Bab 10: OSIS

1227 Kata
Kiara memeriksa sebuah kertas yang berisi profil Melly sebagai calon anggota OSIS dan sesekali mengernyitkan keningnya. Ia menatap Melly yang duduk dengan senyum kecil di hadapannya lalu mengangguk-angguk pelan seraya memperbaiki duduknya. Seleksi anggota OSIS di SMA Nusa memang agak ribet. Setiap calon akan diberi beberapa pertanyaan yang harus diisi termasuk apa alasan ingin bergabung OSIS. Setelah itu, mereka akan dipanggil satu-satu oleh pengurus inti untuk diwawancarai sejenak. “Kayaknya kalau lo, nggak perlu pakai perkenalan lagi,” ujar Kiara pada teman sekelasnya saat SMP itu. Melly mengedikkan bahu. “Terserah dari lo, sih.” “Ah, iya, gue denger dari Lorry, katanya lo pernah kecelakaan?” “Hm, iya. Makanya sekarang gue duduk di depan lo sebagai junior,” balas Melly terkekeh pelan. “Dan gue denger rumor baru-baru ini, katanya lo cewek kesekian kalinya yang ditegur Lorry karena berani deketin pacarnya?” Melly tersenyum tak enak. “Gue rasa ini bukan waktunya bahas itu, Kiara.” Kiara mengangguk setuju lalu menatap kertas di tangannya lagi. “Alasan masuk OSIS, karena ingin menambah pengalaman tentang kepemimpinan?” Ia membaca keras alasan yang ditulis Melly lalu menatap gadis itu dengan sorot bertanya-tanya. “Lo yakin ini murni alasan lo sendiri? Nggak ada alasan lain?” “Pertanyaan semacam itu lo juga tanyain ke calon lainnya?” Melly balik bertanya. Kiara menghela napas panjang. “Enggak sih. Gue ngerasa aneh aja, lo pas SMP malas banget yang namanya ikut kegiatan organisasi. Tapi, sekarang tiba-tiba ingin ikut dan lagi, OSIS itu organisasi yang paling sibuk di sekolah ini.” “Biar gue perjelas lagi alasan gue kalau begitu,” ujarnya tersenyum kecil, “selain nambah pengalaman tentang kepemimpinan, gue juga sadar apa yang ada di OSIS bakalan berguna buat gue di masa depan,” lanjutnya penuh makna. “Mmm, jawaban lo cukup keren.” Kiara mengangguk-angguk samar. “Oke, pulang sekolah nanti lo jangan langsung pulang dulu. Kita bakal kumpul, buat diskusikan mengenai LDK. Oh iya, sekarang lo bisa keluar,” ujarnya. Melly mengangguk lalu berdiri dan berjalan keluar dari ruang sekretariat organisasi. Bibirnya menyunggingkan senyum tipis ketika mengingat percakapannya dengan Alfa dan Lisa beberapa hari yang lalu. *** “Eh, eh, kalian udah tahu, nggak, bulan depan SMA Bangsa bakal datang ke sekolah kita buat studi banding?” seru Alfa heboh seusai melihat sesuatu di ponselnya. “Hah, iya?” Lisa melotot antusias. “Iya! Nih, coba lihat!” Alfa menyodorkan ponselnya ke tengah-tengah meja. Melly ikut melihatnya dengan acuh tak acuh. “Buset! SMA Bangsa, cuy! Katanya anggota tim basket mereka keren-keren, lho! Nggak sabar ngeliat mereka nantinya tanding sama tim basket sekolah kita!” seru Lisa dengan mata berbinar-binar. “Bukan cuma basket aja, tim dari olahraga lain juga keren-keren semua!” tambah Alfa lalu menutup mulutnya, menahan agar pekikannya tak keluar. Sementara itu, Melly justru fokus pada nama website dari layar ponsel Alfa. “Laman yang lagi lo buka itu laman sekolah, ya?” “Lebih tepatnya itu laman khusus untuk siswa. Kalau ada pengumuman penting tentang kegiatan sekolah, organisasi atau jadwal ujian bakal diumumkan di situ. Masa lo belum tahu, ‘kan, udah diumumkan waktu lagi MOS,” ujar Alfa. “Gue nggak terlalu merhatiin,” balas Melly, “terus yang pegang laman siswa, tuh, TU, ya?” Lisa langsung menggeleng. “No, ini dipegang sama anggota OSIS.” “OSIS?” “Yoi, lebih tepatnya dipegang seksi IPTEK. Mereka yang kelola itu di bawah bimbingan guru TIK,” ujar Alfa lebih rinci. Melly terdiam sejenak lalu mengangguk paham. Seketika, sebuah ide terlintas di benaknya, membuatnya bertekad bergabung dengan OSIS saat itu juga. *** Melly tersentak pelan ketika seseorang menepuk bahunya. Ia menoleh dan menatap Lisa yang cengo melihatnya terkejut. “Kenapa?” Lisa mengedip-ngedipkan matanya sejenak. “Anu, ini tadi pas lo pergi Bu Ariani nitip tugas karena nanti jam terakhir nggak bisa masuk, ada halangan katanya. Tugas kelompok untuk dua orang, kumpulnya minggu depan. Lo mau bareng gue?” tawarnya Melly tanpa pikir panjang langsung mengangguk setuju. “Oke,” ujarnya pendek dan berjalan menuju mejanya. Sebelum ia duduk, matanya menatap keluar jendela dan melihat ke bawah. Di taman, ada Lorry yang duduk bersama beberapa siswa lain dengan menggunakan almamater KIR. Mereka terlihat serius, seperti tengah mendiskusikan sesuatu. Melihat itu, Melly segera teringat sesuatu. Ia keluar lagi dari kelas dengan berlari, tak menghiraukan Lisa yang bertanya ia akan ke mana. Gara-gara Lorry, ia gagal mendapatkan nomor ponsel Raiden. Padahal sedikit lagi ia bisa berhubungan dengan pemuda itu. Melihat Lorry tengah sibuk dengan organisasinya, ia mengambil kesempatan itu untuk mendapatkan nomor ponsel Raiden. Kakinya berhenti didepan pintu kelas XI MIPA 3 dan memperhatikan satu per satu siswa di dalam sana. Ia menghela napas panjang ketika melihat tak ada Raiden di sana. Tanpa membuang waktu, ia segera berlari ke ruang musik, tempat pemuda itu biasanya nongkrong. Lorry bisa selesai diskusi dengan rekan-rekan organisasinya kapan saja dan ia harus mendapatkan keinginannya sebelum itu terjadi. Namun lagi-lagi saat sampai di ruang musik, ia justru hanya mendapatkan Rian yang tengah sibuk memetik senar gitarnya. “Rai mana?” “Gak tahu,” jawab cowok itu acuh tanpa menatapnya. Melly menyempatkan diri sejenak untuk mencibir perilaku super cuek pemuda itu lalu berlari ke sebuah tempat yang terlintas di otaknya. Sampai di kantin, ia langsung menghela napas lega. Gadis itu berdiri sejenak di depan pintu kantin, menunggu hingga napasnya normal lalu berjalan mendekati meja Raiden yang paling sudut. Pemuda itu duduk sendirian di sana, tengah sibuk bermain sesuatu di ponselnya. Melly tersenyum kecil melihat wajah Raiden itu dari samping. Ia segera mengeluarkan ponselnya dari kantung jasnya dan menyodorkan itu ke meja. Raiden lantas mendongakkan kepala dan menaikkan sebelah alisnya ketika merasakan deja vu. “Gue nggak bisa,” ujar Raiden to the point. Melly mengernyitkan keningnya. “Kenapa?” “Gue nggak mau buat Lorry cemburu.” Raiden menjawab tanpa mengalihkan pandangannya dari layar ponselnya. “Tapi, dia nggak ada di sini, kok. Dia lagi di taman bareng teman-teman organisasinya. Lagi pula apa untungnya, sih, lo bareng cewek itu? Posesif banget, padahal dia sendiri belum tentu selamanya setia sama lo. Kasih nomor ponsel lo, kapan-kapan kalau lo lagi ada masalah sama dia, lampiaskan ke gue aja. Gue juga bisa nungguin kalian pisah, jadi sebelum itu terjadi, gue pengen kita lebih dalam lagi kenalnya. Biar pas lo udah putus, kita tinggal pacaran aja.” Raiden meletakkan ponselnya di meja dan menatap gadis di sampingnya dengan sorot tajam. Ada apa dengan pemikiran gadis ini? Bagaimana bisa seseorang berpikiran segila itu? Apakah Lorry kelihatan tidak baik-baik saja akhir-akhir ini karena gadis yang sekarang berdiri di sampingnya ini? Kalau iya, Raiden akan langsung percaya. Sikap aneh gadis ini juga membuatnya merinding. Wajahnya terlihat baik namun ucapannya benar-benar seperti hasil gagal saring. “Gimana?” Melly tersenyum kecil melihat Raiden menatapnya lama. “Gue tetap nolak. Gue jujur aja biar lo nggak perlu capek-capek lagi ngejar gue, gue nggak suka dan nggak ada minat sama lo. Dan satu lagi, kalau Lorry yang sekarang ada di posisi gue pun gue juga bakal posesif. Nggak ada orang yang mau pacarnya dideketin sama cewek atau cowok lain,” tegas Raiden lalu berdiri, hendak pergi dari sana. Namun, Melly menahan pergelangan tangan pemuda itu. “Lo benar-benar nggak muak sama cewek itu?” “Gue nggak bisa sia-siain cewek yang benar-benar tulus sama gue hanya karena satu kekurangan,” ujarnya penuh penekanan lalu melepas tangannya dari genggaman Melly.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN