Lorry turun dari taksi dan menatap gedung sekolahnya sejenak dari luar gerbang. Setelah mengambil napas panjang, ia melangkahkan kakinya memasuki area sekolah dan berhenti di pinggir taman, di mana Kiara berdiri di sana dengan ekspresi datar.
“Lo ... bisa-bisanya muncul di sekolah sekarang,” ujar gadis itu memijit singkat pelipisnya.
“Hah, kenapa, sih?” tanya Lorry was-was.
Mendengar respon temannya itu, Kiara melotot lalu menggeleng pasrah. “Kata Rai, lo kemarin pingsan. Kenapa nggak istirahat dulu, sih?”
Jantung Lorry serasa ingin jatuh ke perut saja. Pertanyaan ambigu Kiara sebelumnya membuatnya curiga Melly berbuat macam-macam. Ia mengelus dadanya, berusaha bernapas dengan baik setelah sesaat merasa sesak.
“Nah, nah, lo kenapa lagi sekarang?” tanya Kiara khawatir. Ia menempelkan tangannya pada kepala Lorry namun segera ditepis oleh gadis itu.
“Gue beneran nggak apa-apa. Cuma sakit biasa, akhir-akhir ini sering begadang sampai subuh soalnya,” dalih Lorry lalu memperbaiki letak tali tas di bahunya. “Udah, ya, gue mau ke kelas dulu. Tugas yang harus dikumpulkan hari ini belum gue kerjain. Bye!” ujar Lorry segera melenggang pergi tanpa menunggu respons dari Kiara.
Sejujurnya, Lorry juga menganggap dirinya sendiri tengah sakit. Mentalnya kini terguncang setelah mengetahui Melly memegang rahasia kelamnya. Ia takut, saat semuanya mengetahui itu, tak akan ada lagi yang percaya padanya. Lorry juga ingin beristirahat, mengistirahatkan pikirannya yang kini selalu penuh oleh masa lalu itu. Belum lagi sejak itu, naskahnya terbengkalai sementara target yang ia pasang untuk menyelesaikan tulisannya semakin dekat.
“Aw!”
Terlalu dalam menyelami pikirannya, Lorry tak sadar sudah sampai di kelasnya dan menabrak d**a bidang Raiden yang menghadangnya di depan pintu kelas. Kepalanya mendongak dengan mata menatap ke arah lain ketika sadar ekspresi pacarnya itu sedang tak bersahabat.
“Lo kenapa nggak istirahat dulu sampai benar-benar baikan, sih? Kemarin lo lemes banget sampai nggak sadarkan diri, gimana kalau hari ini terjadi lagi? Tuh, liat muka lo juga masih kelihatan agak pucat,” protes Raiden langsung.
“I’m okay, Rai. Nggak usah berlebihan gitu. Kemarin cuma kecapean doang, mungkin karena sering begadang nulis, itu aja,” ujar Lorry berusaha menggeser Raiden dari depan pintu dan masuk kelas, langsung menuju kursinya.
Raiden mengikuti gadis itu, belum puas menegurnya. “Kemarin sebelum pingsan lo juga bilang begitu, baik-baik aja. Tapi buktinya malah tumbang, mana kayak orang kehabisan oksigen lagi. Yang begitu lo bilang baik-baik aja?”
“Kalau gue di rumah juga ngerasa jenuh, Rai. Maunya istirahat, jatuhnya malah stress nggak tahu mau ngapain ...,” Lorry menghela napas, “pokoknya, gue sekarang udah baikan. Udah jangan tanya-tanya lagi, ya? Gue janji ini nggak akan terulang lagi.”
“Oke, tapi kalau ngerasa capek, istirahat dulu, ya. Satu lagi, jangan terlalu paksain diri buat nulis sampai harus begadang. Pikiran lo juga butuh istirahat, jangan dipakai mikir mulu.”
“Iya, iya, Pak.”
Raiden menghela napas berat. Ia memperhatikan gadis itu yang — entah pura-pura atau tidak— sibuk membuka tasnya, mengambil sebuah buku bersampul hijau dan pulpen dari sana lalu mulai serius membaca tulisan kecil rapi miliknya. Setahu Raiden, itu buku tugas Kimia dan hari ini deadline-nya.
“Lo baru ngerjain tugas itu?”
“Tinggal dua nomor doang, kok.”
“Mau gue bantu kerja?”
“Nggak usah, ih.”
“Biar beban pikiran lo berkurang, deh.”
“Memangnya lo bisa ngerjainnya?”
“Bukan itu, contek punya gue aja,” ujar Raiden mengangkat alisnya.
Lorry memutar bola matanya. “Nyontek dari mana lo?”
“Nggak perlu lo tau. Bentar, ya, gue ambilkan.” Raiden berdiri dari kursi milik Sarah menuju mejanya untuk mengambil buku tugas kimianya.
Lorry terkekeh geli melihat kelakuan pemuda itu. Setidaknya bisa membuatnya terhibur di tengah-tengah masalah yang ia pendam sendiri saat ini. Ketika tak sengaja menoleh ke depan, ia mendapati Sarah duduk di kursi guru. Sarah menghela napas pasrah dan hanya mengangguk pelan ketika pandangannya bertemu dengan Lorry yang meringis.
***
“Lor, mau ikut bareng anggota lainnya ke kelas 10?” tanya Anggita, ketua KIR.
Lorry yang tengah menikmati bola baksonya mendongak. “Mau ngapain?”
“Promosiin organisasi KIR sekalian langsung merekrut anggota yang tertarik gabung.”
“Yaudah, abis ini, ya,” ujar Lorry menatap baksonya.
“Oke, gue tungguin di sekretariat organisasi. Anggota lainnya juga masih pada makan. Ntar, kita kumpul di sana, abis itu bareng-bareng ke kelas 10,” terang Anggita.
Lorry mengangguk pelan. Setelah ketua KIR itu pergi, Raiden baru datang dengan mangkok baksonya yang masih mengepulkan uap.
“Ketua KIR lo, ‘kan?” tanya Raiden.
“Hm, iya.”
“Kenapa?”
“Ngajak rekrut anggota baru dari kelas 10. Band lo sendiri, belum ngerekrut anggota?” tanya Lorry balik.
Raiden menggeleng. “Pembina belum ngasih arahan. Oh iya, ....”
“Hm, kenapa?”
Raiden bisu sejenak. “Nggak jadi, gue tiba-tiba lupa tadi mau bilang apa.”
“Dih, bikin penasaran aja.”
Raiden ingin memberitahu bahwa Melly pernah bilang ingin menjadi vokalis menggantikannya, namun Raiden memilih untuk mendiamkan itu. Keadaan Lorry sekarang kurang baik — walaupun gadis itu selalu bilang dirinya baik-baik saja. Ia tak ingin setelah mengetahuinya, Lorry malah memikirkan hal ini. Terlebih lagi, ia sendiri merasa Melly tidak seperti gadis-gadis lainnya yang langsung takut begitu berhadapan dengan Lorry.
“Gue udah selesai. Duluan, ya, mau gabung sama anggota KIR lainnya,” pamit Lorry seraya berdiri.
Raiden mengangguk pelan. Matanya mengikuti kepergian pacarnya itu hingga benar-benar menghilang dari pandangannya.
***
“Nggak masuk, Lor?” tanya Erika setelah mereka sampai di depan kelas X IPS 1.
Lorry yang berhenti di depan kelas mengangguk kaku. “Gue nunggu di sini aja, ya.”
“Kenapa? Padahal banyak, lho, yang mau gabung karena tahu lo anggota KIR.”
“Gue tiba-tiba ngerasa pusing,” dalih Lorry sembari melihat Melly yang duduk di dalam kelas, terlihat serius mendengarkan Anggita yang memulai perkenalan di depan kelas.
Erika mengamati wajah gadis itu. “Muka lo emang kelihatan agak pucat, sih. Nggak mau ke UKS?”
Lorry buru-buru menggeleng. “Nggak usah. Gue nunggu di sini aja.”
Erika terlihat bingung namun akhirnya memilih mengangguk saja. “Oke, gue masuk dulu, ya.”
Lorry mengangguk dan hanya berdiri di luar, mengamati Anggita dan anggota lainnya bergantian memperkenalkan diri sebelum perekrutan. Pandangannya beralih pada kelas sebelah, Kiara dan rombongan OSIS keluar dari sana dan berhenti tepat di depannya.
“Sendirian?” tanya Kiara heran.
Lorry menunjuk ke dalam kelas. “Tuh, mereka di dalam.”
“Kenapa nggak ikut masuk?”
“Gue lagi agak pusing, nggak bagus kalau adek kelas malah lihat.” Sepertinya Lorry salah bicara, karena setelah ia mengatakan itu, air muka Kiara berubah, siap-siap mengomelinya.
“Nah, kan, udah gue bilang istirahat aja dulu. Lo kalau dibilangin keras kepala banget. Istirahat seharian apa susahnya, sih? Kalau begini kan yang rugi lo sen—“
Lorry buru-buru menutup mulut gadis itu dan meringis pelan pada anggota OSIS lain yang menatap mereka heran. “Nggak apa-apa, kok. Lo jangan narik perhatian, deh,” tegurnya dengan nada tertahan.
Kiara menyingkirkan tangan Lorry dari mulutnya dan mendecak pelan. “Awas, ya, kalau abis ini gue dapat kabar lo jatuh sakit lagi.”
Lorry mengangguk tak acuh. Perhatian mereka segera teralih pada anggota KIR yang sudah keluar dari kelas X IPS 1.
“Udah?” tanya Lorry.
“Ho’oh,” jawab Anggita lalu ngobrol dengan salah satu anggota OSIS yang merupakan teman sekelasnya.
Lorry langsung meminta kertas berisikan daftar kelas 10 yang tertarik ikut KIR dari Erika. Matanya membaca baris demi baris dan langsung menghela napas lega begitu melihat tak ada nama Melly di sana.
Gadis itu tak sadar, Kiara mengamatinya dengan pandangan heran seolah helaan napas leganya merupakan hal yang ganjil.