Bab 8: Trauma

1439 Kata
Raiden mencatat beberapa poin penting dari materi yang dijelaskan oleh Bu Tini, guru Bahasa Indonesia. Sesekali matanya beralih pada Lorry yang duduk di barisan agak depan. Walaupun hanya melihat sebatas punggung, entah mengapa ia merasa pacarnya itu tengah gelisah. Gerak-gerik aneh gadis itu seperti menghela napas panjang dan menggerakkan tangannya untuk mengelap keringat padahal AC dalam kelas menyala semua. Raiden menduga ini ada hubungannya dengan Melly. Sebelum masuk kelas tadi, ia menanyakan keadaan Lorry, terlebih lagi ekspresi gadis itu agak aneh hingga membuatnya khawatir. Namun Lorry terlihat menghindari pertanyaannya dan mengatakan ia baik-baik saja. Pertanyaan yang kini terngiang-ngiang di pikiran Raiden, apa yang membuat Lorry seperti itu? Apa semuanya karena Melly? Melly terlihat seperti gadis yang baik dan biasa-biasa saja, namun dilihat dari keberanian gadis itu mendekatinya, ia yakin ada yang tak biasa dari gadis itu. “Oke, sejauh ini apa penjelasan ibu sudah bisa dimengerti?” tanya Bu Tini dari depan kelas, memecahkan lamunan Raiden yang langsung memperbaiki duduknya. Dia mendengar dari kakak kelasnya, Bu Tini hobi mengetes siswa secara acak setelah menjelaskan dengan memberi pertanyaan seputar materi yang baru selesai dijelaskan. Duduk dengan kaki terbuka lebar dan bungkuk merupakan sasaran empuk Bu Tini. Semua siswa mengangguk, tanda bahwa mereka telah mengerti. Bu Tini kembali ke kursinya, membaca sejenak buku paket yang terbuka lebar di meja lalu menyorot siswa-siswa di depannya dengan intens. Tatapannya berhenti pada salah seorang gadis yang gerak-geriknya aneh. “Yang duduk di barisan kedua dekat jendela, siapa namanya?” tunjuk Bu Tini ke arah meja Lorry. “Lorry, Bu,” jawab Sarah, teman sebangku Lorry setelah menelan ludah gugup. “Oke, Lorry, coba jelaskan secara singkat apa itu teks anekdot?” tanya Bu Tini memperbaiki kaca matanya. Lorry mengusap keringat yang bercucuran di pelipisnya dan menatap Bu Tini dengan kebingungan. Sarah di sampingnya memelototinya, memberi kode agar segera menjawab pertanyaan itu. Lorry menelan ludah, ia tak mendengar jelas pertanyaan gurunya itu tadi karena sibuk dengan pikirannya sendiri. “Maaf, bo-boleh diulang, Bu, tadi pertanyaannya apa?” Dengan senyum tipis, ia memintanya walaupun gugup setengah mati. Bu Tini menatapnya aneh, walaupun begitu beliau tetap mengulangi pertanyaannya. “Coba jelaskan secara singkat apa itu teks anekdot?” “Teks anekdot adalah ....” “Coba biasakan berdiri untuk menjawab pertanyaan dari saya,” tegur Bu Tini memotong jawaban Lorry. Lorry mengangguk kaku. Ia segera berdiri namun rasa pusing langsung menyerangnya. Gadis itu menunduk dalam, tak lagi menghiraukan teguran Bu Tini. Tangannya memegang kepalanya yang terasa berputar-putar, disusul oleh suara dari masa lalu yang membuatnya merasa sesak. “Nggak usah ikut campur dengan urusan pribadi gue, Lor! Mending lo urus diri lo sendiri!” “Viona! Gue cuma ngingetin lo! Gue nggak pengen temen gue—“ “Temen? Lo bilang diri lo temen? Kalau lo emang temen gue, harusnya lo ngerti kenapa gue ngelakuin hal ini!” “Hal murahan seperti ini gue maklumi?” “Murahan! Jangan kurang ajar lo, ya!” Lorry menutup matanya dengan erat, berusaha mengusir suara itu dari dalam kepalanya. Trauma lama kini bangkit lagi tanpa bisa ia kendalikan. Tangannya makin menekan keras kepalanya. Bersamaan dengan suara Bu Tini memanggilnya dengan nada tinggi, ia jatuh terduduk dan bersandar lemas pada Sarah yang langsung panik. Suara riuh khawatir dan bunyi gesekan antara kursi dengan lantai perlahan-lahan samar-samar di telinga Lorry. “Minggir.” Suara rendah Raiden membuat kerumunan di sekitar meja Lorry membelah, memberi jalan untuk pemuda itu. “Lor? Lorry?” Raiden mengambil alih kursi Sarah dan duduk di sana. Ia menepuk-nepuk pipi Lorry dengan pelan sembari memanggil nama gadis itu. Mata Lorry perlahan terbuka. Tatapan sayu gadis itu tertuju pada Raiden. Ia menatap pemuda itu cukup lama hingga cairan bening lolos dari sudut matanya. “Langsung bawa ke UKS saja biar dia istirahat dulu,” perintah Bu Tini dengan nada prihatin. Raiden mengangguk patuh lalu membantu Lorry berdiri. “Kalau begitu, saya izin bawa dia ke UKS, Bu,” ujarnya. Setelah Bu Tini memberi izin, ia memapah Lorry berjalan keluar kelas menuju UKS. *** Raiden membantu Lorry berbaring di atas brankar. Ia tertegun ketika merasakan telapak tangan gadis itu berkeringat dingin saat ia menggenggamnya. Ia mencoba menaruh tangannya di kening gadis itu dan mengerutkan keningnya. Pandangannya lalu beralih pada tisu yang ada di nakas. Ia menariknya beberapa lembar dan mengelap telapak tangan serta kening Lorry yang berkeringat. “Perasaan lo sekarang gimana?” tanya Raiden khawatir. “Hm, udah agak baikan,” gumam Lorry. “Mau minum?” Lorry membuka matanya dan mengangguk. Tenggorokannya terasa kering dan sakit saat mengeluarkan suaranya. Raiden akhirnya mengambil gelas dan mengisinya pada dispenser yang ada di sudut ruangan. Ia memberi segelas air itu pada Lorry yang hanya diteguk sampai setengah gelas. “Ada apa, sih, Lor? Lo tadi baik-baik aja, nggak mungkin tiba-tiba jatuh sakit. Lo juga nggak demam.” “Gue baik-baik aja, Rai. Kayaknya cuma lagi banyak pikiran aja,” elak Lorry. “Lo memangnya lagi mikirin tentang apa?” “Yaa ... naskah gue. Akhir-akhir ini gue seperti kehabisan ide dan nggak tahu harus mau ngelanjutin gimana. Target deadline-nya juga udah dekat, kayaknya nggak bakal selesai sampai di situ.” “Yakin bukan karena Melly? Lo mulai aneh sejak pergi bareng cewek itu,” kulik Raiden menaikkan alisnya sebelah. Lorry menggeleng pelan dengan senyum kecil. “Lo cepat-cepat kembali ke kelas, gih. Ntar, Bu Tini nyariin lo.” “Tapi, lo malah sendiri di sini,” balas Raiden keberatan. UKS benar-benar sepi, hanya ada mereka di sana. Suster yang berjaga juga tak ada, entah sedang ke mana. “Nggak apa-apa, gue istirahat sebentar juga langsung baik-baik, kok. Lagi pula ini udah jam pelajaran terakhir,” bujuk Lorry. “Yaudah, pulang nanti gue bakal kembali ke sini, kita pulang bareng. Jangan ke mana-mana sebelum gue datang, pokoknya istirahat aja di sini,” oceh Raiden masih tak rela membiarkan gadis itu sendirian di UKS. Lorry mengangguk patuh. Ia lalu tersenyum kecil mengiringi kepergian Raiden yang terlihat tak rela meninggalkannya sendirian di UKS. Setelah UKS benar-benar hanya berisi dirinya, ia menghela napas pelan, memejamkan matanya sejenak untuk menenangkan pikirannya. Tak lama setelah itu, dirinya tenggelam dan terbawa ke alam mimpi. *** Lorry membuka matanya perlahan dan melihat sekelilingnya, sepi seperti terakhir kali ia tersadar. Matanya melihat ke arah jam dinding. Sudah jam tiga sore. Ia lantas duduk dan mengerutkan keningnya. Seharusnya jam dua mereka sudah pulang, namun mengapa Raiden belum datang? Tidak mungkinkan pemuda itu lupa padanya? Lorry akhirnya memutuskan keluar dari UKS untuk memastikan keadaan. Ketika ia membuka pintu, yang di dapatnya justru keheningan menguasai lorong-lorong sekolah. Sinar matahari yang menembus kaca jendela membuat lorong terang seperti disinari lampu neon. Kaki Lorry melangkah, menuju kelasnya. Walaupun penulis genre horor, ia tetap saja merasa aneh ketika berjalan sendiri di lorong sekolah yang sepi. Ketika ia beberapa langkah lagi untuk mendapatkan lorong WC, sebuah suara seperti sesuatu ditabrakkan ke dinding terdengar. Ia berlari mendekati WC itu namun langsung menahan langkahnya ketika seorang gadis terhuyung-huyung mundur dari dalam WC dan terjatuh. Lorry menutup mulutnya dan segera bersembunyi di balik dinding ketika tiga gadis yang ia ketahui kakak kelasnya menyusul keluar dari WC dan menatap gadis yang terjatuh itu dengan angkuh. Lorry menelan ludah dengan gugup dan mencoba mengintip. Gadis yang jatuh tadi mundur dengan wajah ketakutan. Lorry belum pernah melihat gadis itu sebelumnya membuatnya menerka-nerka mungkin gadis itu adalah anak kelas sepuluh, terlihat dari seragamnya yang masih baru. “Seret dia masuk,” perintah gadis dengan rambut terikat ke belakang, salah seorang dari tiga kakak kelasnya itu. “Saya tidak mau, Kak!” jerit gadis kelas sepuluh itu dengan nada takut. “Tunggu apa lagi! Seret saja dia masuk! Sekolah sudah sepi, mana ada yang dengar mau dia teriak sekeras apa pun!” tegur gadis ikat kuda itu pada dua temannya yang terkejut mendengar jeritan gadis yang mereka bully itu. Lorry menutup mulut dengan erat, berusaha meredam isakannya yang makin menjadi-jadi ketika hanya bisa melihat adik kelasnya itu diseret ke dalam WC. Ia terduduk lemah ke lantai ketika mendengar suara berdebum dari pintu WC yang ditutup rapat. Tangannya beralih menutup telinganya ketika suara Viona lagi-lagi terngiang-ngiang di pikirannya. Kejadian barusan, WC dan teriakan kesakitan itu membawanya lagi pada trauma masa lalu. Lorry tak sanggup lagi menahan sesak yang kembali menyerangnya. Dengan langkah tertatih-tatih, ia menggapai jendela, berusaha membukanya dengan mata yang perlahan sayu. Lorry tak bisa bernapas. Oksigen di lorong itu seolah hilang tak tersisa. Ia butuh udara. Ia berjuang membuka jendela itu, berharap bisa kembali merasakan udara masuk ke paru-parunya. Namun, keadaan tak mendukungnya. Napasnya melemah di saat tangannya masih berusaha membuka jendela. Lorry mulai kehilangan kesadarannya dan perlahan jatuh, namun sebuah tangan menahan tubuhnya. “Raiden ....,” lirih Lorry lalu matanya menutup sempurna.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN