Bab 6: Hal-hal Positif

1170 Kata
Kaki Melly melangkah memasuki lantai satu SMA Rajawali. Ia melihat isinya dan mendecak kagum. Saat MOS, ia tak terlalu memperhatikan setiap titik SMA ini dan ia baru sadar sekarang kalau beberapa sudut sekolah ini bahkan bisa dijadikan spot foto yang kece. Kaki jenjang gadis itu menuju ke arah tangga dan terhenti ketika ia tak sengaja berpapasan dengan Raiden yang muncul dari lorong kanannya.Melly berhenti, mengetes apakah Raiden menyadari kehadirannya. Namun, pemuda itu justru melewatinya dengan tatapan kosong dan wajah lesu. Melly berbalik dan mengikuti Raiden dari belakang dengan hati-hati. Matanya melotot ketika melihat pilar besar beberapa langkah lagi dari Raiden. Pemuda itu menunduk dan kalau tak sadar, ia pasti akan menabrak pilar itu. Shut! Selangkah sebelum menabrak pilar, Melly menarik pundak kanan Raiden ke belakang. Gadis itu tersenyum lebar ketika berhasil menyelamatkan pemuda idamannya dari rasa sakit dan malu. “Assa! Untung gue cepet!” ujarnya lega. “Hah?” Raiden menggumam bingung. Ia yang belum sadar apa yang sebenarnya terjadi hanya menatap Melly dengan raut bingung. Melly menghela napas dan menunjuk pilar itu. “Lo hampir aja nabrak kalau nggak gue tarik.” Raiden berbalik ke belakang dengan sekilas. “Ah, thanks,” lirihnya dengan pandangan kosong dan berbalik ingin meneruskan langkahnya, namun Melly menahannya dan beralih posisi berdiri di depannya. “Lo masih ingat gue, ‘kan?” Raiden menatap cewek itu sejenak dan mengangguk. “Nama gue siapa?” “Melly.” Melly tersenyum lebar mendengar Raiden menyebut namanya. “Ah, lo ingat beneran ternyata! Oh iya, kelas X IPS 1 ada di mana, ya?” Bohong kalau Melly tidak tahu kelasnya. Semalam sudah diumumkan di grup telegram SMA Rajawali. Raiden seharusnya tahu kalau dia bohong, namun pikiran pemuda itu sedang berkelana jauh. “Lantai tiga. Lo cek aja papan kelasnya.” Melly mengangguk semangat. Senyumnya meredup saat menyadari Raiden tengah memikirkan sesuatu. Otaknya segera menemukan ide yang menguntungkan dirinya. “Lo lagi ada masalah?” Melly bertanya dengan suara pelan dan menggenggam tangan Raiden. Raiden menatap tangannya yang digenggam Melly dan segera melepasnya. Netranya beralih ke netra coklat milik Melly dan tersenyum lemah. “Lo ke kelas lo, gih. Bel sebentar lagi bunyi,” ujarnya lalu pergi dari sana. Melly menatap punggung Raiden yang menjauh dengan rasa penasaran. “Dia beneran lagi ada masalah?” *** Lorry menatap Pak Tony yang tengah menulis tugas di papan tulis. Ia mengambil kesempatan itu untuk menoleh ke belakang, mengecek keadaan Raiden yang terlihat lesu. Tadi pagi ia tak sempat bertanya pada Raiden karena terlambat akibat begadang menulis hingga jam tiga subuh. Aneh, ia baru ingin tidur dan langsung mendapat ide baru. Tak mau kehilangan ide itu, Lorry kebablasan menulis sampai subuh dan terlambat bangun. Untung saja, ia masuk beberapa detik lebih cepat dari Pak Tony. “Ini soalnya, ya. Silakan dikerja dan harus dikumpul saat jam saya selesai.” Pak Tony menatap jam tangannya. “Masih ada tiga puluh menit lagi,” sambung guru paruh baya itu dan duduk di kursinya, mengawasi siswanya yang mulai mengerjakan soal. Tak lama berselang, ponsel beliau berbunyi. Ia keluar sebentar untuk mengangkatnya dan kembali ke kelas dengan wajah gelisah. “Selesaikan tugasnya dan kumpul minggu depan saja. Saya ada urusan mendadak yang urgent. Jangan ribut di kelas!” “Iya, Pak!” “Saya pamit lebih dulu. Selamat siang semuanya.” “Siang, Pak!” Setelah gurunya pergi, Lorry bergegas mendekati Raiden yang tengah membuka buku tugasnya. “Ayo ke taman,” ajak Lorry menyentuh tangan Raiden. “Tapi ini tugasnya harus dikerjain dulu,” tolak Raiden dengan suara melirih. “Pak Tony bilang kumpulnya minggu depan aja. Lo nggak dengar? Ayo berdiri, kita ke taman.” Raiden menghela napas. Karena ia tak kunjung berdiri, Lorry menarik kerah belakang baju Raiden ke atas agar segera berdiri. Lorry tidak mau Raiden terlalu lama menyimpan masalahnya sendiri. Ia tahu pasti Raiden ingin mengerjakan tugas bahasa Indonesia dari Pak Tony karena ingin mengalihkan perhatian dari masalahnya. Ruang musik yang biasa ia tempati untuk melamun tak bisa dimasuki sekarang karena ada peraturan yang tak memperbolehkan siswa memasuki ruang ekstrakurikuler saat jam pelajaran masih berlangsung apa lagi untuk hal yang tidak penting. Peraturan itu diberlakukan di tahun kedua mereka karena mengingat banyak siswa yang menyalahgunakan ruang ekstrakurikuler untuk bolos dengan dalih berlatih sesuatu. “Ayo,” ajak Lorry dengan senyum kecilnya. Ia membawa pemuda itu ke taman dan duduk di sebuah bangku besi di bawah pohon mangga. “Papa lo pergi lagi?” tanya Lorry dengan hati-hati. Raiden mengangguk. “Lo pernah bilang sama gue, gue harus keluarin apa yang ada di hati gue agar Papa juga terbuka dengan gue lagi. Tapi itu nggak berhasil, Lor. Papa bahkan tetap kukuh pergi kerja lagi setelah kunjungi makam Mama.” Lorry mengusap punggungnya. “Semuanya nggak instan, Rai. Kalian sudah terjebak dengan masalah ini selama sepuluh tahun. Kalau ingin memperbaiki, itu juga memakan waktu. Papa lo mungkin aja ingin terbuka sama lo lagi, tapi gengsi. Lo pelan-pelan aja ngajak Papa lo ngomong. Tiap ia pulang kerja, mungkin lo bisa sediakan sesuatu yang disukai papa lo? Atau setidaknya, buat masalah sedikit aja. Kalau Papa lo marah, itu artinya beliau masih peduli sama lo dan juga mau terbuka lagi dengan lo. Percaya Rai, lo sama beliau bisa kembali seperti dulu walaupun tanpa Mama lo lagi.” Raiden termenung, memikirkan perkataan Lorry. Hal yang disukai papanya? Ia tak tahu. Membuat masalah? Bahkan saat Raiden tak sengaja memecahkan selusin gelas di dapur, ayahnya tak memarahinya dan pergi begitu saja. “Kenapa?” tanya Lorry. “Gue nggak tahu apa yang disukai Papa gue. Gue bakar rumah kayaknya juga nggak bakal buat Papa marah,” ujar Raiden. “Kalau begitu, nggak perlu mikirin apa yang disukai Papa Lo. Sederhana aja, Rai. Misalnya lo buat makanan sendiri dan ajak papa lo makan bareng-bareng dengan senyuman. Gue nggak yakin Papa lo bakal tega nolak.” “Iyakah?” Raiden menatap Lorry seolah punya harapan baru. Lorry mengangguk semangat. “Gue bakal coba,” gumam Raiden pelan lalu menatap Lorry dengan lembut. “Makasih, lo yang paling bisa bantu gue setiap lagi ada masalah.” “Gue cuma mau hubungan kita diisi dengan hal-hal positif seperti ini,” balas Lorry tersenyum kecil. *** “Itu bukannya Kak Lorry sama kak Rai, ya?” bisik Lisa pada Melly yang duduk di sebelahnya setelah tak sengaja melihat pemandangan uwu di taman bawah sana melalui jendela. Melly menoleh pada teman sebangkunya itu dan mengangkat alisnya dengan raut bertanya. Lisa mengedikkan dagunya ke arah jendela dan berbisik ulang. “Kak Lorry sama kak Rai lagi berduaan di taman.” Melly memandang ke depan. Bu Ara tengah menjelaskan dari meja. Baru hari pertama saja kelas mereka sudah dibuat kenyang materi oleh guru sejarah itu. Ia menatap pulpennya dan melemparnya dengan sengaja ke depan. Bu Ara yang tengah menjelaskan langsung menatapnya tajam. “Apa itu?” “Maaf, Bu, pulpen saya tidak sengaja jatuh.” Melly memasang wajah bersalah dan berdiri, mengambil pulpennya yang jatuh di depan. Matanya curi-curi pandang ke arah luar jendela. Tangannya yang memegang pulpennya mengetat hingga membuat Lisa jadi tegang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN