Bab 4: 23 Juli

1164 Kata
Hari terakhir MOS akhirnya tiba. Setelah dibuat puas dengan game banyak hukuman di lapangan, para peserta MOS kini kembali diarahkan ke auditorium untuk menyaksikan penampilan spesial dari band kebanggaan SMA Rajawali. Saat masuk, di panggung sudah tersedia alat-alat musik yang akan dipakai anggota band. “Perhatian!” seru Kiara yang bertugas sebagai MC dari sudut panggung. “Siap!” balas siswa baru serempak. “Bagaimana perasaan kalian sekarang? Udah capek atau belum?” Kiara bertanya dengan nada ceria. “Belummm!” “Belum, ya. Oke abis nonton penampilan spesial band Rajawali, Kakak akan bawa kembali ke lapangan untuk main game!” “Yaaaahhh!” Suara keluhan dari peserta langsung terdengar. “Katanya belum capek. Gimana, sih?” Kiara pura-pura memasang wajah masam. Para peserta langsung diam karena mengira gadis itu serius. Panitia lainnya membuang muka ke dinding menahan tawa. Sudah hari terakhir, masih saja usil mengerjai peserta. Kiara lantas tergelak pelan. “Guys, nggak usah tegang begitu. Kakak cuma bercanda, ya. Ini hari terakhir jadi ayo bersenang-senang! Sekarang, kita sambut anggota dari band Rajawali!” serunya heboh. Tepukan tangan dan siulan terdengar riuh ketika para anggota band naik ke panggung. “Biasanya gue nggak segugup ini kalau mau tampil,” ujar Agus dengan suara kecil. “Gue juga anjir,” tambah Rio melihat stik drum yang gemetar karena tangannya. “Udah, nggak usah ngumpat,” tegur Raiden pelan. “Doa dalam hati aja masing-masing, pasti lancar sampai selesai, kok.” Raiden menatap dua temannya yang petakilan itu. Ia melirik Rian yang terlihat tenang dan sedang mengetes gitarnya. Cowok itu adalah kebalikan dari Agus dan Rio. Bicara dan berekspresi seperlunya. “Sebelum mulai, Kakak mau tanya dulu! Dari empat anggota di atas, ada yang belum dikenal?” tanya Kiara lagi. “Adaaa!” sahut siswa baru penuh semangat. “Wah, banyak ya. Kalau begitu, kakak akan perkenalkan mereka satu per satu.” Kiara menunjuk Raiden. “Nah, vokalis kita ini namanya Raiden. Pasti kalian udah tahu, ‘kan, kalau kakak yang satu ini. Dia yang bawain materi tentang organisasi seni bagian musik beberapa hari yang lalu. Kalau ada yang tertarik sama dia, dipendam atau sekalian dihilangkan saja, ya. Dia sudah sold out soalnya.” Terdengar suara siulan dari arah panitia. Raiden melirik Lorry yang menatap Kiara dengan mata melotot dan pipi merona. Pemuda itu tersenyum kecil melihatnya. “Nah, kalau gitaris namanya Rian. Dia masih jomblo, tapi kalau ada yang tertarik buat deketin, kayaknya harus butuh perjuangan. Dia irit ngomong—“ “Next,” potong Rian datar. Kiara tertawa pelan. “Nah, udah ngerti ‘kan kenapa Kakak bilang butuh perjuangan untuk dapat perhatian dia?” Semua peserta tertawa. “Next, Rio sebagai drum dan Agus yang main piano. Karena mereka abis ngerjain gue, masukin banyak sambal ke mie bakso gue, perkenalan untuk mereka tidak ada.” Agus dan Rio mencibir pelan namun tak dihiraukan cewek itu. “Oke kita mulai sekarang!” sambut Kiara lalu bergabung dengan Lorry dan panitia lainnya, membiarkan fokus peserta hanya tertuju pada anggota band. Tepukan riuh kembali terdengar. Ketika suara mulai teredam, alunan piano sebagai pembuka mulai terdengar. Mars SMA Rajawali menjadi lagu pertama yang mereka bawakan. Lagu kedua yaitu Hari Bersamamu dari Sheila on 7 menerima tepukan lebih riuh dari sebelum. “Aaa, suara kak Rai merdu banget!” ujar Alfa meleyot di bahu Lisa. “Gue bahkan masih berpikir, kalau bukan pacar Kak Lorry, bakal gue pepet tuh kak Rai,” tambah Lisa dengan sorot mata kagum. Melly melihat keduanya lalu menoleh pada Lorry yang duduk di samping panggung bersama panitia lainnya. Ketika tepukan terdengar ditengah-tengah lagu, mata Melly tanpa sadar menangkap Raiden yang tengah menatap lembut pada Lorry. Suara tepukan dan nada siulan makin riuh ketika Raiden mengedipkan sebelah matanya pada Lorry. Satu-satunya orang yang tidak tergabung dalam tepukan riuh itu adalah Melly. *** Raiden dan tiga teman band-nya membawa kembali alat-alat musik yang dipakai tadi ke dalam ruang musik. “Wah, lega banget rasanya,” ujar Rio menghembuskan napas dengan lega. “Gue juga. Saking gugupnya, tadi matanya gue sempat mengabur dan nggak lihat tuts-nya. Untung insting gue kuat,” celetuk Agus ikut-ikutan sekaligus membanggakan dirinya sendiri. “Lebay lo pada. Yang penting udah kelar. Abis ini gue mau rebahan puas-puas. Capek banget, seminggu ini kurang istirahat karena sibuk ngurus MOS,” keluh Raiden. “Gue juga,” tambah Rian singkat. “Ngomong banyak-banyak apa susahnya, Yan? Lo gak bakal mati kok!” tegur Agus yang gatal sendiri mendengar jawaban singkat Rian. Rian hanya menanggapinya dengan ekspresi datar. “Kak! Kak Raiden.” Suara seorang gadis dari arah belakang menghentikan langkah empat pemuda itu. Rio dan Agus langsung bersiul pelan melihat gadis cantik dengan rambut sebahu mendatangi mereka. “Buat lo.” Melly menyerahkan sebotol minuman dingin pada Raiden. Agus langsung menyeletuk. “Buat gue nggak ada?” “Nggak ada.” “Ish!” “Terima aja, Rai. Lorry lagi sibuk beres-beres di auditorium.” Rio menaik-turunkan alisnya. Raiden menerimanya dengan wajah datar. Saat ini tenggorokannya memang kering. “Thanks.” “Ah, iya, kenalin nama gue Melly.” Gadis itu mengulurkan tangannya Raiden menyambut uluran tangannya namun melepasnya dengan cepat. “Dari sekian banyaknya peserta MOS yang ngomong sama gue, lo satu-satunya yang berani ngomong pake lo-gue.” “I know. Biar lo ingat sama gue.” Melly tersenyum manis. “Penampilan lo tadi keren banget,” imbuhnya memuji. “Thanks.” Raiden membalas seadanya. “Lo sebaiknya jangan lama-lama di sini. Jangan sampai Lorry lihat lo,” celetuk Agus. “Memangnya kenapa?” tanya Melly dengan binar polos. Rio melirik Raiden dengan bingung. “Gue kira anak baru udah pada tahu.” Melly tak menghiraukan perkataan Rio dan tersenyum lebar hingga matanya menyipit. “Pokoknya, gue bakal seneng kalau lo tetep ingat gue kapan pun kita berpapasan. Gue duluan, ya! Bye!” pamit Melly melambaikan tangannya penuh semangat dan berbalik pergi ke arah ia datang tadi. “Dia berani juga!” gumam Rio. Raiden hanya menghela napas dan melanjutkan langkahnya menuju ruang musik. “Cewek tadi nekat, ya,” gumam Agus. “Gue suka cewek kayak gitu. Sayang banget, mulutnya nggak sopan. Kalau bukan cewek, udah gue tampol mulutnya.” “Lo aja yang ngasih pertanyaan b**o. Udah lihat dia cuma bawa satu minuman malah nanya lagi. Kapan sih otak kecil lo itu berkembang?” tanya Rio penuh ejekan. “Kayak otak lo udah berkembang aja,” balas Agus mencibir. “Ck, diam!” Dua kata dari Rian mampu membuat mereka langsung tutup mulut. Mereka sampai di dalam ruang musik dan menaruh alat-alat musik sesuai tempatnya. Raiden membuka jendela agar udara masuk. Minuman pemberian gadis bernama Melly tadi diteguknya hingga habis. Sementara itu, Agus mengambil kunci dan mengunci pintu ruang musik dari dalam. Keempat pemuda itu melancarkan aksi curang, tak ingin dipanggil untuk beres-beres. Saat sedang memandang pepohonan hijau dari balik jendela, Raiden dikagetkan dengan suara alarm yang hanya berbunyi setahun sekali di ponselnya. Ia segera mengeceknya dan sorot matanya berubah sendu ketika melihat tanggal 23 Juli 2021 tertera di sana.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN