Tak! Kiara meletakkan sekotak ultra milk rasa coklat di meja yang terbuat dari kayu. Kebanyakan kelas sekarang sementara dalam kegiatan ajar mengajar. Kalau pun ada yang jam kosong, semuanya pasti bertandang ke kantin. Kiara menatap Lorry yang duduk berhadapan dengannya, masih terisak pelan. Ia mengalihkan wajahnya dan mendengkus keras. “Cowok jenis gitu dinangisin. Dia nggak rugi apa-apa, air mata lo-nya yang keluar sia-sia! Udah nangisnya, ih!” kesal Kiara menyodorkan tisu dari saku jas almamaternya. Lorry menerima tisu itu dengan wajah cemberut dan mengelap matanya yang sembab lalu menaruhnya di bawah hidung, untuk menampung cairan kental dari sana. Kiara meringis jijik melihat itu. “Ini buat gue, ‘kan?” Lorry mengambil s**u yang dibawa Kiara dari kantin. “Tadinya gue beli buat gue

