Lorry menatap area sekolahnya yang sudah lumayan ramai dari balik kaca mobil. Tangannya yang menumpu di jok, mencakar kursi berlapis busa itu. Setelah tiga bulan, ia akhirnya melihat sekolah ini lagi. Tak ada yang berubah dari penampakannya, yang berubah hanyalah suasana hati Lorry saat melihat gedung itu. Kiara yang duduk di sebelahnya menyentuh pundak dengan lembut. “Nggak apa-apa, kok, Lor. Mereka nggak bisa lagi berbuat seenaknya sama lo. Kemunculan lo justru akan buat mereka malu, jadi lo nggak boleh takut!” ujar Kiara berusaha menenangkan. “Iya, Lorry. Papa sama Mama akan tetap di sini mengawasi sampai kamu masuk ke gedung sekolahmu. Kalau ada yang berani sentuh kamu, Papa akan langsung keluar,” tambah Amos yang duduk di depan, bagian sopir. Letha turut ikut meyakinkan putrinya

