Jam istirahat tiba. Raiden dan teman-teman band-nya segera menuju kantin untuk mengisi perut. Sesampainya di kantin, Agus mengedarkan pandangannya mencari seseorang.
“Lorry mana?”
“Di ruang KIR, katanya ada rapat dadakan sama pembina mereka,” jawab Raiden lalu mengangkat tangannya pada pelayan kantin. Mereka kemudian memesan makanan yang diinginkan.
Setelah pelayan itu pergi, sebuah ponsel tiba-tiba sudah ada di meja mereka. “Yang pesan hape siapa?” tanya Agus kaget.
“Bukan gue. Gue tadi pesan nasi goreng,” jawab Rio.
Keduanya mendongak ke atas dan langsung menganga begitu melihat seorang gadis berdiri di sisi meja mereka dengan senyum manis.
“Tutup mulut kalian,” tegur Rian dingin. Ia benar-benar malu melihat kelakuan dua temannya itu.
Sementara itu, Raiden menghela napas. Ia sudah tahu untuk siapa gadis berambut sebahu itu mendekati meja mereka dan untuk apa ponsel itu ada di meja mereka. “Ada apa?” tanyanya.
“Nomor hape lo. Masukin, gih,” pinta Melly mengedikkan dagunya pada ponselnya.
Teman-teman Raiden termasuk Rian melotot lebar mendengar permintaan gadis itu. Agus dan Rio serentak melihat sekelilingnya, jaga-jaga kalau Lorry tiba-tiba muncul. Feeling gadis itu biasanya kuat kalau ada gadis lain yang mendekati Raiden. Namun kali ini, Lorry belum muncul.
“Memangnya untuk apa?” tanya Raiden ambigu. Ia sengaja agar bisa mengulur waktu. Pemuda itu tahu Melly gadis yang baik. Ia tak mau Lorry tiba-tiba muncul dan mempermalukan Melly di depan banyak siswa.
“Nanya lagi, buat hubungi lo, lah,” jawab Melly ceria.
“Hubungi untuk apa?”
“Gue tertarik gabung band lo dan berharap bisa jadi vokalis selanjutnya gantiin lo. Gue minta nomor hape lo biar bisa sharing-sharing bagaimana yang harus dilakukan untuk menjadi vokalis sekeren lo,” jawab Melly panjang lebar.
Agus mendekatkan bibirnya ke telinga Raiden. “Cewek ini pinter banget buat alasan. Kasih ajalah, kayaknya Lorry beneran sibuk di ruang KIR,” bisiknya meracuni pikiran Raiden.
Pemuda itu berpikir sejenak. Band-nya bahkan belum mendiskusikan soal perekrutan anggota baru dan Melly sudah bergerak duluan. Sepertinya gadis itu benar-benar ingin serius untuk gabung.
“Oke,” ujar Raiden pendek lalu mengambil ponsel Melly. Ia mendaftarkan nomornya di sana dan menyerahkan kembali pada Melly.
Namun, belum sempat Melly menerima ponselnya sendiri, sebuah tangan lebih dulu merebut ponsel itu dengan kasar dari tangan Raiden dan menghapus kontaknya dari sana.
“Lorry!” tegur Raiden kaget namun sedikit lega. Mendengar nama Lorry disebut, penghuni kantin langsung menoleh ke meja itu. Sudah sekian lama sejak mereka menonton pertunjukan langka ini. Beberapa kamera ponsel bahkan sudah standby untuk merekam semuanya.
Melihat Melly yang kaget, Agus berbisik lagi pada Raiden, “Melly bakalan tertekan kayak kakak kelas yang dulu kalau lo diam aja.”
Raiden menahan napas sejenak dan memijit keningnya. Perasaan lega dan stress kini tengah berperang dalam batinnya. Ia berdiri, hendak menjelaskan apa yang terjadi namun ia mematung setelah melihat aksi Lorry selanjutnya.
Tak ada yang menyangka Lorry justru menyeret Melly keluar dari kantin tanpa mengatakan apa pun. Kepergian keduanya diiringi bisik-bisik tanda tanya mengenai apa yang sedang terjadi. Di kasus sebelumnya, Lorry tak peduli di banyak orang atau tidak, ia akan menegur gadis lain yang mendekati Raiden dan mengatainya tak tahu malu.
Kiara yang baru masuk ke kantin dan tak tahu apa-apa berjalan dengan bingung ketika melihat suasana kantin heboh. Ia mendekati seseorang yang tengah menonton video di ponselnya. “Ada apa, sih?” tanyanya penasaran.
“Tadi ada cewek dari kelas 10 yang minta nomor hapenya Rai, tapi kedapatan sama Lorry. Nggak seperti biasanya, Lorry justru bawa cewek itu keluar dari sini. Nggak tahu, deh, sekarang mereka ada di mana,” jelas gadis itu.
Kiara termangu sejenak lalu mengangguk pelan. “Makasih, ya,” ucapnya lalu menoleh pada Raiden yang kelihatannya ingin menyusul Lorry namun ditahan oleh teman-temannya. Menyusul gadis itu memang tidak ada untungnya. Lorry tak akan mendengarkan suara Raiden.
***
Lorry melepaskan tangan Melly ketika mereka tiba di rooftop sekolah. Gadis itu menghela napas frustrasi dan mendekati pagar pembatas. Ia menatap Melly yang terlihat santai mengecek cat kukunya dan meniup pelan yang sudah lecet.
“Lo udah tahu, ‘kan kalau Rai itu pacar gue?” tanya Lorry.
Melly menggeleng pelan. “Belum,” dustanya.
“Kita dulu temen sekelas jadi gue masih pikir-pikir buat permalukan lo di depan banyak orang. Tolong buat ini pertama dan terakhirnya gue negur lo buat jauhin Rai. Kalau lo ulangi hal seperti ini lagi, gue nggak bakal segan-segan lagi buat negur lo di depan banyak orang,” jelas Lorry blak-blakkan.
Melly hanya diam, tak menolak tak juga mengiyakan.
“Gue anggap, dengan diam begitu, lo udah ngerti apa yang gue bilang sama lo,” tambah Lorry dan memutuskan segera pergi dari sana untuk menghindari kecanggungan.
“Viona,” ucap Melly akhirnya.
Satu nama yang keluar dari mulut gadis itu sudah cukup membuat Lorry berhenti di tempatnya. Wajah gadis itu berubah menegang. Raut ketakutan, sedih dan penyesalan campur aduk di sana. Dia berbalik, menatap Melly dengan tatapan tak percaya.
Melly tersenyum kecil dan melangkah mendekati Lorry. “Lo juga pasti tahu, kematian Viona bukan hanya kebetulan, ‘kan?”
“Lo ... kenapa lo bertanya seperti itu?” tanya Lorry dengan nada bergetar. Wajah gadis itu pucat pasi. Hanya dalam waktu singkat, keringat dingin sudah membasahi tangannya yang terkepal erat. Gelagat aneh gadis itu justru mengundang senyum manis Melly makin melebar.
“Lantai toilet nggak selicin itu sampai harus buat Viona meninggal, bukan?”
Lorry syok. Ia mundur ke belakang dengan napas tersengal-sengal.
Melly bahkan tak peduli melihat keadaannya yang seolah kehabisan napas. Sedetik sebelum ia meninggalkan gadis itu, senyumnya hilang digantikan dengan tatapan tajam. Ia menuruni tangga dan mendapati Lisa tengah menaiki tangga untuk menyusulnya. Gadis itu mengubah ekspresinya dan tersenyum kecil pada Lisa.
“Lo nggak apa-apa?” tanya Lisa dengan nada khawatir.
“Nggak, kok. Santai aja. Lorry nggak separah itu kok sama gue.”
“Oh, baguslah. Terus, Kak Lorry mana?”
Melly mendongak. “Masih di atas. Katanya masih mau lama-lama di sana.”
Lisa ingin naik ke atas, hendak memastikan namun Melly menahannya dan mengajak gadis itu kembali ke kantin.
“Udah ayo naik. Lo nggak mau kena semprotnya Lorry, ‘kan?”