Bab 3: Lorry Bagi Raiden

1000 Kata
Semua peserta akhirnya kembali ke ruang kelas masing-masing setelah dijemur selama setengah jam di lapangan dengan dalih bermain game. Melly yang sampai lebih dulu ke kelas segera merobek kertas kardus air gelas dan mengipasi wajahnya dengan itu. Alfa dan Lisa menyusul berebut kertas kardus itu dengan teman-teman lainnya. “Hah, panas banget. Pengen minum tapi air udah habis,” keluh Alfa mengusap peluh di keningnya. “Kantin buka,” celetuk Lisa. “Mager banget, deh, keluar pas lagi panas-panasnya.” Melly hanya melirik sekilas pada kedua temannya tanpa minat untuk nimbrung dalam obrolan mereka. Rasanya agak aneh kalau ikut nimbrung hanya untuk topik sepele dengan mereka, mengingat dulu Alfa dan Lisa adalah adik kelasnya pas SMP. Ia lebih tertarik dengan seorang pemuda berpakaian panitia yang duduk dengan mata tertutup di bawah pohon sudut lapangan. Bibirnya membentuk senyum kecil ketika tiga pemuda mendekat pada pemuda yang ia tahu bernama Raiden itu secara diam-diam dan mengagetkan Raiden. Lisa yang melihat ekspresi Melly mengikuti arah pandang gadis itu. Ia mengangkat alis ketika melihat Raiden dan tiga temannya duduk bersama di bawah pohon. “Lo ... lagi lihat siapa?” tanya Lisa was-was. “Kak Raiden.” “Lo suka sama Kak Rai?” “Yes. Sejak pertama lihat, gue tertarik sama dia. You know, love at the first sight,” ujar Melly dengan mata menyipit karena tersenyum. Lisa menahan napas sejenak ketika dugaannya benar. “Mel, gue saranin jangan lakuin apa yang sedang lo pikirin sekarang.” “Kenapa?” “Tadi waktu dikasih hukuman ngasih bunga ke panitia cowok, gue ngasih ke Kak Raiden karena gue juga suka sama dia. Tapi sekarang nggak lagi.” “Kenapa?” tanya Alfa. “Dia pacarnya Kak Lorry.” Alfa langsung bertepuk tangan heboh. “Oh, I see! Jadi, yang diceritakan kakak gue itu ternyata Kak Lorry!” “Maksudnya?” tanya Melly mengerutkan kening. “Jadi gini, kakak gue sekarang udah naik kelas 12, itu artinya dia senior dari pada Kak Lorry. Tapi kalian tahu? Dia justru takut sama Kak Lorry.” Lisa dan Melly merapat ingin mendengar lebih lanjut cerita dari Alfa. “Kasus lo juga udah dialami kakak gue, Lis. Gara-gara itu dia jadi trauma suka sama cowok dan sampai sekarang hati-hati banget pilih cowok untuk didekati. Sejak Kak Rai pacaran sama Kak Lorry, nggak ada satupun gadis yang berani deketin kak Rai. Kalau pun ada yang nekat, abis berhadapan dengan Kak Lorry mereka bakalan kapok. Mereka katanya sering diancam namanya bakal dijadiin tokoh korban dalam cerita novelnya. Kalian tahu sendiri, kan, gimana ngilunya pas baca cerita dia?” “Hm, gue ngerti. Gue langsung takut pas Kak Lorry bilang begitu.” Lisa memeluk tubuhnya sendiri, merasakan ngilu merambati tubuhnya lagi. “Tapi, herannya tetap aja kak Lorry disukai sama orang sekolahan. Katanya, kak Lorry ramah dan baik kalau nggak berhubungan dengan Raiden.” Alfa menghela napas panjang dan bersandar ke sandaran kursi. “Bisa-bisanya Kak Raiden tahan sama dia,” cibirnya pelan. Lisa mengangguk prihatin lalu menepuk pundak Melly yang sedari tadi hanya diam mendengarkan. “Udah dengerkan, Mel? Mending hilangin perasaan itu.” Melly menatap keduanya secara bergantian. Mereka sama-sama melemparkan sorot yang seolah berharap agar ia tak melanjutkan perasaannya. Gadis itu menghela napas dan menggeleng pelan. “Gue bakal tetep lanjutin. Bagaimana pun, yang namanya pacaran pasti ada waktunya untuk putus. Saat hari itu tiba, gue bakal pastiin Rai hanya ingat gue,” ujarnya berambisi. “Lagi pula, gue nggak mempan dengan semua cerita konyol itu,” gumamnya yang tak didengar Lisa dan Alfa lagi karena sibuk memijit kening mendengar jawaban Melly sebelumnya. *** Raiden mendengus sinis ketika Rio dan Agus baru masuk ke dalam ruang musik. Keduanya membawa roti dan minuman bersoda dengan santainya dan duduk di kursi masing-masing. “Lo berdua tahu berapa lama gue sama Rian nunggu?” tanyanya sarkas. “Lima menit?” tebak Agus. “Setengah jam” ralat Rian datar. Agus dan Rio malah mengangguk dengan santainya. “Ck, kita langsung mulai aja latihannya.” Raiden menyudahi perdebatan sebelum terjadi. Mengingatkan Agus dan Rio yang merupakan penganut jam karet adalah hal yang rumit dan selalu berujung perdebatan yang sia-sia. Raiden sudah siap di depan mic dan berdehem lalu mengetes suaranya. Rian sudah siap memegang gitarnya. Rio dengan dram serta Agus dengan pianonya. Mereka latihan untuk tampil di hari terakhir MOS. Namun, suara piano yang belum kunjung terdengar membuat Raiden menoleh malas pada Agus yang berdiri dengan wajah bingung “Kenapa lagi sih?” “Gue nggak bisa fokus latihan kalau pertanyaan yang ada di pikiran gue sekarang belum terjawab.” “Yaudah, nanya cepet biar gue jawab!” ujar Raiden kesal. “Kok lo tahan sih sama sikap Lorry?” “Gue nggak suka lo ngomong kayak gitu, Gus. Memangnya lo cuma mau terima kelebihan pacar lo?” Rai mengerutkan keningnya. “Bukan gitu, Rai. Tapi, kelakuan Lorry kayak udah berlebihan banget, sih, menurut gue.” Agus mengingat kembali cerita panitia MOS soal Lorry yang menegur peserta MOS karena memberi bunga kertas pada Rai. “Gue juga setuju sama omongan Agus. Tapi, gue nggak mau ikut campur sama hubungan kalian,” ujar Rio mengedikkan bahunya. Raiden melirik Rian yang masih diam. Pemuda itu lalu menggeleng pelan. “Gue no comment.” Raiden menghela napas. Ya, dia sendiri kadang masih bingung kenapa bisa tahan dengan sikap Lorry yang terlalu cemburuan. Namun, perasaan Raiden pada Lorry tetap sama dari awal sampai sekarang mereka pacaran. Lorry yang peduli padanya bahkan untuk hal sekecil apa pun memberi kesan tersendiri baginya. Sosok Lorry sebagai cinta pertamanya mengobati kesepiannya. Saat bersama Lorry, kadang membuat ia teringat kenangan manis bersama ibunya yang meninggal saat ia berusia tujuh tahun. Keberadaan Lorry selalu mengobati luka hati Raiden yang timbul ketika melihat ayahnya yang gila kerja sejak ibunya tiada. Lorry seperti ... segala-galanya untuk Raiden. “Oke, udah terjawab kan pertanyaan lo?” tanya Rian membuat Raiden tersadar dari lamunannya. Agus melayangkan jempolnya dengan senyum lebar. “ Sekarang ayo fokus latihan, kita bentar lagi tampil.” Rio bertepuk tangan, memberi semangat pada rekan-rekannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN