Bab 5: Okay but Not Okay

1122 Kata
Raiden memasuki rumahnya dengan langkah yang terasa berat. Matanya menatap isi ruang tamu yang sepi lalu melepaskan tasnya dan melempar asal ke sofa. Ketika melangkah lebih dalam menuju ruang keluarga, suara berat yang tengah terisak terdengar samar-samar di telinganya. Pemuda itu mengepalkan tangannya. Ia menatap pintu kamar ayahnya dengan mata yang mulai memerah. Tungkainya membawa dirinya menghampiri kamar itu. Saat melihat ayahnya, pertahanan Raiden kini hancur. Air matanya terjatuh lagi melihat ayahnya yang duduk di bibir tempat tidur dengan memeluk sebuah pigura foto. Raiden benci saat hari ini datang setiap tahunnya. Sepuluh tahun yang lalu, ia kehilangan ibunya. Sepuluh tahun yang lalu pula, ayahnya seperti kehilangan jiwa. Kini ia seolah anak yang tak punya orang tua. Raiden tak tahu harus bersandar pada siapa lagi. “Rai ....” Suara lirih ayahnya membuat Raiden langsung mengusap air matanya. Ia berusaha tersenyum kecil pada ayahnya. Penampilan ayahnya yang kacau membuat d**a Raiden sesak. Tanpa ia inginkan, air matanya kembali terjatuh. “Ayo ke makam Mama kamu,” ajak ayahnya dengan senyum lemah. Ia berjalan, melewati Raiden dan pergi lebih dulu keluar rumah. *** “Maaf ... maaf, Rani,” lirih Anda menatap nisan istrinya. Raiden menggenggam rumput hijau yang tumbuh di atas tanah yang mengubur ibunya. Suara lirih ayahnya membuat dirinya kembali emosional. Luka yang timbul akibat kecelakaan mobil itu masih saja basah sampai saat ini. Ayahnya menyalahkan diri sendiri dan berusaha melupakan semuanya dengan kerja terus menerus dan melupakan Raiden yang masih tersisa sebagai keluarganya. “Rai, ayo kembali. Papa mau siap-siap, nanti malam keluar untuk urusan bisnis,” ujar Anda dengan suara serak lalu berdiri dan melangkah lebih dulu. “Papa nggak mau singgah makan bareng Rai? Rai pengen makan bareng sama Papa sebelum Papa pergi lagi,” pinta Raiden pelan. “Papa tidak bisa, Rai. Banyak yang harus disiapkan,” tolak Anda lemah. “Sampai kapan Papa akan bersikap seperti ini?” Langkah kaki Anda terhenti mendengar suara putranya yang bergetar. “Keluarga Papa bukan cuma Mama. Yang merasa kehilangan Mama bukan cuma Papa. Di sini Rai yang lebih menderita. Rai sudah kehilangan Mama, jangan buat Rai merasa kehilangan Papa juga. Ini udah sepuluh tahun, Pa. Rai rasa sepuluh tahun udah lebih dari cukup untuk menyembuhkan rasa bersalah Papa,” ujar Raiden melemah, “sampai kapan Papa akan seperti ini? Bekerja sepanjang waktu tidak akan buat Papa lupain kejadian itu. Luka itu nggak akan pernah sembuh kalau Papa memilih seperti ini. Menerima apa yang sudah terjadi itu lebih baik, Pa. Papa harus ingat, masih ada Rai sebagai keluarga Papa. Tolong ... tolong perhatiin Rai kali ini. Rai benar-benar mohon, Pa ....” Anda menunduk, air matanya keluar lagi ketika mendengar isakan putranya. Ia juga ingin melakukan itu. Berdamai dengan masa lalu dan melupakan semuanya. Namun, ia tak bisa. Ia tak bisa melanjutkan hidup dengan tenang seperti ini saat ia sendiri yang telah membuat istrinya pergi. Anda ingin berbalik, mendekap putranya agar bisa menangis sepuasnya di bahunya, namun lagi-lagi ia tak bisa. Sejauh inikah jarak antara mereka? Mengapa untuk melakukan hal sepele ini saja terasa sangat susah. “Maafkan Papa, Rai ....” Pada akhirnya, hanya tiga kata itu yang mampu keluar untuk mewakili perasaannya selama ini. *** Lorry memutar-mutar stylus pen di tangannya dengan tatapan melekat pada layar laptopnya yang menampilkan barisan kata-kata yang sudah diketik tangannya. Alisnya menukik tajam, menandakan ia tengah berpikir keras untuk melanjutkan isi bab yang sementara ditulisnya. Setelah berjuang memutar otak dan tak menemukan ide lagi, ia mendengus keras dan menyadarkan punggungnya ke sandaran kursi. “Aish, kok, malah blank, sih?” gumamnya mengeluh. Lorry menatap langit-langit kamarnya yang berwarna hijau dan mengedip-ngedipkan matanya yang terasa kering akibat terlalu lama menatap layar laptop. Ada alasan mengapa ia mewarnai langit-langit kamarnya dengan warna hijau. Saat matanya kelelahan, warna hijau adalah penawarnya. Ia bisa saja membuka jendela dan menikmati pemandangan hijau yang lebih alami di luar, namun Lorry lebih suka menulis dalam gelap. Itu adalah caranya agar feeling dalam ceritanya terasa. Lorry menoleh ke rak bukunya yang hanya diisi tiga buku. Buku itu adalah novel karyanya sendiri. Kiara bilang, hampir satu sekolah mempunyai novelnya itu. Lorry percaya itu. Ia sering mendapat permintaan untuk membuka acara tanda tangan buku atau membuat sekuel dari ceritanya yang selalu mempunyai ending gantung dari teman-temannya. Ting tong! Lorry terkesiap di kursinya. Suara bel rumahnya berbunyi beberapa kali hingga terdengar brutal. Ia turun ke bawah dan mengintip melalui jendela. “Mama?” Mata Lorry melebar senang. Ia segera membukakan pintu. Namun, belum sempat ia memeluk ibunya, wanita paruh baya itu masuk ke dalam ruang dan terus ke dalam kamar depan tanpa menoleh sedikit pun pada putrinya. Pandangan bingung Lorry mengikuti ke mana ibunya pergi. Ia menyusul ibunya dengan banyak tanda tanya dalam pikirannya. “Papa mana, Ma?” tanya Lorry sembari memperhatikan ibunya yang tengah membongkar berkas-berkas dari dalam laci lemari. “Ada di dalam mobil.” Letha, mama Lorry menjawab dengan fokus tetap pada berkas-berkas yang ia pilah. “Kok, nggak masuk?” “Ini Mama cuma sebentar doang, mau ngambil berkas di dalam kamar terus pergi.” Lorry memasang wajah kaget sekaligus kecewa. “Lagi? Kalian nggak ada di rumah sejak minggu lalu. Sekarang mau pergi lagi?” Letha menutup lemari setelah mendapatkan map yang dicarinya dan menatap putrinya yang cemberut. Mata yang terlihat lelah itu menyipit ketika tersenyum manis pada putrinya. “Maaf, Sayang. Ada urusan di luar kota. Mendadak banget. Mama akan sering hubungi kamu, oke?” Cup. Letha mencium kening putrinya yang kelihatan tidak rela. “Mama pergi dulu, ya!” “Tapi, Ma ....” “Kamu hati-hati di rumah. Kalau ada apa-apa, langsung hubungi Mama, oke?” Lorry akhirnya mengangguk pasrah walaupun ia belum rela melepaskan ibunya pergi lagi. Mau menolak bagaimana pun, ibunya akan tetap pergi. Gadis itu menghela napas berat. Ia berusaha paham karena ini untuk masa depannya. Lorry mengantar ibunya sampai ke depan pintu. Matanya tetap lekat menatap punggung ibunya sampai masuk mobil. Jendela mobil terbuka dan Lorry melihat papanya melambaikan tangan padanya. Lorry tersenyum kaku dan membalas lambaian ayahnya itu. Rasanya aneh sekali melihat ayahnya bersikap seperti itu. Waktu yang dihabiskan untuk berbisnis membuat Lorry kurang komunikasi dengan papanya. Kalau pun ada kesempatan untuk ngobrol, topiknya hanyalah tentang masa depan Lorry. Lorry kembali naik ke atas dan masuk ke dalam kamarnya. Ia menatap laptopnya yang perlahan meredup, berusaha menemukan ide lagi. Namun, kedatangan singkat orang tuanya membuat otaknya semakin blank. “Aish!” umpatnya pelan dan menutup layar laptopnya dengan keras. Gadis itu duduk dan menumpukan dagunya di meja. Matanya menatap tanggal 23 yang dilingkari merah di kalendernya. Ia langsung teringat pada Raiden Ingin menelepon namun Lorry tak bisa. Di tanggal 23 Juli, tak boleh menelepon Raiden sudah menjadi peraturan tak tertulis dalam hubungan mereka. “Dia ... baik-baik aja, ‘kan?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN