorot mata itu tersenyum kecil. “Hm, seandainya kalau kecelakaan itu nggak terjadi, seharusnya kita seangkatan. Gara-gara itu, gue terpaksa menganggur setahun.” “Jadi, lo ....” Melly mengangguk. “Gue rasa lo sekarang udah ngerti kenapa gue berani manggil lo tanpa embel-embel Kakak dan pakai kata ganti gue-elo. Kita seumuran, Rai. Yang membedakan hanyalah lo adalah kakak kelas gue.” Raiden masih terdiam, otaknya mungkin sedang berusaha mencerna ucapan Melly. “Sewaktu SMP, gue juga sekelas dengan Lorry,” tambah gadis itu. “Dan sekarang lo berani-beraninya berencana rebut pacar mantan sekelas lo.” Melly terkeekh pelan. “Ya, kedengarannya lucu tapi gue serius suka sama lo,” ujarnya menatap pemuda itu. “Kali ini akan berusaha dapetin lo secara sehat. Gue bakal nungguin sampai waktunya tiba gue layak untuk dapatin lo,” tambahnya lalu mengeluarkan ponselnya dari dalam tas. “Mau minta nomor telepon lagi?” Melly mengangguk. “Jaga-jaga kalau lo butuh pendengar yang baik lagi.” “Nggak perlu. Sekali aja udah cukup. Lagi pula, gue udah punya Lorry yang selalu dengerin gue.” Melly diam-diam memegang erat ponselnya. “Terus, kenapa sekarang lo malah cerita ke gue, bukan sama Lorry?” Raiden membisu sejenak. “Dia lagi ada masalah pribadi.” “Nah, karena itu lo harusnya nyimpan nomor gue buat jaga-jaga. Lorry nggak selamanya bisa dengerin lo cerita. So, can you give me your number?” Raiden menatap gadis itu, mempertimbangkan apakah ia harus memberi nomornya pada gadis itu atau tidak. Namun, menyia-nyiakan kesempatan ini juga rasanya salah. Melly kembali terlihat seperti gadis yang baik di matanya. Pada akhirnya, mulut Raiden terbuka, menyebutkan dua belas digit nomor ponselnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN